
"Ya, silakan, ibu kalian pasti sangat hebat mendidik kalian hingga seperti ini," kata Rian, terlalu terkejut dengan tata Krama dan kesopanan juga kecerdasan si kembar.
"Kata mami tak boleh berbicara saat makan, tapi aku akan menjawabnya, ya, mami sangat hebat," ujar Gio dengan mulut penuh dengan kentang goreng.
"Ya, dan Mami cantik seperti Gwi," timpal Gwi, membuat Rain menaikkan sudut bibirnya lebih lebar, entah kenapa senang sekali mendengar celoteh mereka.
"Ya, mami cantik, Paman, lain kali datanglah ke rumah kami, mami sangat pintar memasak, dia akan memasakkan Paman banyak makanan enak, dan pasti paman akan menyukai Mami," kata Gio mulai menyukai pria ini, suapan baginya memang hanya perlu ayam goreng untuk bisa menerima seseorang.
"Haha, baiklah, kapan-kapan," tawa Rain pecah, Antony yang berdiri agak jauh pun sedikit kaget, tak pernah mendengar Rain tertawa seperti itu, hal itu membuatnya Antony sadar dengan keadaan, dia melihat Jam dan lalu mendekat ke arah Rain, dia membisikkan sesuatu yang membuat wajah Rain sedikit datar.
"Ya, baiklah, kalian makan dengan baik sambil menunggu bibi kalian, paman harus kembali untuk sesuatu," kata Rain sambil melirik ke arah kedua kembar ini.
"Yah, paman akan pergi?" Gwi tampak sedikit kecewa, paman ini sangat membuatnya nyaman.
"Tidak apa-apa, lain kali pasti akan bertemu lagi," ujar Gio menenangkan adiknya, lalu dia melirik ke arah Rain.
"Benar, bukannya paman diundang ke rumah kali, lain kali akan pergi ke sana," ujar Rain basa basi, tak mungkin dilakukannya.
"Ya, lagi pula paman sudah tahu kita bersekolah di sini, sering-seringlah datang," ujar Gio melebihi batas usianya, membuat Rain mengerutkan dahinya, sebuah nalar yang cepat.
"Pasti," kata Rain lagi.
"Hati-hati di jalan paman, dan terima kasih," ujar Gio dan Gwi serempak, tampak kompak, membuat Rain kembali menaikan sudutnya bibirnya lalu pergi dari sana.
Saat masuk ke dalam mobil wajah Rain langsung berubah 180 derajat, wajah itu tampak datar dan dingin, Antony hanya memperhatikannya dari kaca spion Tengah.
__ADS_1
"Apa aku mirip dengan anak-anak itu?" Tanya Rain yang sama sekali tak disangka oleh Antony.
"Ya, terlihat mirip," ujar Antony, tak ingin berbohong, tugasnya lah untuk mengatakan yang sebenarnya.
Rain diam, di dalam perasaannya merasa aneh, apa dulu dia benar-benar playboy? Mempermainkan banyak wanita sehingga memiliki banyak anak yang tak diketahuinya? Apakah mereka termasuk? Lalu kenapa semua ada di sini? Bianca bilang dia tak berhasil melahirkan, Tapi ….
"Antony, aku ingin tes DNA," ujar Rain pada Antony.
"Baik tuan," ujar Antony patuh walaupun sedikit penasaran kenapa tiba-tiba tuannya minta Tes DNA, tapi tak mungkin diutarakannya.
Rain hanya merasa terusik, entah kenapa merasa harus melakukannya, karena sejak dia kehilangan ingatannya dia hanya percaya dirinya sendiri, maka apa yang menurutnya benar, dia akan melakukannya.
---***---
Bianca sedang melakukan pekerjaannya seperti biasanya, dia kira bosnya akan memarahinya, nyatanya bosnya tampak biasa saja.
Rain sudah tiba dari tadi di sana, dengan wajah dinginnya mengamati wanita itu dari jauh, tentu dia tak suka melihat wanita itu beramah tamah dengan para tamu apalagi seorang pria, karena itu dari tadi dia hanya bisa mengepalkan tangannya, wanita keras kepala.
