
Dokter Malvis perlahan menyuntikan serum dari darah Archie ke dalam aliran darah Rain, dia menatap wajah Rain yang tampak pucat, Satu hal yang dia takutkan adalah pendarahan, untung saja penyakit ini tak terlalu ganas menyerang tubuh Rain, entah kenapa? Padahal jika kumat biasanya penyakit ini sangat mematikan.
"Keadaan sejauh ini stabil, tanda vital setelah penyuntikan tak jauh berbeda dengan awal, kita tinggal menunggu responnya saja," ujar Dokter asisten itu memberikan status untuk dokter Malvis.
"Ya, berdoalah semuanya mengarah ke arah yang positif," kata dokter Malvis berharap dengan sangat.
"Dokter, Dokter Derian, dokter pribadi Tuan Rain sudah tiba, Beliau menunggu di ruangan sebelah," ujar perawat yang baru masuk di ruang tindakan Rain.
"Baiklah, segera minta hasil pemindaian otak Tuan Rain, aku butuh hasilnya sekarang, dan Tuan Rain sudah bisa masuk ke dalam ruang perawatan intensif pantau terus keadaannya, beritahu aku segera jika ada yang tidak baik," kata Dokter Malvis segera bergerak ke arah ruangan sebelah, ruangan istirahat dokter.
Dokter Derian langsung berdiri saat melihat Dokter Malvis masuk, dia memberikan sebuah senyuman profesional yang langsung di sambut oleh jabatan tangan yang hangat.
"Silakan dokter, kami baru saja memberikan serum pada Tuan Rain, dalam keadaan normal tanpa penyulit maka keadaannya akan berangsur membaik esok hari, Tuan Rain akan sadar secepatnya," ujar Dokter Malvis yang segera duduk di depan Dokter Derian, tak mengambil waktu lama berbasa basi untuk membahas keadaan Rain, otaknya tak pernah lepas berputar demi kesehatan Rain.
"Itu terdengar bagus sekali, tapi ada satu masalah yang aku pikirkan, penghapusan memori Tuan Rain sebelumnya sangat merusak beberapa bagian otaknya, sudah 4 tahun ini penyakit itu menetap tapi semakin parah sepertinya karena pengaruh penyakit keturunan ini, 2 Minggu ini keadannya semakin parah dengan cepat," ujar Dokter Derian menyampaikan apa yang dia pikirkan sekarang.
"Itu juga menjadi kekhawatiran kami, kami sudah melakukan MRI pada otak Tuan Rain, hasilnya akan bisa kita lihat secepatnya," ujar dokter Malvis memijat keningnya, menyandarkan tubuhnya yang cukup tegang, dalam hati dia berharap inilah kasus terakhir keganasan penyakit keturunan ini, penyakit ini selalu saja membuat kepalanya ingin meledak.
"Permisi Dokter, ini hasilnya," kata Asisten dokter Malvis.
"Terima kasih, ini dokter Irene, dia juga salah satu ahli dalam penyakit keturunan ini," kata Dokter Malvis memperkenalkan dokter Irene yang memasang hasil dari MRI itu di lampu khususnya.
__ADS_1
"Salam kenal Dokter, Saya Derian, Bagaimana hasil yang kita dapatkan?" Tanya Dokter Derian segera, melihat seksama hasil dari MRI itu.
"Aku rasa aku punya kabar yang cukup tak baik, memang keadaan Tuan Rain sejauh ini stabil, namun ternyata lesinya semakin luas akibat perdarahan otak, minimal memang, namun karena adanya kerusakan otak sebelumnya, wilayah yang mati semakin luas," ujar Dokter Irene tampak berwajah kecut.
Dokter Malvis kembali menghempaskan tubuhnya di kursinya, menghela napas panjang yang berat, Dokter Derian pun tampak frustasi, apa yang ditakutkan ketiganya semakin nyata.
"Tak ada yang bisa kita lakukan lagi, bagaimana efek dari hal ini hanya bisa kita lihat saat Tuan Rain sadar, dan berdoa lesi ini tak semakin luas cukup hanya menetap," Kata Dokter Derian menatap kedua teman sejawatnya ini dengan tatapan sedikit kecewa.
"Ya, ini memang adalah efek paling parah dari penyakit ini, dia sangat cepat dalam menghasilkan perdarahan terutama di otak, aku rasa ini akan mempengaruhi memorinya kembali," kata dokter Malvis segera.
"Aku juga merasa seperti itu, aku rasa kita harus melakukan pemantauan intensif setelah Tuan Rain sehat, Tuan Rain pernah mengatakan bahwa dia ingin keadaannya di sampaikan pada keluarganya hanya jika sudah jelas, itu langsung permintaan dari Tuan Rain," kata Dokter Derian menatap ke arah Dokter Malvis.
