
Rain baru saja menyelesaikan semua pekerjaan di perusahaannya saat dia melirik ke arah jam di meja kerjanya, sudah hampir pukul 11 malam dan dia tiba-tiba teringat sesuatu. Rain dengan cepat menutup laptopnya saat dia kembali berpindah pada tablet yang sudah siap sedia di sampingnya.
Rain segera membuka aplikasi CCTV, dia ingin melihat apa yang dilakukan wanita itu malam ini, entah sejak kapan tapi itu sudah seperti kewajiban baginya. Rain menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya, membuat tubuhnya sedikit menekan sandaran kursi itu, tangannya mengusap pelan bibirnya yang selalu tampak merah muda, mengamati dengan serius apa yang sedang dilakukan Bianca.
Rain mengerutkan dahi, semalam ini kenapa dia masih berkeliaran dan berkutat dengan kain pel dan barang-barang lainnya, apa dia kembali dikerjai oleh teman-teman pelayannya. Rain lalu melihat Bianca yang mengelap keringatnya, terlihat begitu lelah sepertinya.
Bianca mengusap keringat yang mengalir di pipinya yang halus dan putih, tangannya baru saja memeras kain pel yang digunakannya untuk mengepel lantai ruangan utama itu, sebenarnya dia sudah membersihkanya tadi pagi dan juga sore hari, tapi entah kenapa ruangan ini kembali kotor, mungkin ini adalah kerjaan dari pelayan-pelayan lain yang tak menyukainya.
"Bianca," tegur Lisa yang tak menyangka Bianca masih saja bekerja selarut ini, jika Tuan Rain tahu bisa-bisa dia yang kena marah, bukannya tugasnya untuk memperhatikan Bianca.
"Hmm?" tanya Bianca yang kembali mengusapkan kain pel itu di lantai yang sebentar lagi akan selesai dia bersihkan.
"Kau sedang apa malam-malam begini, maksudku, tentu kau sedang mengepel, tapi kenapa? Bukannya kita sudah selesai membersihkannya tadi sore?" tanya Lisa tak habis pikir, Lisa tentu tahu ini kerjaan dari pelayan yang lain, mereka sampai sekarang selalu saja mengerjai Bianca.
"Entahlah mungkin seekor musang masuk ke dalam sini," ujar Bianca tersenyum, tak ingin terlalu mengeluh.
"Bianca, kalau mereka menyuruhmu untuk melakukan hal-hal seperti ini, kau jangan mau, biarkan saja mereka yang melakukannya, sudah, sini, kau pergilah mandi dan istirahat, dari tadi aku kira kau sudah tidur ternyata, aku akan membunuh mereka satu persatu," geram Lisa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kau sudah bersih, jika nanti mengepel lagi, bisa-bisa bajumu kotor, biar aku saja yang melakukannya," ujar Bianca.
Lisa memandang wajah Bianca dengan kesal namun juga kasihan, dia tahu wanita ini sangat lelah, terlihat dari wajahnya, bukan hanya malam ini dia tidur larut malam, dalam seminggu ini saja dia sudah diporsil kerja dan pelayan yang lainnya malah enak-enakan tidur. Lisa terus memandangi Bianca dengan wajah kasihannya, gadis secantik ini bahkan tak pantas walau hanya menyentuh gagang sapu, tapi lihatlah dia, dia mengepel, mengelap semua prabotan, membersihkan karpet, bahkan membersihkan kebun, Lisa sungguh tak tega melihat kulit halus itu perlahan menjadi kasar.
Bianca akhirnya selesai membersihakan ruang tengah bangunan utama itu, Lisa tanpa diminta langsung membawa ember berisi air kotornya, Bianca hanya tersenyum manis melihat satu-satunya orang yang saat ini bisa dia sebut teman. Lisa lalu segera membantu Bianca membersihkan alat-alatnya agar Bianca bisa istirahat.
Bianca tak langsung kembali ke kamarnya, dia duduk di taman belakang untuk sekedar mendinginkan badannya yang dari tadi berkeringat, dia mengibas-ngibaskan tangannya lalu melihat Lisa yang setia duduk di sampingnya.
"Aku sungguh kasihan denganmu," ujar Lisa.
"Kasihan?" tanya Bianca bingung, apa yang dikasihani dengan hidupnya sekarang?
"Ini tidak seberapa," kata Bianca lagi yang terpancing tersenyum melihat tingkah Lisa.
"Bagaimana tidak seberapa? Ya Tuhan aku sangat sayang dengan tangan ini, seandainya aku yang punya tangan seindah ini, aku pasti sangat menjaganya, agar suatu saat aku bergandengan dengan kekasihku, dia tak akan melepas tanganku karena begitu halusnya," kata Lisa yang mulai tampak berandai, membuat Bianca tertawa kecil jadinya, tawa kecil yang entah mengapa tertular berkilometer jauhnya, Rain menaikkan sudut bibirnya, membuat senyuman tipis nan manis.
