
"Ikat dia," perintah Drake untuk mengikat Ken di kursi pengawalnya menganguk, namun tanpa sepengatahun Drake, pengawal itu mendengar perintah lain dari handsfree kecil yang ada ditelinganya.
"Ikat dia namun jangan terlalu kencang," suara itu terdengar di handsfree, pengawal itu tampak perlahan mengikat Ken, mengikuti instruksi suara dari handsfreenya dia mengikat Ken tak terlalu kencang, setelah selesai dia segera kembali ke posisinya di sebelah ken.
"Baiklah, ini adalah waktu yang aku tunggu-tunggu, aku ingin kau menikmati siksaan ini mengetahui aku akan meniduri calon istrimu, nikmatilah," kata Drake, langsung menarik Siena yang kaget mendengarnya, dia meronta dan memandang wajah Drake dengan penuh amarah, lebih baik dia mati dari pada tubuhnya dicicipi oleh pria ini.
"Lepaskan kau pria iblis!" Jerit Siena namun tubuh kecilnya tak bisa menahan tarikan kasar dan kuat dari Drake itu, membuatnya terseret hingga masuk ke dalam kamar yang ada di dekat sana.
Ken tentu berontak, dia berteriak tertahan, rasanya semua emosinya sudah tak bisa lagi dia tahan, dia bisa gila jika tak bisa melakukan apapun dan tahu pria itu memperkosa gadisnya di dalam kamar yang tepat ada di depannya, apalagi dia melihat wajah Drake saat dia menutup pintu kamar itu, amarahnya benar-benar sudah tak bisa lagi dia bendung.
Ken terus berusaha untuk melepaskan diri, karena memang ikatan yang sengaja tidak terpasang dengan kencang tak lama dia bisa melepaskan tangannya, secepat kilat dia bangkit dan langsung menghajar dua orang penjaga yang entah kenapa hanya tinggal dua orang, dia langsung menghajar mereka membabi buta, bahkan salah satu dari penjaga itu dipukulnya hingga tak berbentuk lagi wajahnya, penjaga itu juga tidak bisa memberikan perlawanan berarti, mereka tampak pasrah menerima kemarahan dari Ken.
Teriakan Siena dari dalam kamar itu akhirnya menyadarkan Ken, jika tidak dia pasti masih memukuli salah satu penjaga itu, Ken segera bangkit, dia segera menendang pintu itu, dengan sekali tendangan yang sangat kuat pintu itu terbuka, dengan mata merah dan wajah yang begis, Ken bahkan tidak bisa lagi ingat apapun kecuali membunuh Drake yang kaget melihat kedatangan Ken.
Drake baru saja ingin membuka baju Siena, wanita itu dari tadi memberikan perlawanan sengit sehingga cukup lama membuat Siena akhirnya bisa dia tahlukkan dan berada di bawah dirinya, namun baru saja dia ingin melucuti wanita itu, Pintu kamar itu terbuka.
Tanpa menunggu lama lagi, Ken segera menarik Drake, bahkan dengan satu tangannya dia berhasil menarik pria itu bagaikan tanpa beban, Siena yang melihat itu hanya bisa meringkuk, trauma rudapaksa sebelumnya membuatnya benar-benar tak bisa melakukan apapun.
Ken melemparkan tubuh Drake dengan sangat keras ke arah tembok, Drake yang masih lunglai tak diberikan kesempatan apapun oleh Ken, dengan cepat dia melayangkan pukulan telaknya di bawah rahang Drake, membuat Drake terhujung hampir jatuh namun masih bisa bertahan.
Drake merasa sangat terancam, dia mencoba melawan, tapi karena dia sudah cukup pusing akibat pukulan keras Ken, kekuatan pukulannya tak ada apa-apanya, Ken dengan mudah menangkap tangan kanannya itu.
Drake menatap ke arah Ken dengan wajah tak percaya, tinjunya mudah sekali di tangkap oleh Ken, saat melihat mata Ken yang bagaikan kesetanan ingin membunuhnya, Drake langsung takut, apalagi secepat kilat Ken segera mencengkram leher Drake dengan tangan kanannya, memberikan tekanan kuat dan menutup kerongkongan dan tenggorokannya, Ken mendorong tubuh Drake ke tembok, membuat tubuh Drake lemas seketika karena kesusahan bernapas, Ken menambahkan dorongan dengan tangan kirinya, mencekik Drake dengan sangat kuat, bahkan dia bisa mematahkan tulang belakang Drake.
Siena menatap Calon suaminya yang tampak begitu beringas itu hanya bisa diam, melihat wajah Drake yang membiru, meronta bagaikan ikan yang ingin kembali ke air, tangannya terus mencoba menepis tangan kokoh Ken yang semakin lama bukannya kehabisan tenaga malah semakin ketat, mata Drake melotot menatap wajah beringas Ken yang tampak begitu menakutkan bagaikan seorang pencabut nyawa, tak lama dia lemas dan pingsan.
"Ken, sudah, kau bisa membunuhnya," ujar Siena, walaupun Drake sangat jahat, namun jika Ken membunuhnya, urusannya akan menjadi panjang nantinya, Siena memegang lengan Ken, berusaha menyadarkan calon suaminya itu sebelum terlambat.
"Ken!" teriak Siena, mebuat Ken menatap ke arahnya, melihat wajah cantik gadisnya yang tampak khawatir, dia baru sadar dan akhirnya perlahan melepaskan tangannya dari leher Drake. Tubuh Drake jatuh lunglai tak bertenaga.
__ADS_1
Mata Siena dan Ken bertemu, mata itu tampak lega dan haru, hampir saja mereka tidak bisa lagi bersatu, Siena pikir salah satu dari mereka mungkin saja terbunuh malam ini dan hampir saja dia harus menerima hal paling buruk dalam hidupnya karena pria bejat ini.
