
"Papi sudah pulang," kata Rain menatap kedua anaknya yang hanya bisa terlihat Bingung, Bianca melihat ke arah Rain lalu segera tersenyum melihat kedua anaknya.
"Dia bukan paman. Gio, Gwi, dia adalah Papi kandung kalian," kata Bianca menjelaskan, Gwi dan Gio segera melihat Rain, Gwi membesarkan matanya dan senyum senangnya langsung mengembang, Nyatanya Tuhan benar-benar mengabulkan semua permintaannya, dia ingin seorang ayah, dan dia ingin ayahnya bisa setampan paman ini, dan tiba-tiba saja paman ini benar-benar ayah kandungnya.
"Papi!!! " ujar Gwi langsung memeluk leher Rain dengan sangat erat, sangat senang rasanya memiliki papi, Rain segera memeluk putri kecilnya, di segera menggendongnya, mencium pipi putrinya, belum pernah dia sebegitu dekatnya dengan putrinya, baru kali ini rasanya dia penuh dengan kerinduan.
"Mami, apakah dia benar-benar papi Gio?" tanya Gio yang masih belum percaya, kenapa tiba-tiba saja dia punya segalanya, bahkan punya seorang ayah.
"Ya, dia adalah papi kandung Gio," kata Bianca, dia tahu lebih susah untuk menyakinkan Gio dari pada Gwi, dia sudah bisa menebak bahwa Gio pasti akan banyak bertanya, Rain mendengarkan hal itu, dia lalu segera menurunkan Gwi dan kembali menghadapi Gio.
"Gio, terima kasih sudah menjaga mami dan adikmu dengan baik, kau pria kecil yang sangat bertanggung jawab, Papi sangat bangga padamu," kata Rain perlahan namun cukup serius, memegang pundak Gio, Gio yang melihat wajah serius ayahnya itu sedikit senang mendapatkan apresiasi dari ayahnya.
"Papi, apakah papi benar-benar lupa dengan kami sehingga membiarkan mami harus bekerja untuk kami?" tanya Gio menganalisa.
"Maafkan Papi, papi pergi begitu lama, tapi setelah ini Papi tak akan pernah lagi meninggalkan kalian semua, papi berjanji akan selalu ada bersama kalian, apakah Gio memaafkan papi?" tanya Rain lagi.
Gio tampak masih ragu, namun perlahan dia mengangguk kecil lalu Rain menarik anaknya itu dalam pelukannya, memeluknya hangat yang akhirnya membuat Gio bisa merasakan nyaman.
"Gwi juga ingin dipeluk," kata Gwi yang kelihatan tak mau hanya kakaknya yang mendapatkan pelukan hangat dan lama dari ayahnya, Bianca tersenyum melihat anaknya berebut untuk di peluk oleh ayahnya, Rain merentangkan tangannya memeluk mereka berdua.
"Aku rasa aku akan cemburu karena sekarang aku punya saingan," kata Bianca sambil melipat tangannya karena tak ada satupun anaknya yang ingin dia peluk.
Rain melirik Bianca, dia dengan segera menggendong kedua anaknya, satu anak di satu tangan, berdiri di depan Bianca yang sedikit memasang wajah cemburunya.
__ADS_1
"Papi, mami marah," kata Gio melihat wajah cemberut ibunya.
"Tidak, mami hanya cemburu kali kalian senang bersama papi," kata Rain.
"Jangan cemburu mami," kata Gio lagi.
"Papi tahu bagaimana cara membuat mami tidak cemburu, Gio dan Gwi berikan mami sebuah ciuman," kata Rain lagi pada anaknya, Si kembar langsung menurut sambil mengangguk dengan senyuman mereka, Gio dan Gwi langsung mencium kedua pipi ibunya yang tentu seketika mengundang senyuman manis Bianca.
"Baik, baik, mami tidak akan cemburu lagi, Gio dan Gwi ayo bersiap-siap untuk sarapan, papi juga pasti lapar," kata Bianca, Gwi dan Gio segera mengangguk, walaupun masih enggan turun dari gendongan ayahnya namun mereka menurut dan turun, segera berpegangan tangan kembali lalu ingin keluar dari kamar itu.
"Sekarang giliranku," kata Rain mendekati Bianca.
"Kau ingin apa?" kata Bianca yang langsung membesarkan matanya.
"Papi! Mami! Ayo sarapan!" kata Gio yang langsung menghentikan aksi Rain. Bianca melihat ke anaknya yang menatap mer⁰eka berdua.
