Rain In The Winter

Rain In The Winter
187.


__ADS_3

"Baiklah, aku akan mengatakan apa yang aku rasakan saat pertama melihatnya, Aku hanya sedikit kaget melihat wajahnya yang mirip dengan wajah ibuku saat dia tersenyum, selebihnya aku tak punya perasaan apapun, bagiku dia hanya wanita yang baru aku kenal malam ini, tak lebih sama sekali, Walaupun aku rasa aku punya masa lalu dengannya namun aku tak punya perasaan apapun sekarang," tegas Rain.


Bianca terdiam mendengar penjelasan dari Rain, dia menatapnya dengan dalam mencari di bola mata Rain tentang kebohongan atau sedikit saja rasa ragu yang tersirat, namun tak ada, hanya tatapan serius yang dalam, yang seketika bisa membuatnya percaya


"Bagaimana?" Tanya Rain lagi membuat Bianca kembali pada dunia setelah menyelami mata indah itu.


"Baiklah, aku mengerti, mari kita menikah kembali," kata Bianca tersenyum bahagia.


"Kalau begitu, ayo kita ke sana, sebentar lagi mereka akan menutup tempatnya," kata Rain segera kembali menarik Bianca, tak memaksa, malah lembut terasa.


Apa yang dikatakan oleh Rain benar adanya, di ujung jalan bahkan di tempat yang cukup tak terduga mereka melihat tempat ibadah yang mungil dan sederhana namun terkesan hangat dan manis.


Rain segera masuk menuju tempat itu, begitu pintu terbuka Antony sudah ada di sana dengan seorang pemimpin upacara pernikahan, Bianca langsung kaget, ternyata ini semua sudah di rencanakan oleh Rain.


"Ayo, kita tak punya waktu banyak," ujar Rain berjalan masuk ke dalam tempat itu menemui orang yang akan menikah kan mereka kembali.


"Dia sudah bersedia menikahiku kembali," ujar Rain pada pemimpin upacara itu, Bianca hanya diam sambil mengangguk kala pemimpin itu bertanya padanya. Mendengar hal itu, Pemimpin itu mulai melakukan upacara pernikahan mereka.


Di malam hari yang dingin, di sebuah tempat ibadah yang sederhana, hanya ada mereka berdua dan pemimpin upacara itu, juga tanpa gaun pengantin atau riasan, hanya gaun yang tertutup jas untuk menghangatkan badan, upacara itu malah berjalan lebih khitmat dan membekas di hati masing-masing, Rain mengeluarkan sekotak cincin permata, tak terlalu besar namun sangat indah, Bianca sampai menutup bibirnya yang terbuka dengan tangannya, kaget bahwa Rain juga sudah menyiapkannya, setelah menyematkan cincin di jari masing-masing, Rain mengatakan kembali janjinya.

__ADS_1


"Aku tahu bahwa mungkin sebelumnya aku pernah berjanji akan membuatmu bahagia, menjagamu dengan sebaik-baiknya atau apapun itu yang tak bisa aku ingat, kali ini aku tak akan berjanji hal itu lagi padamu, saat ini, aku hanya akan mengatakan ini padamu," kata Rain, sejenak dia diam sambil menatap mata Bianca yang tampak berkaca-kaca.


"Bianca, aku tak tahu apa yang terjadi esok, namun apapun yang terjadi, namun aku bisa berjanji padamu, seberapa kali pun aku kehilangan ingatanku tentangmu, tapi percayalah dan aku yakin, aku akan kembali jatuh cinta padamu lagi dan lagi setiap waktunya, karena kau adalah wanita yang aku inginkan selalu ada di sisiku, jadi jangan pernah merasa lelah menerimaku lagi dan lagi. Mulai detik ini, mari hidup dalam lembaran baru bersama dengan anak-anak kita," ujar Rain dengan suara lembut namun penuh keseriusan, tatapan matanya malam ini benar-benar menenggelamkan Bianca, hingga dia tak bisa berkata apapun lagi selain menitihkan air mata dan mengangguk pelan.


"Ku umumkan kalian sebagai suami istri, silakan mencium istri anda," kata Pemimpin upacara pernikahan itu menandakan selesainya prosesi sederhana itu.


