
Drake keluar dari mobilnya, sejenak menarik ujung jasnya, membuat jas itu tampak kembali tegang dan rapi, dia lalu segera berjalan ke arah rumah mewah berkonsep minimalis yang diterangi lampu kuning di setiap sisi pintunya membuat penampilan rumah itu semakin dramatis.
Drake melangkah dengan sikap penuh percaya dirinya, tentu dia percaya diri dan bahagia sekarang, apa yang dia inginkan akhirnya terlaksana, dia akan menguasai negeri ini, dia akan menjadi pengusaha paling sukses dis negaranya.
Ben berjalan duluan sebelum Tuannya, dia lalu segera menekan Bel pintu rumah itu, tak menunggu terlalu lama, pintu bercat putih itu terbuka, seorang pelayan wanita yang membukamnya.
"Selamat malam, Tuan ada yang bisa aku bantu?" tanya pelayan wanita itu
"Aku ingin bertemu dengan Nona Siena, apa dia ada?" tanya Drake yang sedikit memberikan senyumana khas miliknya, Drake harus memberitahu wanita itu bahwa dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, Siena pasti senang akhirnya dia juga bisa menghancurkan Rain.
"Ada, silakan masuk Tuan, Nona akan segera keluar," ujar Pelayan itu membukakan pintu lebih lebar, Drake mengangguk kecil, dengan perlahan masuk ke dalam rumah itu. Drake tak ingin memberikan kejutaan manis ini dari ponsel, dia harus bertemu langsung dengan Siena.
Drake tak duduk, dia menunggu Siena sambil berdiri sambil mengamati lukisan-lukisan yang ada di sana, Siena punya selera yang bagus pada seni, terlihat dari lukisan-lukisan yang terpajang di sana.
Tak perlu waktu lama, tatapan Drake langsung berpindah dari sosok cantik yang masuk ke dalam ruangan itu, selalu menggoda apa lagi saat ini dia menggunakan kimono panjang sebagai luaran, di dalamnya dia hanya memakai tank top berwarna putih dan celana pendek jeans, sebuah pakaian yang cukup membuat Drake tak bisa memalingkan pandangannya.
"Wow, Anda begitu cantik malam ini," kalimat puji itu keluar begitu saja dari mulut Drake, melihat Siena bak Dewi Aprodite, sang dewi cinta dan kecantikan.
"Jangan terlalu memuji, ada apa hingga kau mencariku malam-malam begini?" tanya Siena lagi, melipat tangannya di depan dadanya, memandang dengan percaya diri ke arah Drake yang perlahan berjalan ke arahnya.
"Ada yang ingin aku katakan padamu, ini tentang rencana kita itu," kata Drake lembut, suaranya menjadi lebih berat, Drake mencoba mempertahankan kontak matanya dengan Siena yang menurutnya sudah terpaut.
"Oh, baiklah, kalau begitu ayo kita bicara di ruang tengah saja," kata Siena biasa saja, dia malah meninggalkan Drake begitu saja, membuat Drake mengerutkan dahinya, serasa mati kutu karena dia sudah mencoba merayu Siena namun ditinggalkan begitu saja, Drake bahkan memiringkan sedikit kepalanya, menganggap wanita ini kenapa tak terpengaruh sama sekali.
__ADS_1
Siena memimpin jalan menuju ruang tengah yang cukup luas di penuhi oleh sofa-sofa putih yang tampak sangat empuk, Siena duduk di salah satu sofa tunggal, tangannya diletakkanya tepat di kedua sisi sofa itu, kakinya yang putih dan jenjang itu disilangkannya tampak bagaikan seorang ratu penguasa.
Drake menaikkan satu sudut bibirnya, selalu suka bagaimana Siena menunjukkan bahwa dia bukan wanita biasa, tentu, dia punya semuanya yang dimiliki oleh wanita di dunia, kecantikan, kekayaan, kecerdasan, kekuasaan, dia benar-benar sempurna, pikir Drake.
"Katakan padaku apa yang ingin kau beritahukan?" tanya Siena lagi dengan lirikan matanya yang tajam.
