
"Lalu kenapa tak menemuinya? ih kalian ini dasar laki-laki, membiarkan dia sendiri di sana akan semakin membuatnya berpikir semua itu benar, kami wanita butuh penjelasan segera, bukan seperti pria yang selalu meminta waktu berpikir," ujar Siena, kali ini kembali melirik kekasihnya, Ken hanya tertunduk.
Rain hanya diam tak merespon apa yang dikatakan oleh Siena, tentu hal itu membuat Siena frustasi sendiri, seolah dia bicara dengan patung.
"Pokoknya jika kakak tidak ingin kehilangan wanita itu selamanya, pergi dan temui dia, jelaskan padanya tentang perasaan kakak, berhentilah bersikap gengsi, kakak selalu berhasil dalam apapun, kecuali cinta, kakak bodoh soal itu," ujar Siena ceplas ceplos, membuat Ken membesarkan matanya, siapa yang berani mengatakan seorang Rain bodoh, baru kali ini Ken mendengarnya, dan anehnya Rain hanya diam saja.
---***---
Bianca menyeka keringatnya, ternyata tak ada pekerjaan yang tak butuh kerja keras, walaupun terlihat begitu mudah hanya memberikan pamflet itu pada orang-orang, namun karena berada di bawah terik matahari dalam kostum tebal ini, hal ini cukup menguras tenaganya, Bianca harus Bermandikan keringatnya.
Bianca menyingkir duduk di sebelah toko itu, pemilik toko memberikannya makanan kecil untuk mengisi perutnya dan juga air mineral.
Hari ini entah kenapa matahari benar-benar merajai dunia, panasnya menyengat hingga membuat Bianca merasa ada dalam sauna, apalagi di dalam udaranya pengap dan juga tidak enak di cium, mungkin efek karena pemakaian orang sebelumnya.
Bianca tak begitu berselera makan, dia lebih butuh air sekarang karena air dalam tubuhnya sudah terkuras semua, wajahnya saja merah bagaikan udang rebus.
Bianca mengibas-ngibaskan tangannya untuk mendinginkan badannya, dia melirik roti-roti kecil itu, ada keinginan untuk memakannya, dia mengambil roti kecil berlapis coklat, rasa manis yang sedikit pahit memenuhi rongga mulutnya, dia tersenyum, apalagi yang harus dia khawatirkan, hidup begini saja sudah enak, bukan?
Saat dia ingin mengambil lagi kue yang lain, tiba-tiba di depannya tersuguh sebuah sapu tangan berwarna putih, Bianca langsung menatap siapa yang memberikannya sapu tangan itu, wajahnya silau karena membelakangi matahari, namun Bianca tahu betul sosok siapa yang sekarang ada di depannya, bagaimana dia bisa tak tahu Pria ini datang ke arahnya?
__ADS_1
Rain hanya menatap wajah Bianca yang memerah, anak-anak rambutnya basah, bajunya juga, Rain tahu benar dia pasti sangat lelah.
Rain melihat Bianca hanya diam menatapnya, Rain lalu segera lebih mendekat, tanpa diminta ataupun mengatakan sesuatu, Rain segera mengelap sedikit wajah Bianca yang penuh peluh itu, Bianca hanya bisa diam dan mengerutkan dahinya.
"Gantilah baju, atau kau akan sakit," suara dingin itu membuat hari yang panas semakin gerah. Bianca yang mendapatkan perlakuan itu membuat dirinya semakin bingung dengan perasaannya sendiri, ada rasa nyeri, namun tertutup rindu yang memuncak walau baru sehari.
"Kenapa kau kemari? Dari mana kau tahu aku ada di sini?" Ujar Bianca mencoba seketus mungkin mengatakannya.
"Aku mengawasi mu," kata Rain.
"Untuk apa? Berhentilah mengawasi ku, berhentilah berpura-pura seolah kita masih punya hubungan, bukankah tujuanmu sudah kau dapatkan? Atau masih ada yang harus aku lakukan padamu? atau kau masih merasa aku belum cukup dihukum akibat perbuatan ku dulu? Katakan saja biar aku tahu," kata Bianca yang tak bisa mengontrol emosinya, tak ingin lagi berpura-pura tegar, pria ini jika tak dikatakan sejujurnya dia tak akan berhenti.
