Rain In The Winter

Rain In The Winter
54.


__ADS_3

Drake yang mendengarkan hal itu dengan seksama merasa ada benarnya juga. Jika dia tak bisa mendapatkan wilayah itu dari mulut Bianca, toh dia sudah memegang kartu AS Rain yaitu Bianca, jika benar apa yang dia lihat kemarin tentang kedekatan mereka, maka Rain akan menuruti semua permintaan Drake.


"Ya, kita bahkan bisa langsung meminta Rain menyerahkan wilayah itu padaku dengan menggunakan wanita itu sebagai alasannya," kata Drake tersenyum licik ke arah Siena.


Siena membalas senyuman itu, dia lalu berdiri dan perlahan mendekati Drake.


"Akhirnya, kau bisa berpikir jernih juga, dasar pria, apa jadinya kalian tanpa wanita, sekali lagi, aku pertegas aku tak suka dengan pria yang memperlakukan wanita dengan kejam, jika aku mendengar kau menyiksa seorang wanita, maka aku akan berhenti bekerja sama dengan Anda," kata Siena dengan tatapan mata tajamnya pada Drake, bukannya takut, Drake merasa itu adalah sebuah godaan untuknya.


"Anda mengancam saya?" tanya Drake dengan senyuman sumringahnya.


Siena hanya menaikkan satu sudut bibirnya, jemarinya yang lentik nan halus itu memegang dagu Drake yang seolah sudah terhipnotis, dia pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Siena.


Siena menarik dagu itu, menghadapkan wajah Drake ke arahnya, membiarkan mata mereka sesaat bertemu terpaku, menghidupkan pikiran Liar Drake untuk dirinya.


"Tuan Drake, semoga lekas sembuh," suara Siena benar-benar membuai Drake, lembut namun juga tegas, membuat sensasi berbeda. Drake gila karenanya.


Siena menatap Drake yang hanya terpukau melihatnya, Siena segera melenggang pergi, sebelum dia keluar dari ruangan Drake dia melontarkan senyuman mautnya.


"Oh, kapan anda akan pulang?" tanya Siena lagi.


"Besok," ucap Drake mantap.


"Ya lebih cepat lebih baik, jangan sampai Anda terlambat melangkah atau Anda akan menyesal selamanya, saranku lakukanlah rencanamu besok setibanya di rumah, sampai jumpa lagi Tuan Drake," kata Siena dengan segala hal yang rasanya menggoda Drake.

__ADS_1


Pria itu bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya saat Siena sudah tak ada lagi di sana. Gadis itu membuatnya gila, bahkan dia benar-benar akan mengikuti kata-kata wanita itu, esok dia akan langsung menjalankan rencana itu.


---***---


Bianca menatap diam tembok ruang rawatnya yang bercat serba putih, dia menunggu ke datangan pria yang selalu menjaganya itu, walau tak pernah berbicara panjang lebar, tapi jika Bianca ada di dekatnya, dia lebih merasa aman, mungkin karena tahu dia adalah orang yang bekerja untuk Rain.


Bianca melihat tangannya, sudah 5 hari dia di rawat di ruangan itu, dan sudah 5 hari juga dia tak keluar, keadaannya jauh membaik hanya meninggalkan luka di tangannya yang masih di balut perban, terakhir dia lihat, luka itu sudah mulai mengering.


Bianca mengalihkan perhatiannya ke arah pintu yang terdengar akan terbuka, Bianca selalu berharap-harap cemas jika itu terjadi, saat Bianca melihat sosok pria pendiam itu yang masuk dia menghembuskan napasnya lega, namun pria itu malah mengacungkan pistol ke arahnya, Bianca langsung kaget melihatnya, dia langsung siaga.


Bianca langsung turun dari tempat tidurnya, mencoba menjauh dari pria yang benar-benar tak bisa ditebak isi pikirannya, sebenarnya pria ini mengikuti siapa? Drake atau Rain? Bianca jadi bingung karenanya.


Bianca terus mundur hingga tubuhnya membentur tembok barulah pria itu tak maju lagi, wajah Bianca begitu tegang dan juga ketakutan, dia harus apa sekarang? pikirnya menatap ujung pistol yang terus mengarah ke arahnya, siap diledakkan kapan saja.


