Rain In The Winter

Rain In The Winter
151.


__ADS_3

"Bagaimana kabarnya?" tanya Rain ketika dia melihat Bianca sedang menyeberangi jalan dan masuk ke dalam rumahnya, Rain lalu menjalankan mobilnya perlahan sambil melihat ke arah Bianca yang perlahan juga menutup pintu rumahnya. Rain lalu menerjang jalanan sepi yang gelap itu, matanya tampak tajam hanya menatap lurus ke arah depan ketika dia menelepon seseorang, wajahnya keras mendengarkan penjelasan dari seberang.


"Seperti yang sudah kita duga, Dia pergi ke tempat untuk bisa melampiaskan emosinya, kami menambah dosis alkoholnya agar dia segera mabuk Tuan," suara pria di sana menjelaskan.


"Baiklah, jangan sampai membuat dia pingsan cukup meracau tak jelas saja, jika sudah begitu  segera bawa dia ke kabin di dekat dermaga, apakah penthotal sudah siap? " tanya Rain lagi.


"Baik, Tuan kami akan segera melaksanakannya," kata Pria itu dengan sangat tegas, Rain menaikkan sudut bibirnya, kali ini sudah saatnya dia bertindak, tak lagi ingin menunggu dan juga pasif, kali ini dia harus tahu semuanya.


Rain menunggu cukup lama di daerah dekat dermaga, rokok di tangannya hampir saja mengenai tangannya saat dia sadar akan keadaannya, dia segera melepaskan rokok  yang nyatanya hanya beberapa kali di isapnya, dia langsung membuangnya ke tanah, malam ini bukannya dia tak ingin bersama dengan Bianca atau memang berbaik hati mengizinkan wanita itu tidur di rumahnya, tapi Rain punya urusan yang lebih penting dan dia harus melakukan ini sebelum dia melanjutkannya ke langkah berikutnya.


Sebuah mobil mini van berwarna hitam akhirnya memasuki area itu, Rain menyipitkan matanya melihat mereka segera berhenti di kabin yang mereka sepakati, Rain melihat beberapa penjaganya membawa turun tubuh seseorang yang sudah lemas dan lunglai, bahkan jalannya saja terhuyung, Rain menaikkan sedikit sudut bibirnya, sama saja, setiap pria selalu melakukan hal ini jika hatinya tersakiti, alkohollah pelampiasannya, awalnya memang membuat rileks namun setelah itu malah membuatnya tak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Rain segera turun dari mobilnya, perlahan dia juga menuruni jalan setapak yang mengarah ke kabin sepi di dekat dermaga itu, Antony tampak di sana, dia langsung menundukkan kepalanya seolah memberikan salamnya.


"Bagaimana?" tanya Rain melirik ke arah Antony.


"Sesuai keinginan Anda Tuan," kata Antony.


"Baguslah, kita harus cepat sebelum dia tak sadarkan diri dan semuanya akan sia-sia," kata Rain lagi, perlahan dia memasuki kabin kecil itu, hanya ada satu ruangan yang biasanya digunakan sebagai gudang.

__ADS_1


Saat Rain memasuki tempat itu suara langkahnya berdecit, kayu usang yang digunakan menebarkan bau khas selain itu udaranya cukup pengap dan juga berbau asin dan amis, Rain duduk di kursi yang ada di sana, di depannya Rain bisa melihat Bram yang terlihat teler karena minuman beralkohol juga campuran yang sengaja diberikan oleh bawahannya, sekarang dia akan mengira semua yang dia alami hanya mimpi atau bahkan dia tak akan mengingat hal ini esok pagi.


"Dimana ini?" tanya Bram terbata, melihat sekililngnya begitu kabur dan juga sepeti terlalu bercahaya, membuatnya susah untuk melihat.


"Bram?" tanya Rain, namun suara itu terdengar lebih berat dan besar bagi Bram, Bram mengerjabkan matanya, melihat sosok pria dengan wajah yang buram dan dari belakangnya terlihat begitu banyak cahaya, pria itu terlalu bercahaya.


"Ya? siapa di sana?" tanya Bram, berapa kali pun dia mengerjabkan matanya dia tak bisa mengenali pria itu, Pria itu tampak santai di depannya.


