Rain In The Winter

Rain In The Winter
28. Pria yang sungguh menarik


__ADS_3

Rain duduk di meja kerjanya, dia baru saja selesai rapat, matanya yang tajam menatap ke arah layar tablet yang ada di depannya, menatap hasil pantauan CCTV dari rumahnya di pulau itu.


Semenjak dia kembali ke Ibukota, dia tak pernah berhenti memperhatikan wanita itu, entah kenapa? namun yang pasti raganya ada di sini, namun seluruh perhatiannya tertinggal di pulau itu.


Rain terkadang mengamati wanita itu yang sedang membersihkan rumahnya, walau tertatih dia tetap melakukannya, namun yang selalu membuatnya tak bisa berpaling adalah saat melihat Bianca setiap malamnya duduk di halaman tempat tinggal para pelayan, dia duduk terkadang berjam-jam hanya menatap ke arah langit malam, tak hanya dalam waktu yang cerah, bahkan saat hujan pun dia tetap duduk di sana.


Rain suka menebak kira-kira apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu, wanita dengan wajah sendu dengan segala kesedihannya, menyayat hati siapapun yang melihatnya.


"Tuan," ujar Luke yang langsung masuk ke dalam ruangan Rain.


Rain dengan cepat mematikan layar tabletnya, dengan sikap tenangnya menatap Luke yang sudah ada di depannya.


"Tuan Costa sudah menunggu anda di Skyline restoran," kata Luke dengan segera, tak mungkin menunggu Tuannya yang semakin pendiam setelah keluar dari penjara ini.


"Baiklah, siapkan semua yang harus di siapkan," kata Rain bangkit, membawa tabletnya itu lalu segera berjalan keluar, Luke mengambil beberapa dokumen dulu sebelum dia mengikuti Rain keluar.


Saat Rain keluar, Ken yang berdiri di depan pintunya segera mengikutinya, tak lama Luke bergabung dengan mereka.


Rain turun menuju basemen khusus tempatnya, dia lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Luke yang duduk di sampingnya, sedangkan Ken duduk di depan Rain.


"Tuan apa aku harus menyampaikan keadaan di pulau?" tanya Ken pada Rain, Ken sedikit memandang ke belakang.


"Hmm," gumam Rain ambigu, terkadang membuat Ken dan Luke bingung apakah harus melanjutkan atau tidak, namun kebanyakan mereka akan melanjutkannya.


"Para pelayan yang lain terkadang masih mengerjai nona Bianca, mereka menyuruhnya melakukan pekerjaan yang lebih dari porsinya," ujar Ken melirik ke arah Luke, Luke hanya manggut-manggut.


Ken menunggu beberapa saat, namun nyatanya Rain seperti tidak ingin berkomentar tentang itu, Ken langsung tahu artinya Rain tidak ingin mengurusi hal itu, jadi tentunya dia juga tak akan melakukan tindakan untuk itu.


Rain sebenarnya sudah tahu, dia mengawasi terus menerus Bianca, bagaimana para pelayan yang lain memperlakukanya, bahkan terkadang hingga tengah malam dia belum juga selesai melakukan tugasnya, beberapa malah sering memarahinya dan mengerjainya, namun bagi Rain selama mereka belum membahayakan Bianca, dia tak akan ambil tindakan, bukankah Bianca memang harus di hukum.


"Apakah sudah ada kabar darinya?" tanya Rain pada Ken.


"Belum," kata Ken singkat, Rain hanya kembali diam.

__ADS_1


Mobil mereka akhirnya berhenti di salah satu retoran tertinggi di negara itu, Rain langsung masuk dan menuju ke sebuah ruangan khusus untuk bertemu dengan salah satu teman kerjanya yang selalu setia, bahkan saat dia masih di dalam penjara dulu.


Ken membukakan pintu untuk Rain, Rain segera melangkah masuk, saat itu dia langsung di sambut dengan senyuman oleh seorang pria tua dengan tubuh tambunnya, namun yang membuat Rain mengerutkan dahi adalah melihat seorang wanita di samping pria itu.


"Selamat datang Tuan Rain, lama sudah tidak melihat Anda, dan Anda sama sekali tak berubah," kata Tuan Costa langsung ramah, memberikan tangannya agar dijabat oleh Rain, bahkan dia memberikan pelukan hangat untuk koleganya ini.


Rain memberikan senyuman hangatnya, bagaimana pun Tuan Costa salah satu orang yang setia padanya bahkan dari awal dia merintis perusahaannya dulu.


"Saya juga senang melihat Anda,saya senang melihat Anda sehat selalu," kata Rain dengan wajahnya yang selalu terlihat manis jika tersenyum, sayangnya, pria ini jarang sekali tersenyum.


Tuan Costa lalu melirik ke arah wanita anggun yang juga sudah berdiri, karena lirikan itu, Rain pun menjatuhkan pandangnya pada sosok wanita itu.


Wanita itu berumur sekitar 25 tahunan, tubuhnya semampai dengan rambut panjang berwarna hitam yang di tatanya sedemikian rupa, wajahnya manis tentunya, kulitnya putih dan tentu terlihat sangat terawat.


"Putriku, Lily, Lily berikan salammu pada teman ayah, Tuan Rain," kata Tuan Costa mencoba memperkenalkan mereka.


"Lily, ayah selalu saja menceritakan Anda," kata Lily tersenyum manis, langsung terpesona melihat lirikan mata pria yang ada di depannya ini.