Drake menatap Bianca dengan wajah sinisnya, matanya menyipit memandang curiga dan awas terhadap wanita itu.


Bianca yang menganalisa perubahan cara Drake memandangnya jadi tahu bahwa pria ini sudah bersikap hati-hati padanya, Bianca pun mencoba untuk bersikap tegas dan tenang, tak ingin menunjukan ketakutannya lagi, karena semakin takut dia, semakin kejam pria itu padanya.


"Kau masih hidup?" tanya Bianca dengan senyuman tipisnya, membuat Drake semakin menggertakkan giginya.


"Ya, terima kasih untuk hadiah yang kau berikan, sayang sekali tak membunuhku bukan? dan sayang sekali aku tidak mengizinkan kau mati," kata Drake lagi mencoba membalik tekanan itu pada Bianca, namun nyatanya Bianca tak terpengaruh sama sekali.


"Kau takut padaku hingga harus mengacungkan pistol ini padaku," ujar Bianca lagi, setenang mungkin dia berusaha untuk berbicara dengan pria ini, mengkontrol emosinya, dia hanya melirik ke arah pria yang mengacungkan pistol itu.

__ADS_1


"Tidak! untuk apa aku takut denganmu, aku hanya berjaga-jaga," ucap Drake lagi dengan senyum menjijikkannya.


"Percuma saja, bahkan jika kau menembak kepalaku sekarang, aku tak akan mengatakan apapun, bahkan jika kau memotong-motong tubuhku sekarang, aku tak akan mau mengatakannya," ujar Bianca lagi dengan ketegasan dan keteguhan hati yang mendalam.


Drake awalnya diam mendengar hal itu, namun perlahan dia menaikkan sudut bibirnya, berjalan di dekat pria yang menodongkan senjata itu, dia menurunkan tangan pria itu agar tak lagi mengacungkan pistol ke arah Bianca.


"Memangnya kau kira aku masih butuh informasi itu dari mulutmu? sayang sekali aku tidak punya minat lagi tentang hal itu, karena percayalah aku bisa membuatnya datang dan mengatakannya sendiri padaku, malah aku yakin dia akan menyerahkannya secara suka rela, karena dia pasti lebih memilih wanita sampah sepertimu ini dari pada wilayah itu," kata Drake kembali memegang dagu Bianca, Bianca menatap jijik dan benci pada Drake, dia lalu mencoba berontak, namun Drake terus meremas dagunya dan tangannya yang satu meremas perban ditangan Bianca, menyebabkan Luka itu kembali terbuka.


Bianca mencoba menahan ringisannya, tapi dia tak bisa, ketika Drake melihat itu dia segera melepaskan Bianca.


"Seret dia ke ruangan itu, dan siapkan semua hal, buat agar Rain tahu dengan sangat jelas apa yang kita minta agar ditukarkan dengan wanita tercintanya ini," ujar Drake lagi.


Bianca membesarkan matanya, Dia tahu Drake ingin apa, dia pasti ingin menjadikan Bianca sebagai sandera dan menjadikan Bianca alasan agar Rain menyerahkan wilayah itu. Tidak, Bianca tak ingin itu terjadi, bahkan sampai mati dia tak rela dirinya menjadi sumber masalah buat Rain.


"Tidak! lepaskan! kau pria iblis! aku tak mau! sampai mati juga tak akan Sudi!" kata Bianca berteriak sambil berusaha sekuat tenaga agar dirinya tak diseret keluar dari ruangan itu.


Drake melihat itu sangat kesal, dia lalu mendekati Bianca ingin memberikan pelajaran pada wanita itu, tapi tanpa aba-aba, pria yang tadinya mengacungkan pistol ke arah Bianca malah menampar keras pipi Bianca yang langsung membuat wanita itu tak sadarkan diri, bibir Bianca langsung sobek karenanya.


Drake cukup kaget melihatnya apa yang dilakukan oleh pengawal ini, namun hal itu berhasil membuat Bianca dapat di seret keluar dari ruangan itu, jadi Drake tak ambil pusing.


________


Pojok Othor:

__ADS_1


Besok lagi ya kak! happy holiday all!!


__ADS_2