Rain In The Winter

Rain In The Winter
150.


__ADS_3

"Penjelasannya nanti saja, aku hanya rindu padamu," ujar Rain dengan tatapan sendunya, membuat Bianca berhenti bernapas, jantungnya yang baru saja tenang, seketika bagaikan genderang lagi.


Perlahan sekarang Rain mendekatkan dirinya, kali ini tanpa paksaan, tanpa pegangan di kepala atau di tangan, Bianca tahu Rain akan kembali menciumnya, dia harus apa Bianca pun bingung? Ingin menghindar namun sejujurnya sepertinya dirinya bahkan tubuhnya sendiri menginginkannya, walau aroma kuat nikotin itu terasa menyeruak dari napas Rain, Bianca hanya bisa terkaku dalam posisinya.


Perlahan Rain mencium Bianca, dengan penuh perasaan dan juga kehalusan, tak seperti kemarin yang sangat memaksa dan bernafsu, ciuman ini menemukan iramanya, dari halus, pelan menjadi lebih cepat dan sedikit menggebu. Rain menyapu segala yang ada di rongga mulut Bianca, menyedot semua napas Bianca yang ternyata juga tak bisa menolaknya.


Rain dan Bianca larut dalam perasaan yang tercipta, ciuman penuh rasa yang terjadi di bawah bulan purnama, saat ciuman itu terasa panas tiba-tiba lampu mobil itu menyala tepat di atas Bianca dan Rain yang sedang berpaut, membuat orang-orang pastinya bisa melihat apa yang terjadi di dalam mobil yang tampak sedikit bergoyang.


Bram mengepalkan tangannya kuat, sangat kuat hingga rasanya kebas dan uratnya terlihat, Bram awalnya ingin sekali keluar lalu menghantam siapapun pria yang ada di sana, namun melihat Nyonya-nya yang juga tanpa perlawanan dicium mesra oleh pria itu, Bram merasa akan konyol jika dia melakukannya jika nantinya hanya dia yang marah di sana, lagi pula Bianca tak pernah merespon perasannya.


Bram segera menarik gigi mundur dan dengan cepat dia meninggalkan tempat itu, hatinya terkoyak, namun bisa apa? Kenapa Bianca berbohong? dia berkata ingin berkerja, apakah ini pekerjaannya sekarang? melayani pria-pria seperti ini?


Bram tak percaya, Nyonya-nya separah apapun keadaanya, dia tahu Bianca menjunjung tinggi harkat martabatnya, pria itu siapa? apakah dia pria yang berhasil meluluhkan hati Bianca, lalu bagaimana dengan pengorbanannya selama ini? sia-siakah? Bram memukul setir mobilnya keras, frustasi sekali rasanya, dia menghentikan mobilnya setelah cukup jauh dari tempat Bianca, bayangan mesra di dalam mobil itu kembali lagi, dia harus menanyakan hal ini! dia harus tahu! dan dia harus memberitahu bahwa selama ini perasaannya begitu kuat untuk Bianca.


Bianca membuka matanya dan kaget melihat lampu mobil itu menyala, dia tahu orang-orang bisa melihat apa yang mereka lakukan untungnya Rain juga segera melepaskan ciumannya.


Rain lalu melirik ke arah belakang mobilnya, Bianca yang melihat pria itu menatap ke Belakang sedikit mengerutkan dahinya.


"Kenapa?" Tanya Bianca bingung, bibirnya sedikit terasa basah dan lebih hangat.


"Pria di rumah mu itu sudah pergi," ujar Rain santai saja sambil memperbaiki cara duduknya dan seperti ingin bersiap berkendara lagi.


"Bram?" Celetuk Bianca kaget, dia segera melihat ke arah belakang, hanya gelap yang dia lihat.


"Oh, dia yang namanya Bram?" Tanya Rain ringan.


Bianca mengerutkan dahinya, curiga dengan sikap Rain ini.

__ADS_1


"Kau sengaja ya?" Kata Bianca, tak menyangka ini semua hanya pancingan untuk Bram.


"Tidak, aku hanya menegaskan bahwa kau ada milikku dan baginya tidak ada sama sekali kesempatan, bukannya kau wanitaku?" Ujar Rain, menatap dengan tajam mata Bianca, seolah juga mengaskan pada Bianca, dia hanya milik Rain satu-satunya.


Bianca mengerutkan wajahnya yang merasa kecut, sial sekali tadi dia sampai terbawa suasana, Tapi tatapan mata sendu lalu bibir lembut dan permainannya, siapapun rasanya akan terlena karenanya.


"Tapi aku benar-benar menikmati ciuman tadi," kata Rain kembali to the point saja. Membuat Bianca langsung melirik pria itu, kenapa malah jadi malu mendengarkannya.


"Kau ini apa-apan sih?" Kata Bianca yang salah tingkah gara-gara Rain.


"Tidurlah denganku," ujar Rain lagi, perlahan melihat Bianca dengan mata sendunya lagi, wajahnya yang tampan tertimpa cahaya rembulan, benar-benar pemandangan sempurna.


Wajah Bianca rasanya panas, semakin di protes pria ini semakin jadi, bahkan saat mereka suami istri saja mereka tak pernah berbicara seintim ini.


"Tak mau," jawab Bianca dengan nada sedikit ketus.


Rain mengangkat sudut bibirnya, bukan senyuman yang licik melainkan senyuman manis, Rain lalu memundurkan mobilnya perlahan meninggalkan tempat itu.