Ken tak bisa berkata apa-apa, dia langsung memeluk Siena, Siena pun sama, hanya bisa memeluk erat calon suaminya ini, sesaat mereka melepaskan pelukan erat itu dan Ken segera mencium kasar bibir Siena, seakan dia sudah hampir saja kehilangan wanita ini.
"Kenapa begitu bodoh datang sendiri?" tanya Ken lirih.
"Aku tidak bisa membiarkan kau mati, aku tidak bisa," kata Siena langsung, memang tindakan bodoh untuk datang ke sini sendiri, namun dia hanya ingin melihat Ken, walaupun itu adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan.
"Gadis bodoh! ayo kita pergi dari sini," ujar Ken segera menarik Siena, semakin lama mereka di sini, semakin berbahaya, mereka harus keluar segera.
Ken segera membawa Siena keluar, dia segera membawa Siena memasuki Jeep takut pasukan Drake akan mengetahui mereka kabur.
Tak lama mereka bertemu dengan pasukan yang di pimpin oleh Bram, Bram segera keluar dan melihat Ken dan Siena.
"Terlalu terlambat," ujar Ken.
"Harus memastikan semua aman, masuk, ada yang aneh," kata Bram.
"Akan ku jelaskan di dalam, tinggalkan saja mobil ini, mobil kita lebih aman, cepat masuk," ujar Bram yang memastikan keselamat Ken dan Siena terlebih dahulu.
Setelah Ken dan Siena masuk ke dalam mobil mereka segera pergi dari sana, baru saja Siena ingin menyandarkan tubuhnya pada jok itu, dia ingat, bukannya di tubuh Ken ada bom?
"Bom!" pekik Siena.
Ken juga baru ingat dengan hal itu, dia segera membuka bajunya, dan seketika seluruh orang yang ada di mobil itu tegang, apakah ini rencananya? jika meledak maka mereka semua akan mati.
Semua orang langsung berkeringat dingin, mereka bahkan menepikan mobilnya.
"Kita bisa lepaskan bom ini kah?" tanya Siena.
__ADS_1
"Jika gegabah melepaskannya, bom ini bisa saja langsung meledak, harus diperiksa lebih dulu," Ujar Ken, dia tak mungkin membiarkan Bom ini meledak sekarang, tidak saat Siena ada di dekatnya.
"Evakuasi dan amankan lokasi, minta tim ke dua untuk melakukannya, yang lain keluarlah," ujar Bram, dia melihat dengan seksama bom yang terpasang.
"Siena keluar," kata Ken dengan tatapan tegang, namun Siena malah menggeleng, dia memegang tangan Ken erat-erat.
"Siena keluarlah!" teriak Ken.
"Tidak, jika kau mati, kita mati bersama," ujar Siena dengan mantap, dia tak ingin lagi kehilangan seseorang yang dia sayang, lagi pula di dunia ini hanya Ken lah yang bisa menerimanya dan juga bisa dia terima, dia tak ingin pria lain di sisinya.
"Tak perlu ada yang mati," ujar Bram perlahan dengan suara yang tampak lebih lega, Ken dan Siena menatap ke arah Bram.
"Ini bom kosong, tak akan meledak, buka saja," kata Bram, dia segera membuka rompi bom itu, tentu tak terjadi apa-apa, Ken dan Siena hanya bertatapan, lalu mereka sama-sama tertawa kecil mengingat percakapan berlebihan mereka, namun tadi rasanya itu semua tidak berlebihan.
Setelah mengamankan rompi bom kosong itu, mereka kembali berjalan, Siena akhirnya benar-benar bisa menyadarkan tubunya di jok mobil itu, tangannya terus di genggam oleh Ken, seolah Ken tak ingin lagi melepaskannya.
"Apa yang aneh?" tanya Ken lagi melihat Bram yang ada di depannya.
"Ya, saat aku menuju tempat kalian, aku akui Drake melakukan pengamanan berlapis hingga aku harus benar-benar hati-hati melakukannya, dia pasti belajar dari penyerangan kita sebelumnya, namun tak berselang beberapa lama, pengamanan itu tiba-tiba hilang, seluruhnya hilang begitu saja bukankah itu aneh?" kata Bram, dia masih berpikir kenapa hal itu bisa terjadi, tak pernah dalam sejarahnya dia melakukan penyelamatan, tiba-tiba saja musuh hilang begitu saja.
"Ya, bahkan di tempat kejadian, aku juga tak melihat mereka," kata Ken, dia juga merasa aneh dengan hal ini, dia pikir setelah keluar dari rumah dia akan di hadang oleh banyak pasukan dari Drake tapi saat dia pergi tadi satu pun pengawal tak tampak, apa Drake terlalu percaya diri hingga melemahkan penjagaannya.
"Ya," kata Bram lagi.
Ken pun tampak berpikir, dia melirik ke arah Siena yang tampaknya sudah tertidur, mungkin kelelahan dengan semua hal yang terjadi hari ini,melihat wajahnya yang sangat tenang, Ken hanya tersenyum tipis.
"Kita akan pikirkan setelah sampai di markas," kata Ken, setidaknya yang paling penting sekarang, dia dan Siena sudah selamat.
"Baiklah, istirahatlah teman," ujar Bram, melihat wajah Ken yang cukup lelah, beberapa lebam terlihat mungkin akibat dari penyiksaan saa dia di sekap.
__ADS_1
Ken mengangguk lalu menyenderkan kepalanya ke kepala Siena yang bersandar di pundaknya, lelah, akhirnya dia tak perlu lagi merasa tegang.