Rain In The Winter

Rain In The Winter
92. Ayah, makan bersama?


__ADS_3

Rain tidak mengubris sedikitpun tingkah dari Lidia itu, dia segera meninggalkan wanita itu dan pergi keluar, membuat Lidia langsung berwajah masam, padahal dia sudah berlaku begitu manis di depan Rain tapi Rain bersikap dingin sekali, tapi bukannya Rain memang selalu begitu pikir Lidia.


Rain keluar dan sedikit terkejut melihat apa yang sekarang dia lihat, Bianca sedang bermain dengan Carel yang ada di gendongan pengasuhnya, dia mencoba menghibur Carel yang  tampak mulai tenang walau masih tampak sengugukan, Bianca menepuk tangannya sambil menyanyi kecil, melihat itu Rain mengerutkan dahinya namun senyum tipis muncul di wajahnya.


Lidia yang melihat hal itu juga segera mengerutkan dahinya, semakin tak suka dengan apa yang dilakukan oleh Bianca.


"Apa yang kau lakukan dengan anakku? " tanya Lidia yang segera merebut Carel dari gendongan pengasuhnya, menjauhkan Carel dari Bianca, mungkin karena kaget atau karena begitu kasar, Carel kembali menangis, Lidia tampak mencoba menenangkan anaknya.


Bianca mengerutkan dahinya, padahal dia hanya ingin menghibur Carel yang saat keluar menangis begitu sedih, tapi kenapa Lidia malah membuat anaknya kembali menangis.


Rain segera mendekati Bianca, Bianca langsung melihat suaminya, Rain menyisipkan tangannya ke pinggang istrinya.


"Sudah?" tanya Bianca.


"Ya," kata Rain.


"Apa hasilnya langsung keluar?" tanya Bianca lagi.


Rain segera melihat ke arah dokter yang baru keluar dari ruangan itu, dengan cepat dia bertanya.


"Kapan hasilnya akan keluar?"


"Hasilnya akan keluar secepatnya Tuan, kita bisa menunggu sekitar 3-4 hari, itu juga yang paling cepat yang bisa kami lakukan," kata dokter itu.


Rain  tampak tak bisa menerima hal itu, dia harus menunggu 3-4 hari untuk bisa mengetahui hasilnya dan dalam 3-4 hari itu dia juga harus melihat Bianca yang tampak ragu, dari kemarin saja dia sudah tidak suka dengan kead ini karena Bianca sama sekali tidak tidur memikirkannya, bagaimana dia bisa membiarkan Bianca resah hingga 3-4 hari.


"Aku tidak punya masalah, lakukan yang terbaik agar tidak ada yang bisa merasa ragu," kata Lidia menatap ke arah Rain dengan tatapan tajamnya, Rain hanya menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Aku ingin secepatnya, beritahu aku  jika sudah dapat hasilnya," kata Rain yang segera memegang kembali tangan Bianca dan pergi meninggalkan tempat itu, suasananya sudah sangat menyesakkan bagi Rain, dia tidak ingin lagi berada di sana.


Rain segera membawa Bianca ke arah mobilnya, dia duduk dengan gusar di sana, Bianca bisa merasakannya, sebenarnya Bianca juga merasa tidak enak, dia kira hari ini dia akan tahu kebenarannya, ternyata dia harus menunggu 3-4 hari lagi untuk tahu apa yang terjadi, tapi Bianca mencoba untuk berpikir positif tentang hal itu, mungkin saja ini cara Tuhan agar tetap membuatnya lebih lama di sisi pria ini.


Bianca perlahan menggerakan tangannya, menggenggam tangan Rain dengan lembut yang langsung membuat Rain menatap ke arah Bianca, Bianca segera tersenyum menenangkan.


"Tidak apa-apa, hanya menunggu 3-4 hari saja, kita punya waktu 3 hari untuk bisa bersama," kata Bianca, kata-kata Bianca membuat Rain mengerutkan dahinya dalam dengan wajah yang tidak percaya.


Rain menarik tangan Bianca, membuat gadis itu langsung tertarik ke dalam dekapan Rain, Bianca saja kaget dengan sikap Rain ini.


