Rain In The Winter

Rain In The Winter
164.


__ADS_3

"Biar ku baca pikiranmu, kau ingin tahu bagaimana aku tahu mereka ada?" tanya Rain lagi menatap wanita ini, wanita yang menghancurkan dirinya, sekarang tak akan ada ampun padanya, bahkan jika dia harus mendekam dalam penjara, dia akan memastikan wanita iblis ini akan hilang dalam dunia ini, "Bram! Kau pasti tahu dia siapa kan? Dia yang memberitahuku semuanya, bagaimana rasanya jika dikhianati orang yang kau percaya?"


Lidia terdiam, matanya tampak bergerak ke segala arah, tak mungkin, tak mungkin Bram, dia sudah percaya dengan pria itu karena dia melihat pria itu sangat terobsesi dengan Bianca, dia bahkan mati-matian menjaga wanita itu dari Rain, sedikit saja Rain atau bawahannya mendekat, dia langsung membawa Bianca pergi, itu kenapa dia bekerja sama dengan Bram, dia memberikan segala keperluan Bram dengan imbalan Bram menjauhkan segalanya dari Bianca, sebuah simbiosis mutualisme.


"Sebentar lagi kau akan merasa sangat pusing, setelah itu kau akan mulai tak bisa membedakan realitas atau mimpi, setelah itu kau tak akan bisa lagi mengontrol dirimu dan menjadi sangat mengantuk, sayang aku tak punya waktu untuk menyaksikan proses itu, kurung dia di bawah tanah, kita masih punya banyak pekerjaan," kata Rain menyuruh kedua penjaga itu membawa Lidia.


"Rain! Kau gila! Rain! Aku akan membunuhmu," kata Lidia yang di seret paksa, walau mencoba tak bergerak tapi tetap saja dia dibawa menuju ke ruang bawah tanah.


"Tidak, jika aku membunuhmu terlebih dahulu," kata Rain seolah menikmati jeritan-jeritan kesakitan dan ketakutan dari Lidia, "pastikan dia tetap ada di sana, jika ada sesuatu saja yang mencurigakan, tembak dia tepat di kepala, pastikan dia mati," kata Rain memerintahkan, wajahnya yang tadi penuh dengan senyuman licik sekarang terlihat sangat serius dan penuh dengan amarah.


"Baik Tuan," kata Antony patuh, dengan senang hati dia melakukan hal itu, wanita yang sudah memfitnahnya, sangat membuatnya marah.


"Antony, jalankan misi di pulau itu sekarang juga, jangan lupa buat seolah-olah itu semua dari Lidia, kita akan memancingnya datang ke mari, aku rasa dia sudah cukup frustasi dengan kepergian Bianca," kata Rain.


"Siap Tuan, " kata Antony kembali, dia segera mengambil ponselnya, menelepon seseorang, begitu panggilan itu terhubung dengan cepat Antorny segera mengatakan sesuatu, "Eksekusi sekarang!”


Rain tampak menaikkan sudut bibirnya, matanya tampak kosong namun juga tajam, siapapun yang sudah bermain-main dengannya sudah pasti akan dia habisi.


---***---


Bram masih belum bisa menenangkan dirinya, bahkan dia saja tak bisa duduk tenang walau hanya beberapa menit, dia benar-benar bingung harus melakukan apa, bagaimana bisa dia kehilangan Bianca dan anak-anaknya, bagaimana dia bisa kecolongan hingga membuat dia kehilangan semuanya.


Bram hanya bisa mondar mandir di rumah kecilnya, dia berulang kali menyeka rambutnya, membuat kepalanya yang pusing sedikit terobati.

__ADS_1


Bram harus menyusun rencana agar dia bisa kembali menemukan wanita itu, Bram langsung ingat tentang Ken, bukankah pria itu ada di negara itu sekarang, sepertinya dia bisa meminta tolong agar dia bisa masuk ke wilayah itu maupun wilayah kerajaan.


Bram langsung mengambil ponselnya, baru saja dia ingin menelepon Ken, dia mendengar suara yang cukup mencurigakan di luar, instingnya sebagai seorang tentara segera bekerja, dia meletakkan ponselnya dan menggantikannya dengan pistolnya.


Bram berjalan perlahan mendekati pintu kamarnya, mendengar seksama suara-suara yang terdengar di sana, senyap sejenak namun tak lama terdengar suara dobrakan pintu di pintu kayu yang usang itu, sekali dobrakan dan pintu itu terbuka, Bram segera sembunyi di belakang pintu itu melihat 3 orang Masuk ke dalam rumahnya.


