
Luke mengerutkan dahinya, saat ini dia memang sendirian ada di apartemen milik Rain, selain dari apartemen ini lebih dekat ke perusahaan, dia juga memang di minta oleh Rain untuk mengambil beberapa berkas yang ada di sana dan di bawa esok sekaligus tinggal di sana.
Luke baru saja duduk dan memeriksa beberapa berkas saat tiba-tiba dia harus terganggu dengan suara bel di apartemen itu, seorang pelayan langsung tanggap dan ingin membuka pintunya, namun Luke segera melarangnya.
"Biar aku saja," ujar Luke, dia perlahan berjalan, kerutan di dahinya masih ada, dia melihat sejenak pada jam tangan berwarna silver itu, sudah cukup malam, jam 9.30 malam.
Pelayan itu mengurungkan niatnya, menundukkan kepalanya lalu segera pergi dari sana, Luke semakin penasaran saat bunyi Bel itu terdengar lagi, tak mungkin ini Tuan Rain atau Nyonya, karena jika mereka ke sini tak mungkin tak memberi tahu dirinya dulu, lagi pula untuk apa Tuannya menekan bel, dia tinggal menempelkan sidik jarinya saja.
Luke mengintip sejenak dari lubang yang ada di pintu, mendapati sosok cantik yang sedang berdiri di depan pintu itu, tampak tak sabar dan dia menekan kembali bel apartemen itu.
Luke melihat sosok itu tersenyum begitu manis dan hangat, dengan cepat dia membuka pintu apartemen itu.
"Rain!" Suara Lily tercekat ketika bukan Rain yang dia lihat, "kenapa malah kau?"
"Anda tak mungkin berpikir Tuan Rain akan membuka pintu sendiri kan? Dia punya 10 pelayan di sini, semua akan membukakan pintu untuknya," ujar Luke dengan senyuman manis nan hangatnya, membuat wajahnya yang tampan terlihat menarik untuk di lihat, punya aura pelindung yang kental.
Lily mengangguk kecil walau bibirnya sedikit maju, benar juga, apa yang dia pikirkan, tak mungkin Rain membukakan pintu untuknya.
"Lagi pula Tuan Rain tidak ada di sini," ujar Luke yang menyenderkan sisi lengannya ke kusen pintu, bersikap cukup santai menyambut Lily.
"Benarkah? Dimana dia?" Tanya Lily.
"Rumahnya, setelah menikah Tuan lebih sering tinggal di sana bersama Nyonya," kata Luke seadanya dan jujur.
Lily membesarkan matanya, apa dia tak salah dengar? Rasanya dia tak minum alkohol hari ini untuk merasa cukup mabuk dan kekurangan indra pendengarannya itu.
"Ha? Maksudmu? Kalau tak salah kau mengatakan Rain menikah?" Tanya Lily.
"Ya, beberapa Minggu yang lalu," ujar Luke lagi, mengangkat tubuhnya, mencoba bersikap lebih serius karena melihat wajah Lily yang tampak syok, bahkan dia membuka mulutnya dan lupa menutupinya dengan tangan.
"Dia menikah? Dengan siapa?" Kata Lily tampak masih belum percaya, tak mungkin Rain tiba-tiba menikah? Bukannya yang Rain seharusnya menikahinya?
"Nyonya Bianca tentunya."
"Bagaimana bisa? Wanita itu yang kemarin bukan?"
"Ya, tentu saja bisa, siapa yang akan melarang?" Tanya Luke menaikan satu alisnya, aneh sekali kenapa banyak wanita yang kaget Tuannya itu menikah dengan Bianca.
Lily berwajah kesal, sial dia sudah kalah langkah, wanita itu kenapa bisa merebut hati Rain yang sangat dingin itu padahal saat Lily melihatnya wanita itu tak lebih cantik darinya, Sial sekali, dia kehilangan satu calon suami yang sangat potensial.
__ADS_1
"Ah!!!" Teriak Lily kesal pada dirinya sendiri, dia menghentakkan kakinya di lantai itu. Luke yang melihat itu kaget, kenapa tiba-tina wanita ini menjadi mengamuk seperti ini.
"Hey, nona kau tak apa?" Tanya Luke yang melihat wajah Lily kesal hingga tertunduk.
"Antarkan aku pulang!" Kata Lily kesal dan merajuk jadi satu, dia mengacungkan kunci mobilnya ke depan Luke.
Luke tentu berwajah kaget, wajahnya juga bertekuk, kenapa dia harus mengantar wanita ini pulang?
"Kenapa aku harus melakukannya?" Tanya Luke membuat wajah Lily semakin kesal.
"Kau tega melihat wanita cantik yang sedang patah hati pulang sendiri, bagaimana jika aku kecelakaan?" Tanya Lily memandang wajah Luke, tentu masih begitu kesal.
Luke yang mendengarkan itu awalnya masih mencerna kata-kata itu, tapi tiba-tiba dia tertawa kecil, bagaimana bisa wanita seperti ini? Kelakuannya aneh namun imut secara bersamaan.
"Jangan tertawa! Antarkan aku pulang," teriak Lily bahkan merengek seperti anak-anak, dia kesal hingga ingin menangis rasanya.
"Oh, ya baik-baik, aku akan mengantarkan mu pulang," ujar Luke yang nyatanya tak tega melihat Lily yang matanya berkaca-kaca.
"Ini, ambil," suara merajuk nan imut itu terdengar, Luke menarik napasnya, bahkan saat tidak bekerja pun dia tak bisa tidur cepat, Luke menarik pintu apartemen itu, menutupnya lalu segera memberikan gestur agar Lily berjalan duluan.
