Rain In The Winter

Rain In The Winter
155.


__ADS_3

"Paman, ayo masuk," kata Gwi yang baru keluar dari kamar mandi, baru saja mencuci tangannya, seperti yang selalu diajarkan ibunya, tak lama Gio muncul di belakangnya, juga sudah mencuci tangan dan kakinya.


"Mami, mami sudah masak banyak sekali, wah, paman, paman sangat beruntung, ketika paman datang Mami sudah memasak begitu banyak," kata Gio senang, dia memang selalu senang dengan makanan yang banyak, dia segera mengambil posisinya di tempatnya biasa makan.


"Benarkah? " kata Rain melihat tingkah Gio.


"Ya, lihatlah, aku bahkan tak pernah melihat mami memasak begitu banyak," kata Gio tak sabar menunggu waktunya makan.


Bianca mendekati Rain, dia meminta mantel yang digunakan oleh Rain, Rain segera membuka Mantelnya dan segera ingin duduk di depan Gio.


"Paman, Cuci tangan dulu," kata Gio yang memprotes Rain, Rain mengerutkan dahinya lalu melirik ke arah Bainca yang tampak hanya senyum-senyum sambil mengantungkan mantel tebal milik Rain, Merasa cukup lucu, akhirnya ada yang berani memerintahkan Rain.


"Baiklah," kata Rain patuh, Bianca semakin menunjukkan senyumannya, senang melihat ada yang membuat pria ini tak berkutik.


"Paman, Gwi tunjukkan kamar mandinya, " ujar Gwi yang tak pernah lepas senyum manis menghiasi bibirnya, senang sekali paman tampan ini bisa ikut ke rumahnya. Rain mengangguk sambil membalas senyum Gwi, membuat Bianca mengulum senyumnya, ternyata pemandangan seperti ini cukup menyentuh hatinya.


Bianca melirik ke arah Rain yang sedang mencuci tangannya, perlahan dia melakukannya dengan sangat patuh, Bianca lalu datang mendekatinya untuk memberikan sebuah handuk kecil berwarna putih cerah dan bersih untuk mengeringkan tangan Rain, dia tahu pria ini punya masalah kebersihan.


"Ini, " kata Bianca menyerahkannya, Rain segera mengambil handuk itu, mengelap tangannya yang sudah bersih namun tetap memandang Bianca.


"Aku rasa kau punya penjaga yang sangat tegas, sainganku sangat berat," ujar Rain pada Bianca, ada nada bercanda dan senang dalam kata-katanya membuat Bianca sedikit kaget.


"Tentu, anak siapa dulu," kata Bianca yang bangga pada Gio.


"Kita membuatnya bersama," goda Rain menaikkan satu sudut bibirnya, tak menunjukkan senyuman licik, tapi malah wajah manis yang menggoda, mendengar perkataan Rain, wajah Bianca segera memerah, bagaimana jika si kembar mereka mendengarnya.


"Kau ini apa-apaan?" kata Bianca salah tingkah.

__ADS_1


Rain hanya melebarkan senyumannya, Gio dan Gwi yang melihat ibu dan paman ini berbicara seperti sudah akrab merasa sedikit aneh, bukannya mereka baru saja berkenalan.


"Mami, mami kenal dengan paman ini? Mami, paman ini siapa?" tanya Gio yang tadinya sudah duduk tenang jadi bangkit dan mendekati ibunya.


Bianca yang mendengar pertanyaan dari Gio jadi bingung, apakah mereka akan mengerti jika yang mereka sebut paman ini adalah ayah kandung mereka? Apalagi selama ini jika Gio dan Gwi bertanya tentang ayah mereka, Bianca selalu berkata bahwa ayah mereka sudah tidak ada, jika tiba-tiba mengatakan bahwa ayah mereka ada di depan mata mereka, apa alasan Bianca untuk menjelaskan alasannya sebelumnya?


"Dia …. " kata Bianca bingung.


Rain segera berjongkok, langsung mensejajarkan matanya ke arah mata Gio, dengan senyuman tipis dia segera memegang pundak Gio, Bianca sudah tahu, Rain akan mengatakan siapa sebenarnya dirinya.


"Untuk sementara anggap saja aku adalah pria paling dekat dengan mamimu dulu, " kata Rain pada Gio, hal itu tentu membuat Bianca mengerutkan dahinya, kenapa Rain tidak mengatakan bahwa dia adalah ayah mereka, kenapa malah mengatakan hal seperti itu.


