
Bianca memotong beberapa Sayuran untuk di masaknya pagi ini, Rain mendatanginya dan memeluk Bianca dari belakang, mencium aroma rambutnya yang masih basah karena ulahnya.
"Jangan begini, Yuri dan anak-anak akan bangun sebentar lagi," ujar Bianca, senang sebenarnya Rain memeluknya begini, mengingatkannya pada masa lampau.
Rain tak mengatakan apapun, dia segera melepaskan pelukan itu dan berdiri di samping Bianca.
"Biarkan aku yang memotongnya, kau bisa mengerjakan yang lain," kata Rain mengambil sayuran yang ada di mangkuk.
"Kau yakin bisa?" Tanya Bianca tersenyum, sama seperti dulu, Rain pun senang membantunya memasak.
"Aku memang amnesia tapi tidak lupa cara untuk memotong sayuran," ujar Rain, dia mengambil perlahan pisau dari tangan Bianca, Bianca menaikan sudut bibirnya, dia lalu segera mengambil telur dan ingin mengocoknya tak lupa menambahkan tomat agar lebih sehat.
"Aku akan pergi," ujar Rain tiba-tiba, hal itu membuat Bianca mengehentikan pekerjaannya, senyuman yang dari tadi tipis terlihat segera menghilang.
"Kemana?" Tanya Bianca.
"Ada yang harus aku lakukan," kata Rain.
"Oh," kata Bianca yang merasa tak enak, dia menggigit bibirnya, setelah mereka melakukan ini semua, Rain pergi begitu saja?
"Percayalah, kali ini aku akan kembali," kata Rain.
"Dulu juga kau mengatakan hal itu," kata Bianca, dia pergi menjauh dari Rain, dia kesal, kenapa Rain harus pergi lagi? Apa dia benar-benar hanya sebagai selingkuhannya? Wanita yang sudah puas ditinggalkan begitu saja? Bianca berpura-pura mengambil sesuatu di kulkas, dia hanya tak ingin saja berdiri di dekat Rain.
"Bian," kata Rain.
"Jangan panggil aku dengan nama itu," kata Bianca ketus, Rain menaikkan sudut bibirnya, dia lalu berdiri di balik pintu kulkas itu, melihat Bianca yang bingung dia harus mengambil apa.
"Sudah mencarinya? Aku harus bicara," ujar Rain yang tahu itu hanya alasan Bianca.
__ADS_1
Bianca yang tadi menunduk segera melihat ke arah Rain, wajahnya kesal sekali, ingin dia marah dan berteriak, namun akal sehatnya masih saja ada, takut anaknya terbangun.
Rain menutup pintu kulkas yang menjadi penghalang mereka, dia lalu tersenyum tipis melihat wanita itu.
"Jangan tersenyum," nada Bianca masih begitu ketus.
Rain tak membalas kata-kata Bianca, dia mengambil tangan Bianca dia menyerahkan sesuatu pada tangannya.
"Jika seseorang nanti datang dan menyerahkan tanda ini, ikutlah dengannya, aku mohon ikut pada mereka," kata Rain dengan sorot mata sendu seolah benar-benar memelas pada Bianca, Bianca yang tadinya dikuasai emosi menjadi merasa sedih.
"Siapa mereka?" Tanya Bainca.
"Kau akan tahu, yang pasti mereka akan menjagamu dan anak-anak kita, tunggu aku sampai aku bisa menjemput kalian lagi, ikutlah pada mereka," ujar Rain menegaskan.
"Tapi apa yang ingin kau lakukan? Aku sudah lelah berlari terus menerus," Tanya Bianca lagi, malah merasa khawatir.
"Aku janji ini adalah perlarian kalian yang terakhir, setelah ini aku janji kalian pasti aman seumur hidup kalian," kata Rain menenangkan Bianca.
"Aku harus membenarkan semuanya, satu lagi, apapun yang terjadi jangan katakan ini pada Bram, jika dia kembali hari ini, anggap saja aku tak pernah ada di sini, dan saat kalian pergi, hanya bawa Yuri, aku akan pastikan dia tak akan ikut," ujar Rain dengan memegang kedua tangan Bianca.
"Kenapa? Bukannya Bram sangat menjaga kami?" Tanya Bianca, dia tahu pria itu sangat berjasa menjaga mereka.