"Si kembar sudah lapar, tak baik bukan membuat anakmu kelaparan," kata Bianca segera melepaskan dirinya, terlalu canggung untuk melakukan itu di depan anak-anaknya apalagi pintu kamar mereka masih terbuka lebar dan dia yakin, setidaknya ada Yuri yang ada di sana.
Rain hanya mengerutkan dahinya melihat Bianca yang langsung memegang tangan kedua anaknya dan membawa mereka turun, dalam hatinya dia berkata, apakah Bianca juga tak tahu kalau dia juga lapar? lapar akan dirinya.
Rain segera ingin berjalan mengikuti istri dan anak-anaknya, namun belum sampai dia di dekat pintu, kepalanya kembali terasa sangat sakit, seperti ada sebuah jarum besar yang langsung menusuk kepalanya, sakitnya sangat hingga membuatnya terhuyung, untunglah dia bisa menemukan senderan agar dia tak terjatuh, napasnya berat mencoba menahan sakit yang sangat itu, dia mencoba menutup kedua lubang hidungnya dengan jarinya, untung saja sama sekali tidak ada pendarahan, dia melirik ke arah meja rias yang tak jauh darinya, botol obat yang tadi diberikan oleh dokternya ada di sana, dokter mengatakan jika dia mulai merasakan sakit itu kembali, dia harus meneguk obat itu segara.
Rain segera menggapai obat itu dengan cukup susah payah dan terhuyung, dia harus cepat mengatasi rasa sakit ini, dia tak ingin Bianca atau anaknya melihat dia dengan keadaan seperti ini, dia segera membuka obat itu dan segera meminumnya, untung saja ada segelas air yang tersedia di meja sebelah ranjangnya, Rain langsung duduk menunggu obat itu setidaknya bisa bekerja.
__ADS_1
Bianca kembali menapaki tangga menuju kamarnya, semua orang sudah siap di meja makan, namun setelah menunggu hampir 15 menit, Rain belum juga muncul, setelah mengizinkan mereka untuk sarapan duluan, Bianca memutuskan untuk memanggil Rain.
Bianca segera melihat ke dalam kamarnya, aneh sekali kenapa pintunya masih juga terbuka? Bianca lalu masuk dan melihat Rain duduk di ujung ranjang mereka. Bianca mengerutkan dahinya, ada apa dengan Rain yang tampak hanya diam saja.
"Rain? Ada apa?" tanya Bianca.
Mendengar suara dari Bianca, Rain langsung menoleh, kepalanya sudah lumayan walaupun belum terlepas dari nyerinya, namun cukup untuk membuatnya bisa berdiri dengan tegak.
"Apa semua sudah ada di ruang makan?" tanya Rain.
"Ya, mereka sudah menunggumu 15 menit yang lalu, jadi aku meminta mereka untuk makan duluan, apa kau tidak apa-apa?" tanya Bianca yang memunculkan wajah cemasnya, Rain hanya tersenyum manis.
"Aku hanya sedikit kelelahan, belum sempat untuk istirahat dari kemarin, jadi mungkin karena itu sedikit merasa pusing," ujar Rain, walau dia tutupi pasti Bianca bisa melihat kesakitannya dari wajahnya.
"Benarkah? kenapa tidak mengatakannya? Istirahatlah dulu, aku akan membawa makanan ke sini," kata Bianca ingin keluar dan menyiapkan makanan untuk Rain, namun tangannya langsung digenggam oleh Rain.
"Tak perlu, kita makan di sana saja bersama, Gio dan Gwi juga pasti akan senang kalau kita ada di sana, ini sarapan pertamaku sebagai ayah mereka," kata Rain.
"Tapi …. " kata Bianca cemas.
"Tak apa, aku sudah baik-baik saja, untuk istirahat bisa setelahnya, ayo, kita makan, mereka pasti menunggu kita," kata Rain lembut dengna senyuman tipisnya, Bianca yang khawatir menjadi cukup tenang, dia lalu mengangguk perlahan dan mengikuti Rain turun untuk sarapan bersama dengan keluarganya.
Seperti kata Rain, bukan hanya Gwi dan Gio yang senang melihat mereka datang dan ingin sarapan bersama, Siena dan Ken pun tampak menyambut mereka dengan kebahagiaan.
__ADS_1
Suasana yang awalnya sedikit mencemaskan untuk Bianca perlahan mencair ketika Gio dan Gwi membagi pesona mereka yang lucu, membuat sarapan itu terasa hangat dan penuh tawa, semua orang bahkan sedikit kaget melihat betapa berubahnya sikap Rain pada anak-anaknya itu, dan bagi Rain, ini adalah saat yang sangat dia impikan, dia benar-benar menikmatinya walau tak bisa disangkal, dia semakin cemas dengan keadaannya sendiri.