Rain menaikkan sudut bibirnya, saat ini adalah saat yang tepat dia bisa menanyai Bram, Rain melirik seorang pria dengan koper kecil berawarna hitam di tangannya, dia mengangguk, pria itu segera membuka koper itu, mengambil sebuah obat dalam botol kaca bertuliskan *S**odium Theopental*, mencampurnya dengan air lalu segera  memasukkannya ke dalam suntikan 3 cc, dia lalu segera melihat ke arah Bram yang masih terhuyung bingung, Para penjaga yang ada di sana segera memegang tangan Bram, mungkin karena terlalu mabuk sehingga dia tak lagi bisa melawan, penjaga itu membuka lengan kemeja yang digunakan oleh Bram, dan dengan cepat menaikannya sampai memperlihatkan lipatan sikunya, Pria yang memegang suntikan itu segera menusukkan jarum itu ke dalam penbuluh darah vena Bram, Bram bahkan tak bisa merasakan sakitnya.


Setelah memasukkan serum kejujuran itu, para penjaga melepaskan Bram, Rain menunggu sedikit lebih lama agar serum itu bisa bekerja dengan maksimal, melihat Bram yang mulai terpengaruh Rain segera menaikan sudut bibirnya.


"Siapa namamu?" kata Rain segera.


"Apa pekerjaanmu sekarang?" tanya Rain lagi.


"Aku bekerja di kapal Sea Explorer sebagai crew," jelas Bram perlahan.


"Sebelumnya apa pekerjaanmu?" introgasi Rain.

__ADS_1


"Tentara, aku seorang tentara di wilayah kemiliteran, selain itu aku bertugas sebagai tentara bayaran," kata Bram dengan suara yang sedikit berat seperti orang yang mengantuk.


"Sekarang, selain bekerja dengan Sea Explorer, apa lagi pekerjaanmu? Lalu bagaimana kau menjaga Bianca? apa hubungan kalian berdua?" tanya Rain dengan suara tajamnya.


Bram terdiam sejenak, sekali lagi berulang-ulang mengerjapkan matanya, tetap saja wajah-wajah pria ini tak terlihat sama sekali, dia masih menganalisa ini adalah mimpi atau kenyataan, namun akalnya sama sekali tidak isa menebak hal itu, bagainya batas antara mimpi dan kenyataan menjadi begitu buram.


"Selain bekerja di sana aku …. " kata Bram mengatakan semua yang ada di dalam kepalanya, bagaimana pun dia berusaha untuk tidak mengatakan apa yang di tanyakan oleh pria ini, dia tetap mengeluarkannya, seolah dia mengeluarkan semua hal yang dipendamnya selama ini, dia bahkan bercerita tentang masa kecilnya, tentang hal-hal aneh yang bahkan belum pernah dia ceritakan, semuanya keluar begitu saja.


Rain mendengarkan semua racauan Bram, beberapa membuat Bram tampak begitu emosional dan marah, beberapa membuatnya terlihat sangat depresi, yang lain langsung membuatnya sedih hingga tak segan menangis, namun Rain hanya diam melihat hal itu, malah Antony cukup terkuasai emosi mendengar semua penjelasan dari Bram ini, namun dia tak ingin merusak rencana Rain, dia hanya bisa diam dan mengenggam tangannya erat.


Cukup lama Bram menumpahkan semuanya, hingga dia akhirnya segera tertunduk dan tak sadarkan diri, Rain menarik napasnya, dia lalu segera berdiri.


"Sudah kalian rekam semuanya?" tanya Rain yang hanya bisa mengepalkan tangannya, akhirnya tahu apa yang terjadi sebenarnya di sini.


"Sudah Tuan, " kata Rio segera.


"Buang yang tak penting, kirimkan ini pada mereka hingga mereka bisa tahu sebenarnya, bawa dia kembali lagi ke bar, Antony, aku ikut aku untuk mengurus semuanya," kata Rain lagi dengan wajahnya yang tampak berpikir keras, dia segera keluar dari ruangan itu dan menuju ke arah mobilnya, Antony mengikutinya dari belakang, dia membukakan pintu belakang untuk Rain, dan Rain segera masuk, Antony segera mengambil posisi menjadi supir.


"Tuan, kemana kita pergi? " tanya Antony.

__ADS_1


"Kembali ke rumah," ujar Rain tegas, Antony segera mengangguk.


Rain hanya bisa diam, matanya melihat ke arah jendela yang tampak menyuguhkan gambaran gelap jalanan di sana, kenyataannya ternyata lebih parah dari apa  yang dia pikirkan, seolah dunianya berubah dalam satu hari saja, saat ini semuanya genting dan Rain harus bertindak sangat cepat, Rain menggigit bibirnya, dia harus bertindak sekarang jika tidak dia akan kehilangan semuanya.


__ADS_2