
"Aku ke sini ingin menanyakan dimana kakakku?" Tanya Siena lagi, tak ada waktu berbasa basi dengan wanita gila ini.
"Kakak? Siapa yang kau sebut kakak?" Kata Lidia, benar-benar menarik Siena dalam batas kesabarannya.
"Jangan bertingkah sok tak mengerti Lidia! Dimana kakakku!" Kata Siena dengan suara lantang, benar-benar sudah tipis sabarnya.
"Oh, yang kau maksud suamiku?" Tanya Lidia lagi sok polos.
Ken dan Siena mengerutkan dahinya, menatap satu sama lain sejenak lalu melirik wanita menyeramkan itu, suami bagaimana? Bagaimana bisa?
"Apa yang kau maksud suami?" Tanya Ken, tak bisa dia tinggal diam saja.
Lidia tersenyum manis namun mengejek, dia lalu kembali ke mejanya, lalu menatap rendah dua orang yang berada jauh darinya itu.
"Kalau tidak percaya tanya saja sendiri," ujar Lidia, dia memegang handsfreenya, "bawa Tuan kemari,"
Ken dan Siena membesarkan matanya, apa maksudnya ini? Tuan? Apa itu maksudnya Rain? Jadi Rain masih selamat.
Keterkejutan mereka belum juga berkurang namun bertambah saat pintu kaca di dekat Siena terbuka dan mata mereka membulat sempurna melihat sosok yang sudah mereka cari beberapa hari ini, tampak bugar seperti tak ada kecelakaan sebelumnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Suara dingin itu terdengar, Siena jadi merasa terharu mendengarkan itu, rasanya sudah lama dia merindukan suara kakaknya yang sangat datar tak punya nada itu.
"2 orang ini ingin bertemu denganmu Kak," kata Lidia, bergelayut mesra pada tangan Rain, hal itu tentu membuat syok Siena dan Ken, dia tahu betapa bencinya Rain pada Lidia, tapi wanita ini dengan entengnya bergelayut seperti itu pada Rain dan herannya Rain tak menampiknya, dia malah melirik ke arah Ken dan Siena, tentu dalam ingatannya mereka berdua tak ada.
"Apa aku mengenal kalian?" Kata Rain datar, tajam matanya bagaikan waspada pada orang asing, benar, semenjak tahu dia melupakan sebagian besar ingatannya, Rain menjadi begitu waspada.
"Kakak! Kau tak mengenaliku?" Tanya Siena, suaranya menggema di ruangan itu.
"Kakak?" Kerut Rain, janggal rasanya, dia tak punya adik selain Lidia, apa dia mengangkat adik lagi setelah menikahi Lidia.
"Gadis ini adalah gadis yang kau tolong sebelumnya, sebenarnya dia bekerja untukmu dan dia ingin sekali dekat denganmu, dia tak bisa menjadi kekasihmu malah merebut tempatku, mengatakan pada orang-orang bahwa dia adalah adik angkatmu sehingga mendapatkan keuntungan," kata Lidia, Rain yang sebagian otaknya masih kosong menyerap hal itu begitu saja, tentu di sini hanya Lidia yang masih ada di dalam memorinya sehingga gampang untuknya percaya.
"Bohong! Kakak, dia yang melakukan hal itu hingga kau memutuskan hubungan mu dengannya, kakak, percayalah aku adikmu," ujar Siena memelas, bagaimana kakaknya bisa melupakannya.
"Tuan, kau tidak mengingatku," Kata Ken, Lidia hanya diam, sudah tentu tak akan ingat.
"Tidak," kata Rain singkat.
"Dia Ken, asisten kepercayaanmu," ujar Siena dengan cepat.
__ADS_1
"Dia adalah kekasih wanita ini, mereka ingin menjebakmu, tahu bahwa kau mengalami amnesia jadi mereka mencoba untuk masuk ke sini, lihat begitu banyak orang yang ingin bisa di sisimu kan kak, untung saja ada aku kak," ujar Lidia lagi, Rain mengerutkan dahinya, dia pikir saat dia kembali ke perusahaan dia akan mendapatkan sedikit demi sedikit ingatannya karena sejauh yang dia tahu dia sangat senang ada di perusahaannya, tapi hari pertama malah menambah sakit kepalanya.
Rain hanya diam, dia melirik ke arah Siena dan Ken, namun tak berkata apa-apa, dia segera memutar tubuhnya hendak pergi dari sana tanpa mengatakan apapun, dia sudah malas dengan drama ini.
"TXN931WA," kata Ken langsung namun sukses membuat Rain berhenti dan langsung melihat ke arah Ken.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Rain, Lidia membesarkan matanya, kode apa itu tadi? Bagaimana Rain bisa ingat dengan kode itu.
"Bawa mereka pergi," ujar Lidia, entah sejak kapan 4 penjaga ada di belakang mereka, dengan kasar langsung menarik Ken dan Siena pergi, jika tadi hanya Ken, dia pasti melawan, tapi di sana juga ada Siena, fokusnya jadi menjaga wanita itu.
"Jika aku bukan orang kepercayaanmu dulu, aku tak akan tahu, Tuan, aku orang terdekatmu!" Teriak Ken, pria itu merasa cukup sedih karena Tuannya seolah benar-benar tak mengingatnya, apakah setelah memberikan kode itu dia juga tak percaya Ken adalah orang kepercayaannya, hanya 3 orang di dunia ini yang tahu kode itu, Rain, Ken dan juga asisten Qie, asisten Rain sebelumnya.
"Kakak, ayo istirahat, bukannya dokter mengatakan padamu, bahwa kau tidak boleh memaksakan atau keadaanmu akan memburuk," Rayu Lidia agar Rain segera keluar dari ruangan itu walaupun Ken dan Lidia sudah berhasil di tarik keluar, dia ingin mengalihkan pikiran Rain dari apa yang dikatakan oleh Ken.
"Siapa dia? Bagaimana dia tahu kode itu," kata Rain, dia tahu percis hanya dirinya dan asisten Qie yang tahu hal itu, benar dimana asisten Qie?
"Dimana Asisten Qie?" Tanya Rain, baginya asistennya adalah asisten Qie.
"Dia adalah pengkhianat, dia jatuh cinta pada wanita yang membunuh ibumu, dia awalnya menyelamatkannya dan tewas saat mencoba membawanya pergi, aku rasa pria itu juga ada hubungannya dengan Asisten Qie, aku yakin asisten Qie memberikan hal itu padanya agar membuat kau percaya," kata Lidia dengan segala karangannya.
__ADS_1
Rain menekuk wajahnya, begitu memusingkannya kah kehidupannya selama 10 tahun ini? Pengkhianat dan juga orang-orang yang ingin mendekatinya, otak Rain merasa tak bisa menerimanya, namun dia tak ingin bertanya lebih lanjut pada Lidia, dia rasa dia harus mencari sendiri apa yang terjadi dalam 10 tahun ini.
"Aku ingin beristirahat di ruanganku, pulanglah, aku rasa aku tak mungkin mengizinkan istriku bekerja di perusahaanku, pulanglah," ujar Rain datar, tanpa menunggu jawaban Lidia, dia segera pergi dari sana, membuat Lidia merasa diabaikan, Lidia memasang wajah kesalnya, ini akibat dia Baru saja bertemu dengan Siena dan Ken, bagaimana jika dia bertemu dengan Bianca? Dia harus memberikan Rain sugesti terlebih dahulu sehingga pria ini tak akan mempercayai Wanita itu nantinya.