Lily melihat hal itu hanya memutar tubuhnya, dengan wajah yang begitu masam dia berjalan, Luke dari belakang mengikutinya dengan senyuman manisnya, merasa lucu melihat wanita patah hati ini, lagi pula apa yang dia pikirkan? Mencintai Tuannya? Sudah pasti sebuah kesalahan besar.
Luke mengulum senyumnya dan dengan perlahan dia masuk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menembus hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur itu.
Sepanjang jalan Lily hanya memanyunkan bibirnya, wajahnya bertekuk namun tetap cantik, semerbak wangi manis itu menyelimuti mobil yang membuat Luke cukup betah ada di dalamnya, sesekali dia melirik wanita itu, tetap saja dengan posisinya yang marah, melipat tangan dan juga wajah cemberut.
"Menyetir saja," ketus Lily.
"Baik Nona," ujar Luke dengan senyuman manisnya, Luke tak punya tanggung jawab untuk mengantarkan Lily, bahkan Rain sudah memutus hubungannya dengan wanita ini, namun Luke merasa tak enak, benar juga membiarkan wanita cemberut pulang sendiri, bisa-bisa dia membuat masalah.
Luke tiba-tiba menghentikan mobilnya, membuat Lily bingung, dan dengan cepat dia membuka seatbeltnya lalu melihat ke arah Lily yang berwajah bertanya, namun Luke hanya memberikan gestur tunggu.
Luke keluar cepat membuat Lily harus mengerutkan dahinya lebih dalam, dia mencoba melihat sedang apa pria itu, tampak dia pergi ke sebuah tempat dagangan, lalu tak lama Kembali dengan dua es krim dengan wadah di tangannya.
Luke segera masuk, lalu dia menyodorkan eskrim itu apa Lily.
"Coklat atau strawberry?" Tanya Luke.
Lily menatap ke arah pria yang jauh berbeda kepribadiannya dengan Rain, senyumannya hangat dan ramah, banyak pria yang mendekatinya juga dengan es krim, tapi kenapa terasa pria ini punya senyaman yang begitu tulus.
__ADS_1
"Aku wanita dewasa, aku harusnya minum alkohol bukan makan eskrim, gimana sih?" Kata Lily sekali lagi menghempaskan tubuhnya di jok mobil dan melipat kembali tangannya, wajahnya terlihat kesal.
"Alkohol memang akan membuatmu lupa sesaat, namun kau juga lupa dengan dirimu, bagaimana jika saat kau minum alkohol kau melakukan hal memalukan? Bukannya lebih baik minum es krim? Coklat bisa membuatmu lebih tenang," kata Luke menjelaskan dengan lembut dan pelan, seolah sedang merayu anak kecil.
Lily melirik pria itu ketika dia mengatakannya, otaknya berputar, benar juga.
"Strawberry saja," kata Lily dengan ketus namun dia segera mengambil es krim itu, membuat Luke mengembangkan sebuah senyuman indah.
"Es krim ini sangat terkenal, setiap kali aku lewat ke sini, aku akan membelinya," ujar Luke.
Lily memasukkan sesendok dari eskrim itu, rasanya ringan namun nikmat, benar kata Luke, eskrim ini enak.
Luke hanya memakannya sesuap sebelum dia melakukan kembali mobilnya.
"Kenapa tak makan dulu?" Tanya Lily yang tak bisa melepaskan kenikmatan eskrim itu.
"Aku akan memakannya nanti saat pulang, sudah malam, seorang wanita tak baik ada di luar semalam ini," ujar Luke.
Lily mengerutkan dahinya, tak ada nada menggoda di kata-kata dari Luke, tapi kenapa kata-kata itu malah masuk dalam hatinya?
Lily jadi tertegun memandangi pria yang sekarang menyetir untuknya. Tak lama mereka sampai juga di apartemen Lily, Luke segera parkir, membukakan pintu untuk Lily, lalu mengantarkannya ke lift terdekat, tentu tak lupa eskrimnya.
"Ini Nona," ujar Luke.
"Jemput aku besok pagi," kata Lily lagi.
"Aku tak bisa," lembut Luke menolaknya.
"Kenapa tak bisa?" Suara ngambek itu masih terdengar.
"Besok aku harus bekerja," Luke tenang menghadapi gadis manja ini.
"Tidak bisa! Pokoknya kau harus menjemputmu! Kalau tidak ..." Paksa Lily pada Luke, dia bingung harus mengatakan apa selanjutnya.
Luke dengan santainya mendekat ke arah Lily, berdiri tepat di depannya, Lily saat itu baru sadar betapa tingginya pria ini di hadapannya, wangi maskulin yang lembut cukup terasa dan membuatnya langsung kenal.
"Maaf Nona, tapi aku bukan asistenmu, perlu alasan sangat kuat untukku lebih memilih mu dari pada pekerjaanku, selamat malam," ujar Luke menekan Lift yang langsung terbuka di belakang Lily, lalu dia mengambil tangan Lily dan menyerahkan Kunci mobil Lily, "masuklah."
Lily seolah terhipnotis dengan suara lembut Luke juga senyuman manisnya yang begitu tulus, Lily langsung saja masuk aja ke dalam lift itu, pintu lift tertutup setelahnya, Lily masih bisa melihat pria itu menatapnya sambil mengumbar senyum hangatnya, dan setelah itu dia pergi.
__ADS_1
Luke hanya geleng-geleng kepala sambil memakan eskrimnya, sekarang dia harus mencari kendaraan untuk pulang sekarang.