
Bianca terbangun, merasa lemah seluruh tubuhnya dan lemas hingga sampai ke sendinya, namun yang membuatnya semakin bingung saat dia melihat dia sudah berbaring di ranjangnya, Bianca membuka selimutnya, tubuhnya masih polos seperti bayi, apa tadi Rian yang membawanya ke kamar?
Bianca langsung kaget mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, dia langsung menarik selimutnya, menyembunyikan separuh wajahnya, namun tetap mengintip agar tahu siapa yang ada di sana.
Bianca melihat suaminya baru keluar dari kamar mandi, sekali pemandangan itu sangat menggoda iman, pria itu keluar hanya dengan handuknya, rambutnya yang tetap dia basahi walau di sekitarnya begitu dingin tampak jatuh ke arah dahinya, Bianca gugup, wajahnya memerah, tadi rasanya dia sudah melakukan hal yang memalukan.
Dia ingat mengeluarkan suara-suara yang sangat tak pantas apalagi saat dia hampir mencapai kenikmatan, rasanya dia tak ingat kalau dia sudah mencakar dan juga menjambak rambut Rain.
Rain melirik istrinya yang tampak sudah bangun namun masih meringkuk malu di dalam selimutnya, dia tersenyum dan juga segera mengambil baju yang ingin dia gunakan, untung kamar itu juga memiliki pemanas kalau tidak dia pasti sudah tak tahan dengan dinginnya.
Rain membalikkan badannya memunggungi Bianca, Bianca membesarkan matanya melihat tanda goresan yang memerah, nyata sekali itu goresan jari-jemari.
"Apa yang terjadi pada punggung mu?" Tanya Bianca bingung, dia sama sekali tak ingat apa yang sudah dia lakukan?
Rain mengerutkan dahi memandang wajah Bianca yang cemas, dia sudah menurunkan selimutnya, hanya menutupi sebatas dada ke bawahnya, Membuat wajah lelahnya terlihat, Rain tersenyum tipis.
"Apa aku harus aku ceritakan padamu bagaimana mana kau membuat goresan ini? Atau mau aku ulangi lagi?" Goda Rain yang seketika membuat wajah Bianca memerah, akhirnya dia sadar apa yang sudah dia lakukan tadi. Bianca ingin membenamkan wajahnya kembali ke selimutnya namun Rain sudah mendekatinya.
__ADS_1
"Apa sudah lapar?" Tanya Rain duduk di depan Bianca.
Bianca baru merasa perutnya sedikit mengisap, mulai nyeri tanda butuh di isi, Bianca mengangguk pelan.
"Mandilah, setelah ini kita keluar mencari restoran atau tempat makan yang ada di sekitar sini, aku akan pergi melihat beberapa hal, jika sudah selesai, temui aku di ruang kerjaku," ujar Rain memperbaiki anak-anak rambut Bianca yang jatuh di sisi wajahnya.
Bianca yang mendengar itu sekali lagi bahkan tak sanggup berkata apa-apa, dia hanya mengangguk patuh, Rain melemparkan tatapan lembut dan senyum halus sebelum dia beranjak dari ranjang itu dan keluar dari kamarnya.
Bianca menghela napas panjang, sedetik lagi dia akan pingsan karena sudah lupa caranya bernapas jika Rain terus memperlakukannya seperti itu, Bianca berlari kecil polos tanpa penutup apapun di badannya, langsung masuk ke dalam kamar mandinya yang cukup luas, Bianca melirik ke arah bath up kamar mandi yang masih di isi dengan air hangat, sepertinya Rain sengaja melakukannya, Bianca tersenyum manis, ternyata dia benar-benar beruntung menikahi pria dingin itu.
Bianca memasukkan satu kakinya, rasa hangatnya langsung menyergap, dia membaringkan tubuhnya di dalam bath up yang juga sudah dia berikan sabun aroma terapi berbau vanila manis, sejenak saja merasa begitu nyaman.
