Rain In The Winter

Rain In The Winter
157.


__ADS_3

"Kenapa kau mengatakan bahwa aku sudah meninggal?" tanya Rain lagi.


"Aku tak mungkin mengatakan pada mereka yang sebenarnya, kau ingin mereka membencimu? Aku tak punya pilihan lain selain mengatakan bahwa kau sudah tak ada, lagi pula aku tidak tahu apakah kau akan kembali atau bagaimana?" tanya Bianca menatap pria yang sekarang ada di depannya hanya dipisahkan oleh kedua anak mereka. Matanya sedikit meredup menatapnya.


"Aku mengerti," kata Rain menatap kedua anaknya yang tumbuh sudah begitu besar tanpa dia ketahui ada.


"Kenapa tidak mengakui bahwa kau adalah ayah mereka? Apakah kau masih ragu?" tanya Bianca, mungkin saja Rain masih ragu seperti pertama kali dia bertemu Carel, apa si kembar juga butuh tes DNA sehingga Rain baru ingin mengakuinya.


"Tidak, aku tidak ragu, aku yakin mereka anakku, tapi Ada hal yang harus aku lakukan dulu sebelum aku bisa mengakui bahwa aku adalah ayah mereka, aku harus mengurus semuanya sebelum aku bisa bersama kalian, selama itu biarlah mereka tak tahu aku siapa, jika nanti kalian sudah di tempat yang aman, ceritakanlah perlahan aku itu siapa," kata Rain.


"Apa maksudmu?" ujar Bianca yang bingung, Rain hanya diam dan menaikkan sudut bibirnya, membuat Perasaan Bianca menjadi tak enak karena rasa penasarannya.


Rain melepaskan cagakan kepalanya, dia membaringkan kepalanya sempurna, dia lalu tampak menutup matanya seolah ingin tidur siang di samping anaknya, Bianca hanya menatap wajah pria itu, sekali lagi bertambah tampan jika tertidur seperti ini, perlahan tapi pasti, dia pun akhirnya menyusul mereka masuk ke dalam alam mimpinya.


Bianca bangun dan cukup kaget ketika melihat Rain dan si kembar sudah tak ada lagi di kamarnya, dengan cepat dia segera keluar dari kamarnya dan kaget melihat Rain sudah bermain dengan Gio dan Gwi kembali, Yuri tampak memasak makan malam untuk mereka.


"Mami, sudah bangun?" tanya Gio lagi yang sedang bermain permainan jari dengan Rain.


"Apa aku tertidur lama sekali? " tanya Bianca mengusap wajahnya, berusaha menghilangkan wajah kantuknya.

__ADS_1


"Lumayan, ini sudah hampir malam," kata Rain hanya melirik Bianca.


"Mami kecapekan paman, dia bekerja sangat keras hingga larut malam demi sekolah Giw dan Kak Gio," kata Gwi lagi yang memperhatikan permainan kakaknya dengan paman tampan ini.


"Benarkah? kalau begitu tanya ibumu apakah dia bisa kerja malam lagi hari Ini?" tanya Rain pada Gwi, wajah menggoda Rain sangat tampak membuat Bianca menahan napasnya, dia melirik Yuri yang tampaknya berpura-pura tak mendengar godaan Tuannya itu pada Nyonyanya, dia hanya ingin menghilang tak terlihat sekarang,!pikir Yuri.


"Jangan berkata begitu, tak baik untuk anak-anak," ujar Bianca melotot ke arah Rain, selain anak-anak tentu dia malu dengan Yuri.


"Nyonya, Tuan, aku akan menjaga Tuan dan Nona muda nanti malam," kata Yuri yang tiba-tiba mengatakan hal itu, tentu menambah merah wajah Bianca, kata-kata Yuri seolah mengatakan bahwa dia memberikan waktu buat Rain dan Bianca berdua. Rain mendengar itu hanya menaikkan sudut bibirnya dengan tampang seolah berkata Bagaimana?


"Aku ingin mandi dulu, gerah," kata Bianca menganti alur pembicaraan ini, Rain melihat Bianca salah tingkah seperti kembali menaikan sudut bibirnya, membuat sebuah senyum manis menggodanya.


