Rain In The Winter

Rain In The Winter
208.


__ADS_3

"Aku akan meminta Antony memanggil dokter pribadimu, aku sudah menyiapkan sarapan, makanlah selagi hangat," kata Bianca, suaranya sedikit bergetar mengatakannya, dia segera ingin keluar, takut malah menangis dan menekan Rain hingga pria ini tak nyaman.


Bianca berhenti sejenak, lalu segera kembali melihat ke arah Rain yang nyatanya masih menatap dirinya.


"Hari ini adalah liburan pertama bagi anak-anak, bisakah kau sedikit saja ramah pada mereka, mereka pasti senang sekali, aku akan mencari alasan jika ada hal yang tak ingin kau lakukan dengan mereka, maaf aku tidak ingin menekanmu, hanya saja aku tak ingin mereka kecewa padamu," kata Bianca lagi, suaranya terdengar lebih tegar sekarang, bukannya dia tak ingin berontak dan memaksa Rain untuk mengingatnya, tapi dia ingat kata-kata dokter Malvis bahwa jika dia memaksa akan semakin runyam masalahnya.


Rain kembali tak menjawab, dia hanya menatap Bianca, Bianca semakin tak nyaman dengan tatapan yang walaupun tak tajam tapi terkesan dingin baginya, Bianca segera membalikan tubuhnya kembali.


Namun belum beberapa langkah dia keluar, Rain menangkap tangannya, Bianca tentunya langsung kaget melihat tingkah Rain ini, dengan keadaan seperti ini dia sama sekali tak menduga Rain akan melakukannya.


Rain pun bingung dengan keadaannya, ada dorongan besar yang membuatnya melakukan hal ini, Rain bahkan melihat genggaman tangan Bianca dengan sangat erat seolah sebagian dirinya tak ingin wanita yang begitu asing ini pergi, bagaimana bisa dia menyentuh wanita asing ini padahal selama hidup yang dia ingat dia bukanlah orang yang suka disentuh apalagi menyentuh orang lain.


Bianca menatap wajah bingung suaminya, dia pun tak menyangka akan mendapatkan sentuhan Rain begitu cepat. Rain diam saja lalu perlahan dia melepaskan tangannya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


"Aku akan melakukannya, terimakasih," kata Rain dingin.


Bianca tersenyum kecut, hatinya sama sekali tak nyaman, dia tahu suatu saat ini terjadi namun tetap tak bisa menerimanya, rasanya sedih namun tak mungkin bertampang sedih di depan kedua anaknya nanti.


Bianca membalikkan tubuhnya lagi coba untuk keluar dari kamar yang udaranya menyesakkannya, jauh lebih sesak dari pada udara luar yang dingin.


"Maaf jika aku melupakan mu," kata Rain lagi sebelum Bianca mendorong pintu itu.


"Bukan salahmu, aku harap esok kau sudah bisa mengenaliku," ujar Bianca datar yang malah membuat hati Rain sekarang yang tak merasa nyaman, ada apa dengan wanita itu, bagaimana bisa dia begitu terpengaruh oleh sebaris kalimat yang dia ucapkan, Rain hanya bisa melihat Bianca keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Bianca menutup pintu itu, matanya benar-benar sudah panas, namun sekuat tenaga di tahannya, apalagi saat dia mendengar suara jejak langkah kecil itu, Anak-anaknya pasti sudah bangun.


"Mami?" Kata Gio berlari ke arahnya.


"Gio," kata Bianca, menarik napasnya panjang dan memberikan senyuman tulus keibuan, dia menggendong anaknya segara, "dimana Gwi?"


"Gwi masih dengan pengasuh, Mami, papi sudah bangun? Papi jadi menemani Gio dan Gwi main boneka salju kan?" Ujar Gio yang sangat semangat, tak menyangka salju begitu dingin namun indah.


"Papi …" ujar Bianca, terdiam sesaat ketika sosok pria itu tiba-tiba keluar dari sana, Rain hanya diam melihat anak laki-laki di gendongan Bianca, dari wajahnya Rain tahu itu salah satu anaknya, "Gio, di luar sangat dingin kan? Papi sangat kelelahan hingga merasa tak enak badan, jadi hari ini mungkin papi hanya memperhatikan Gio dan Gwi bermain, biarkan papi istirahat ya."


