
"Aku kehilangannya," kata Bianca sambil membuang pandangannya, menunduk takut Rain bisa melihat kebohongan di matanya.
"Lalu bagaimana kau bisa mengaku sebagai istriku?" kata Rain masih begitu dingin.
Bianca menaikkan sudut bibirnya, di lalu menatap ke arah Rain dengan menggigit kembali bibirnya.
"Kau sudah tahu kan, aku seorang penipu, aku dan kau tak punya hubungan, aku hanya Frustasi karena suamiku sudah meninggal," ujar Bianca menurunkan suaranya pada akhir kata-katanya berhasil terjebak dengan mata yang tampak hitam itu.
Rain terdiam, melihat kembali luka dan kesedihan dalam yang Tek berdasar itu, sama seperti 4 tahun yang lalu.
"Bagaimana kita berpisah?" Tanya Rain lagi-lagi seperti tak mendengar penjelasan Bianca.
"Bukannya sudah aku katakan kita tak punya hubungan apapun! Sekarang bisakah kau membiarkanku pulang!" teriak Bianca karena saking kesalnya dengan pria yang ada di depannya ini, Rain sudah membuka luka lamanya lagi, jika saja dia tak pergi dan bertemu pria ini 4 tahun yang lalu, hidupnya dan si kembar tak akan seperti ini.
Rain hanya diam, kembali mengamati wajah wanita yang tampak sedih namun berhasil dia tutupi dengan wajah kesalnya, apakah dia sudah membuatnya begitu menderita?
"Aku pulang sekarang!" Kata Bianca berdiri dari tempat duduknya, semakin lama dia di sini, semakin pusing dan mual dirinya. Bianca mulai berjalan pergi.
"Kalau begitu yakinkan aku bahwa kita tak punya hubungan sebelumnya," kata Rain yang juga segera berdiri mengikuti Bianca dan segera menarik tangan Bianca lalu dengan kasarnya mendekap Bianca, entah bagaimana caranya tiba-tiba saja Rain langsung menempelkan bibirnya ke bibir Bianca, Bianca terpekik tertahan, mencoba berontak namun pelukan Rain yang menahan dirinya sangat erat.
Bau nikotin menyeruak kuat membuat Bianca merasa sesak, apalagi Rain nyatanya begitu ganas ******* bibirnya, Bianca sudah berusaha berontak, tangannya mendorong dada Bidang namun bagai tak ada terpengaruh sedikit pun Rain bergeming. Bianca mencoba untuk menggigit bibir dan Lidah Rain yang bermain di mulutnya, namun itu tak menghentikan Pria itu, malah membuatnya semakin ganas walau bau anyir bercampur di dalamnya.
Rain awalnya tak bermaksud mencium Bianca, dia hanya tak ingin wanita itu pergi, masih banyak hal yang ingin dia tanyakan pada wanita ini, namun dia tak bisa menolak godaan bibir tipis merah yang ada di depannya, begitu dekat bahkan rasanya tubuhnya sendiri lah yang langsung membuatnya mencium wanita ini.
__ADS_1
Ciuman itu awalnya diam, namun wangi tubuh Bianca lagi-lagi membuat Rain seperti ketagihan, manis dan kenyalnya bibir itu membuatnya sangat menggila, seolah sudah lama sekali dia mencari dan merindukannya, semakin lama Rain mencium Bianca, malah semakin haus dan ketagihan dirinya, hingga tak sadarnya dia menyedot dan menghabiskan napas Bianca hingga Bianca akhirnya tak bisa lagi berontak.
Merasa Bianca tak lagi memberikan perlawanan, Rain akhirnya sadar dan melepaskan wanita itu, wajah Bianca tampak memerah, bibir bawahnya tampak bengkak karena sedotan kencang dari Rain tadi, dia akhirnya sadar mata Bianca sudah basah dengan air matanya yang mengalir.
"Kita punya hubungan bukan?" Kata Rain menuntut Bianca yang masih merasa kepalanya begitu pusing, 4 tahun ini dia tak pernah dicium oleh siapapun, apalagi ciuman itu sangat dahsyat dia rasakan, Bianca hanya diam saja dengan matanya yang masih basah.
"Dan kita belum berpisah kan? Kita berpisah hanya karena aku kecelakaan kan?" Kata Rain, dia yakin wanita ini adalah kunci semuanya, dia sangat yakin wanita ini memiliki hubungan dengannya.
Bianca menarik napasnya panjang, hidungnya sedikit berair karena tangisnya tadi.
"Sekarang itu tak penting lagi, itu sudah berakhir 4 tahun yang lalu, kita sudah tak punya hubungan apapun, lebih baik seperti ini saja, jangan ganggu aku lagi," kata Bianca menghapus air matanya kasar, tak ingin lagi menaruh harapan pada siapapun apalagi Rain, tak ingin terluka kembali dan yang pasti wanita yang sekarang mengaku istrinya itu tak akan pernah bisa membuatnya tenang jika tahu dia kembali masuk dalam hidup Rain.
"Aku tak akan melepaskanmu," ujar Rain menarik kembali Bianca ke dalam pelukannya, kembali memaksakan sebuah ciuman yang lebih kasar dari yang tadi, bahkan tak bisa membiarkan Bianca berontak sedikit pun.