"Bukan hanya 3-4 hari, selama aku masih bisa bernapas, selama itulah waktu kita bersama," kata Rain, terdengar begitu gombal, namun melihat wajah serius Rain dan juga nadanya yang juga begitu menyakinkan, Bianca tak punya alasan untuk bisa meragukan itu.


----***---


Rain menatap ke arah tabletnya dengan serius, beberapa hari ini ternyata dialah yang malah tak bisa tidur tenang, dia selalu terbangun takut jika Bianca tak tidur atau melakukan sesuatu.


Rain tahu bahwa Bianca dulu punya trauma dan depresi yang membuatnya hingga bisa memutuskan bunuh diri, selain itu pengalamannya tentang ibunya yang harus mati sia-sia hanya karena terserang depresi hingga membuatnya menjadi melakukan hal yang tidak-tidak.


Tiba-tiba pintu kamarnya terketuk, Rain mengangkat kepalanya dan melihat pintu ruang kerjanya.


"Masuk," suara beratnya bergema di ruangan yang cukup besar itu. Dia melirik ke arah pintu itu dan melihat Luke masuk perlahan.


"Tuan, Nona Lidia ingin bertemu dengan anda," ujar Luke yang tahu dia akan kena semprot oleh Rain jika mengatakan ini.


"Bukannya aku sudah katakan untuk tidak mengizinkannya masuk ke dalam gedung ini?" Tanya Rain, seketika meninggi suaranya dan pandangannya sangat tajam.


"Ya, tapi dia membawa Tuan Muda Carel, dia meminta saya mengatakan, Tuan Muda Carel ingin melihat Anda, Beliau sedang sakit," ujar Luke, tak mungkin dia tak mengatakannya, jika terjadi apa-apa, nantinya dia juga akan di salahkan.

__ADS_1


Rain mengerutkan dahinya, Carel sakit?


Entah apa yang mempengaruhi perasaannya, mendengar anak itu sakit rasanya Rain jadi berubah ingin melihatnya, Rain lalu berdiri.


"Dimana mereka?" Tanya Rain.


"Ruang tunggu khusus," ujar Luke.


Rain berpikir sejenak, namun dia segera berdiri dan keluar dari ruangannya, Luke hanya bisa mengikutinya dari belakang.


Rain segera melangkah ke arah Ruang tunggu khusus, dia segera membuka pintunya dan melihat Lidia dengan anggunnya duduk di salah satu sofa yang ada di sana, dia langsung tersenyum sumringah.


"Ayah," ujar Carel yang segera berlari ke arah ayahnya dan memeluk kakinya, Rain menatap anak itu, Tak ada tanda-tanda dia sakit sama sekali.


"Kau bilang dia sakit," ujar Rain pada Lidia yang mendekatinya, Lidia tersenyum manis, mendengar suara Rain yang cemas itu, dia tahu Rain cemas dengan anaknya, perlahan anak ini sudah diterima dan menyusup ke hati Rain, taktiknya jitu.


"Ya, dia sakit karena kangen dengan ayahnya, dengan melihatmu dia langsung bahagia, dia tadi begitu lemas sudah 1 hari tak melihatmu," kata Lidia dengan suaranya yang menggoda. Rain mendengar itu memiringkan kepalanya, pasti ini hanya akal-akalan dari Lidia saja.


"Kau!" Kata Rain agak meninggi.


"Ayah? Jangan marah," kata Carel terdengar imut, membuat Rain langsung terdiam, dia tak mungkin memarahi Lidia di depan Carel.


"Berlakulah yang baik ayah, jangan menjadi panutan yang buruk untuk anakmu," kata Lidia lagi, Rain mendengar itu menggertakkan giginya, menggenggam tangannya erat, marah di depan anak bisa merusak psikisnya.


"Apa kabar Carel?" Tanya Rain yang mencoba menahan dirinya, dia sedikit berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Carel.


"Baik, ayah sudah makan?" Katanya kurang jelas, mendengar celotehan anak ini membuat hati Rain sedikit luluh, Lidia hanya tersenyum senang, berhasil dia mengambil hati Rain.

__ADS_1


"Belum, Carel?" Tanya Rain.


"Belum, Carel makan sama ayah ya?" Kata Carel yang cukup lincah berbicara.


__ADS_2