Rain In The Winter

Rain In The Winter
138.


__ADS_3

"Oh! Papi! Papi sudah tak ada jadi Gwi menggambarnya jauh sekali," kata Gwi polos sekali, Bianca menggigit bibirnya, bagaimana jika dia tahu ayahnya masih hidup dan bahkan sekarang ada di sini? Tidak, mereka tak boleh tahu, bagaimana pun dia bukan lagi ayah mereka.


"Kenapa paman Bram tidak ada?" Protes Gio, bagaiman pun pamannya adalah sosok ayah bagi Gio.


"Oh, iya, Gwi lupa, nanti Gwi buat," ujar Gwi lagi.


"Nyonya, maaf mengganggu, apakah anda orang tua si kembar?" Suara dari seorang wanita yang berdiri di belakang Gio dan Gwi membuat Bianca akhirnya sadar.


"Oh, ya, maaf saya yang sudah mengganggu, saya ibunya," kata Bianca tersenyum pada guru itu.


"Si kembar sangat baik mengikuti semua pelajaran, mereka anak yang cerdas, saat ini mereka harus kembali mengikuti pelajaran, saya akan membawa mereka kembali ke kelas, Gio Gwi, Ayo masuk," kata Guru itu ramah, Bianca hanya mengangguk, Guru itu menggenggam tangan Gio dan Gwi membawanya kembali masuk, tak lupa Bianca melambaikan tangannya mengantar anaknya dengan senyuman kembali ke kelas.


"Jam berapa mereka akan pulang?" Tanya Bianca melirik ke arah Yuri.


"Mungkin sekitar 45 menit lagi nyonya, anda ingin menunggu di sini? Saya akan pulang dan memasak makan siang untuk Kita," kata Yuri lagi.


"Oh, tidak perlu, biar aku saja yang memasak, tunggu saja di sini, aku takut Gwi dan Gio malah tak fokus melihat aku terus ada di sini, lagi pula aku akan membeli daging kesukaan Gio dan Gwi sebagai perayaan mereka sudah masuk ke sekolah," ujar Bianca dengan senyuman manisnya pada Yuri.

__ADS_1


"Baiklah nyonya, hati-hati di jalan," ujar Yuri melihat Bianca hanya melempar senyum lalu segera beranjak dari sana.


Bianca segera membeli yang dia ingin masak hari ini setelah dia selesai dia segera kembali ke rumah, di perjalanan pulang pikirannya kembali terbang, Bram sudah pernah memberitahukan rencana kemana mereka bisa pergi jika di sini sudah tak aman, tentu ke sebuah tempat yang jauh dari jangkauan siapa pun, namun konsekuensinya tempat itu juga sangat terpencil, Bianca sekarang tak bisa hanya memikirkan tentang pelarian mereka saja, sekarang tumbuh kembang juga pendidikan si kembar juga harus dia perhatikan, jika pergi ke tempat terpencil lainnya, bisa-bisa mereka tak akan mendapat pendidikan yang baik nantinya.


Bianca turun dari bis dan segera berjalan ke arah rumahnya, namun baru saja di membuka pintu, suara seorang pria terdengar, Bianca tentu langsung melihat ke arah suara itu, ternyata dari pria yang tadi salah dia anggap tamunya, bawahan Rain.


"Selamat siang Nona Bianca," ujarnya sopan, Bianca mengamati pria itu, tampak ramah dan sangat rapi dengan gaya jasnya itu.


"Kau? Bagaimana kau bisa ada di sini?" Tanya Bianca kaget.


"Memangnya kenapa jika aku pergi? Lagi pula itu bukan urusannya, aku juga tak harus melayaninya lagi, dia bukan tamuku," kata Bianca dengan nada cukup ketus, namun pria itu hanya tersenyum mendengar hal itu.


"Tuan hanya mengatakan dia tak akan bisa menjamin keselamatan Anda jika Anda pergi dari sini, selama anda di sini, maka Tuan Rain akan menjaga Anda dan Siapapun di dekat Anda agar tetap aman bahkan dari Nyonya Lidia, tapi jika anda keras kepala, Tuan Rain tak akan peduli lagi," kata Rio menjelaskan.