Gio menatap ke arah Paman di depannya, ruang diantara kedua alisnya mengerut, perkataan Rain cukup sulit dia terima, teman dekat ibunya?


"Anda mantan pacar mami?" tanya Gio. Bianca tambah kaget, dari mana Gio kecil tahu menahu tentang pacar?


"Baiklah, Mami, Paman, bisakah sekarang kita makan, aku sangat lapar," Ujar Gio, urusan begini lebih baik diserahkan saja pada orang dewasa, pikirnya.


"Ya, paman juga sudah lapar," kata Rain, Gio tersenyum bahagia dan segera kembali ke posisinya, tak lupa menggandeng adiknya untuk turut serta duduk bersamanya. Rain berdiri dan langsung berhadapan dengan Bianca yang masih mengerutkan wajahnya tak mengerti pola pikir pria ini.


"Akan aku jelaskan nanti, jangan membuat anakku kelaparan," kata Rain tersenyum tipis lalu meninggalkan Bianca dan segera bergabung dengan Gio dan juga Gwi, Pertanyaan itu masih ada dikepala Bianca bahkan saat dia duduk di samping Rain.


"Ayo makan," kata Rain pelan menyenggol tangan Bianca yang terlihat agak linglung.


"Oh, iya, makanlah," kata Bianca, mengambilkan nasi putih untuk Rain terlebih dahulu, Gwi dan Gio tampak senyum-senyum, Ibunya tak pernah mengambilkan nasi untuk siapapun, bahkan paman Bram saja tak pernah dia ambilkan, bibi yuri yang melakukannya.


"Ini untuk Gwi dan Gio, kalian suka makan daging ini kan?" kata Bianca, untunglah dia membuat makanan yang juga disukai oleh si kembar.

__ADS_1


"Mami, tidak memberi pada paman?" tanya Gwi dengan suara imutnya.


"Oh, iya, benar, ini, Paman," kata Bianca menekan kata-kata paman, dia juga tersenyum aneh melihat Rain, hal itu membuat Gwi dan Gio tertawa, dipikir-pikir paman tampan ini cocok sekali dengan ibu mereka yang cantik.


"Paman ingin menjadi papi Gio ya?" tanya Gio tiba-tiba di sela-sela makan mereka.


"Uhuk …. " pertanyaan Gio membuat Bianca langsung tak bisa menelan makananya, kenapa lagi Gio ini?


"Mami, minum dulu," ujar si kecil Gwi memberikan gelas untuk ibunya.


"Terima kasih Gwi," kata Bianca segera meminum air minumnya sampai habis, Rain melihat reaksi dari Bianca hanya mengangkat sudut bibirnya.


"Memangnya ibu kalian mengatakan kemana ayah kalian?" tanya Rain, hal itu membuat Bianca terbatuk kedua kalinya. Gio melirik ibunya dengan tatapan khawatir, Rain mengambil gelas miliknya lalu menyerahkannya pada Bianca, tatapannya seolah menyuruh Bianca untuk minum minumanya, mendapatkan tatapan itu Bianca dengan patuh melakukannya.


"Mami bilang papi Gio dan Gwi sudah lama tidak ada di dunia," kata Gio lagi dengan polosnya lalu lanjut memakan makanannya.


"Benarkah?" kata Rain, satu alisnya naik namun wajahnya terlihat cukup ramah, dia lalu melirik ke arah Bianca, Bianca hanya diam sambil menunduk dan makan makanannya.


"Jika paman adalah papi kalian, apa kalian setuju?" tanya Rain melihat Gio dan Gwi yang ada di depan mereka. Bianca mendengar itu sekali lagi membesarkan matanya.


"Gwi setuju, paman tampan cocok dengan mami Gwi," kata Gwi semangat bahkan mengacungkan sendoknya ke atas.


"Gio bagaimana pilihan mami saja, tapi Gio hanya mengatakannya sekali, paman jangan sampai pernah membuat mami sedih, jika paman melakukannya Gio tak akan memaafkan paman, " ujar Gio dengan matanya yang menyipit seolah mengatakan pada Rain dia bersungguh-sungguh, Rain mendengar itu sedikit tertawa, bahagia ternyata dia punya anak secerdas dan sepemberani Gio, dan juga selucu Gwi.


"Baiklah," kata Rain dengan suara yang berat, dia kembali memakan makanannya.


"Gio, apa kata mami? Makan jangan sambil mengobrol," kata Bianca yang tak mau pembicaraan ini akan menjadi lebih panjang dan aneh lagi untuk di dengarkan oleh mereka.

__ADS_1


__ADS_2