"Tanganmu juga halus," ujar Bianca yang masih membiarkan Lisa mengelus-gelus tangannya bagaikan barang berharga.
__ADS_1
"Sejujurnya aku keberatan Tuan Rain menghukummu menjadi pelayan, tak cukupkah menghukummu untuk tinggal di pulau ini, mengurungmu? Dari perawakanmu, aku yakin dulunya kau sangat dijaga, benarkan?" Kata Lisa melirik Bianca, secantik putri-putri dongeng yang dia tahu.
Bianca tersenyum tipis nan getir, dia menundukkan matanya yang sedikit telihat suram mengingat kehidupannya selama ini, banyak yang mengira dia adalah wanita yang sangat manja, dicintai dan di jaga, tapi sayangnya itu hanya ada dalam pikiran orang-orang.
"Kau salah, jika aku boleh jujur, 2 minggu ini adalah waktu terbaikku dalam hidupku," kata Bianca dengan pilu menatap Lisa, Lisa yang mendengar itu langsung tertegun, melihat mata Bianca yang penuh pancaran sedih itu, tak mungkin dia hanya berbual.
"Apa maksudmu?" tanya Lisa.
"Hidupku jauh dari apa yang kau baru saja bayangkan dan katakan, aku punya seorang ayah yang sangat tempramental, dia tak menginginkanku namun karena kehadiranku dia harus bertanggung jawab pada ibuku, Ayahku selalu memukuli kami berdua dan kami akhirnya pergi meninggalkannya, setelah bertahun-tahun, tiba-tiba dia datang kembali dan dia menjualku pada seorang pria," kata Bianca yang menarik napasnya panjang, suaranya tercekat oleh rasa sakit yang mencekik tenggorokannya, air matanya keluar begitu saja, suaranya menjadi bergetar, padahal sejujurnya dia tak ingin lagi menangis. Lisa yang mendengar itu membesarkan matanya, bibirnya sampai terbuka.
"Apa dia?" Tanya Lisa yang tak percaya kisah Bianca ternyata begitu tragis. Bianca hanya menatapnya dengan senyuman luka, membuat hati Lisa pun ikut terluka, apalagi saat Bianca mengangguk kecil, hati Lisa lah yang malah tercabik.
"Dia menyiksaku dengan segala cara, aku tak tahu apa salahnya, beberapa minggu yang lalu, saat aku selesai disiksa, ibuku melihatnya, dan dia pun meninggalkanku begitu saja, ibuku ... dia ... bahkan tak mengucapkan salam perpisahan untukku, karena itu aku sangat ingin menyusulnya, tapi aku akhirnya mengerti, jika nantinya aku mati dan aku menyusul ibuku, dia pasti sangat kecewa dan sedih, dia mengobankan nyawanya untukku, namun aku malah merenggut nyawa yang sudah dia berikan padaku, karena itu aku akan bertahan, aku akan bertahan untuk ibuku," ujar Bianca menarik napas panjangnya, menahan agar tak lagi ada tangis yang keluar, namun matanya sama sekali tidak bisa diajak kompromi dan pertahanannya selama ini akhirnya tak bisa lagi dipertahankannya, Bianca akhirnya menangis tersedu. Lisa pun jadi ikut menangis, pantas saja wanita ini selalu duduk termenung dengan matanya yang kosong, selama ini dia menahannya, menahan segala kesedihan yang dia rasa, jika Lisa jadi dirinya, mungkin dia tak akan bisa lagi tersenyum, mungkin sudah kehilangan akal dan menjadi gila, Lisa bahkan tak sanggup membayangkannya, dia kira hidup begitu hanya ada di cerita-cerita, ternyata di dunianya pun ada.
"Ya, jangan menyerah," ujar Lisa memeluk Bianca yang tampak bergetar tubuhnya, sesat mereka menangis bersama, namun hanya sesaat, Bianca lalu menarik hidungnya yang basah, mengusap air matanya yang berlinang, ternyata sedikit membagi kesedihan membuat perasaannya semakin lega.
"Maka jika aku katakan, ini adalah 2 minggu paling tenang dalam hidupku, apa kau percaya?" Tanya Bianca dengan suara lembutnya, menatap nanar pada Lisa yang langsung mengangguk mantap, jika memang itu kehidupan Bianca sebelumnya maka hal ini sungguh bukan apa-apa.
__ADS_1
Bianca hanya tersenyum lalu kembali menatap langit, namun matanya tiba-tiba tertarik dengan sebuah CCTV yang diletakkan tak jauh dari tempatnya duduk, bahkan ada di atas kepalanya.
Rain terdiam di kursi kerjanya terus menatap ke arah CCTV itu, tangannya masih menyentuh bibirnya saat pandangan mereka bertemu, membuat Rain yang dari tadi ternyata mendengarkan apa yang dibicarakan Bianca dan Lisa, akhirnya tahu bagaimana keadaan wanita ini sebelumnya, tentu menyayat hati siapapun yang mendengarnya bahkan untuk hati yang sudah mengeras seperti milik Rain.