Bianca tak pernah tahu bahwa tubuhnya bisa merasakan perasaan yang luar biasa seperti itu, yang menenggelamkannya dalam kenikmatan hingga dia tak sadar sudah melakukan hal-hal yang tak semestinya. Karena biasanya dia merasakan rasa terpaksa dan perlakuan kasar yang bahkan membuat tubuhnya seolah terkoyak dan terluka karena perbuatan pria yang tak ingin lagi dia sebut namanya itu, Bianca jadi berpikir tak ada kenikmatan dalam melakukan hal itu, namun … kenapa hanya dengan menggunakan sentuhannya saja Rain bisa membuatnya melayang hingga ke surga.
"Jangan terlalu lama berendam saat perutmu kosong, tak baik," suara pria yang hampir tak bernada itu terdengar, membuat Bianca kaget karenanya, bukankah Rain bilang dia sedang di ruang kerjanya.
"Ya, sebentar lagi aku selesai," kata Bianca yang segera menyudahi berendam, dia lalu segera membilas tubuhnya dengan air hangat, membersihkannya dari sisa-sisa bisa yang menempel juga membersihkan yang lainnnya, lalu segera keluar dari kamar mandi dengan jas mandi putih tebalnya, melihat ke sekeliling, ternyata suaminya itu sudah tak ada lagi di kamar.
__ADS_1
Bianca segera menggunakan bajunya, sedikit pelembab agar kulitnya tak kering, tak lupa wewangian lembut agar dia tercium lebih enak untuk Rain.
Saat Bianca keluar dan menuju ke Ruang kerja suaminya, seperti biasanya Rain sibuk dengan tablet dan laptopnya, Bianca hanya berdiri di ambang pintunya, menyenderkan tubuhnya pada kusen pintu itu.
Rain langsung sadar akan kedatangan Bianca, dia lalu melirik ke arah istrinya itu, memberikan gestur sebentar lalu tak lama menutup semua alat-alat elektroniknya. Dengan cepat dia berdiri dan berjalan ke arah istrinya itu.
"Sudah siap?" Tanya Rain.
"Ya, aku sudah sangat lapar," ujar Bianca.
"Baiklah," kata Rain, "ayo."
Rain memimpin jalan, mengambil mantel panjang dan tebalnya di gantungan, dia juga menyerahkan mantel putih milik Bianca, Rain lalu mengalungkan syal rajut berbahan Wol tebal di leher Bianca, memakaikan topi yang manis dan juga pelindung telinga, setelah perlengkapannya selesai, mereka segera keluar dari pondok mereka.
Bianca menginjakkan kakinya ke salju putih itu, sedikit masuk ke dalamnya, seorang supir yang memang sengaja dicari untuk menunjukkan area di sana segera menyambangi mereka dengan mobil mewah Rain, Rain membukakan pintu untuk Bianca yang segera masuk, baru sebentar saja wajahnya sudah merah terterpa angin dingin.
Mereka di antar ke desa kecil namun cukup lengkap di daerah sekitar mereka, Bianca segera turun saat Rain kembali membukakan pintu untuknya, dia menatap sebuah restoran dengan gaya klasik namun terlihat indah, Rain mengambil tangan Bianca mengusulkannya ke salah satu kantong mantelnya agar tetap hangat, padahal Bianca juga sudah menggunakan sarung tangannya.
__ADS_1
Bianca menatap ke arah Rain yang hanya tersenyum tipis sambil membuka pintu restoran itu.
Cukup ramai mungkin karena jamnya pas untuk makan siang, Rain memesan cukup banyak makanan yang katanya adalah ciri khas dari daerah itu, terutama ikan yang memang hanya bisa di dapatkan saat musim dingin seperti ini, setelah makan siang yang lahap karena dingin dan aktifitas mereka sebelumnya yang menguras tenaga, Mereka akhirnya memutuskan untuk sejenak berkeliling desa kecil itu.