Drake tak langsung menjawab, dia segera mengadakan tangannya meminta sesuatu dari Ben, Ben dengan cepat tanggap, dia lalu menyerahkannya dan Drake langsung meletakkannya di depan meja kaca dengan alas marmer krem itu, dia mendorongnya ke arah Siena.
Siena mengerutkan dahinya melihat kertas itu, setelah mengamati sebentar dia mengambil kertas itu, perlahan dia membaca semuanya, Drake sabar menunggu ekspresi yang akan muncul di wajah Siena.
Siena segera menurunkan kertas itu, kembali meletakkannya di atas meja, ekspresi senang itu tak tampak, malah ekspresinya datar seperti biasanya, Drake mengerutkan dahinya bertanya kenapa wanita ini tak senang.
"Kau tak senang?" tanya Drake, dia harus mendapatkan banyak luka tusukan hanya untuk mendapatkan selembar surat ini.
Drake diam sejenak lalu menaikkan satu sudut bibirnya, yang dikatakan oleh Siena itu benar adanya, tanpa kontrak yang sudah di tanda tangani, semua ini belum menjadi miliknya.
"Baiklah, aku akan membawakanmu kontrak itu," kata Drake lagi, entah kenapa membuat wanita ini senang adalah ambisinya sekarang.
"Baiklah, aku akan menunggu hal itu," senyum kecil menggoda muncul di bibir Siena, seolah tak sabar menunggu kabar bahagia itu di sampaikan oleh Drake.
"Ya, tunggu lah saja," kata Drake dengan senyum manisnya, sangat manis sebenarnya, pria yang memikat.
"Baiklah, kalau begitu ada yang ingin kau katakan lagi padaku Tuan Drake," kata Siena lagi menatap ke arah Drake.
__ADS_1
"Kenapa setiap kali aku mendatangi, kau selalu saja seperti mengusirku?" ujar Drake yang merasa Siena ini tak pernah ingin basa basi atau menginginkannya ada di sana.
Siena tersenyum santai, dia mencondongkan tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di atas lipatan kakinya.
"Karena aku dan kau hanya sebatas teman kerja Tuan Drake, oh, apa kau berpikir kita akan bisa lebih dari rekan kerja?" tanya Siena langsung membuat Drake sedikit mengerutkan dahinya, gadis ini benar-benar beda dengan yang lainnya.
"Apakah bisa?" tanya Drake menaikkan satu alisnya mengikuti sudut bibirnya yang terangkat.
Siena menatap wajah pria di depannya, tak bisa di pungkiri wajahnya tak kalah tampan dari pada Rain.
"Mungkin, tapi aku tak janji," kata Siena tiba-tiba berdiri dengan nada suara acuh, dia lalu melirik Drake yang masih duduk menatapnya dengan senyumannya, "Sudah malam, ini jadwalnya aku beristirahat, aku lelah karena bekerja tadi pagi, jika tak keberatan bisakah aku istirahat?" suara Siena itu terdengar lembut buat Drake.
Drake menambah lebar senyumnya, dia berdiri dan menatap tubuh kecil Siena.
"Ingin ku temani istirahatnya," tawar Drake membuat Siena langsung tersenyum manis.
"Kau mulai nakal Tuan Drake, tapi kali ini aku sedang malas bermain-main."
"Aku juga tidak main-main," kata Drake menarik tangan Siena, membuat Siena kaget dengan apa yang dia lakukan, pegangan tangan itu erat terasa, mata Drake yang menatap Siena dengan kelembutan namun ada sisi tajamnya pula, membuat Siena tak bisa berkutik.
Melihat Siena yang hanya bisa diam terpatung, Drake merasa senang, akhirnya dia bisa membuat wanita angkuh ini terdiam, dia menaikkan kembali sudut bibirnya memperlihatkan senyuman liciknya, dia perlahan melepaskan tangan Siena.
"Selamat malam Nona Siena," kata Drake yang meninggalkan wanita itu yang hanya bisa terdiam, napasnya dari tadi tercekat gara-gara ulah Drake, Siena hanya bisa menatap pria itu pergi.
__ADS_1