Rain In The Winter

Rain In The Winter
177.


__ADS_3

Matahari sudah mulai menyingsing menyingkap tabir kegelapan malam, membuatnya meremang namun perlahan membuatnya menerang. Rain turun dari mobil itu, melihat ke arah seluruh rumah itu, melihat gayanya sudah pasti itu adalah rumah idamannya, sesuai sekali dengan seleranya dan juga tempat yang juga tempat kesukaannya.


Siena yang memimpin jalan bersama Ken untuk memasuki rumah itu, para penjaga segera membukakan pintu agar mereka segera masuk, Rain masih mengamati semua tempat di rumah itu, masih terasa sangat asing walaupun dia tahu semua di rumah itu sangat sesuai dengan gayanya.


"Selamat datang kembali Tuan, Nyonya, " kata Yuri sambil memberikan salam pada Tuan dan Nyonyanya yang baru saja datang. Rain hanya mengangguk pelan, Bianca menebar senyumnya yang tak bisa dia tutupi setelah dia bertemu dengan Rain. Bahkan tangan mereka tetap saja terpaut.


"Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya," kata Luke yang juga ada di sana, Rain mengerutkan dahinya, dia tak ingat dengan pria ini, bahkan dia tak tahu namanya, dia sepertinya pernah melihat menemuinya 4 tahun yang lalu, namun sepertinya dia tak sempat berbicara dengannya.


"Kakak, ini Luke, dia asisten pribadi kakak saat bersama dengan ku, dia yang selalu menangani masalah perusahaan Anda dulu," kata Ken menjelaskan siapa Luke. Luke hanya tersenyum melihat Rain yang memandangnya dengan serius.


"Apakah anak-anak sudah bangun?" tanya Bianca pada Yuri.


"Belum Nyonya, apakah ingin membangunkan Tuan dan Nona muda?" tanya Yuri dengan nada bicara yang profesional.


"Tidak, jangan bangunkan mereka," kata Rain segera, "Aku ingin membersihkan diri dulu sebelum bertemu dengan mereka," kata Rain menatap ke arah Bianca, Bianca mengulas senyum lebih lebar.


"Baiklah," kata Bianca.


"Ok, kalau begitu beristirahatlah dulu kak, kita akan bertemu saat sarapan," kata Siena, dia tahu walaupun di dalam pesawat itu nyaman tapi pastinya lebih nyaman di ranjang dan rumah sendiri.


Rain dan Bianca mengangguk bersamaan, Bianca segera membawa Rain ke lantai dua tempat kamar utama berada, Rain kembali memperhatikan kamar itu, terasa asing namun  juga terasa hangat.


"Ingin mandi?" tanya Bianca.

__ADS_1


"Ya, aku akan membersihkan diri dulu," ujar Rain.


"Di sana," kata Bianca menunjukkan di mana tempat kamar mandi itu berada.


Bianca melirik Rain yang mulai melangkah ke arah kamar mandinya, dia mendengar ketukan di pintunya dan segera membukanya, Rio dengan senyuman khasnya berdiri di sana dia juga membawakan 1 koper ukuran sedang.


"Nyonya, pakaian dan peralatan Tuan," kata Rio yang memang selalu menyiapkan semua keperluan Rain.


"Terima kasih," kata Bianca yang segera mengambil koper itu, Rio sedikit menunduk tanda undur diri, lalu pergi meninggalkan Bianca yang segera membawa koper itu masuk, Bianca membukanya, perlahan menyusun pakaian Rain yang tak terlalu banyak di bawanya, beberapa keperluan Rain pun ditatanya di kamar itu, tak lupa Bianca juga menyiapkan pakaian yang akan dipakai Rain pagi ini, sweater rajut berwarna hitam dan juga celana santainya.


Namun perhatian Bianca sedikit tercurahkan melihat sebuah botol seperti botol obat berwarna putih, tidak ada label apapun tertulis di sana, setahu Bianca dia tak pernah melihat obat ini sebelumnya dan Rain tak punya penyakit apapun, mungkin saja hanya vitamin atau bagaimana?


Tak lama Rain keluar juga dari kamar mandinya, dia melihat Bianca yang sudah menyiapkan bajunya di atas ranjang, Bianca yang melihat Rain keluar tampak cukup gugup, sudah cukup lama dia tak bersama dengan Rain dan kegiatan seperti ini, membuatnya seperti baru menikah kemarin.


