Rain In The Winter

Rain In The Winter
193


__ADS_3

"Apa mereka sudah tidur?" Tanya Siena yang baru saja membuka pintu kamar rawat si Kembar, Bianca yang melihat Siena mengintip itu segera tampak cemas.


"Ya, apakah ada sesuatu dengan Rain?" Tanya Bianca, mereka memang membagi tugas, saat Bianca bersama anak-anaknya, Siena yang akan ada di tempat Rain untuk menjaga dan berjaga-jaga jika ada kabar tentang keadaan Rain. Melihat Siena di sini tentu Bianca berpikir ada sesuatu di tempat Rain.


"Tidak, semua masih sama, kak Rain masih belum sadarkan diri, aku hanya ingin tahu keadaan di sini mana tahu kakak ingin melihat keadaan Kak Rain, bukannya kakak hanya melihat sejenak tadi?" Tanya Siena menatap wajah lelah Bianca, bukan hanya lelah, wajah tertekan itu terlihat jelas, tentu saja siapapun akan tertekan melihat semua yang dia cintai sekarang terbaring di ranjang rumah sakit.


"Ehm …." Kata Bianca masih ragu meninggalkan kedua anaknya, bukan dia tak mau melihat keadaan Rain, tapi dia juga tak bisa beranjak dari sisi anaknya.


"Tak apa Nyonya, aku dan Nona Siena akan ada di sini, jika Dokter atau Si kembar bangun dan mencari Nyonya, aku akan segera memberitahukan pada Anda, lagi pula Anda hanya berbeda 1 lantai dari sini," ujar Yuri memberikan penjelasan, Bianca masih tampak ragu, namun melihat wajah Gio dan Gwi yang masih tidur dia rasa tak masalah meninggalkan mereka sejenak.


"Baiklah, tolong sejenak menjaga mereka, aku tak akan lama," kata Bianca.


"Baik kakak, Ken juga masih di sana, jika ada apa-apa aku akan segera mengabarinya," ujar Siena, segera menggantikan posisi Bianca duduk diantara kedua anak kuat itu.


"Ya, terima kasih," ujar Bianca.


Perlahan dia segera keluar dari ruangan itu, gamang sebenarnya menyusuri lorong dingin itu, namun setiap kakinya melangkah dia berusaha sebisa mungkin menyakinkan dirinya untuk kuat, dia harus kuat untuk semua orang yang dia cintai.

__ADS_1


Bianca membuka ruang besuk itu, Ken yang duduk di sana segera berdiri, dari tadi dia menjaga Rain di sana.


Ken tampak sungkan melihat Bianca yang baru saja masuk, tanpa banyak berbicara dia hanya mengangguk pelan tanda ingin izin keluar dari sana, dan segera Ken keluar dari sana meninggalkan Bianca sendiri di ruangan yang dingin itu.


Suara monitor tanda vital terdengar mengisi ruangan itu, di antara pembatas kaca itu Bianca hanya bisa menatap wajah Rain, kali ini jauh tampak lebih cerah dari terakhir dia melihatnya, saat bersama anak-anaknya tadi dia tak terlalu memperhatikan Rain, bukan karena dia tak cemas, dia sangat cemas tapi membayangkan apa yang akan dilalui darah dagingnya membuatnya tak fokus melihat keadaan Rain.


Bianca hanya diam, dia mencoba untuk percaya dengan apa yang dikatakan oleh para dokter, Rain akan baik-baik saja, setidaknya itu yang ingin dia yakini sekarang, membuat beban di pundaknya sedikit berkurang.


"Rain," kata Bianca pelan, sudah pasti walaupun Rain di sana sadar, dia tak akan mendengarnya, "aku sudah melakukan apa yang menjadi keinginanmu, Gio dan Gwi sebentar lagi akan di berikan serum."


Hening kembali sejenak, Bianca hanya menggigit bibirnya.


Kepala Bianca sangat sakit sekarang, tubuhnya ada di sini sekarang namun pikirannya melayang di tempat anaknya, namun saat dia ada bersama anaknya, pikirannya malah ada di tempat ini.