"Dia tak ada di sini," ujar Pria itu.


Bram dengan sigapnya langsung menyergap salah satu dari mereka, menarik pria itu dengan tangan mengalung di lehernya, 2 teman pria itu tampak kaget namun dengan cepat Bram menembak kaki salah satu dari mereka yang membuatnya tumbang, yang lain tampak sedikit kaget hendak menembak Bram namun dia langsung dilumpuhkan oleh Bram kembali dengan tembakan di dada, membuat pria itu tersungkur segera.


"Siapa yang mengirimmu?" Tanya Bram menyodorkan pistol itu ke kepala pria itu, tangannya mencekik lebih erat di leher pria dengan setelan serba hitam, namun pria itu seolah diam seribu bahasa.


"Katakan padaku! Atau aku tak segan-segan!" Kata Bram menekan muncul pistol itu di pelipis pria itu, membuat pria itu melirik ngeri.


"Tidak mungkin! Tunjukkan perintahnya," ujar Bram pada pria itu.


Pria itu dengan tangan gemetar mengambil sesuatu di sakunya, melihat pria itu cukup kesulitan, Bram melepaskannya namun tetap mengarahkan pistol itu ke arah wajah si pria itu, lalu pria itu segera mengambil barang yang ada di dalam sakunya, dia segera menunjukkannya.


Bram mengerutkan dahinya, lalu mengambil ponsel itu, dia melihat pesan yang dikirim kan, benar itu dari ponsel Lidia,di dalamnya dia bisa membaca bahwa mereka harus melenyapkan Bram dan juga Bianca beserta anaknya.


"Bram!! Bram!!" Teriak seseorang dari luar yang membuat Bram tak fokus, Pria itu segera lari dan keluar dari rumah itu, Bram hendak mengejarnya namun melihat teman sepekerjaannya tampak bingung karena melihat pria yang berlari tunggang langgang tadi, dia juga langsung kaget melihat Bram mengacungkan pistol ke arahnya, teman Bram itu segera menaikkan tangannya tanda menyerah.


"Billy, ada apa?" Tanya Bram, dia memasukkan kembali pistolnya.

__ADS_1


"Ya! Ya! Benar! Rumah Nyonya Bianca! Rumahnya habis terbakar, orang-orang mengatakan bahwa ada ledakan yang besar!" Kata Billy cukup histeris dan syok.


Bram mengerutkan dahinya, kalau begitu perintah itu bukanlah perintah yang main-main, ada apa dengan Lidia, bukannya mereka sudah sepakat?


"Billy, kapan ada jadwal ke pulau Anias?" Kata Bram lagi dengan wajah tegangnya,dia harus pergi ke pulau terdekat yang punya akses bandara untuk ke ibukota, dia harus menemui wanita gila itu. Bram sedikit bersyukur Bianca dan Anak-anaknya sudah pergi dari tadi, jika saja dia menahannya maka mungkin Bianca dan Anak-anaknya dalam bahaya.


"Ehm, entahlah, oh, kapal Fredy akan berlayar ke sana jam 7 pagi nanti, aku rasa kau bisa menumpang," kata Billy lagi.


"Masih 3 jam lagi," kata Bram.


"Ya, tak ada yang berlayar ke sana lagi hari ini," kata Billy dengan sikap mulai santainya.


"Baiklah, terima kasih," kata Bram mengambil ponselnya lalu mengunci rumahnya, dia tak mau ada yang melihat orang-orang yang terkapar terkena tembakannya, dia tak yakin mereka sudah mati atau belum, tapi yang pasti dia tak mau mereka memburunya lagi, setelah itu Bram segera ke arah mobilnya.


"Kau ingin ke rumah Nyonya Bianca? Di sana sudah ramai orang," kata Billy lagi.


"Tidak, aku punya hal yang harus aku urus lagi," kata Bram segera menjalankan mobilnya, satu tangannya memegang kemudi lalu dia menekan tombol panggilan.


Dia mendengarkan 3 kali nada panggil barulah panggilan itu terangkat.


"Halo? Ken! Aku butuh bantuanmu!" Kata Bram segera. Dia mendengar semuanya dengan seksama, wajahnya tampak penuh amarah.


"Baiklah, terima kasih," kata Bram, dia segera melajukan mobilnya dengan sangat cepat menuju ke dermaga.

__ADS_1


__ADS_2