
"Sial! Jadi kau sudah bertemu dengan Tuan!" Kata Luke mengumpat saat mereka berkumpul di mess Bram, mereka semua ada di sana kecuali Bianca yang ada di kamar, sengaja tak mereka panggil karena takut Bianca tak kuat mendengarnya, mereka yakin, Rain pun tak mengingat Bianca.
"Ya, bahkan dia tak merespon saat aku memberitahu kode akses aset perusahaan," ujar Ken melirik Luke.
"Kau mengetahui kode aset perusahaan di bank king?" Kata Luke tak percaya, bahkan dia sendiri tak tahu, Ken hanya menganggukkan kepalanya.
"Itu artinya dia benar-benar mengalami amnesia," kata Bram.
"Ya, sepertinya yang ada di ingatannya hanya Lidia, pantas saja dia berusaha untuk menghapus semua orang yang berkaitan dengan Memori Tuan, sehingga tidak akan ada yang mengingatkan tuan tentang kehidupannya sebelumnya," ujar Ken, semua masuk akal.
"Ya, dia juga ingin menyingkirkanmu, jika kau di penjara, maka akan susah untuk kami bisa mendekati Tuan Rain," ujar Bram, dia adalah penjaga bayangan, hanya muncul jika di butuhkan, bahkan pada Ken yang selalu 24 jam ada di sisinya dulu, Rain saja tak ingat, apalagi dengan dirinya.
"Bagaimana dengan Nyonya Bianca?" Tanya Yuri cemas, dia melirik ke arah kamar tidur Bianca, sengaja melakukan pertemuan ini di sini karena enggan meninggalkan Bianca sendiri, walaupun dikatakan ini tempat paling aman, namun siapa yang bisa menjamin semua orang di sini belum termakan pengaruh Lidia.
"Aku rasa dia juga tak ingat, bahkan Lidia mengatakan bahwa dirinya adalah Nyonya, bukan Nona, aku rasa dia mengatakan pada Kak Rain bahwa dia adalah istrinya," ujar Siena pelan, dia merasa miris dengan wanita di balik pintu itu, mana yang lebih menyakitkan, mengetahui suaminya meninggal atau masih hidup tapi tak mengenali dirinya.
"Kita tak bisa selamanya menyembunyikan ini pada Nyonya, suatu saat dia akan tahu Tuan Rain masih hidup, sengaja ataupun tidak aku rasa mereka akan bertemu," ujar Ken pada semua orang yang ada di sana.
"Ya, benar," ujar Siena, bagaimana takdir bisa begitu kejam pada mereka, padahal Siena yakin kakaknya sudah bahagia dengan wanita pilihannya, bahkan akan memiliki anak, namun semua harus hancur hanya karena sebuah kecelakaan. "Aku akan mengatakan padanya."
Semua orang menatap ke arah Siena, ada perasaan tak setuju, tapi juga tak mungkin menutupinya, mereka harus siap menghibur Nyonyanya yang dalam keadaan lemah itu.
"Aku rasa kita tak akan dipekerjakan lagi oleh Tuan Rain, sekarang kalian bebas ingin melanjutkan pekerjaan kalian atau tidak," ujar Ken, dia tahu Luke dan dirinya pasti setia dengan Rain, namun Bram dan Yuri, mereka baru saja bersama Rain, dia akan mengerti jika mereka menyudahi tugas mereka, toh mereka tak akan lagi di bayar.
"Aku sudah berjanji pada Tuan Rain untuk menjaga Nyonya, lagi pula sudah begitu banyak yang diberikan Tuan Rain pada keluargaku dan meninggalkan Nyonya dalam keadaan begini juga tak akan baik, aku akan tetap melanjutkan nya sampai Nyonya sendiri yang mengusirku pergi," ujar Yuri, dia memang berjanji ikut dan setia pada Rain setelah Rain memberikan begitu banyak bahkan menyelamatkan nyawa adik dan ibunya di saat dia membutuhkan dulu.
Ken menaikkan sudut bibirnya, Tuannya memang selalu tahu bagaimana membuat orang setia padanya.
"Aku juga begitu, ini tugas, sebelum selesai aku tak akan pergi darinya," ujar Bram, sebenarnya tak punya alasan kuat untuk bertahan, namun memperhatikan Bianca beberapa hari ini entah kenapa membuatnya ingin melindungi gadis itu, rasanya kesedihan itu dapat dia rasakan.
__ADS_1
"Bagus sekali, tak perlu ada yang di takutkan," ujar Luke, cukup terharu dengan semua ini.
Mereka menarik senyuman mereka tipis secara serentak, namun tak berapa lama pintu kamar Bianca terbuka, tentu serentak mereka melihat ke arah pintu itu.
Bianca yang baru bangun itu kaget melihat semua orang sudah berkumpul di sana, bahkan Ken pun ada.
"Kakak," kata Siena segera berdiri dengan senyuman manisnya, terlihat aneh sebenarnya, terlalu di paksakan, Bianca hanya melihat ke arah Semua orang.
"Kalian semua berkumpul di sini? Ken juga, selamat datang kembali," ujar Bianca, tak menyangka melihat Ken, dia pikir tak akan melihat Ken lebih lama.
