
Rain memperhatikan pemandangan yang disuguhkan daerah yang baru saja dia datangi, sebuah daerah di pulau kecil yang bahkan tak pernah di perhatikan di peta, tapi baru-baru ini daerah itu menjadi lirikan karena keindahan alamnya karena itu Rain langsung ingin meninjau wilayahnya agar menguasai wilayah ini sebelum saingan bisnisnya yang lain.
Rain memandang pasir putih yang sangat putih, bahkan bagai hamparan salju tanpa sedikitpun sampah, selain itu airnya berwarna biru hingga begitu bening sebening kristal.
Udaranya panas tentunya, bahkan cukup menyengat dirinya saat dia baru keluar dari pesawat pribadinya walaupun saat ini sudah sore, kulit putihnya bahkan tampak berkilau tertimpa oleh cahaya matahari yang mulai menguning.
Tiba-tiba mataharinya terhalang, dari belakang Antony sigap memayungi tuannya.
Rain menyipitkan matanya berjalan perlahan menuju mobil yang sudah disiapkan, namun sebelum dia masuk, dia sekali lagi menatap ke arah semuanya, Bandaranya saja sangat kecil hanya pesawat kecil dan juga helikopter yang bisa mendarat di sana, bau asin sedikit menyeruak, Rain segera masuk dengan mobil, dan mereka segera bergerak.
"Tuan, anda langsung ke penginapan?" Tanya Antony menyiapkan semuanya.
"Tidak, aku ingin berkeliling dulu di pulau ini," kata Rain datar, memperhatikan semua hal dari jendela mobilnya.
"Baik Tuan," ujar Antony, dia memang tahu Rain selalu melakukanya, Tuannya selalu total jika ingin melakukan investasi, bahkan lingkungan dan juga suasana sangat menentukan apakah dia akan melakukan investasi atau tidak.
Rain menatap ke arah semuanya, menatap lingkungan di sana, sangat nyaman, orang-orangnya pun tampak ramah, Rain cukup menyukai tempat ini.
Rain melirik ke arah pantai yang selalu saja tampak di sampingnya Karena semua jalanan memang berbatas langsung dengan pantai.
__ADS_1
Entah sejak kapan tiba-tiha saja pikiran Rain terbang dan dia tak lagi memperhatikan jalannya, dia mencoba menyusuri seluruh hidupnya, namun tetap berhenti di 4 tahun yang lalu seolah-olah hidupnya benar-benar berhenti di sana, setiap kali memikirkan hal ini sungguh membuat Rain kesal.
Rain menarik napasnya pelan, mobil itu berjalan dengan lambat bertujuan agar Rain bisa melihat semuanya, lagi pula jika mereka berjalan dengan cepat hanya beberapa saat saja mereka akan selesai mengelilingi tempat ini.
Rain lalu melihat sesosok wanita yang berjalan searah dengannya, dia melihatnya berjalan dari belakang, entah kenapa wanita itu membuatnya sedikit penasaran, Rain memperhatikan sosoknya yang semakin mendekat, dan saat mereka sudah sejajar, Rain bahkan sampai harus memutar kepalanya untuk melihat wajah wanita itu, sayangnya hanya sesaat dia melihatnya. Saat Rain ingin melihatnya dari kaca belakang mobilnya, wanita itu duduk di halte bis yang terhalang dengan dindingnya sehingga Rain tak dapat melihatnya dengan jelas.
Antony yang memperhatikan tuannya tampak gusar hanya mengerutkan dahinya, kenapa tuannya seperti itu? Belum pernah dia melihatnya hingga memutar tubuhnya seperti itu.
"Tuan, ada apa?" Ujar Antony.
"Tidak, aku kira aku melihat … Sudah, ke penginapan saja," ujar Rain namun wajahnya masih bertekuk, benarkah yang tadi dia lihat adalah wanita itu? bagaimana dia bisa bertemu dengan wanita itu di sini, setelah mencari keberadaannya lebih dari 3 tahun hingga akhirnya Rain cukup menyerah namun dia menemukannya di sini.