"Oh, papi, papi sakit lagi?" Tanya Gio melihat ayahnya.


Rain melirik ke arah Bianca, dia mengangguk, Bianca melihat gestur tubuhnya yang memasukkan tangannya ke saku, dia sedang merasa tak nyaman.


Rain awalnya hanya berkerut melihat anak itu, namun entah kenapa melihat anaknya itu ingin di gendong olehnya dia malah menyambutnya, seolah tubuhnya sudah tahu dia harus apa jika anaknya seperti itu.


Bianca mengerutkan dahinya, melihat Rain mengendong putri mereka seperti biasanya, Rain pun hanya melihatnya, Bianca jadi bingung apakah benar Rain sedang sakit?


"Papi, papi jadikan main sama Gwi?" Tak sabar juga bermain dengan ayahnya.


"Papi sedang sakit Gwi," kata Gio yang langsung menjawab.


"Benarkah? Papi sakit lagi?" Tanya Gwi sambil memegang kedua pipi ayahnya, memandang penuh perhatian pada orang ayahnya yang memperhatikan wajah imut anaknya, tanpa sadarnya dia tersenyum sedikit, walau merasa tak pernah melihatnya namun siapapun akan langsung jatuh cinta dengan kelakuan dan wajah Gwi ini.

__ADS_1


"Iya, ayo, kita sarapan dulu, nanti sarapannya dingin," ujar Bianca yang segera memotong momen itu, tentu khawatir Rain akan risih karenanya.


"Baik mami," kata Gwi yang langsung ingin turun, Gio juga sudah diturunkan oleh Bianca, kedua anaknya langsung pergi ke ruang makan.


Bianca melirik sekilas menatap ke arah Rain yang juga menatapnya, Bianca lalu memimpin langkah untuk masuk ke ruang makan, Rain segera duduk di tempatnya yang secara naluri dia tahu dimana, di depannya disuguhkan sarapan kesukaannya, perlahan dia mulai memakannya, ya, dia cukup terkejut karena ini memang sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Sepanjang makan pagi yang hening itu Rain hanya diam menatap keluarga yang tak pernah ada dalam bayangannya, namun melihat bagaimana kedua anaknya dan juga bagaimana Bianca melayaninya dan anaknya, tampaknya memang keluarganya sangat bahagia.


Rain mengamati kedua anaknya dan Bianca juga beberapa pelayan tampak bermain di halaman villa mereka yang semua tertutup oleh salju.


"Tuan, dokter Derian sudah terbang kemari, mungkin nanti malam beliau akan sampai di sini," ujar Antony menjelaskan, Bianca juga sudah mengatakan padanya bagaimana keadaan Rain hari ini, untungnya dia juga sudah diwanti-wanti oleh Dokter Malvis agar cepat menghubungi mereka jika ini terjadi.


"Hmm," ujar Rain tak terpalingkan menatap ke arah keluarganya, "berapa lama kau ikut aku?"


"Hampir 5 tahun Tuan," kata Antony lagi.


"Siapa yang menyediakan sarapanku?" Tanya Rain lagi.


"Setau saya setiap makanan dan minuman anda Nyonya secara khusus menyiapkannya untuk anda," ujar Antony, Rain semakin mengerutkan dahinya, mencoba menolak namun semuanya memang mendukung wanita itu adalah istrinya.


Bianca melirik ke arah pintu villa itu, melihat sosok Rain yang berdiri diam mengamati mereka semua, senyuman hangat Bianca yang tercipta saat bersama anaknya gugur menghilang.


Rain menatap wanita yang berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan mata sendunya yang membuat sekali lagi dirinya terpanggil, Rain perlahan meninggalkan villa itu dan berjalan ke arah Bianca dan anak-anaknya yang tampak riang bermain membuat boneka salju, tak tampak sama sekali terganggu oleh dinginnya udara.

__ADS_1


__ADS_2