Rain In The Winter

Rain In The Winter
185.


__ADS_3

"Terima kasih sudah menyambut kami," ujar Rain pada Archie.


"Tak perlu sungkan paman, kita adalah keluarga," kata Archie yang mengantar keluarga paman dan bibinya ini ke depan pintu utama, Si kecil Gio dan Gwi sudah duduk di dalam mobil mereka.


"Bibi datanglah sesering mungkin, akan sangat menyenangkan kalian semua ada di sini," kata Ceyasa memegang tangan mulus Bianca.


"Jika ada waktu pasti aku akan ke mari, anak-anak juga senang, Kami pamit dulu," kata Bianca sambil melihat ke arah Xander.


"Bibi Siena sudah janji akan sering ke sini," ujar Xander mengingatkan.


"Pasti," kata Siena mengusap kepala Xander.


"Baiklah ayo masuk," kata Rain membukakan pintu untuk istrinya, setelah Bianca masuk Rain segera masuk.


Archie dan Ceyasa memberikan lambaian tangan mereka melihat mobil Rain dan Ken pergi meninggalkan areal istana mereka.


"Istri Paman cantik ya, sangat beruntung," kata Archie melirik istrinya dengan tatapan menggoda, tahu pasti wanita di sampingnya ini pasti langsung kesal.


Benar saja Ceyasa langsung melirik tajam pada Archie, tanpa Archie sadari sebuah cubitan keras mengenai pinggangnya, membuatnya sampai kaget sekali.


"Au!!!!" Kayak Archie, istrinya tak pernah berubah.


"Jadi menurutmu karena menikahiku kau jadi tak beruntung?" Kata Ceyasa geram.

__ADS_1


"Bisa tidak anggun sedikit, kau ini ratu," kata Archie melirik istrinya kesal, dia yang menyulut api malah dia yang terbakar.


"Tidak! Menikah saja sana dengan wanita cantik! Xander ayo!" Kata Ceyasa menarik tangan anaknya, Xander pasrah sambil menepuk jidatnya melihat tingkah ayah dan ibunya.


"Ratuku," goda Archie sambil menahan tangan Ceyasa yang satu lagi.


"Jangan menggoda! Aku sedang marah!"


"Siapa bilang kau sedang lapar?"


"Kau ini, Gerald! Siapkan tempat tidur di sofa!" Kata Ceyasa melirik ke arah Gerald yang hanya mengangguk angguk sebenarnya terlalu biasa dengan pertengkaran aneh ini.


"Jangan! Aku punya masalah punggung, kau tak ingat? Istri macam apa kau menyuruh seorang raja tidur di sofa," kata Archie terus mengikuti istrinya masuk ke dalam istana nya, Ceyasa melepas tangan Xander, lalu melipat tangannya melihat ke arah Archie.


Archie tersenyum manis, sudah lama dia tak membuat istrinya kesal, mungkin sudah 2 hari ini wajah kesal ini tak ada, Archie mendekati Ceyasa dengan tatapan menggodanya, seketika membuat Ceyasa diam walau masih berwajah kesal.


"Seberapa cantik pun, itu hanya di bibir saja, tapi di hatiku hanya ada kau," kata Archie serius namun terdengar menggombal.


Ceyasa menyipitkan matanya, mencolek hidung suaminya dengan agak keras.


"Gombal," katanya sambil menatap suaminya yang tertawa senang, memeluk pinggang istrinya.


"Ahh!!! Kalian drama," kata Xander yang pusing melihat drama ayah dan ibunya dari dulu selalu begini.

__ADS_1


"Hei, mau kemana? Sudah makan?" Tanya Ceyasa yang baru sadar anaknya masih ada di sana.


"Sudah Bu, aku ingin istirahat dulu," kata Xander melenggang pergi tanpa melihat ibu dan ayahnya yang membuatnya pusing.


"Kenapa malah pergi begitu saja, tidak sopan," kata Ceyasa.


"Ya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya," kata Archie.


"Iya, mirip dengan mu," kata Ceyasa lagi.


"Tak mengaca? Dia lebih mirip dengan mu," kata Archie tak mau di salahkan.


"Kalau jelek saja mirip denganku, kalau baiknya saja yang mirip denganmu," kata Ceyasa semakin cemberut.


"Ya, tentu, jangan cemberut, aku cium nih," kata Archie menggoda, tertarik dengan bibir istrinya yang tampak sengaja di majukannya.


"Kau ini! Raja mesum!"


"Banyak sekali julukanku, pangeran tak tahu malu sekarang Raja mesum."


"Kau dari dulu memang mesum, ah sudah, kepalaku pusing, ingin tidur saja," kata Ceyasa pergi dari suaminya.


"Aku ikut," ujar Archie segera mengikuti istrinya dengan langkah bagai anak-anak yang ikut ibunya.

__ADS_1


Ceyasa hanya tersenyum kecil melihat tingkah suaminya, 10 tahun bersama, ternyata tak ada yang berubah, hangatnya keluarga mereka masih terasa, pertengkaran kecil yang selalu mengeratkan semuanya, sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia.


__ADS_2