Rain In The Winter

Rain In The Winter
53. Ibu Anda sudah lama meninggal.


__ADS_3

Bianca menunggu cukup lama hingga pintu itu kembali terbuka, seorang wanita mendorong troli yang berisi makanan. Pria yang tadi siang mendatangi Bianca pun tampak di belakanganya.


Bianca mencoba tersenyum, namun pria itu segera memberikan gestur untuk tidak melakukannya, Bianca mengerti, dia lalu segera membuang pandangannya.


Pelayan wanita itu meletakkan makanan yang dia bawa untuk disajikan, Bianca meliriknya, hanya nasi dengan beberapa lauk sederhana dan ikan juga segelas susu, Bianca yang sudah 3 hari tak makan melihat itu juga tak memiliki selera, setelah itu pelayan itu keluar dan menutup pintu kembali.


Pria itu memastikan tidak ada yang mengikutinya, dia lalu mendekati Bianca.


"Ini adalah obat-obatan terbaik untuk Anda, Tuan Rain sendiri yang memintanya, anda Makanlah dan segera minum obat ini sebelum mereka mengambil lagi piring ini," kata pria itu sambil meletakan beberapa butir obat beraneka warna.


Bianca menatap pria itu, dia hanya mengangguk sejenak, perasaan Bianca tak enak, dia tak menyangka Rain akan tetap menjaganya bahkan saat dia ada di sini, akhirnya dia kembali menjadi seseorang yang membebani Rain.


"Tuan, boleh aku bertanya?" tanya Bianca pelan sebelum pria itu kembali berlalu.


"Ya?" tanya pria itu tanpa melihat ke arahnya.


"Dimana ibuku? apakah benar dia masih ada?" tanya Bianca dengan wajah nanarnya, matanya menyiratkan kesedihan kembali.


Pria itu terhenti sejenak dari apa yang dia lakukan, dia lalu melirik ke arah Bianca yang sedang menatapnya, Dia menarik napas cukup panjang, lalu berbalik arah menatap ke arah Bianca.


"Nona, Ibu Anda sudah lama tiada," kata Pria itu lagi, dia memandang CCTV yang memang sengaja dia matikan untuk beberapa saat, dia memperhatikan apakah CCTV itu sudah beroperasi lagi atau tidak.


Bianca mendengar itu mengerutkan dahinya dengan sangat dalam, dia tampak sangat terkejut, bukannya waktu itu dia ditunjukkan video bahwa ibunya masih hidup?


"Tapi Drake …." kata Bianca ingin memberitahukan bahwa Drake menunjukkan bahwa ibunya masih hidup.

__ADS_1


"Itu video lama, saat Ibu anda di bawa dia masih bertahan selama 2 jam, setelah itu dia menghembuskan napas terakhirnya, Tuan Drake sempat memvideokan bagaimana keadaan ibu Anda, dia sengaja melakukannya karena tahu video itu akan sangat berguna untuk menekan anda nantinya," kata pria itu, dia bisa melihat wajah sedih dan tak percaya Bianca semakin jelas.


Bianca hanya diam dengan napasnya yang dalam, ternyata dia kembali dipermainkan oleh Drake, Pria itu memanglah sangat Licik dan tak bisa di percaya. Di sisi lain, Bianca merasa cukup lega, biarlah ibunya meninggalkan dunia, agar tak ada lagi penderitaan yang dia rasakan, di alam sana pun dia pasti sedih bahwa dia masih saja menjadi penderitaan anaknya.


Untungnya saja Bianca tak bodoh untuk kembali menuruti keinginannya, kali ini, tak akan ada yang bisa membuatnya membuka mulut, walau Drake akan menyiksanya pelan-pelan, separah apa pun siksaannya nanti, dia sudah bertekat dalam hati, dia tak akan pernah menuruti Drake apalagi membuat Rain susah kembali. Tekatnya itu membuat tangan Bianca mengepal kuat.


"Nona, Anda tak apa-apa?" tanya pria itu menatap Bianca yang hanya diam dengan tatapan kosongnya


"Terima kasih," kata Bianca seadanya. Pria itu segera melihat ke CCTV lagi, lampu CCTV itu berkedip tandanya CCTV itu mulai berkerja kembi, pria itu langsung segera memasang wajah datarnya, Bianca mengerti dan membiarkan pria itu segera keluar dari sana.


