
"Katakan padaku, dimana wilayahnya?" ujar Drake dengan suaranya yang menjijikkan, membuat Bianca semakin berat bernapas, Bianca mulai takut jika berlama begini, dia tak bisa lagi mengendalikan dirinya dan kembali pada keadaan cemas dan histerisnya.
"Jika aku tak mengatakannya, kau ingin apa?" ujar Bianca tegas.
"Maka ku pastikan kau melihat ibumu merenggang nyawa lalu setelah itu dirimu," kata Drake lagi dengan suara kesal, semakin memeras dagu Bianca.
"Kau tak akan berani, karena hanya aku yang bisa memberitahu dirimu, lagi pula aku ke sini tidak ingin melakukan pertukaran itu, sampai kapan pun aku tak akan mengatakannya, aku ke sini hanya untuk mati," ujar Bianca tak gentar.
"Cobalah gadis murahan! kau tak akan bisa main-main denganku! Cepat katakan padaku atau aku akan membunuhmu dan ibumu!" kata Drake lagi sudah tak tahan dipermainkan oleh gadis lemah ini, genggamannya semakin erat saja seolah akan meremukkan rahang Bianca, napas Bianca semakin tercekat.
Bianca menatap tajam mata Drake, Drake pun tak ingin kalah menatap mata Bianca, dia ingin menunjukkan siapa Tuannya di sini.
"Tadinya aku ingin mati sendiri, tapi aku rasa aku harus menghilangkan satu iblis dulu sebelum itu terjadi!" ujar Bianca yang diam-diam menarik pisau yang dia rencanakan untuk bunuh diri itu, memegangnya dengan mantap dan tanpa Drake curigai, dia langsung menusukkan pisau itu tepat ke sisi kanan perut Drake.
Pisau itu terhunus, Bianca bisa merasakan setiap inchi dari pisau yang dia pegang kuat itu mengoyak dan mengiris daging Drake, tangannya mulai basah, dia tahu itu pasti darah Drake, namun Bianca bukannya takut, dia malah geram dan ingin menusuknya sedalam mungkin, menumpahkan semua emosinya dalam tusukan pertama itu.
Drake tentu kaget dengan rasa nyeri yang menyerang tiba-tiba, apalagi saat Bianca mencabut kembali pisau itu, Drake terhuyung ke belakang, Drake mencoba menahan Bianca agar tak menusuk kembali, dia menangkis serangan Bianca dengan tangannya yang akhirnya memotong daging tangan Drake.
Drake terus mundur sambil melihat ke arah perutnya yang sudah berlumuran darah, dia tak percaya apa yang sudah dilakukan oleh Bianca, dia menekan lukanya yang malah membuat sakitnya tak terbayangkan, dia ingin menggapai meja kerjanya, di sana ada tombol untuk memanggil para penjaganya.
Bianca yang sudah seperti kerasukan setan tak peduli bahwa tangannya dan bajunya sekarang penuh darah dari Drake, baginya dia harus menuntaskan semuanya kekesalan ini dan membunuh iblis ini, dia mengejar Drake dengan posisi siap untuk kembali menancapkan pisau buah itu, dan saat dia mendekat ke arah Drake yang berbalik membelakanginya tanpa berpikir panjang dia menusukkan pisau itu kembali ke punggung Drake, mencabutnya lalu melakukannya lagi, saat itu Drake mengerang kesakitan, tak menyangka gadis lemah itu menyerangnya secara brutal, namun akhirnya dia bisa menekan tombol itu.
"Kau akan mati," kata Drake yang melihat Bianca masih dengan pisau mengacung padanya saat dia berbalik menghadap ke arah Bianca.
"Tak perlu repot-repot, kita akan mati bersama," kata Bianca sekali lagi ingin menusukkan pisaunya, namun kembali di tangkis oleh Drake Hingga pisaunya terlepas dari tangannya, Bianca langsung mengambil pisau itu secepat mungkin, Drake yang melihat hal itu pasrah, tubuhnya mengeluarkan begitu banyak darah.
Pintu ruangan itu terdengar hendak terbuka, Bianca tahu para penjaga Drake akan datang, dia mengenggam tangannya, dan dengan sekali goresan, di memotong pergelangan tangannya, nyeri dan sakit terasa seketika, seluruh lengan kirinya terasa linu, Bianca melihat wajah Drake yang sudah kehilangan kesadaran, di tersenyum manis penuh kepuasan, dia sudah bisa mati dengan tenang. Dia sudah menyeret pria itu ke neraka.
Darah segera keluar deras dari tangannya, Bianca terhuyung ke belakang, penjaga Drake dan Asistennya masuk namun mereka segera menolong Drake yang sudah hampir kehilangan kesadaran dalam simbahan darah, Bianca mundur terus hingga tubuhnya menyentuh tembok, pandangannya gelap melihat darah yang memenuhi seluruh tubuhnya,kepalanya pusing dan perlahan kesadarannya turun, hingga akhirnya hanya gelap yang tersisa saat tubuhnya ambruk ke lantai.
__ADS_1
---***---
Rain sedang meninjau wilayah barunya untuk melihat bagaimana keadaan wilayah yang akan dia kembangkan bersama koleganya.