Namun mau bagaimana lagi, bajunya yang tadi juga sudah basah karena tak sengaja terjatuh, Mau tak mau Bianca harus melakukannya, dia segera mengendap-endap keluar dari kamar mandi yang selurus dengan pintu kamarnya, anehnya ruangan itu sudah sangat sepi, Bianca segera masuk ke dalam kamarnya dan segera menutup pintu kamarnya.


Bianca langsung membasarkan matanya dan menahan napasnya ketika melihat sosok Rain malah sudah ada di kamarnya dan dia berdiri tepat di depannya, wajahnya datar melihat Bianca yang hanya terlilit handuk.


"Kau! kenapa ada di sini?!” pekik Bianca, dia ingin menghindari Rain di luar sana malah bertemu dengan pria ini di kamarnya, lagi pula siapa yang mengizinkan pria ini ada di sini?


"Yuri mengajak Gio dan Gwi untuk makan di kamarnya, mereka mau karena di sana ada TV, lalu aku ditinggal sendirian, aku rasa menunggumu di sini akan lebih baik," kata Rain mendekat ke arah Bianca, semerbak wangi segar dan manis bercampur, kulit putih yang terlihat sangat halus itu membuat siapa pun pria normal akan sulit memalingkan pandangannya.

__ADS_1


"Hei, jangan berpikir macam-maca …. " kata Bianca, baru saja dia mengancam Bianca, sebuah ciuman sudah menyumpal bibirnya, Napas Rain terdengar sedikit berat, Bianca tahu artinya, pria ini mulai terkuasai oleh nafsunya.


Tangan Rain menyentuh bahu Bianca, yang lain mengerayang ke leher hingga telinganya, kulit lembab yang dingin karena habis mandi itu membuat Rain semakin berat menahan dirinya. selain itu Ciuman itu bertambah liar, Bianca sempat beberapa kali menolak dan mendorong tubuh Rain, tapi nyatanya tak bisa sama sekali berpengaruh pada Rain, selain itu sentuhan tangan Rain semakin liar saja, perlahan dari atas turun menyusuri tubuh Bianca yang masih tertutup handuk.


Rain melepaskan ciuman mereka, ingin memandang sejenak wajah cantik istrinya yang sudah memerah padam, tangan Bianca mencoba untuk menahan handuk itu agar tak bsia dilucuti oleh Rain.


"Jangan lakukan di sini, mereka bisa mendengarnya," kata Bianca dengan suara tertahan, nyatanya sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh Rain menyengatnya, mungkin sudah begitu lama tak disentuh siapa pun membuat tubuhnya menjadi begitu sensitif.


"Kalau begitu jangan sampai terlalu berisik," ujar Rain langsung mengendong istrinya itu segera, Bianca sedikit terpekik kaget, "Srtt… nanti mereka dengar."


Rain merebahkan tubuh Bianca di ranjang itu namun tanpa menunggu persetujuan Bianca dia langsung mencium Bibir Bianca kembali, membuat Bianca kaget bahkan dia belum menarik napasnya tampak sekali Rain terburu-buru.


Rain tentu tak ingin melewatkan kesempatan ini, dia memang merasa tak sabaran untuk melakukannya, dalam ingatannya dia sama sekali belum pernah melakukan hal ini dengan wanita manapun, jadi tentu itu sangat membuatnya bergairah.


"Percayalah padaku," Bisik Rain, melihat Bianca masih mempertahankan handuknya.


"Kau tak ingat bagaimana tubuhku, aku tak yakin kau akan bisa melihatnya," ujar Bianca dengan matanya yang sendu.


"Jika dulu aku bisa menerimanya, aku yakin sekarang pun begitu," ujar Rain lagi, perlahan dia memegang tangan Bianca yang menahan handuk itu tetap di tempatnya, awalnya masih kokoh tangan Bianca menahannya, namun perlahan melunak dan membuatnya melepaskan handuk itu, lagi pula, bagaimana pun mereka masih sepasang suami istri, melakukan hal ini bukan lah hal yang tabu.

__ADS_1


__ADS_2