Awalnya dia cukup malas dipinta ikut oleh ayahnya untuk bertemu dengan sosok pria bernama Rain yang selalu menjadi pembicaraan ayahnya, selama ini Lily menganggap ayahnya hanya terlalu hiperbola saat mengatakan betapa sempurnanya pria ini, namun ternyata tak ada satu pun dari kata-kata ayahnya yang salah, pria di depannya ini begitu sempurnah.


"Mari berbincang sambil duduk," kata Tuan Costa, Rain menunjukkan sedikit senyumannya, hanya untuk menghargai Tuan Costa, namun malah Lily yang tak bisa berpaling.


"Saya salut dengan Anda, walaupun pergi begitu lama, namun seluruh perusahaan dan juga kekuasaannya sama sekali tidak luntur," kata Tuan Costa.


"Aku sempat mendengar Anda mantan narapidana, maafkan kelancanganku, namun aku melihatnya di televisi," ujar Lily meluruskan apa yang ada di pikirannya, sebuah cacat tentu di matanya.


"Lily?!" kata Tuan Costa yang tidak menyangka putrinya ini ternyata langsung menanyakan hal sensitif itu.


"Benar, aku adalah mantan narapidana," kata Rain tanpa menutup-nutupi.


"Ah, sayang sekali, apakah yang Anda lakukan?" tanya Lily lagi yang membuat ayahnya membesarkan matanya, namun Lily seolah tak peduli dengan tatapan ayahnya itu. Rain saja sampai mengerutkan dahinya melihat cara berbicara wanita di depannya ini, angkuh.


"Apa benar karena permasalahan Anda dengan keluarga kerajaan di negara tetangga?" tanya Lily lagi segera, tentu dia harus tahu semua tentang pria yang digadang-gadang ayahnya ingin dijodohkan dengannya.

__ADS_1


"Saya tersanjung, Anda mencari tahu tentang saya," ujar Rain yang sedikit tergelitik untuk melawani keangkuhan wanita ini.


"Well, jika begitu, itu tidak jadi masalah, Apa kau tahu, ayahku di sini ingin menjodohkan diriku dengan dirimu, jadi aku harus tahu segalanya tentang dirimu," ujar Lily lagi.


Rain mengerutkan dahinya, memandang sedikit tajam ke arah Tuan Costa yang tampak begitu sungkan.


"Tuan Rain, jangan salah paham, kami sedang berusaha mencari jodoh untuk Lily, mengajaknya bertemu dengan beberapa pria, jadi mungkin saat ini dia berpikir saya ingin menjodohkannya pada Anda, padahal saya hanya ingin mengenalkan Anda pada putri saya satu-satunya, saya sudah tua, ibu Lily pun sudah tak ada, sampai sekarang belum menikah, jika suatu saat saya tak ada lagi di dunia, saya hanya ingin ada yang memperhatikan putri saya, saya tak punya niat lebih, saya hanya ingin Anda bisa menjaga putri saya, apalagi sekarang dia harus tinggal di negara ini karena urusan pekerjaannya, apakah saya bisa menitipkannya pada Anda?" ujar Tuan Costa yang begitu sungkan.


"Memangnya aku anak-anak harus mendapatkan pengasuh," ujar Lily sedikit ketus, membuat Rain mengerutkan lebih dalam dahinya.


"Lily, cukup, ternyata kamu malah membuat ayah malu," ujar Tuan Costa yang dari tadi bersabar dengan kelakuan putrinya yang manja itu.


"Aku akan melakukannya, namun hanya menjaganya, tak lebih dari itu," Ujar Rain yang merasa punya hutang budi yang besar dengan pria ini.


"Bagaimana jika aku inginnya lebih?" goda Lily melirik ke arah Rain yang hanya berwajah datar dan memiringkan sedikit kepalanya, menanggapi ocehan anak baru gede ini.


"Lily, Cukup!" kata Tuan Costa yang benar-benar kewalahan melihat tingkah putrinya ini.


"Maaf, tapi bagiku, Anda tak semenarik itu," ujar Rain yang langsung membuat Lily mengerutkan wajahnya dan memasang wajah kesalnya, bagaimana bisa seorang pria mengatakan hal seperti itu padanya.


Rain segera berdiri kembali, Tuan Costa yang tampak begitu sungkan juga ikut berdiri, Lily tampak masih merajuk sehingga tidak ingin berdiri dari tempat duduknya.


"Tuan Costa, Maafkan aku, tapi aku harus kembali lagi ke perusahaanku, jika hanya ini yang Anda ingin bicarakan, maka saya permisi dulu," kata Rain lagi memberikan salamnya pada Tuan Costa, mengingat umur Tuan Costa yang lebih Tua.


"Baik Tuan, Terima kasih atas waktu anda," ujar Tuan Costa, sekali lagi Rain membalasnya dengan senyuman manisnya lalu wajahnya kembali dingin.


Lily hanya melihat Rain yang pergi begitu saja dari sana, dia menyungingkan sebuah senyuman yang sikit lebar, Pria itu ternyata sangat menarik, dapat berkesan manis dan dingin sekaligus.


Tuan Rain, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. pikir Lulu tersenyum manis.


_________


Halo kak, maaf kemarin upnya dikit2 ya... ini aku kasih visualnya Lyli.

__ADS_1



__ADS_2