Rain In The Winter

Rain In The Winter
188.


__ADS_3

Rain yang mendengar istrinya yang langsung mengeluarkan unek-unek hatinya hanya tersenyum.


"Aku juga tak tahu apa yang terjadi padaku karena itu aku tak bisa mengatakan apapun padamu, saat ini jika ditanya bagaimana keadaanku, keadaanku baik-baik saja, beberapa hari yang lalu aku memang sedikit punya masalah dengan sakit kepala dan beberapa kali mimisan tapi itu tak bukan masalah sama sekali, kemarin malam dokter sudah mengambil darahku, mereka berjanji esok akan memberikanku hasilnya, karena itu awalnya aku akan mengatakan padamu apa yang terjadi padaku setalah mereka memberikan hasilnya padaku, aku hanya tak ingin kau cemas," ujar Rain lembut memastikan tak ada lagi noda darah di wajah istrinya.


"Apa ini ada kaitannya dengan kedatangan kita ke istana, apa ini karena penyakitnya keturunan itu?" Kata Bianca lagi memegang tangan Rain yang memegang handuk hangat, menggenggamnya erat menandakan dia benar-benar cemas akan keadaan Rai sekarang, wajahnya menuntut jawaban yang jelas.


"Aku tidak tahu pastinya, jangan khawatir, jika ini penyakit keturunan itu, Archie sudah bersedia memberikan penawarnya padaku juga untuk Gio dan Gwi, aku akan baik-baik saja," ujar Rain mencoba menenangkan istrinya, sejujurnya Rain sama sekali tak lagi khawatir dengan penyakit keturunan itu, hatinya sudah tenang saat Archie berjanji padanya akan memberikan obatnya, sekarang dia lebih memikirkan efek samping dari penghapusan memori itu, dia tak tahu apakah efek itu lebih parah atau bagaimana? tak ada yang bisa dia dapatkan untuk mengetahui pasti efek samping itu.


"Jangan cemas, aku tak ingin menghabiskan malam ini melihatmu dengan wajah begitu, percayalah aku tak apa-apa, lagi pula jika ada apa-apa, semua sudah siap nantinya jangan khawatir, ini malam pernikahan kita, tolong jangan berwajah seperti itu," kata Rain menatap Bianca yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku hanya kesal padamu, kenapa selalu saja seperti ini, tak pernah memberitahuku apapun, kemarin kau pergi tanpa mengatakan apapun, itu yang membuatku sangat frustasi, menebak-nebak apa yang akan terjadi esok hari, itu semua membuatku ingin gila," ujar Bianca dengan matanya yang mulai basah, dia kesal, satu sifat Rain yang paling dia tak suka, pria ini selalu mengambil langkah tanpa pernah memberitahu apa yang akan terjadi pada Bianca, dia tak suka menebak-nebak apa yang terjadi dan apakah Rain akan baik-baik saja nantinya.


"Maafkan aku, aku hanya tak ingin kau terlalu memikirkan diriku, seharusnya aku yang selalu menjagamu, bukan membuatmu selalu cemas," ujar Rain, tak suka melihat raut wajah Cemas dan khawatir Bianca, namun dia lebih tak suka melihat mata indah itu basah karenanya.


"Kau hanya tak tahu, sikapmu yang beginilah yang semakin membuatku cemas, lagipula bukankah itu esensi dari sebuah pernikahan, melalui suka dan duka bersama, apa gunanya aku sebagai istrimu jika aku bahkan tak tahu keadaan mu?" kata Bianca semakin meledak.


Rain menarik tubuh Bianca, memeluknya dengan erat mencoba untuk menenangkan Bianca yang semakin histeris.


"Maafkan aku," bisik Rain.


"Tolong, kali ini jika kau ingin melakukan sesuatu atau terjadi sesuatu, beritahu aku, aku ingin ada di sana menjagamu," kata Bianca sedikit menenangkan dirinya.


"Baiklah, aku berjanji mulai sekarang akan mengatakan apapun padamu, tapi percayalah, hari ini aku tak apa-apa, sudah malam, bagaimana kalau kita istirahat, kau ingin aku tetap sehat kan?" kata Rain mengurai pelukannya, menghapus pelan air mata Bianca yang menenang.


"Apa kita tak perlu ke rumah sakit?" tanya Rain.

__ADS_1


"Istriku, aku benci rumah sakit, kau seharusnya sudah tahu itu, aku hanya ingin beristirahat, kau pun harus istirahat, besok juga kita akan tahu hasilnya, jangan khawatir, kita tidur saja," ujar Rain menjelaskan,


Bianca mengangguk pelan sambil mengusap ingusnya, benar yang dikatakan Rain, pria ini tak suka sama sekali dengan rumah sakit.


Rain dengan lembut merangkul istrinya, membawanya kembali ke ranjang dan berbaring bersama.