Bianca perlahan membawakan pesanan seorang pria yang mungkin seumuran dengan Rain namun pria ini terlihat lebih kutu buku. Dia meletakkan 3 piring perlahan-lahan, tentu tak lupa senyum ramah agar tamunya merasa nyaman, tak menyadari tak jauh dari sana ada mata tajam yang siap menerkamnya.
Pria itu tampak mengambil minumannya, meminumnya sedikit lalu entah terlalu terpesona oleh pelayan cantik yang sedang ada di depannya, dia tak sengaja menumpahkan minumannya yang langsung terkena kemeja dan juga celananya, itu membuatnya dan Bianca kaget, bahkan Rain pun kaget hingga langsung berjalan ke arah Bianca.
Refleks Bianca mengambilkan serbet yang ada di dekatnya, membersihkan sisa air yang ada di meja dan juga di kemeja dan celana pria itu, walau bukan dia yang menumpahkannya, ini salah satu pelayanan yang harus dia berikan agar tamunya nyaman.
"Maaf, maaf aku tak sengaja," pria itu sungkan, tampak ada kesenangan di nada bicaranya, senang seorang gadis cantik mengelap tubuhnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Tuan, hati-hatilah," kata Bianca yang masih cekatan mengelap sisa minuman itu di tangan pria ini, pria itu tampak sangat tersanjung.
Namun, tiba-tiba pergelangan tangan Bianca di genggam seseorang, erat sekali hingga rasanya cukup sakit, Bianca dan pria itu tentu kaget.
"Kau punya tangan kan? Lap sendiri," ujar Rain mengambil serbet dari tangan Bianca dan melemparkannya ke meja pria itu. Bianca menatap wajah Rain, tatapan pria itu tajam menusuk hingga seperti ingin membunuh.
"Hei!" Kata Pria itu protes, walau Rain menatapnya tajam dia juga berhak, dia seorang tamu.
"Antony, bereskan," ujar Rain tak ingin mengurusi pria ini, tak menunggu lama Rain langsung menarik Bianca menjauh dari sana, Bianca bahkan tak bisa mengucap kata-kata apapun, hanya memandang ke arah semua orang yang menatapnya bingung, Rain terus menariknya hingga ke lobby dan saat hendak keluar dari hotel di sana Bianca melihat Tuan Pier yang tampak bingung.
"Masuk!" Perintah tak terbantahkan oleh Rain agar Bianca masuk ke dalam mobilnya yang sudah terparkir sempurna, Bianca tampak Bingung.
"Tak mau, aku sedang bekerja, kau ini apa-apaan?" Tanya Bianca juga dengan nada kesal, tiba-tiba saja datang dan mengacaukan pekerjaannya.
"Di bagian mana saat aku katakan untuk berhenti bekerja kemarin yang tak jelas bagimu?" Tanya Rain.
"Tidak semudah itu!" Kata Bianca, ya tak mungkin tiba-tiba dia mengatakan pada Tuan Pier dia berhenti, lalu dia nanti makan apa? Ada 3 orang yang menjadi tanggungannya.
"Tuan Pier, mulai detik ini Bianca berhenti bekerja," ujar Rain menatap ke arah Tuan Pier yang bengong dengan kedua resepsionis yang melihat dan mendengar pertengkaran Rain dan Bianca bagai sepasang suami istri.
"Oh, ya, saya mengerti," ujar Tuan Pier yang membuat Bianca membesarkan matanya.
"Mudah kan? sekarang masuk!" Ujar Rain menekan kepala Bianca seolah dia tahan, mau tak mau Bianca masuk, Rain segera ikut masuk juga, "jalan!"
Supir itu segera melaju tanpa menunggu Antony lagi, Bianca bingung kenapa dan kapan pria ini ada di sini, dia merasa nyeri di pergelangan tangannya yang dari tadi ternyata masih erat di genggam oleh Rain, wajah pria ini sama sekali tak enak di lihat.
__ADS_1
"Bisa lepaskan ini?" Tanya Bianca.
Rain hanya melirik ke arah Bianca, genggaman tangannya malah lebih erat, Bianca meringis namun tak mengatakan apapun lagi.