Rain menaikkan sudut bibirnya, perlahan mendekati pengantin cantiknya, mencium dengan lembut dan pelan istri yang dia nikahi kesekian kalinya, tak lama dia menciumnya karena Bianca cukup tersentuh hingga tersedu sehingga Rain cepat melepaskan ciuman pernikahan mereka.


Langkah dengan genggaman tangan yang erat mengiring langkah mereka keluar dari sana, tak lupa juga dengan senyum bahagia yang bahkan tak bisa dihentikan oleh keduanya, begitu langkah kaki mereka keluar dari tempat ibadah itu, perjalan baru mereka akan dimulai.


---***---


Rain dan Bianca membaurkan napas, menyatukan raga dan jiwa, saling merengkuh nikmat dunia bersama diantara desahan dan juga erangan menanda nikmat, keduanya tampak begitu bersemangat, dalam syahdunya malam mereka memadu kasih, memperkuat cinta dalam balutan nafsu yang menggebu.


Rain memeluk tubuh istrinya setelah melakukan pergumulan suami istri itu, menatap wajah istrinya yang menutup mata di atas dadanya, membagi rasa hangat tanpa penghalang apapun hanya tertutup oleh selimut putihnya.


"Bianca," kata Rain sedikit serak, menatap langit-langit hotel yang indah dengan segala ukiran dan aksesorisnya.


"Ya?" Kata Bianca membuka matanya, tubuhnya cukup terasa lelah, namun hatinya penuh dengan suka cita, dia menopang tubuhnya, melihat ke arah Rain yang begitu dekat dengannya.

__ADS_1


Rain Menaikkan setengah tubuhnya, kembali mencium hangat bibir istrinya yang bahkan tak pernah jemu dia rasakan, dia benar-benar ketagihan akan bibir kenyan nan manis milik Bianca.


Bianca menerima ciuman manis dari Rain, perlahan namun sangat menghanyutkan, namun di antara ciuman itu tiba-tiba saja Bianca merasa ada cairan lengket dan hangat, baunya anyir seperti darah, menyadari hal itu Bianca segera menarik dirinya melepaskan ciuman itu melihat ke arah wajah Rain.


"Ada apa?" Tanya Rain, dia kaget melihat pipi dan daerah hidung Bianca tampak jejak semu merah, Rain langsung memegang sendiri hidungnya apalagi melihat Bianca yang tampak begitu kaget melihat wajah Rain.


Di bawah hidung Rain, Bianca bisa melihat darah segar mengalir kembali, Rain tentu kaget, dia tak mengalami sakit kepala, namun kenapa bisa darah itu keluar tiba-tiba. Rain menyambar handuk yang memang ada di dekat ranjang mereka lalu segera berjalan cepat ke arah kamar mandi bahkan tak membiarkan Bianca untuk bertanya.


Bianca memasang wajah cemasnya, dia meraih gaunnya yang tergeletak di lantai, menggunakannya langsung dan segera menunggu suaminya keluar dari kamar mandi itu.


Tak berapa lama, pintu kamar mandi itu terbuka, wajah Rain sudah bersih dari darah.


Rain kaget melihat Bianca yang sudah menunggu di depan kamar mandi, dia pasti tahu wanita itu sangat khawatir, terpatri jelas di wajahnya yang cantik dan masih ada noda darahnya.


"Rain? Ada apa denganmu?" Tanya Bianca cemas mendekati suaminya.


"Aku tak apa-apa, sini aku bersihkan darahnya," ujar Rain mengambil handuk bersih yang ada di lemari hotel, dia membasahinya dengan air hangat lalu mengelap wajah Bianca yang masih saja menatapnya dengan cemas dan curiga.


"Masih tak ingin mengatakannya padaku? Lalu untuk apa kita menikah hingga dua kali jika bahkan sekarang kau tetap menyembunyikan banyak hal dariku?" Kata Bianca yang sudah tak tahan lagi mengeluarkan semua hal yang ada di perasaannya, tak tahukah Rain dia sangat cemas.

__ADS_1


__ADS_2