Rain In The Winter

Rain In The Winter
160.


__ADS_3

Rain melepaskan tangannya, dia lalu melangkah keluar dari sana, Bianca hanya bisa melihat pria itu berjalan menuju mobilnya, Gio berjalan ke dekat ibunya dan mengandeng tangan ibunya.


Rain melempar pandangannya sejenak sebelum dia masuk ke dalam mobil, saat dia masuk dia tak membuka jendela mobilnya, nyatanya beban sekali meninggalkan keluarga kecilnya itu, matanya terasa perih dan perlahan basah, namun ini yang harus dia lakukan agar mereka bisa bersama nantinya.


"Mami, jangan khawatir, Gio ada di sini," ujar Gio mengetatkan tangan ibunya, membuat Bianca kembali menangis dan memeluk Gio saat mobil itu perlahan meninggalkannya dan hilang di ujung matanya.


---***---


Bianca memasukkan beberapa barang ke dalam koper yang sudah terlihat cukup usang, tak banyak baju yang dia bawa, bahkan terlihat lebih banyak dokumen dan barang-barang si kembar. Matanya masih sembab, nyatanya hampir setengah hari ini dia habiskan dengan menangis, walaupun dia tak ingin menangis namun tetap saja air matanya menetes seperti itu saja.


Yuri juga sibuk mengemasi apapun yang diperlukan setelah dia beritahu oleh Bianca tentang perintah dari Rain, Si kembar hanya duduk dengan patuh di atas ranjang mereka, melihat ibunya sibuk bersama bibinya.


"Mami, kita mau kemana?" Tanya Gwi dengan gayanya.


"Kita akan pergi ke suatu tempat, kalian akan menyukainya," ujar Bianca, padahal dia sendiri tak tahu kemana Rain akan membawanya mereka.


"Mami, jadi besok kami tidak akan sekolah?" Tanya Gio lagi.


"Mami sudah mengatakan pada Bu guru bahwa kalian akan libur, lagi pula ibu guru mengatakan bahwa Gio dan Gwi sangat pintar, mereka bilang Gio dan Gwi butuh sekolah yang lebih besar dengan lebih banyak guru," ujar Bianca yang mendekati anaknya, mencoba memberikan sedikit penjelasan agar anak-anaknya tak kecewa.


"Wah, benarkah? Jadi Gio akan punya sekolah yang lebih besar?" Tanya Gio senang.


"Ya, nanti di sana Mami akan mencarikan sekolah yang lebih besar," kata Bianca, Gwi dan Gio tampak tersenyum bahagia.


"Nyonya, aku rasa sudah semuanya," ujar Yuri.


"Baiklah, kita tinggal menunggu saja," ujar Bianca.


Baru saja Bianca mengatakan hal itu terdengar ketukan di pintu rumah Bianca, Bianca mengerutkan dahinya menatap menatap Yuri, Yuri pun sama.


"Akan saya bukakan," kata Yuri.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku saja," kata Bianca segera berdiri, dia mengambil benda bundar semacam koin dengan ukiran yang tak dikenali oleh Bianca, berwarna emas, dia segera berjalan, dalam hatinya, mudah-mudahan ini bukan Bram atau orang yang ingin mencelakakan mereka.


Bianca mengintip sejenak, melihat ke arah jendela, menemukan pria yang sudah tampak cukup sepuh dengan dua orang lain di belakangnya, tampak rapi dan berpendidikan.


Bianca membuka pintunya sedikit walau pun yang datang adalah pria tua, dia tak mau ambil resiko.


"Selamat malam nyonya, saya ingin bertemu dengan Nyonya Bianca," kata Pria itu tampak begitu ramah.


"Ya? Saya sendiri?" Jawab Bianca yang masih belum membuka pintunya lebih lebar.


Pria itu tersenyum, maklum dengan sikap Bianca yang tampak ketakutan.


"Saya membawa ini," ujar Pria itu mengeluarkan sesuatu dari tangannya yang tampak identik dengan apa yang diberikan oleh Rain. Bianca mengendurkan pertahanan, dia lalu segera membuka pintu rumahnya lebih besar.


"Nyonya, kita akan segera berangkat, Tuan Rain meminta secepatnya tanpa mengulur waktu, apakah anda sudah siap?" Tanya pria itu.