Ken berdiri tak jauh darinya, seperti biasa matanya awas menatap sekeliling, hingga satu dari pengawal Rian datang terburu-buru ke arahnya.
Ken tampak mengerutkan dahi ketika pengawal itu membisikkan sesuatu padanya, dia segera mengangguk dan. mendekati Rain.
"Permisi Tuan Rain dan Tuan Bryce, maaf, ada yang harus saya katakan pada Tuan Rain," kata Ken segera menatap Rain, Rain menangkap tatapan cemas itu, dia lalu segera mengerti.
"Tuan Bryce, saya izin dahulu," ujar Rain, Tuan Bryce hanya mengangguk sambil memberikan senyum ramahnya.
Rain berjalan tenang menjauh dari Tuan Bryce, setelah merasa cukup jauh, dia segera menatap Ken.
"Nona Bianca kabur dari resort," ujar Ken.
"Kabur? bagaimana bisa?" tanya Rain kaget, di tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ken.
"Selidiki dulu dengan Baik, cari keberadaannya sekarang, aku harus menyelesaikan pertemuanku dengan Tuan Bryce," kata Rain menatap pria Eropa yang sudah jauh-jauh datang padanya.
"Baik Tuan," kata Ken lagi mantap.
"Setelah aku selesai, aku ingin laporan itu sudah sampai padaku," kata Rain lagi dengan wajah dinginnya segera meninggalkan Ken dan kembali ke tempat Tuan Bryce berada.
Rain mengetuk meja kacanya, dengan bersandar dia tampak mencoba menenangkan dirinya agar bisa menahan rasa kesal dan cemasnya.
"Nona Bianca meminta Yuri untuk membuat makanan pagi, penjaga kita menjaganya sebelum dia mengatakan ingin ke kamar mandi, sejak itu Nona Bianca tak pernah lagi terlihat dan saat mereka memeriksa CCTV, mereka mendapatkan ini," ujar Ken menunjukkan bagaimana Bianca pergi dari sana tanpa paksaan atau ada yang mengiringnya, wanita itu dengan suka rela dan santainya masuk ke dalam mobil. Rain memandang tajam gambar dari CCTV itu, hanya diam dengan wajah menganalisa, dia menggertakkan giginya keras.
"Kemana dia?" tanya Rain dingin dan penuh emosi.
__ADS_1
"Mereka sudah melacaknya, sepertinya mereka menuju ke ibu kota, sebelumnya Nona Bianca juga menanyakan pada Yuri berapa jam perjalanan dari pesisir timur ke ibukota," kata Ken lagi.
"Drake," suara Rain terdengar kecil namun penuh dengan amarah.
"Ya aku yakin dia kembali pada Tuan Drake, mereka sudah mengintainya sejak lama," ujar Ken yang hanya bisa mengingatkan, intuisinya selalu benar.
"Bagaimana penjagaannya?" kata Rain lagi tampak mengubah posisinya mengarah ke arah Ken.
"Siap setiap radiusnya, aku sudah menyiapkan mata-mata ke seluruh tempat," kata Ken segera.
"Baiklah, siapkan Helikopter kita akan ke ibu kota sekarang juga dan temukan segera dimana lokasi pastinya Bianca berada sekarang!" ujar Rain berdiri dan segera keluar dari ruangan itu, saat dia berjalan, wajahnya tampak keras dengan tangan yang mengepal kuat.
"Baik Tuan," ujar Ken segera mengikuti Tuannya.
---***---
Rain segera turun dari Helikopternya setelah mereka mendarat sempurna di landasan helikopter di atap perusahaan utama dari Rain.
"Tuan mereka sudah menemukan mobilnya," ujar Ken segera menyerahkan tabletnya pada Rain yang berjalan cepat di depannya.
"Dimana dia sekarang?" tanya Rain lagi.
"Sebentar lagi mereka akan memasuki kawasan ibukota, apa kita harus menyergapnya?" tanya Ken segera sebelum Rain masuk ke dalam Ruangannya.
Rain berhenti sejenak, dia lalu segera masuk ke dalam ruangannya, dia tak langsung duduk di meja kerja seperti biasa dia lakukan, tapi dia tampak berpikir sambil berjalan, sesekali mondar-mandir di ruangannya.
"Jika kita menyergap sekarang, akan menjadi sorotan, mereka sudah masuk kawasan ibukota, akan ada masalah lainnya nanti," kata Rain memikirkan keadaannya, "Ikuti saja sesuai rencana, aktifkan orang-orang yang sudah berada di pihak kita, aku ingin tahu apa yang terjadi di sana," kata Rain lagi.
"Baik Tuan, saya akan meminta mereka mengawasi keadaan di sana, selain itu di kawasan rumah Tuan Drake sudah tersebar orang-orang kita, jika ada pergerakan yang mencurigakan, kita akan tahu segera," ujar Ken lagi.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi, aku hanya ingin Bianca tidak terluka, minta mereka memastikan Bianca aman di sana," ujar Rain pada Ken segera.
Ken mengerti, dia hanya mengangguk dan meninggalkan Rain yang tampak cemas di balik wajah datarnya itu, dia juga frustasi, bagaimana bisa wanita itu melakukan hal ini lagi?