"Pria itu hanya bisa mengancam ya?" Kata Bianca kesal, kembali Rio hanya bisa tersenyum lebar.


"Tuan Rain juga mengatakan untuk selalu ada jika dia membutuhkan anda, karena itu Beliau memberikan anda ini, beliau akan menghubungi anda melalui ponsel ini," kata Rio menyodorkan ponsel model terbaru, Bianca menatap ponsel itu, tentu enggan menerimanya karena jika dia menerimanya Rain pasti semena-mena memanggilnya.

__ADS_1


"Tidak, aku punya ponselku sendiri," ujar Bianca acuh.


"Saya di sini hanya di minta menyerahkan dan tidak menerima penolakan, jadi jika Anda tidak ingin, saya akan meletakkannya di depan rumah anda, dan jika Tuan Rain menghubungi anda namun Anda tak menjawabnya atau bukan anda, mungkin Anda sudah Tahu bagaimana Tuan Rain akan menghadapinya," ujar Rio dengan senyuman ramahnya tapi malah membuat Bianca semakin kesal, Tuan dan bawahan sama seja menjengkelkannya.


"Baiklah, tapi bilang pada Tuanmu, aku bukan bawahannya, jadi jangan bertingkah sesuka hatinya," kata Bianca kesal, dia langsung saja masuk ke dalam rumahnya sambil menutup pintu usangnya itu dengan keras, membuat Rio mengerutkan dahinya lalu segera merapikan jasnya dan berjalan ke sebuah mobil sedan hitam yang ada di sana, tentu tak akan punya keberanian menyampaikan kata-kata Bianca barusan.


Bianca mengamati pria itu dan mobilnya yang akhirnya pergi dari sana, Bianca melihat ponsel itu, tak punya keinginan bahkan untuk mengotak-atiknya, Bianca hanya meletakkannya di lemari, berharap dia tak mendengar panggilan apapun, sehingga bisa menjadi alasannya nanti.


Si kembar dan Yuri pulang tak lama setelah Bianca menyelesaikan masakannya, mereka tampak bahagia dan bercerita banyak tentang sekolah dan teman-teman baru yang mereka punya, hal ini semakin membuat Bianca yakin, dia tak bisa lagi pergi, entah kenapa dia malah ingin bertemu dengan Rain sekarang untuk menanyakan kesungguhannya untuk menjaga mereka di sini tanpa gangguan, sekali lagi dia mencoba bisa mempercayai pria itu dan semoga dia tak salah kali ini.


Namun sayang sekali, bahkan Sampai esok hari ponsel yang di berikan oleh Rain tak berdering sedikit pun, bahkan setelah Si kembar berangkat sekolah dan dia harus bekerja kembali, ponsel itu masih hening, Bianca meletakkannya di lokernya karena saat dia bekerja mereka tak boleh menggunakan ponsel.


Setelah Bianca selesai bekerja pun ponsel itu tetap tak menunjukkan pesan apapun, Bianca mengerutkan dahinya kenapa dia malah kesal Rain tak menghubunginya saat dia ingin berbicara langsung dengan pria ini! Ah! Sudahlah, Bianca tak akan mengurusnya jika dia meminta Bianca datang, memangnya dia saja yang bisa membuat orang berharap, pikir Bianca yang cukup merasa aneh dia menjadi wanita yang labil bagaikan seorang remaja padahal dia sudah punya 2 anak.


Bianca baru saja selesai menidurkan si kembar saat dia mendengar ponsel itu berdenging, Bianca awalnya merasa tak ingin menanggapinya, namun dia takut ponsel itu akan berdering dan membangunkan anaknya.


Bianca langsung bangkit, dia lalu melihat ke arah ponsel itu dan melihat sebuah pesan yang tertulis di sana.

__ADS_1


__ADS_2