Rain In The Winter

Rain In The Winter
131.


__ADS_3

Mereka baru saja sampai di depan rumah saat melihat Bianca seperti baru saja ingin membuka pintunya.


"Mami!" Teriak Gwi dan Gio bersamaan membuat Bianca yang tadinya fokus membuka pintu rumahnya langsung melihat ke arah mereka, senyumnya langsung mengembang, penatnya hilang seketika, pelipur laranya sudah pulang.


"Mami! Pulangnya cepat sekali?" Tanya Gio, dia tahu ini belum jam 7 malam.


"Ya, tugas mami sudah selesai, bos menyuruh mami istirahat agar besok pagi bisa bekerja lagi," ujar Bianca, bosnya memang memintanya pulang lebih awal karena besok dia harus datang cepat ke tempat kerja agar bisa melayani seorang tamu penting, Bianca tentu senang jika bisa pulang cepat.


"Ya, mami capek?" Tanya Gio, membiarkan adik perempuannya untuk di gendong ibunya, dia sadar sebagai anak laki-laki dia harus mengalah dengan adik perempuannya, dan berusaha tak mengeluh atas hal itu, dia juga tak mau ibunya kelelahan karena menggendong mereka berdua.


"Tidak, apakah Gio dan Gwi jadi anak yang baik? Lapar? Biar mami memasak dulu, mami tadi sudah berbelanja sebentar," ujar Bianca, menurunkan Gwi lalu mencolek hidung Gio.


"Tidak, Gwi dan kakak sudah makan mie bersama paman dan Bibi, mami, istirahat saja," ujar Gwi pengertian.


"Benarkah?" Kata Bianca dengan wajah tak percaya dibuat-buat.


"Ya, paman juga membawakan makanannya untuk mami, kata paman, paman tak ingin mami kelelahan memasak lagi setelah pulang, paman begitu pengertian ya kan Mami?" Kata Gio melirik Bram yang langsung mati kutu karena ulah Giovan, bocah ini? Sejak kapan Bram mengatakan hal itu padanya, walaupun benar itu yang dia pikirkan.


Bianca melihat ke arah Bram yang tampak gugup, Yuri sedikit tersenyum manis, dia lalu mengambil alih anak-anaknya.


"Nyonya, aku akan membersihkan Gwi dan Gio dulu sebelum terlalu malam," ujar Yuri meminta izin, Bianca mengangguk lalu Yuri membawa si Kembar ke dalam rumah, dia melirik sedikit ke arah Bram, seolah menunjukkan bahwa inilah kesempatannya.


"Bram …" kata Bianca memandang pria di depannya ini, pria yang selama 4 tahun ini ada di sampingnya dan selalu bisa di andalkan.


"Ya, Nona?" Kata Bram, saking gugupnya nada bicaranya bahkan seperti pada komandannya, membuat Bianca mengerutkan dahinya namun tersenyum sedikit.


"Terima kasih sudah membawa Gio dan Gwi pergi, mereka pasti sangat merepotkan, satu lagi, terima kasih untuk makanannya," ujar Bianca, pria ini tentunya selalu ingin membantu Bianca.


Bianca memang punya keterbatasan finansial, dia hanya seorang ibu tunggal yang memiliki anak kembar yang harus dia urus, semakin besar keperluan si kembar semakin berat apalagi dengan kepintarannya, banyak yang menyarankan si kembar untuk sekolah secepatnya, namun tentu Bianca masih memikirkan umur mereka dan juga masalah biaya, karena itu dia mati-matian bekerja.

__ADS_1


Bram selalu mengatakan walau tak secara langsung, bahwa dia ingin juga bertanggung jawab terhadap si Kembar, namun secara halus pula Bianca menolaknya, tak ingin menambah hutang budinya pada pria ini, 4 tahun ini dia dibuat kesusahan, bahkan dia harus keluar dari ketentaraannya hanya untuk melindungi mereka, bekerja apapun untuk menyambung hidupnya dan membuat Si kembar bahagia.


"Sama-sama nyonya, tak perlu sungkan," ujar Bram sedikit tersipu, hanya dengan begini saja dia sudah bahagia.


Bianca menggigit bibirnya, sedikit merasa canggung dengan suasana yang tercipta, tatapan bahagia Bram itu membuatnya sedikit tak nyaman, walau dia tutupi, Bianca juga tak bodoh, pria ini memiliki perasaan dengannya, caranya memperlakukannya dan segala yang tampak, siapapun akan tahu bahwa dia menyukainya, namun bukan Bianca kejam, dia hanya tak bisa membalasnya dan tak ingin memberikan harapan pada pria ini, kepercayaannya atas cinta, sudah lama hilang dan berganti dengan sakit hingga mati rasa yang mendalam.


"Ingin masuk?" Tanya Bianca lagi.


"Aku rasa aku akan pulang, esok aku harus berlayar lagi, Nyonya, berhati-hatilah," ujar Bram dengan senyuman manisnya. Bianca membalas senyuman itu, membuat Bram langsung tak bisa menutupi bahagianya.


"Ya, berhati-hati juga di lautan, sampai jumpa lagi," ujar Bianca mencoba berbaik kata.