"Apa aku dulu tidak suka berganti pakaian di depanmu?" tanya Rain yang melihat Bianca gugup sekali.


"Eh, tidak juga, tapi itu sudah lama sekali, jadi aku merasa belum terbiasa kembali, eh, kalau begitu lebih baik aku melihat mereka membuat sarapan, " kata Bianca ingin meninggalkan Rain di kamar sendiri, namun baru dua langkah dia berjalan, Rain langsung menghadangnya, membuat Bianca cukup kaget dengan pergerakan suaminya itu.


"Biasakanlah, bukannya kita akan bersama terus menerus, jika setiap kali aku begini dan kau lari, itu akan terasa canggung, lagipula untuk apa malu, bukannya sudah melihatnya juga beberapa hari yang lalu," kata Rain, pelan dan cukup menggoda, ini memang keahlian Rain yang selalu saja membuat Bianca tak bisa berkata apapun lagi, hanya pipinya yang merona merah.


Rain segera menggunakan pakaiannya, Bianca mencoba untuk melihat hal yang lain, mencoba untuk sibuk dengan beberapa hal yang sebenarnya tak perlu dia lakukan, setelah Rain selesai dia segera mendekati Bianca.


"Aku sudah membereskan semuanya di sana," kata Rain memecah suasana diam yang menuju canggung itu, Bianca mendengarkan itu mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya Bianca yang mulai melirik suaminya, memutar tubuhnya menghadap ke arah Rain.


"Aku sudah membereskannya, Tak ada yang perlu lagi kau khawatirkan, bahkan anak-anak kita akan tumbuh dengan baik tanpa ada yang akan mengganggunya," kata Rain serius.


"Jadi? Apa Lidia berjanji tidak akan menganggu kita lagi," kata Bianca yang tak sampai pemikirannya bahwa Rain pasti sudah melakukan tindakan untuk menghentikan Lidia selamanya.


"Anggap saja begitu,  aku pastikan dia tak akan pernah menyentuh bahkan sehelai rambut pun dari kalian, jadi mulai sekarang, kita tak akan terpisahkan dan kita akan bisa tidur dengan tenang," kata Rain lagi, ada sedikit kesan dingin namun juga menakutkan dari gaya bicara Rain, namun Bianca hanya mengangguk, Rain menarik Bianca kembali ke dalam pelukannya, mendekap wanita itu dengan sangat eratnya.


"Kalau begitu baguslah," kata Bianca tersenyum, kalau Rain mengatakan hal itu dia pasti percaya, mereka tidak akan pernah lagi terpisah.


Pintu kamar mereka tiba-tiba terbuka, langkah kecil yang berlari langsung masuk ke dalam ruangan itu, Yuri yang melihat Tuan dan Nyonya-nya sedang berpelukan langsung menunduk, lupa akan keadaan rumah sekarang, seharusnya dia mengetuk dulu.


"Mami!" Suara kecil yang nyaring itu terdengar membuat Bianca dan Rain langsung mengurai pelukannya dan melihat ke arah kedua anaknya yang saling berpegangan tangan tampak kaget namun juga bingung melihat ibu mereka dan paman tampan sedang berpelukan.


"Gio dan Gwi sudah bangun?" tanya Bianca segera mendekati anaknya, Rain tersenyum lebar melihat kedua anaknya menatapnya.


"Mami, kenapa mami memeluk paman?" tanya Gio dengan kerutan di dahinya, kenapa paman ini ada di sini juga?


"Mami, bukannya Papi akan datang hari ini? " tanya Gwi menuntut perkataan Bibinya kemarin, bukannya papinya akan datang tapi kenapa Maminya malah berpelukan dengan paman ini.


"Papi kan sudah ke surga," sanggah Gio, tapi kembali melirik ke arah Rain yang hanya diam.


"Papi belum ke surga, kata bibi papi hanya sakit dan tidak ingat dengan Gio dan Gwi, kata Bibi, Papi akan pulang hari ini, Mami, apa paman …. " kata Gwi melihat ke arah Rain yang mendekati mereka, berjongkok di sebelah Bianca dan tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2