Rain In The Winter

Rain In The Winter
180.


__ADS_3

Ken hanya mengangguk mantap, lalu melihat Rain yang mulai keluar dari ruangan itu, dia segera menuju ke kamarnya mendengar gemericik air dari kamar mandinya, perlahan dia berjalan ke sana, membuka handuknya tepat di depan kamar mandi itu dan segera masuk ke dalamnya.


Bianca yang sedang membasuh rambutnya, merasa harus kembali mandi karena air kolam renang itu, Bianca tentu kaget ketika pintu kamar mandinya tiba-tiba terbuka, dia belum siap melihat kedatangan Rain.


Rain hanya melihat ke arah Bianca yang tubuhnya tampak ditutupi seadanya, Dia menaikan sudut bibirnya, dan dengan tenangnya masuk ke dalam ruang shower mereka, Bianca tentu kaget namun tidak bisa menolak Rain yang sudah menyudutkannya ke tembok yang terasa dingin.


"Jangan menyandar, temboknya dingin," kata Rain menarik tubuh Bianca agar lebih dekat dengannya.


"Ehm, ya," kata Bianca seadanya, walaupun sudah begitu lama menikah, tapi momen seperti ini jarang sekali mereka rasakan jadi tentu Bianca masih gugup.


"Ayo, mandi bersama," kata Rain, meraih sebotol sabun lalu mengoleskannya ke tubuh Bianca, Bianca tentu seketika menegang, dia seperti patung yang pasrah saja seluruh tubuhnya dibelai oleh suaminya, menyebarkan sabun cair itu yang perlahan menimbulkan busa di atas kulitnya yang putih dan terasa halus.


Rain memegang tangan Bianca dan memposisikannya mengadah, Rain lalu menuangkan sabun cair itu ke tangan Bianca yang masih saja diam tak merespon.


"Tolong bantu aku," Bisik Rain yang seketika menyulut seluruh perasaan Bianca, perlahan dia mengusapkan sabun dengan ke dua tangannya, menyentuh pundak dan leher Rain, dengan lembut dan saling membalurkan sabun itu ke tubuh masing-masing, membuat napas mereka semakin memburu.

__ADS_1


Rain segera mencium bibir Bianca, menahan tubuh kecilnya agar tak bersandar ke dinding kamar mandinya, dia juga menutup keran agar air dari pancuran itu tidak lagi mengalir membuatnya lebih leluasa agar bisa menikmatinya sentuhan dan juga sensasi pautan bibir mereka.


Bianca pun tak lagi terlihat canggung dan diam, dia juga tersulut birahinya, memang tak begitu lama mereka terpisah, namun rasanya rindu itu semakin menjadi saja rasanya.


Rain terus saja menjelajahi tubuh istrinya yang semakin lama semakin liar pergerakannya, Bianca tentu tak bisa menahan rasa yang ditimbulkan oleh sentuhan-sentuhan nikmat yang dibuat oleh Rain, seluruh tubuhnya serasa tak ada yang luput dari sentuhan Rain. Tangannya, hangat bibirnya, mendarat semua ketempat paling sensitif di tubuh Bianca, membuat desahannya tak bisa lagi tertahan, untung saja kamar itu bukan seperti kamarnya yang dulu, dia bisa membebaskan diri walaupun di beberapa kesempatan dia masih menahannya.


"Lepaskan saja, aku ingin mendengarnya," bisik Rain perlahan, napasnya benar-benar sudah tak teratur, setiap gerakan dan juga suara yang dikeluarkan oleh Bianca membuatnya semakin memuncak, apalagi sekarang Bianca sudah berani menyentuh bagian tubuhnya yang juga membuatnya semakin tak bisa menahannya.


"Jangan di sini," pinta Bianca.


"Baiklah," kata Rain yang sebenarnya sudah tak berpikir harus dimana melakukannya, toh kamar mandi ini besar dan juga luas, namun benar juga, lantai dan dindingnya pasti terasa sangat dingin, Rain segera menggendong Bianca, tak ingin membiarkan wanita itu kehilangan nafsu yang sudah susah payah dia bangkitkan, sepanjang perjalan dari kamar mandi dan ke ranjang mereka, Rain memautkan bibirnya, mencium ganas Bianca yang nyatanya juga melawan ciuman itu, bahkan Bianca yang menahan agar ciuman mereka tak terputus.