"Apa-apaan sih? malah berbicara seperti itu! kau tahu aku kira kau akan marah dan salah paham padaku," kata Bianca melirik Rain, Rain hanya santai menjalankan mobilnya, sambil menyulut kembali rokoknya, membiarkan tangannya di atas jendelanya, api di ujung rokoknya tampak sedikit membara terkena angin.


Rain sekali lagi menaikkan sudut bibirnya, namun dia hanya melihat ke arah jalanan.


"Kau takut aku marah?" Tanya Rain membalikkan kata-kata Bianca.


"Bukan, bukan itu maksudku?" Kata Bianca, kenapa jadi kesal Rain membolak balikkan kata-katanya.


"Tentu aku tak nyaman tahu ada pria yang dekat denganmu, tapi aku juga tak bisa marah padamu tentang hal ini, walaupun tak mengingat mu, aku tahu dia menjagamu dari awal kau bertemu denganku dulu," kata Rain sepenggal, dia lalu mengisap rokoknya kembali, sebelum melanjutkan kata-katanya, "mungkin dia di termasuk orang yang aku perintahkan untuk menjagamu, namun sekarang aku mau dia tahu, jika dia punya perasaan lebih padamu, dia harus menguburnya jauh-jauh, kali ini aku memakluminya, namun jika lain kali dia mencoba sedikit saja melenceng dari pekerjaannya dan mendekatimu, Dia akan tahu akibatnya, dan bisakah kau mengatakan padanya Agar tak sering-sering mendatangi tempatmu?" Ujar Rain tampak dewasa mengatakannya pada Bianca.

__ADS_1


Bianca kembali menggigit bibirnya, saat Rain marah atau bertindak kasar padanya, rasanya Bianca selalu bisa melawannya, namun saat Rain mengatakannya dengan penuh pengertian seperti ini entah kenapa hal ini malah tak bisa dibantah oleh Bianca, jadi Bianca hanya bisa diam.


Rain memberhentikan mobilnya pada suatu jalan yang sudah sepi dan remang, Bianca awalnya berpikir Rain akan membawanya kembali ke kediamannya, namun Bianca salah, Rain malah berhenti di lingkungan rumahnya.


"Kau mengantarkan aku pulang?" Tanya Bianca sedikit tak percaya.


"Bukannya aku sudah mengizinkanmu untuk tidur menemani sahabatmu? Tapi besok jangan coba-coba mengelak," ujar Rain lagi, Bianca mengerutkan dahinya, dari sosok pemaksa kenapa hanya dalam 1 hari dia berubah menjadi sosok yang begitu pengertian.


"Ya, ya, baiklah," kata Bianca, cukup senang karena setidaknya dia bisa tidur dengan Si kembar malam ini tak perlu mencari alasan ataupun apalah agar dia bisa pulang.


Rain mengangkat sudut bibirnya, baginya yang penting pria itu tak ada lagi di rumah Bianca, makin lama pria itu ada di sana, semakin gusar dirinya. saat ini dia mencoba untuk percaya pada Bianca.


"Baiklah, terima kasih sudah mengantarku," kata Bianca bergegas ingin turun, namun tangannya di tahan sejenak, Bianca terdiam dan dengan lembut Rain menarik tangan Bianca, Bianca kira Rain akan mencium bibirnya lagi, namun Rain hanya mengecup hangat dahi Bianca.


"Selamat malam, berhati-hatilah," ujar Rain lembut, membuat bukan hanya hati Bianca yang bergetar, tubuhnya pun juga. Kenapa menjadi begitu hangat?


"Ya, ya, pasti," kata Bianca sedikit salah tingkah, entah kenapa malah sekarang dia yang enggan untuk berjauhan dengan pria ini, apakah hatinya yang dulu terbuka lagi? Entahlah, Bianca juga tak tahu pasti. Apakah ini seperti mengulang kesalahan yang sama? Bianca juga tak tahu.


Bianca hanya memeluk dirinya, sebelum dia masuk ke dalam rumahnya dia menatap mobil sedan hitam itu, perlahan mobil itu pergi saat Bianca juga menutup pintu rumahnya.


"Nyonya, sudah pulang?" Tanya Yuri cukup kaget, tadi dia kaget ketika Bram pergi begitu saja dan tak kembali, sekarang Bianca tenyata pulang cepat dia juga kaget padahal dia mengira Bianca akan pulang pagi lagi.


"Ya, bagaimana anak-anak?" Tanya Bianca.


"Sudah di kamar, aku keluar sebentar membuatkan susu, mereka belum tidur, " lapor Yuri.


Bianca tersenyum tepat waktu sekali dia pulang, saatnya dia menidurkan anak-anaknya.

__ADS_1


"Baiklah setelah ini biar aku yang menidurkan mereka," kata Bianca, melepas mantelnya lalu segera menuju ke kamar mandi, Bianca sedikit membersihkan wajahnya dengan air, dia menyentuh bibirnya, ciuman itu masih terasa, lembut dan begitu penuh perasaan, Bianca menggigit kembali bibirnya, kali ini dia benar-benar terjerat oleh permainan Rain.


Bianca langsung menepuk pipinya, berusaha sadar dan segera keluar, dia mengambil botol susu dari Yuri lalu membawanya ke kamar melakukan tugasnya menidurkan Gio dan Gwi yang girang ibunya sudah pulang.


__ADS_2