Rain In The Winter

Rain In The Winter
196


__ADS_3

"Silakan, lagi pula suhu tubuh anda bisa membuat suhu tubuh nona muda turun, Naik saja ke atas ranjang, kami akan bantu anda untuk melakukan metode skin to skin," kata Dokter Irene mencoba tetap tenang.


Bianca langsung mengangguk mengerti, dia naik ke atas ranjang Gwi, dokter dan perawat membantu untuk Bianca bisa memangku anaknya, mereka juga membantu membuka baju Bianca dan juga baju Gwi agar sebisa mungkin permukaan tubuh Gwi mengenai ibunya agar penguapan panasnya lebih besar terjadi.


Bianca menatap anaknya yang pipinya terlihat memerah, suhu badannya sangat panas menyentuh kulit Bianca, dia memeluknya erat, membiarkan perlahan Gwi tampak nyaman di pelukan ibunya.


"Nyonya, kami akan datang untuk memeriksa keadaan Nona muda setengah jam lagi, saya sudah menyuntikkan obat anti demam, selain itu dia juga sudah tampak nyaman, biarkan dia tidur, setelah setengah jam, jika sudah memungkinkan kita biasa membiarkan Nona muda kembali tidur di ranjang," kata Dokter Irene lagi.


Bianca mengangguk cepat, tak semua kata-kata itu dia cerna, dia hanya peduli dan melihat ke arah wajah putrinya yang sekarang ada di pangkuannya.


Dokter dan perawat segera keluar, Bianca terus mencoba agar anaknya tampak nyaman, memeluknya, sambil sesekali menggoyangkan tubuhnya agar anaknya terlelap lebih dalam seperti dalam ayunan, menimangnya seperti saat Gwi bayi.


Setelah beberapa menit baru dia sadar, dia tak menanyakan keadaan Gio pada dokter.


"Bagaimana Gio?" Lirik Bianca pada Gio yang masih nyaman memeluk Robotnya.


"Tadi diperiksa keadaannya normal Nyonya, suhunya juga normal, hanya Gwi yang demam," ujar Yuri yang juga tampak wajah mengantuknya.


Bianca menarik napasnya panjang, syukurlah hanya satu yang mengalami demam, jika keduanya, mungkin Bianca akan kembali frustasi karenanya, bagaimana bisa dia membagi dirinya untuk keduanya, mungkin Tuhan sedikit kasihan melihat keadaannya jika harus menanggung beban lebih dari ini, Bianca hanya berharap, semoga Gio tahan dengan efek serum itu, Bianca benar-benar kecolongan, dari awal penyuntikkan dia selalu lebih memperhatikan Gio dari pada Gwi, karena dokter mengatakan keadaan Gio sebelumnya lebih parah, namun ternyata Gwilah yang malah mengalami efek obat ini, Bianca menjadi sangat menyesal karenanya.


"Nyonya, ini agar anda nyaman," ujar Yuri menyelipkan 2 bantal di belakang tubuh Bianca.

__ADS_1


"Terima kasih," ujar Bianca melirik Yuri.


"Mami, dingin," suara racauan itu terdengar lagi, membuat Bianca kembali cemas melihat anaknya, memeluknya dengan lebih erat, menarik selimut di dekatnya agar menutupi tubuh Gwi sedikit, tak lagi menghiraukan dirinya yang juga merasa kedinginan karena bajunya juga terbuka, menggoyang-goyangkan tubuhnya lebih keras agar Gwi kembali nyaman.


"Sudah hangat anak mami?" Tanya Bianca mengusap dahi Gwi, rasanya sangat sakit melihat anaknya mengalami hal ini, dia merasa sangat bersalah, kenapa dia tak bisa menahan kantuknya hanya sekejap, jika tadi dia tak tertidur, dia pasti sudah tahu lebih dulu keadaan anaknya ini.


Gwi hanya mengangguk kecil, sedikit mendusel di tubuh ibunya mencari posisi nyamannya, Bianca terus menggoyangkan tubuhnya, tak peduli lelah, tak peduli rasa kantuknya dia terus melakukannya dan dia juga mendendangkan sedikit alunan lagu agar Gwi tertidur.