Di antara cinta, rindu dan nafsu memadu kasih mereka melakukannya dengan penuh hasrat, membuat keduanya larut dalam nikmat, menyatuhkan segala yang mereka punya hingga akhirnya saling menggapai surga duniawi.


Rain memeluk erat tubuh Bianca, membiarkan wanita itu menikmati sisa-sisa pergumulan mereka tadi, mendekapnya erat seolah tak ingin melepaskannya, dia pun mencoba untuk mengatur napasnya yang nyatanya makin berat dan tak beraturan dan sekejap saja mengantarkannya ke dalam lelap yang begitu nyaman.

__ADS_1


---***----


Rain memegang tangan Bianca yang tampak cukup tegang duduk di dalam mobil mereka, si kembar duduk di belakang mereka dengan Car seat mereka masing-masing dan tentu di temani oleh Yuri. Bianca mengulas sedikit senyum kagetnya, lalu melihat anak-anaknya yang ternyata sibuk sendiri dengan mainan-mainan baru mereka.


"Tidak perlu khawatir, ini hanya pertemuan biasa, aku tak enak menolak undangan mereka, karena merekalah yang sudah bertanggung jawab pada kalian sebelumnya dan mengizinkan kita semua ada di  negara ini sekarang," kata Rain menjelaskan kenapa tiba-tiba saja dia mengajak keluarganya untuk bertemu dengan keluarga kerajaan.


Rain menatap mata Bianca, dia belum bisa mengatakan apa tujuan sebenarnya mereka ke sana, dia belum bisa melihat binar kebahagiaan keluarga kecil mereka manjadi kesedihan dan kecemasan hanya karena masalah dirinya, Rain melirik ke dua anaknya yang tampak senang, Gwi melemparkan senyum pada ayahnya.


Bianca tak langsung  menjawabnya, sebenarnya dia tahu bahwa mereka suatu saat harus bertermu dengan keluarga kerajaan, bagaimanapun mereka adalah keluarga kandung Rain yang masih hidup, namun riwayat sebelumnya yang menganggu Bianca. Bianca tak yakin Rain ingat tentang masa lalunya itu, entah dia ingat dia pernah bergitu tergila-gilanya dengan sosok ratu sekarang, walaupun dia menenangkan diri mengingat tentang keadaan Rain sekarang, namun rasa gusar dan tak nyaman itu tentu saja ada.


"Baiklah," kata Bianca.


Mobil mereka tak lama masuk ke kawasan yang di jaga begitu ketat, mata Bianca sedikit terkesima melihat megahnya istana, ini benar-benar istana yang seperti ada dalam pikirannya, halamannya sangat luas, taman bunga di setiap sudutnya, lapangan hijau dan juga air mancur yang tersusun indah semakin hidup dengan permainan lampu yang membuatnya tak bisa menutupi kekaguman tempat ini, bahkan seisi mobil itu senyap hanya menatap pemandangan indah, bagaikan masuk ke dalam negeri dongeng.


Mobil mereka berhenti di pintu utama istana utama, di depan mereka mobil yang ditumpangi oleh Ken dan Siena sudah berhenti.

__ADS_1


"Baiklah, ayo turun," kata Rain melirik ke arah Bianca dengan sedikit naikan sudut bibirnya, dia turun duluan namun segera menyambut Bianca yang tampak begitu anggun dengan gaun yang sengaja dipilihkan oleh Siena, sebenarnya tak mengunakan gaun seperti itu saja pasti semua orang sudah akan menatapnya tanpa berkedip.  Rain melingkarkan tangannya pada pinggang kecil Bianca, menunjukkan kepemilikannya atas wanita ini, Yuri dan si kembar segera turun setelahnya.


Mereka segera bergabung dengan Ken dan Siena yang sudah tampak cukup familiar dengan tempat ini, mereka segera berjalan menapaki anak tangga menuju pintu utama yang di jaga oleh beberapa penjaga, tampak juga Tuan Gibert di sana.


__ADS_2