"Baiklah, terima kasih telah mau bekerja sama dengan saya," kata dokter Derian.
"Satu lagi, sebelumnya Tuan Rain ingin memberikan anaknya dua serum dari Pangeran Xander, aku rasa itu harus cepat dilakukan dimana usia 3 tahun termasuk usia rawan dalam penyakit ini, menurut penelitianku,penyakit ini banyak menyerang anak kecil di bawah umur 5 tahun dan bisa terjadi kapan saja bahkan saat keadaan mereka sedang sangat fit," kata Dokter Malvis lagi.
Dokter Derian tampak mengerutkan dahinya, sedikit menatap ke arah dokter Malvis dan dokter Irene.
"Akan sangat sulit jika nantinya tiba-tiba salah satu dari anak Tuan Rain atau malah keduanya terserang penyakit itu, lebih baik mengambil langkah secepatnya, pada anak, waktu penyelamatan mereka tak lebih dari 24 jam setelah serangan itu bermula," ujar dokter Irene seolah mempertegas apa yang di sampaikan oleh Dokter Malvis, mereka harus menuntaskan semua penyakit ini sebelum terlambat.
"Aku tentu setuju tentang hal itu, aku hanya tak tahu apakah Nyonya akan bisa menerimanya, suami dan dua anaknya harus ada di ruangan ini secara bersamaan," kata Dokter Derian masih memikirkan bagaimana keadaan Nyonyanya, pasti sangat tertekan, tadi saja saat dia datang, dia melihat Nyonya-nya sangat memprihatikan, seolah dia penuh dengan tekanan.
__ADS_1
"Kita akan memberitahukan bagaimana efeknya jika tak segera dilakukan pada Tuan dan Nona muda, urusan beliau menerima atau tidak, kita serahkan nantinya," kata Dokter Malvis kembali, menunggu 1 atau 2 hari tentu bisa dilakukan, tapi siapa yang bisa menjamin diwaktu itu Tuan dan Nona Muda tak terserang penyakit keturunan.
"Baiklah, kita akan bicarakan baik-baik padanya," kata Dokter Derian mengangguk setuju, benar semua ada di tangan Bianca sekarang.
---***---
"Kakak, minumlah tehnya, sudah dingin," kata Siena melihat Bianca yang hanya diam memegang cangkir dari teh hangat yang sudah mendingin, wanita ini tetap saja bergeming, keadaannya awalnya sudah cukup membaik, tapi saat dia melihat Rain yang dibawa untuk pemeriksaan MRI, Bianca kembali tampak syok dan juga terdiam.
Bianca cukup lega sebenarnya mendengar kabar Rain yang sudah membaik, tapi melihat wajah suaminya dengan segala infus dan oksigen di hidungnya juga wajahnya yang sangat pucat, dia kembali merasakan cemas, walau dokter mengatakan bahwa Rain sudah stabil, hati kecilnya seolah menolak dan menciptakan perasaan cemas itu lagi.
"Oh, ya, baiklah," kata Bianca sedikit menyeruput teh dinginnya.
"Nyonya, di sini ada ruangan untuk anda bisa beristirahat, Anda sudah duduk di sana hampir 4 jam, saya rasa lebih baik menunggu di sana," ujar Luke yang sudah mengekplorasi tempat itu, ruang tunggu di dalam sangat nyaman, bahkan ada 2 kamar tidur untuk para penunggu.
"Benar kakak, dokter juga tahu bahwa kakak menunggu di sana, mereka akan memberitahu Kakak jika mereka mendapatkan kabar terbaru," kata Ken menimpali, cukup kasihan melihat Bianca hanya duduk terpaku di lorong dingin ini, namun Bianca tetap bergeming.
"Jika kak Rain di sini, dia juga tak akan suka melihat kakak di sini terus, lagi pula kakak harus menjaga kesehatan,ada Gio dan Gwi yang akan menunggu kakak di rumah bukan?" Kata Siena lembut.
Bianca mengerutkan dahinya sejenak, nama Gio dan Gwi yang di sebutkan itu cukup membuatnya tergugah, ya, dia juga harus memikirkan anak-anak mereka, jika dia juga sakit, maka mereka akan sangat sedih melihat ke dua orang tuanya seperti itu.
Bianca mengangguk, dia mulai berdiri dibantu oleh Siena, dengan perlahan berjalan ke arah yang ditunjuk Luke, benar kata Luke ternyata tempat itu sangat nyaman, berbeda dengan lorong dingin itu, di sana cendrung hangat. Bianca mengambil posisi di dekat pintu agar cepat mengetahui apa yang terjadi, lalu semuanya hening kembali.
__ADS_1