"Bagaimana bisa kau membuatku harus memilih antara dirimu atau anak-anak kita?" Kata Bianca lagi, kali ini jauh lebih lirih dan keras.


"Kenapa kau selalu begini? Bukannya sudah ku katakan untuk mengatakan apapun padaku? Kau tahu ini terlalu kejam, Kau Kejam sekali!" Kata Bianca berteriak keras sambil memukul kaca pembatas itu dengan kuat, seolah dengan pukulan itu dia ingin membangunkan Rain dari tidurnya yang panjang.

__ADS_1


Mata Bianca yang basah hanya menatap nanar, nyatanya bahkan sampai tangannya sakit pun pria itu bergeming di ranjangnya, bahkan sedikitpun tak bergerak.


"Aku bingung Rain, aku harus apa sekarang? Harus dimana aku berada sekarang? Aku tidak bisa melakukannya bersamaaan, menjagamu dan juga anak-anak kita, aku tak sekuat itu," kata Bianca menumpahkan tangis nyerinya, menyandarkan kepalanya ke dinding kaca yang dingin, hanya di sinilah dia bisa menumpahkan semuanya, keluh dan kesahnya dalam ruangan kosong dimana dia hanya sendirian.


Hening kembali menyergap bagi Bianca, dia hanya bisa mendengar Isak tangisnya sendiri yang terkadang lemah namun terkadang makin keras.


Bianca membalikan tubuhnya, menyandar pada kaca pembatas mereka itu, tangisnya sekarang kembali menjadi, meraung penuh kepedihan, jika saja tak mengingat anak-anak yang masih sangat membutuhkan dirinya, mungkin sekarang dia sudah gila menerima tekan seperti ini.


Bianca hanya wanita rapuh yang selalu mencoba kuat di setiap jalan hidupnya, dari lahir dia bukanlah anak yang diinginkan, ayahnya tak pernah menganggapnya anak, menjualnya, menerima siksaan fisik dan Batin sudah dia rasakan, sejenak hidupnya bahagia namun kebahagiaan itu rasanya tak pernah senang ada di dekatnya, setiap kali dia bisa tersenyum lebar, sepertinya nasib selalu punya cara untuk memeras air matanya kembali, meremukkan perasaan, menguras pikiran hingga menghancurkan dirinya perlahan, entah sampai kapan hidupnya akan begini terus.


Bianca menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menahan sedu dan suaranya agar tak lagi meraung, namun dia tak kuasa mengontrol dirinya sendiri, dengan bekapan tangannya sendiri dia tetap saja menangis keras, dia hanya ingin menumpahkan rasa sedih, marah dan juga ketidakberdayaannya di sini, di sisi lain tempat suaminya terbaring dan entah kapan akan kembali padanya.


Cukup lama Bianca berada di ruangan itu hingga dia pun tak sanggup lagi menangis, dia hanya terduduk di lantai dingin dengan tatapan mata kosong, sekosong pikiran dan hatinya sekarang, dia tak lagi melirik sedikit pun ke arah Rain.


Pikirannya yang melayang membuatnya mengingat pesan dari Rain yang selalu dikatakan pria itu saat dia tak pernah ada di sisinya,


"Jagalah mereka untukku."

__ADS_1


Ingatan itu seolah memukul kepala Bianca, dia segera bangkit dari duduknya dan melihat suaminya yang masih saja tetap sama, dia kembali meraba kaca Dinding yang semakin dingin itu, Bianca mengangguk mengerti, Bagaimanapun Rain selalu mengutamakan anak-anaknya, mungkin inilah yang juga dia inginkan.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu ruangan itu, Hal itu mengubah pandangan Bianca yang tadi kosong menjadi tertuju pada pintu, Bianca tak langsung menjawabnya, dia lalu segera menghapus air matanya dengan keras meninggalkan jejak basah yang memerah di pipinya yang putih, dia menarik hidungnya yang berair lalu dengan gontai dia berjalan menuju pintu itu.


__ADS_2