Bianca hanya menarik napasnya, dia mengangguk perlahan, dia segera masuk dan menemui Yuri yang menemani Si kembar.


"Ayo!" Teriak Gio senang membuat Bianca kembali dari ragunya.


Bianca segera mengandeng Gio dan Gwi, Yuri berjalan di belakangnya membawa dua koper mereka, para penjaga yang melihat itu segera membantu mereka, pria tua itu membukakan pintu untuk mereka lalu Bianca dan si kembar masuk, Yuri menyusul setelahnya, setelah semua selesai mereka langsung pergi.


Bianca memeluk kedua anaknya, masih bersikap waspada pada pria tua yang tampak terus tersenyum di dekat mereka, mobil mini bus ini terlihat kokoh melewati jalan-jalan di pulau ini.


"Kemana kita akan pergi?" Tanya Bianca akhirnya memberanikan diri.


"Ke landasan pesawat, kita akan naik pesawat pribadi yang sudah disiapkan untuk anda, kemana tujuan pastinya akan saya jelaskan setelah kita mengudara, Tuan Rain tak suka jika membuang waktunya," ujar Pria tua itu lagi.


"Mami, kita akan naik pesawat?" Tanya Gwi tampak menatap ibunya.


"Ya."

__ADS_1


"Asik! Kita akan naik pesawat, Gio sudah lama ingin naik pesawat," ujar Gio senang, baginya perjalanan ini bagaikan sedang berlibur, Bianca tersenyum sedikit namun langsung menghilang, perasaannya masih kacau, kemana mereka akan pergi.


Mobil mereka berhenti di satu-satunya landasan pesawat yang hanya bisa dilandasi oleh pesawat kecil, sebuah pesawat jet mewah sudah siap ada di sana.


Yuri turun duluan, lalu mempersilakan Bianca dan si kembar Turun.


"Wohhh!!" Seru Gio kagum, "mami, kita naik itu?"


"Ya," kata Bianca.


"Ayo Mami, ayo naik," ujar Gio tak sabar menarik ibunya.


"Nyonya silakan masuk," ujar Pria tua itu, Bianca masih ragu, Yuri yang melihat itu segera mengecek ke dalam jet pribadi mewah itu, tak ada siapapun di dalam.


"Aman Nyonya," ujar Yuri.


Walaupun Yuri sudah mengatakannya, Bianca masih saja merasa tak bisa sepenuhnya melangkah ke sana, tarikan Gio pun hanya menggeser langkahnya sedikit.


Tiba-tiba dia mendengar suara mobil mendekat, tak lama Bram turun dari mobil itu.


"Nyonya?!" Kata Bram yang tampak kaget, melihat Bram yang begitu Bianca jadi panik, dia melepas tangan Gio dan Gwi yang untungnya langsung di sambut oleh Yuri yang tanpa ragu membawa mereka masuk.


"Anda mau kemana?" Tanya Bram tampak cemas namun juga ada rasa kesal.


"Tuan, maaf namun kami harus segera membawa Nyonya dan anak-anaknya segera," ujar Pria tua itu pasang badan, walau sudah cukup tua tapi dia tak gentar melihat wajah Bram yang kesal. Bianca yang ada di sana hanya diam seribu bahasa, hatinya bingung mana yang benar dan mana yang salah.


"Tidak bisa, dia ada dalam penjagaan ku! Kalian tak bisa membawanya kemana pun, Nyonya! Anda harus ikut denganku!" Kata Bram dengan tatapan tajamnya.


"Tak bisa, Yang Mulia Raja Archie memerintahkan langsung untuk membawa kembali semua keturunan kerjaan agar mendapatkan pengobatan tentang penyakit keturunan mereka, Pangeran Giovan dan Putri Gwiyomi adalah keturunan langsung dari Yang Mulia Raja Leonal, Karena itu mereka harus mendapatkan pengobatannya sebelum terlambat," ujar Pria itu teguh.


Bianca mendengar itu mengerutkan dahinya, benar, penyakit itu, dia pernah melihat keganasannya, semua hal ini membuatnya melupakan bahwa di dalam darah anak-anaknya ada bom waktu yang siap meledak, dan sejauh yang Bianca tahu, hanya pihak kerajaan yang punya penawarnya, bahkan Rain sudah terlanjur amnesia sebelum penawarnya dapat.

__ADS_1


__ADS_2