Bianca menatap makanan yang sama sekali tak menyelerakannya, lalu dia melihat ke arah obat yang ada di sana juga, Rain sudah begitu menjaganya bahkan memastikan obat terbaik untuknya, jika dia menolak makan dan tak bisa meminum obat sama saja dia tak menghargai Rain.


Bianca perlahan mengambil makanan yang sudah dingin itu, walau susah menelannya, namun dia memaksanya untuk menelannya. Dia harus bersyukur untuk hidup keduanya ini terutama bersyukur Rain memberikannya penjagaannya pada dirinya.


----***----


Dia berhenti di salah satu pintu ruangan khusus lantai VVIP itu, pengawalnya segera membukakan pintu karena dia memang sudah mendapatkan izin untuk berkunjung.


Bola matanya yang seindah boneka porselen, terlihat mengedar ke seluruh ruangan, dia lalu memberikan senyuman manis nan percaya diri kala menemukan apa yang dia cari.


Siena masuk lebih dalam, Drake menyambutnya dengan senyuman manis walau wajahnya masih terlihat pucat, tangannya di balut perban, selain itu lukanya tak terlalu terlihat, tertutup pakaian miliknya.


"Tuan Drake bagaimana kabarmu?" ujar Siena dengan senyuman manisnya, pengawalnya mendekatkan kursi ke arahnya, Siena duduk dengan anggunnya


"Nona Siena, aku baik-baik saja, luka ku tak berbahaya," ujar Drake senang, akhirnya ada yang mengunjunginya juga, apalagi yang mengunjunginya adalah wanita seindah ini, Drake tentu terkesima, Siena datang dengan baju bergaya bodycon yang memperlihatkan jelas bentuk tubuhnya.

__ADS_1


"Well, tunanganmu itu ganas sekali atau dia sangat membencimu sampai dia menghadiahkanmu begitu banyak luka," ujar Siena lagi sedikit menunjukkan wajah ngeri melihat luka panjang di tangan Drake.


"Anda ke sini hanya ingin mengejekku?" tanya Dreke lagi, Siena tersenyum berubah menjadi sedikit tawa kecil.


"Tentu tidak, saya ke sini untuk melihat keadaan anda, selain itu saya juga ingin tahu perkembangan yang terjadi, sudah cukup lama bukan? aku sudah terlalu bersabar, aku dengar mantan tunanganmu itu telah mengetahui apa yang ingin kau miliki," ujar Siena tenang.


"Ya, tapi dia bersikukuh tak ingin mengatakannya hingga sekarang, mungkin setelah aku pulang dari sini, aku bisa membuatnya berbicara, jika tidak aku akan memotong lidahnya," ujar Drake penuh amarah, wanita itu harus diberikan pelajaran karena sudah coba-coba berani untuk melawannya.


"Jangan, aku memang tak suka dengan Rain, tapi aku lebih tak suka dengan pria yang menyiksa wanita, sangat tak punya hati," kata Siena mencoba membela, dia memang tak suka dengan pria yang kasar dengan wanita.


"Bagaimana jika wanitanya yang menyebabkan aku begini?" tanya Drake lagi.


"Pasti dia begitu sakit hingga bisa berbuat nekat begini, percayalah aku tahu yang bisa membuat mahluk yang begitu lembut menjadi seorang monster, anyway, pokoknya aku tak ingin kau menyiksa wanita itu, lagi pula kita butuh dia, dia yang tahu dimana wilayah Rain, selain itu dialah titik kelemahan Rain, jika memang wanita itu tak ingin lagi diajak berkerja sama, maka kita bisa menggunakannya sebagai sandera, pertukaran antara apa yang kau inginkan dengan wanita itu, jika benar wanita itu adalah wanita yang berhasil menaklukkan hati Rain, aku yakin dia akan mau melakukan pertukaran itu," kata Siena dengan tatapan lurus kosong, seolah dia sedang membaca apa yang ada dalam pikirannya yang licik.


____________


Pojok Othor:


Hai kakak! sudah lama tak salam-salam, karena ini hari libur, kemungkinan saya hanya up 2 bab saja...


Tim : Kak! gimana kalo penasaran?


Othor : Sabar ya, besok kita mulai up buanyak lagi biar selesai penderitaan Bianca si cantik putih-putih salju Alibaba, merah merah delima Pinokio, ehm malah mengenang masa kecil...


Yak, kali ini saya mau kasih fotonya si Siena, ada yang minta kemarin tapi asik lupa aja ( maklum othornya udah tua).

__ADS_1



__ADS_2