
Rain menaikkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya, Pria di belakangnya melihat hal itu, tanpa perlu diperintahkan pria itu segera pergi begitu saja meninggalkan Bianca dan Rain berdua.
Bianca tampak kaget pria itu pergi dari sana, perasaannya semakin parah, kenapa di harus ditinggalkan berdua dengan Rain?
Bianca tampak cemas dan panik, matanya tampak mengedar ke segala arah, terutama mengikuti pria yang pergi itu, Pria itu tampak menutup pintu kaca yang menuju ke arah kolam renang pribadi milik Paviliun itu, Bianca juga memperhatikan semua tempat, tampak hanya dirinya saja dan Rain. Apa dia ingin membunuh Bianca di sini agar tak ada saksi?
Tubuhnya kembali kaku ketika Rain mulai bangkit dan berdiri, perlahan Rain berjalan ke arahnya, sebenarnya Bianca tahu dia harusnya lari tapi tak sedikit pun kaki Bianca bisa bergerak, tangannya saja yang gemetar tak bisa dikontrolnya, begitu juga bibirnya yang tipis memucat.
Tiba-tiba saja tanpa dia sadari Rain sudah berdiri persis di depannya, bau khas nya tercium samar dengan bau tembakau yang terbakar, Bianca makin kaku dan membeku, menatap mata tajam mengancam namun penuh dengan kenangan. Sorot mata itu membuatnya lemas bagaikan terkena hipnotis, terperangkap tak bisa keluar sama sekali, detak jantungnya semakin tak karuan, membuatnya sesak sekali.
"Apa kau ingin membunuhku sekarang?" Ucapan itu akhirnya lolos juga dari bibirnya yang gemetar, baginya di depannya ini seperti sosok monster namun juga sosok yang melelehkan hatinya, sedekat ini baru terasa ternyata ada di sisi hati Bianca yang merindukannya.
"Aku tak pernah ingin membunuhmu," suara itu datar, dingin tanpa nada.
"Lalu untuk apa kau minta Antony untuk terus mengejar kami?!" Kata Bianca yang kembali menemukan keberaniannya.
"Antony!" Suara Rain memanggil, tak berteriak namun cukup tegas dan menggema di ruangan itu.
__ADS_1
Antony datang, Bianca melirik pria itu dengan sangat sinis, pria ini yang hampir saja membuat dia kehilangan si kembar dulu,jika bisa dia akan membunuhnya.
"Kau ingin membunuhnya?" Tanya Rain menatap ke arah Antony.
"Tidak Tuan," kata Antony tegas.
"Kau bohong, aku melihatmu," kata Bianca langsung, Antony mengerutkan dahinya.
"Mungkin anda salah mengira, Saya tak pernah ingin melenyapkan Anda atau siapapun, perintah melenyapkan Anda dan yang lain dicabut oleh Tuan Rain secepatnya, bahkan kami tak jadi memeriksa markas militer seperti yang aku katakan sebelumnya," kata Antony menjelaskan dengan gayanya yang serius, perkataan dari Antony itu mengundang kerutan dan tanya di hati Bianca, tentu dia tak langsung bisa percaya, kata-katanya dengan apa yang dirasakan Bianca jauh berbeda.
"Sudah dengar?" Tanya Rain yang membuat Bianca kaget, suara pria itu mengalihkan pandangannya, Rain kembali mengeluarkan gestur agar Antony pergi dari sana, "jika ada yang mengusik kalian selama ini bukan aku, mungkin istriku," ujar Rain lagi membuat Bianca merasakan sakit, istri?
Rain menatap mata indah itu kembali, mata itu selalu mengusik dirinya, terakhir kali dia tak sanggup menatapnya karena merasakan kesedihan yang tak berujung, kali ini di mata itu masih terlihat kesedihan yang dalam namun tampak mulai memudar, sekarang Rain sudah sanggup menatapnya namun tak suka dengan rasa dingin yang mulai terasa di sana, dia ingin melihat rasa harapan besar yang terpancar di sana seperti 4 tahun yang lalu.
"Aku bisa mengatur hidupmu tenang di sini selamanya tanpa gangguan istriku," kata Rain sedikit menaikkan sudut bibirnya, tampak licik bagi Bianca sekarang.
Bianca diam, melihat senyuman itu membuatnya ngeri, tak ada lagi senyuman manis yang nyatanya dia rindukan, pria ini sudah berubah menjadi monster.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" Ujar Bianca, tak mungkin melakukan hal itu hanya dengan cuma-cuma, terlalu indah mimpi itu terasa.
Rain menaikkan sudut bibirnya lebih tinggi, gadis yang sangat cerdas pikirnya, dia mengambil sebatang rokok miliknya, menyalakannya lalu mengisap dalam-dalam memenuhi paru-parunya lalu menghembuskan ya di depan Bianca, seketika membuat Bianca batuk karenanya.
Bianca menarik napasnya yang sesak akibat asap rokok yang mengebul di antara mereka, dari dulu Bianca memang tak tahan dengan asap seperti ini, namun dia berusaha meneguhkan dirinya menatap ke arah Rain, Rain pun bergeming menatap Bianca, mata indah itu benar-benar menghipnotis dengan tatapan perihnya.
Di antara bau asap rokok yang menyeruak, Rain mencium wangi lembut yang rasanya familiar namun tak bisa dia ingat, wangi ini … entahlah memabukkan hingga dari tadi Rain sendiri tak sanggup beranjak dari sisi wanita ini.
Perlahan Rain mendekatkan wajahnya, Bianca membesarkan kembali matanya dan memasang wajah kagetnya, walau sudah bertahun lalu Bianca ingat tingkah ini, Bianca langsung menahan dada Bidang Rain dengan tangannya. Menyentuh pria itu membuat jantung Bianca semakin terpacu.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Ujar Bianca, dia yakin jantungnya yang begitu karena rasa kagetnya.
Rain menggigit bibirnya yang terkatup sempurna, dia lalu kembali tersenyum sinis.
"Siapkan makananku atau aku akan mengatakan bahwa hotel ini buruk sekali pelayanannya," ujar Rain, dia lalu segera pergi meninggalkan Bianca begitu saja, Bianca mengerutkan dahinya, apa dia harus melayani pria ini? Namun seketika Bianca ingat perkataan Bosnya agar melayani tamu ini dengan baik, tamu ini sangat penting baginya dan hotel ini, jika dia pergi dan tak melayani Rain, maka akan sangat egois menghancurkan reputasi hotel ini.
Satu hari ini, satu hari ini dan setelah ini dia akan mengatakan pada bosnya untuk berhenti bekerja dan mulai lagi pergi mencari tempat yang jauh dari jangkauan pria ini, sepertinya tak ada langkah lain yang bisa diambilnya, pergi sejauh mungkin dari Rain dan semuanya memang adalah langkah yang terbaik. Satu hari lagi, dia juga sudah terlanjur menyanggupi pekerjaan ini sehingga dia harus melakukannya, lagi pula Bianca yakin Rain tak akan melukainya di sini, akan menjadi masalah untuknya.
__ADS_1
Bianca membulatkan tekatnya, menyemangati dirinya agar tetap bertahan, dia lalu bergerak, membersihkan dahulu kepingan besar porselen yang berserak di lantai, setelah itu dia segera ingin menyiapkan makanan buat Rain, tentu dengan sikapnya yang profesional walau dia tak bisa ramah dan tak tersenyum saat melakukannya.