Bram tampaknya sangat bahagia mendapatkan balasan senyuman dan juga senang mendapatkan kata hati-hati dari Bianca, dia tersenyum sumringah bagaikan anak remaja yang kasmaran, dia masih tersenyum beberapa saat sebelum dia membalikkan tubuhnya dan pergi menuju ke arah mobilnya.


Saat dia mau pergi, Bram membuka kaca mobilnya, sebenarnya enggan meninggalkan wajah cantik yang sekarang menatapnya, Bianca hanya memberikan senyuman, Bram kembali terpesona untungnya masih sadar dan segera pergi dari sana. Baginya adegan ini mirip mimpinya, seorang istri yang menunggu suaminya pergi untuk bekerja.


---***---


Bianca ada di tengah anaknya, Gwi ada di kanannya sedangkan Gio ada di kirinya, mereka sudah bersiap untuk tidur namun seperti biasa mereka saling bercerita tentang hari mereka.


"Mami, aku bertemu dengan seorang paman, dia tampan sekali," kata Gwi yang tampak menatap ke arah atap kamar mereka.


Bianca yang mendengar itu langsung melirik anaknya, usia 3 tahun begini bagaimana Gwi tahu tentang pria tampan.


"Lalu? Apakah dia mengganggu Gwi?" Tanya Bianca, zaman sekarang banyak sekali yang menjadi predator anak, Bianca harus waspada.


"Tidak, pamannya baik, saat itu Gwi sedang tersesat dan dia menemani Gwi hingga bertemu kak Gio," Kata Gwi menatap wajah ibunya, Gwi lalu tersenyum manis.


"Ya, paman itu juga membelikan gulali yang enak, Gio sedikit merasa bersalah telah melirik paman dengan wajah jahat Gio," kata Gio menimpali.

__ADS_1


"Gio memarahi paman itu?" Tanya Bianca lagi.


"Tidak, Gio hanya menatapnya dengan wajah marah agar dia tak macam-macam dengan Gwi, Gio kan kakak yang harus menjaga Gwi siapa tahu dia jahat hanya wajahnya saja yang tampan," kata Gio lagi menatap ibunya.


"Tapi paman itu baik kok," ujar Gwi membela hingga dia terduduk.


"Baik-Baik, jangan bertengkar, Gio, mami bangga denganmu, Gwi, lain kali jangan terlalu dekat dengan orang asing, jika tersesat carilah petugas, ok, kak Gio hanya menjaga Gwi," kata Bianca menenangkan Gwi yang tampak keberatan kenalannya itu di salahkan, namun mendengarkan kata ibunya, Gwi hanya menunduk dan mengangguk pelan.


"Baiklah, ayo kembali tidur," ujar Bianca, mereka kembali ke posisi semula, hening sejenak hingga Bianca merasa kedua anaknya sudah tertidur.


"Mami," kata Gwi lagi, Bianca mengerutkan dahinya, gadis kecilnya malam ini banyak sekali berbicara, tak seperti biasanya.


"Ya?"


"Papi Gwi, bagaimana orangnya?" Ujar Gwi yang membuat Bianca tersentak, Gwi tak pernah bertanya seperti itu, pernah sekali Gio bertanya dimana ayahnya, setelah mengatakan bahwa ayahnya tak ada di sini dan sudah di surga, Gio dan Gwi tak pernah lagi bertanya, seakan mengerti bahwa hal itu tak layak ditanyakan.


Gwiyomi sebenarnya tak pernah punya keinginan bertanya tentang ayahnya, hidupnya cukup sempurna, dia punya bibi bahkan paman Bram yang sudah cukup menggantikan sosok itu saat ini, tapi setelah bertemu dengan paman yang rapi dan sangat tampan tadi, Gwi jadi penasaran dengan bagaimana rupa ayahnya, apakah setampan paman tadi?


"Ehm, Papi itu …" kata Bianca, mencoba mengingat wajah Rain, tentu wajah yang dia ingat, senyum tipisnya yang bahkan bisa membuatnya diam, seseorang yang dingin namun terus memberikannya perasaan hangat, "pejamkan mata Gwi, Gwi akan bertemu Papi dalam mimpi," ujar Bianca melirik anaknya.


"Benarkah?" Kata Gwi mengubah posisi tidurnya dari terlentang menjadi miring menghadap ibunya, dia tidur dengan tumpuan tangan di pipi chubby nya.


"Ya, pasti, makanya ayo tidur, sudah malam sekali," kata Bianca,menarik selimut menutupi tubuhnya dan Gwi, Bianca mengecup dahi Gwi, membuat Gwi tersenyum manis, mengingatkan Bianca seketika tentang siapa lagi yang memiliki senyuman manis itu.


"Selamat malam mami," ujar Gwi.


"Selamat malam Gwiyomi," ujar Bianca memperhatikan wajah anaknya yang perlahan menutup matanya.


Senyum Bianca hilang, dia tak bisa mengatakan bagaimana Rain itu sebenarnya, lagi pula dia tak ingin anaknya bertemu dengan Rain yang sekarang, mereka akan sangat sedih mengetahui bahwa selama ini mereka harus hidup di pulau terpencil seperti ini hanya karena lari dari ayah mereka yang ingin melenyapkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2