"Ya, terima kasih Nyonya," kata Ken memberikan salam pada Bianca.
"Bagaimana keadaan kakak?" Tanya Bianca lagi, memegang tangan kecil Bianca, terasa semakin kurus.
"Aku lumayan, sudah tak begitu mual dan muntah-muntah, kenapa kalian berkumpul di sini? Apa sudah tahu kabar tentang Rain?" Tanya Bianca, tentu itu yang selalu ada di pikirannya, dia memang sudah begitu lama tak tampak menangis, tapi bukan berarti dia tak menangis, Bianca hanya tak menunjukkannya, lagi pula selama ini bukan hanya dia saja yang kehilangan, yang lain pun sama dan malah punya masalah mereka masing-masing, Bianca tak ingin menjadi beban.
"Tidak, ada apa?" Tanya Bianca sudah penasaran.
"Baiklah kita bicara di kamar saja," kata Siena, dia melirik ke arah Ken dan yang lainnya, mereka seolah menyetujuinya.
Siena membawa Bianca untuk duduk di ranjangnya, Siena memegang tangan Bianca dengan lembut, perlahan dia menjelaskan apa yang terjadi, Bianca yang mendengarkannya tampak begitu terkejut.
Siena bisa melihat raut wajah bingung, sedih, ada sedikit kebahagiaan namun juga tak tahu harus apa.
Bianca memang merasa sedikit lega, dia akhirnya tahu bahwa suaminya masih hidup, namun dia juga tak menyangka bahwa Rain mengalami Amnesia.
"Tidak mungkin, dia tidak mungkin lupa denganku," ujar Bianca yang tak bisa menerimanya, bagaimana Suaminya bisa melupakan dirinya, bukannya dia ingin bersama dengannya selamanya? Berjanji menjaga Bianca?
Siena menggigit bibirnya, melihat mata indah itu kembali berkaca-kaca, bagi Siena saja hal ini sangat menyakitkan dan membuat sedih, apalagi bagi Bianca.
__ADS_1
"Tapi Kak Rain bahkan tak bisa mengingat diriku dan Ken," kata Siena lembut, mencoba menenangkan Bianca yang mulai tersedu, sakit hatinya mengetahui hal ini. Siena hanya bisa mencoba menenangkan Bianca, malah dia juga ikut menangis.
"Aku ingin bertemu dengannya," ujar Bianca, dia ingin tahu benarkah Rain melupakan dirinya? Atau bisa jadi Bianca lah obat dari amnesia Rain.
"Eh? Tapi?" Kata Siena, tak tahu itu adalah ide yang baik atau tidak. Siena menatap mata Bianca, ada keinginan yang kuat di sana, Siena jadi takut membuat harapan itu pupus.
"Tolonglah, aku ingin sekali bertemu dengannya, aku ingin memastikan apakah benar dia sudah melupakan ku, aku yakin dia masih mengingatku," kata Bianca memohon, baginya masih ada kesempatan, dia yakin, pikiran Rain mungkin lupa, tapi perasaannya, dia yakin cintanya dan Rain begitu kuat, mereka akan kembali bersatu. Bianca yakin itu.
Siena tak bisa menjawabnya, untung saja Ken masuk ke dalam ruangan itu karena merasa Siena butuh bantuan.
Siena menatap ke arah Ken, Ken mengerutkan dahinya.
"Kakak ingin bertemu dengan kak Rain," ujar Siena seolah mengadu pada Ken, dia tak bisa mengiyakannya.
"Ya, bisakah aku bertemu dengan Rain?" Ujar Bianca, kali ini meminta pada Ken.
Ken mengerutkan dahinya, sedikit berbahaya tentunya apalagi jika Bianca bertemu dengan Lidia, Itu bisa mengancam keselamatannya apalagi sekarang Bianca sedang mengandung calon Tuan atau Nona muda mereka.
"Nona, akan sangat berbahaya, apalagi jika Nona Lidia tahu anda sedang mengandung, dia pasti akan sangat iri dan melakukan apapun untuk mencelakakan anda dan kandungan Anda, apalagi dia berpikir Anda lah yang membuat anaknya meninggal," ujar Ken mengutarakan apa yang dia pikirkan.
Bianca menggigit bibirnya, apa yang dikatakan oleh Ken benar adanya, namun di dalam hatinya dia benar-benar ingin melihat Rain, dia ingin tahu apakah benar suaminya tak mengenalinya sama sekali.
"Tapi aku benar-benar ingin bertemu dengannya," ujar Bianca lagi, wajahnya memelas.
Ken dan Siena terdiam, mereka pun tahu perasaanya jika terpisah dari orang yang di cinta, apalagi orang yang di cinta masih ada.
"Kita akan usahakan, aku akan mencari waktu dimana Nona Lidia tidak ada di sana," ujar Ken mencoba memberikan harapan, lagipula Ken juga ingin sekali lagi menemui Tuannya tanpa ada Lidia.
"Terima kasih," kata Bianca, dia mencoba tersenyum namun air matanya kembali jatuh, rasanya cukup senang mengetahui dia bisa menemui Rain walaupun untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1