Wanita itu tak pernah ada di ingatannya, bagaimana pun dia mencarinya, dia tak ada di sana, namun semenjak wanita itu muncul, Rain tak bisa melupakannya, apalagi dalam 4 tahun ini dia selalu memimpikan bahwa dia ada di dalam air seolah dia tenggelam di dalamnya, dan anehnya dia selalu mendengar suara wanita menyuruhnya untuk pulang, namun hingga sekarang Rain tak tahu? Kemanakah dia harus pulang?
Sore sudah mulai menggelap, cahaya matahari sudah mulai terhimpit hingga hanya sedikit saja yang terlihat, lampu-lampu jalan yang berwarna kuning mulai terlihat, menyinari jalan mereka.
Di kejauhan Rain melihat sebuah keramaian yang mencolok sekali, berbeda dengan bagian pulau yang lain yang tampak tenang dan cendrung gelap, tempat itu gemerlap.
"Ada taman bermain yang baru di buka di sini Tuan," kata supir yang bahkan belum di tanya sudah menjelaskan tempat itu.
__ADS_1
"Begitu," ujar Rain.
Mobil mereka berjalan melewatinya, suasananya riuh, ramai namun juga tampak hangat, lampu-lampunya dan juga permainannya tampak jauh dari kata mewah, hanya permainan sederhana, dari tampilannya itu hanya taman bermain yang tak lebih seperti sebuah pasar malam.
Tiba-tiba sebuah kilasan tentang masa lalu muncul di kepalanya, dia ingat bagaimana ibunya membawa Rain kecil ke taman seperti itu, dia ingat ibunya membelikannya gulali, dan juga mereka bermain beberapa mainan. Seketika ingatan itu membuatnya menaikan sudut bibirnya, untung saja ingatan seindah itu tak terhapus.
"Berhenti," ujar Rain yang membuat Supir dan Antony kaget, kenapa tiba-tiba Rain ingin berhenti.
Antony belum sepenuhnya bisa mengerti namun Rain sudah membuka pintunya, membuat Antony sigap turun dan segera memegangi pintu mobil itu agar Rain bisa keluar.
Rain keluar begitu saja ,dia lalu berjalan dan menuju ke arah taman bermain itu, Antony juga langsung mengikuti Tuannya, cukup penasaran sebenarnya, namun tak ingin bertanya, percuma, Tuannya tak akan menjawabnya.
Rain perlahan masuk ke dalam taman bermain sederhana itu, dia perlahan memperhatikan semuanya, tentu ramai, itu yang membuat Antony sedikit kaget Rain ingin masuk ke tempat ini, selama dia menjadi asisten Rain, dia tahu Tuannya ini sangat anti ke tempat ramai seperti ini.
Rain memandang ke arah penjual gulali dan yang pastinya dia tak punya minat untuk membelinya karena dia tak suka makan makanan manis, entahlah kapan tepatnya dia tak suka lagi memakan makanan manis, padahal seingatnya, dia yang merengek meminta gulali ini pada ibunya.
"Paman?" Celoteh seorang anak, suaranya lucu khas anak baru bisa berbicara, sebenarnya cukup kecil diantara ramainya tempat itu, namun Rain dapat mendengarnya.
Rain mencari sumber suara itu, akhirnya menemukan gadis kecil lucu yang berdiri tak jauh darinya, diperkirakan umurnya masih 3 atau 4 tahun, imut sekali sebenarnya, rambutnya lurus dengan poni rata, matanya tampak berbinar besar, hidungnya mancung dan bibirnya sangat merah dan kecil, dia tampak tenang memeluk boneka kelinci yang berwarna putih.
__ADS_1
Rain adalah pria yang sebenarnya menyukai anak-anak, namun bukanlah orang yang ramah terhadap anak-anak, dia cukup kaku untuk berhadapan dengan anak-anak.
"Paman?" Tanya anak itu lagi, Antony segera mencoba menangani anak itu, namun Rain memberikan tanda agar Antony tidak melakukannya.