Rain terdiam, dia melihat kesedihan dan amarah yang tersimpan di dalam tatapan mata indah itu, membuat hatinya nyeri seketika, tak pernah dia merasakan hal ini sebelumnya, bahkan saat dia harus melepas Ceyasa dulu.
Dia memalingkan wajahnya, berjalan meninggalkan pria itu, wajah Bianca seketika berubah sedih, matanya kembali mengabur, setetes demi setetes air jernih dari matanya yang bak berlian itu mulai mengalir, setengah dirinya enggan meninggalkan pria yang dia cari keberadaannya seharian ini, bahkan wangi lembut dari sapu tangannya khas wangi Rain masih bisa cium. Namun, setengahnya lagi merasa dia harus sadar diri, pria itu tak mencintainya sungguh - sungguh.
"Bagaimana jika aku lupa bahwa aku sedang berpura-pura?" Suara Rain itu menghentikan langkah Bianca seketika, Bianca yang sedang berusaha untuk tidak menangis itu langsung terdiam.
"Bagaimana jika aku sendiri tak yakin, apakah aku sedang berpura-pura atau aku memang melakukannya agar membuatmu bahagia?" Kata Rain, lagi-lagi membuat Bianca terdiam.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku bersyukur aku pernah berpura-pura menyukaimu hingga aku akhirnya sadar bahwa aku benar-benar mencintaimu," kata Rain mengambil tangan Bianca yang masih terbungkus kostum tebal pandanya itu, membuat Bianca jadi melihat ke arahnya.
Bianca terdiam menatap ke arah Rain, wajahnya tampak begitu serius namun tatapan matanya itu menyiratkan kelembutan dan kerinduan yang sangat.
"Percayalah padaku kali ini,kali ini aku memohon berikan aku kesempatan sekali lagi," pinta Rain, baru kali ini nada bicaranya terdengar memelas, seumur hidupnya dia tak pernah melakukan hal ini, Rain memeras tangan Bianca.
Bianca lalu menarik tangannya, melepaskan genggaman tangan itu, dia tersenyum, bukan senyuman manis, malah putus asa.
"Kau selalu pintar melakukan hal itu," ujar Bianca.
"Bianca?!" Ujar Rain yang tak tahu lagi bagaimana membuat Bianca percaya padanya, dia memang memang pernah melakukan kesalahan itu, tapi kenapa dia tak diberikan kesempatan untuk menunjukkan bahwa dia sekarang tak lagi berpura-pura.
"Kau ingin aku percaya? Maka tak semudah itu, apa yang membuat aku harus percaya bahwa kali ini kau mengatakan yang sejujurnya bukan hanya berpura-pura," kata Bianca dengan senyuman yang menyakitkan hati Rain, benarkah dia tak akan dipercaya oleh Bianca lagi?
Bianca hanya menatap Rain yang diam di depannya, senyuman mengejek itu semakin nyata, Dia yakin Rain tak bisa menjawab hal itu.
"Aku wanita yang besar dengan semua hal yang menyiksaku, itu membuatku sulit untuk percaya dengan orang lain, aku mencoba untuk mempercayaimu dulu saat kau meminta kesempatan berulang-ulang, tapi saat aku percaya kau memang orang yang berhak aku percaya, nyatanya kau sama saja, menurutmu bagaimana bisa aku kembali percaya padamu?" Kata Bianca dengan matanya yang kaca-kaca, membuat Rain semakin terdiam.
Melihat reaksi Rain yang hanya diam, Bianca membalikkan tubuhnya kembali, ingin meninggalkan pria ini, saat ini dia tak ingin lagi berhubungan dengan pria manapun, baginya semuanya sama saja, sebagian menyiksa fisiknya, yang lain menyiksa hatinya, bagaimana lagi dia bisa percaya lagi dengan pria.
__ADS_1
Namun baru saja Bianca berbalik, tangannya kembali di genggam oleh Rain dan dengan cepat pria itu mengatakan.
"Kalau begitu menikahlah denganku."