Bianca menatap terus ke wajah Gwi, dalam hatinya dia terus mengatakan kata maaf, maaf karena tak menjaganya dengan baik malam ini, Bianca memegang tangan hangat anaknya, matanya dari tadi sudah berkaca-kaca, namun dia menahannya, jangan sampai menangis atau pun terisak, bisa- bisa Gwi terbangun lagi, akibatnya hidungnya yang terasa basah.


Bianca sudah tak bisa merasakan dingin dikulitnya yang tak terkena kulit Gwi, tak peduli pinggangnya yang sekarang mulai terasa ingin patah, atau kepalanya yang serasa berat juga lehernya yang kaku sekali, semua dia tahan, tak akan lagi kecolongan, rasa bersalah itu jauh lebih sakit rasanya daripada yang dia rasakan sekarang.


"Nyonya, jika ingin menidurkan Nona Muda di ranjangnya silakan," kata Dokter Irene pelan.


"Tidak, aku tidak apa-apa, dia pasti lebih nyaman begini, lagi pula dia butuh diriku bukan?" Kata Bianca menanggapi, tak mau dia lepas dari anaknya, mengelus pipi merah anaknya perlahan, membuat Gwi tampak sedikit bergerak karena ulahnya.


"Baiklah, jika ada apa-apa panggil kami, semoga panasnya sudah normal besok pagi, Tuan Muda hingga sekarang masih normal, jangan terlalu khawatir, semua akan baik-baik saja," ujar dokter Irene tampak optimis, jika saja tadi panasnya tak turun atau bahkan bertambah, dokter Irene bahkan sudah menyiapkan unit perawatan intensif untuk Gwi takut sewaktu-waktu Gwi akan kejang, mungkin karena kasih seorang ibu, akhirnya yang ditakutkan oleh dokter Irene tak jadi kenyataan.


"Baiklah, terima kasih dokter," ujar Bianca, terus saja menimang anaknya dalam pelukannya.


Suasana ruangan kembali hening dan remang saat dokter Irene keluar dari sana, Bianca melirik jagoan kecilnya, masih lelap untungnya.

__ADS_1


Bianca sudah tak tahu berapa lama dan dari mana dia mendapatkan kekuatan menimang Gwi dalam pelukan dan pangkuannya, yang jelas bahkan Yuri yang berusaha dari tadi tidak tertidur akhirnya t0ertidur juga di sofa sambil terduduk.


Menjelang pagi panas Tubuh Gwi sudah hampir mendekati normal, namun Bianca tetap menolak melepaskan anaknya, dia bersikukuh tetap membiarkan Gwi dalam pelukannya karena menurutnya anaknya belum normal dan takut demamnya akan naik lagi, walau kantuk sekarang benar-benar menguasai, bahkan beberapa kali dia sudah ketiduran, namun dia kembali mencoba sadar, menyadarkan tulang belakangnya pada tumpukan bantal yang dibuat oleh Yuri, rasanya tulang belakang nya sudah tak sanggup lagi menopang tubuhnya.


Di ujung malam menjelang matahari bersinar, Bianca menyerah juga pada keadaan fisiknya dan tanpa sadarnya matanya tertutup dan dia lelap, hebatnya dia masih terus memeluk putrinya, dalam tidurnya dia bisa mendekap erat putrinya.


---****---


Tengah malam di lantai rumah sakit yang berbeda.


Monitor tanda Vital Rain berbunyi lebih kencang, membuat perawat yang berjaga siaga di sana segera masuk ke dalam ruangan Rain, saat perawat itu masuk ke dalam, dia sedikit kaget dan dengan cepat menekan tombol panggilan ke kamar jaga dokter.


Tak lama dokter Malvis masuk ke dalam ruangan itu, tampak sedikit panik namun segera terdiam saat melihat keadaan Rain.


Dokter Malvis bahkan tak percaya, dia mengerjapkan matanya beberapa kali melihat Rain, apa dia masih di dalam mimpi?


Rain tampak terduduk di ranjangnya, tampak sangat bugar menatap semua orang yang cukup kaget dan heran, tak pernah mereka melihat orang yang koma tiba-tiba bangun dan sudah duduk dengan tegapnya, mengamati mereka dengan seksama dan matanya yang tajam.


"Tuan Rain, apa anda mengenali saya?" Tanya Dokter Malvis perlahan mendekati Rain, Rain mengamati wajah dari dokter Malvis.


"Kau.…"

__ADS_1


__ADS_2