Bianca membesarkan matanya saat tubuhnya dihempaskan ke ranjang besar yang empuk itu, dia langsung ketakutan melihat wajah dingin Rain yang mendekatinya, apalagi melihat Rain yang mulai membuka baju kaosnya perlahan, tatapannya bukan seperti Rain yang dia kenal, tak ada kelembutan di sana, malah terlihat seperti binatang buas yang segera ingin melahap mangsanya.
"Rain! Apa yang mau kau lakukan?" Ujar Bianca takut, tubuhnya gemetar hingga kepalanya sangat pusing melihat ini, dia bergerak menarik tubuhnya agar menjauh dari Rain, namun melihat itu Rain malah semakin terpengaruh nafsunya, 4 tahun dia mencari, nyatanya malah wanita ini yang bisa membuatnya tergila-gila hingga kehilangan segala akalnya, bahkan tak lagi memikirkan apapun, dia hanya inginkan Bianca sekarang.
Rain menarik kedua kaki Bianca, menarik tubuhnya hingga Bianca berteriak ketakutan, dengan cepat Rain menindih tubuh Bianca, Rain mengunci tubuh Bianca di bawahnya, Rain sejenak melihat ke arah wajah Bianca, semerbak tubuh wanita ini sangat menggodanya, memancing sisi jantannya, tak ada yang bisa membuatnya merasa mabuk kepayang begini, bagaimana wanita ini bisa.
"Katakan padaku, bagaimana dulu kita biasa melakukannya?" Bisik Rain, napasnya menerpa Pipi Bianca yang mulus.
"Tidak, jangan, aku tidak ingin seperti ini," ujar Bianca panik.
__ADS_1
"Dengan cara kasar atau halus? Posisi apa yang kau sukai?" kata Rain lagi yang sepertinya tak mendengarkan Bianca lagi.
"Rain lepaskan, kita sudah tak punya hubungan sama sekali," kata Bianca dengan matanya yang berkaca, diperkosa oleh suami sendiri rasanya benar-benar menyedihkan.
"Kalau begitu aku ingin berhubungan lagi denganmu, mulai sekarang kau adalah wanitaku," kata Rain tak membiarkan Bianca untuk berontak sama sekali.
"Tidak! Kau sudah punya istri, dia akan membunuhku," kata Bianca lagi, ada ketakutan nyata di matanya.
"Aku akan menjagamu, aku berjanji," kata Rain lagi.
Bianca terdiam, janji itu sudah pernah dia dengar sebelumnya, sebelum Rain melupakan dirinya, Rain juga berjanji melakukan itu, namun saat Bianca percaya tentang hal itu, Rain mematahkan hatinya, hati Bianca sangat rapuh, sekali saja dia bisa percaya dengan hal itu, sedikit saja terluka maka seluruhnya akan hancur tak bersisa.
Air mata Bianca tak sadarnya mengalir deras, tangisnya pilu, kata-kata itu benar-benar membuka luka hatinya, kenapa harus mendengarnya lagi dari pria ini.
Rain yang melihat hal itu akhirnya tersadar, namun dia cukup kaget karena tiba-tiba saja Bianca menangis pilu seperti itu, membuat Rain sakit hatinya.
"Maafkan aku," ujar Rain, dia mulai lepaskan tubuh Bianca, Bianca lalu segera menarik tubuhnya menjauh dari Rain.
"Maafkan aku," kata Rain lagi, kali ini ada nada lembut di suaranya, membuat Bianca menatap pria itu, Rain mendekati Bianca, mencoba menghapus air matanya yang masih terlihat, ketika Bianca terlihat sedih, hati Rain pun terasa nyeri. "Aku hanya tak bisa mengontrol diriku, tidurlah, pagi-pagi sekali kau boleh pergi dari sini," ujar Rain beranjak dari ranjangnya, mengambil kaosnya yang tadi dia lemparkan ke sofa, memakainya lalu segera berjalan ke luar, sebelum dia keluar dia menatap wanita yang masih saja memeluk dirinya sendiri sambil melihat Rain.
"Aku serius tentang menjadi wanitaku, mulai sekarang, kau milikku, aku tak ingin kau melayani pria lain bahkan dalam pekerjaan mu, mulai besok kau harus berhenti bekerja, itu perintahku, tidurlah, sudah malam," ujar Rain yang langsung keluar dari kamar itu.
Bianca kembali menangis, bagaimana bisa, dari seorang istri yang sah sekarang dia malah menjadi wanita simpanan, bagaimana nasib mempermainkannya seperti ini? Bagaimana bisa dia kembali dalam pelukan pria itu lagi?
__ADS_1
Bianca akhirnya menyerah, membiarkan tubuhnya yang cukup lelah apalagi pikiran dan hatinya untuk sedikit beristirahat, namun tentunya tidurnya tak nyenyak, selain tak biasa tidur sendiri tanpa kedua anaknya, dia hanya takut jika tiba-tiba Rain datang dan mencoba mendekatinya lagi, namun saat pagi mulai menjelang dia malah bisa tertidur pulas.