"Selamat malam," ujar Rain mengecup dahi istrinya yang masih menatapnya dengan cemas, Rain menebar sedikit senyumnya sambil merangkul istrinya dalam pelukannya.


Bianca tak membalasnya, hanya terus menatap Rain yang langsung menutup matanya dengan posisi terlentang, perlahan napasnya tampak teratur, Bainca mengasumsikan bahwa suaminya sudah tertidur dan tak lagi ingin menganggunya.


Bianca masih terlalu cemas, cukup lama dia baru bisa masuk ke dalam mimpinya, semalaman dirinya tertidur dalam hangatnya pelukan suaminya.


---***---


Bianca terbangun saat mendengar suara getaran ponsel yang ada di pinggir ranjangnya, ponsel itu diletakkan di meja kayu yang membuat suara getarannya menjadi lebih nyaring.


"Rain," Tegur Bianca membangunkan suaminya, ponselnya terus saja berdering, pasti sesuatu yang penting.


"Rain?" Tanya Bianca yang sedikit aneh, Rain tak bergeming bahkan saat Bianca mulai mengguncang tubuhnya, lagipula Rain selalu bangun sangat pagi dia punya kebiasaan bangun sebelum matahari menerangi seluruh muka bumi, tapi kenapa hari ini dia bahkan tak bisa di bangunkan.


Bianca mengangkat tubuhnya, memperhatikan lebih seksama wajah suaminya, wajahnya langsung sedikit cemas menatap Rain yang tampak pucat.


"Rain! Rain bangun Rain!" Kata Bianca mengucang tubuh Rain lebih keras, nihil, pria itu bergeming, tampak nyenyak tertidur.


Bianca segera turun dari ranjangnya, Bianca langsung keluar dari kamarnya dan mencoba mencari keberadaan Antony, dia tahu Antony juga menginap di sana, ruangan kamar mereka memang sangat luas.

__ADS_1


"Antony! Antony!" Teriak Bianca sangat panik.


"Ya, Nyonya?" Tanya Antony yang baru saja keluar dari ruangan dapur, baru saja membawa pelayan yang mengantarkan sarapan untuk mereka.


"Tolong! Rain tak sadar," kata Bianca.


Antony langsung tampak kaget, dia segera berlari ke arah kamar utama, dia segera melihat Rain yang masih terbaring. Antony segera mencoba membangunkan Rain, namun sama dengan Bianca, dia tak dapat membuat Rain sadar sama sekali.


Antony segera mengambil ponselnya menelepon langsung ke Ken yang sudah mewanti-wanti jika nantinya terjadi sesuatu pada Tuan Rain, dia diminta menghubunginya segera.


Bianca memegang tangan Rain yang terbaring di berangkat di dalam ambulan yang berjalan dengan cepat, suara sirene ambulans terdengar sangat memekikkan telinga mencoba menerobos penuhnya jalanan pagi ini, selang oksigen sudah tertancap tepat di hidung Rain, dokter yang tadi datang sudah memastikan tanda vital Rain masih dalam batas normal, namun dia segera dilarikan ke rumah sakit kerajaan karena riwayat penyakitnya.


Bianca menahan tangisnya walaupun itu hanya sia-sia, Air matanya selalu saja lolos begitu saja, Bianca hanya menatap ke arah wajah Rain, pria itu tampak tenang, bahkan seperti tertidur dengan nyenyak.


Bodoh! Bodoh sekali! Kutuk Bianca pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dia percaya kata-kata Rain semalam, sudah pasti tanda-tanda bahwa Rain tak baik-baik saja, mana ada yang baik-baik saja jika sudah terjadi pendarahan, seharusnya kemarin saat dia melihat hal itu, Bianca memaksa Rain untuk ke rumah sakit, tapi kenapa Bianca malah terayu dengan ucapan Rain


"Apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Bianca melirik dokter yang ada di depannya.


"Kami akan melakukan yang terbaik," kata dokter itu menatap Bianca.


Benar-benar jawaban yang sangat tak memuaskan Bianca, dia hanya butuh jawaban pasti tentang Rain, apakah Rain akan baik-baik saja?


-------------


Hallo kakak! maaf 2 hari ga up! dan up hari ini juga kurang dari biasanya, dari pagi udah mau nulis biar bisa 6 atau 7 bab lagi, tapi karena cuaca yang tak bagus, dan menyebabkan listrik mati, semua perangkat juga kehabisan batrai jadilah seperti ini.

__ADS_1


kakak2, stay Safe ya, di luar lagi pandemi, tapi juga sedang banyak bencana, jadi mari Mendoakan untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana baik banjir maupun gempa bumi. Semoga semuanya segera berlalu.


Makasih ya kak pengertiannya, esok di usahakan up! see you


__ADS_2