"Kau akan tahu alasannya setelah ini, tolong turuti perkataanku, semua ini demi anak-anak kita," ujar Rain.
"Kapan mereka akan datang?" Tanya Bianca lagi.
"Nanti malam, mereka akan tiba nanti malam, tapi aku tak bisa menunggu lagi hingga malam ini, berkemas dan bawa hanya seperlunya saja, di sana kau akan punya semua yang kau butuhkan," kata Rain menjelaskan.
Bianca masih menggerutkan dahinya dia tak tahu harus bagaimana, baru saja dia ingin bertanya lagi tapi Suara ketukan pintu membuat Bianca kaget, Rain memandang pintu itu, dia tahu dia sudah harus pergi dari sini.
__ADS_1
Rain segera berjalan ke arah pintu itu, dia segera membuka pintunya, melihat Rio sudah berdiri dengan jas rapinya, Bianca mengerutkan dahinya lalu menatap ke arah Rain, Rain memberikan senyuman manisnya, mendekat sedikit ke arah Bianca lalu mencium dahinya.
"Paman, anda sudah ingin pergi?" Suara Gio terdengar, dia terbangun karena ketukan itu, Gio langsung mendekati ibunya, Gwi yang ada di gendongan Yuri masih tampak mengantuk, tapi wajah mengantuknya sangat lucu.
Rain kembali mensejajarkan dirinya berhadapan dengan Gio.
"Hei, pria kecil, Jaga ibumu dengan baik selama aku tidak ada di sini," ujar Rain meletakkan tangannya di pundak kecil anaknya, tampak memberikan tanggung jawabnya pada Gio.
Gio mengangguk mantap, Rain tersenyum senang, dia mengacak rambut anaknya itu, Gio hanya tertawa kecil.
"Gio anak pemberani," kata Rain, dia segera berdiri dan segera melihat ke arah Gwi yang menjulurkan tangannya ke arah Rain, Rain tersenyum lalu mengambil anaknya dari gendongan Yuri.
"Jangan pergi paman," ujar Gwi segera memeluk leher Rain, Bianca melihat itu sedikit menggigit bibirnya, matanya yang berbinar tampak menyuram, dia menutupi matanya yang mulai basah dengan menunduk menyembunyikannya di balik bulu mata yang indah.
"Buatlah mami selalu senang dan jadi anak yang manis," bisik Rain pada Gwi sambil mengelus punggung kecil anaknya, saat itu dia memandang wajah dan mata Bianca yang tambah berkaca-kaca.
Rain memasang wajah datarnya walau sebenarnya dalam hatinya dia benar-benar merasa tak rela meninggalkan kehangatan ini, dia lalu memalingkan wajahnya ke arah Rio, tatapan Rain membuat Rio mengerti, dia segera menyerahkan sebuah dokumen kepada Bianca.
"Nyonya," kata Rio menyerahkannya pada Bianca.
Bianca mengerutkan dahinya lalu melihat ke arah Rain.
"Aku harus pergi sekarang," ujar Rain. Bianca hanya diam saja, lalu pandangan Rain menuju ke arah Yuri.
"Sekali lagi aku minta untuk menjaga mereka," ujar Rain pada Yuri, Yuri mengangguk pelan walaupun dia merasakan kesedihan ini, baru saja sehari berkumpul tapi mengapa harus kembali berpisah?
Rain menyerahkan si kecil Gwi yang nyatanya tak mau lepas dari ayahnya, Bianca segera mengambil anaknya, matanya yang indah itu sudah basah, air mata bening mengalir di sisi hidungnya. Rain tampak berat melihat hal itu tapi dia tak bisa melakukan apapun, dia harus melakukannya jika dia tak ingin kehilangannya.
"Mami, jangan menangis," ujar Gwi yang menghapus air mata Bianca.
__ADS_1
"Gwi, kemari dengan Bibi," ujar Yuri mengambil Gwi dari pelukan Bianca, suara hirupan napas bercampur ingus terdengar, diam-diam Bianca sudah menangis, menahan dirinya agar Gio dan Gwi tak melihatnya.
Rain mendekati Bianca, dia menaikkan sedikit sudut bibirnya, Bianca mencoba menahan air matanya kembali namun air matanya tetap saja mengalir, membuat pinggiran matanya memerah begitu juga hidungnya, Rain menaikkan dagu Bianca dan akhirnya mereka saling bertemu mata.