Rain In The Winter

Rain In The Winter
169.


__ADS_3

Bram yang baru saja sampai di Ibukota pada saat malam hari, perjalanannya memang cukup panjang karena harus menunggu kapal dan juga pesawat yang menuju ke Ibukota karena jadwal pesawat dari pulau terdekat dari pulau tempat tinggalnya hanya ada 1 kali sehari dan hari ini jadwalnya pada siang hari.


Bram segera menghubungi Ken yang dia asumsikan juga sudah sampai di negara ini,  namun saat dia menghubunginya ponsel Ken belum juga aktif, Bram mengerutkan dahinya, mungkin saja pria itu belum sampai.


Bram segera melacak keberadaan Lidia, dia mendapatkan respon dari salah satu kenalannya yang mengatakan bahwa Lidia sekarang ada di gedung perusahaan yang memang menjadi tempat dia selalu menghabiskan  waktunya, perusahaan milik Lidia sendiri.


Bram segera mengambil langkahnya untuk pergi ke perusahaan itu, tak ingin mengambil waktu lama untuk mempertanyakan dan memperjelas semua masalah yang dibuat oleh Lidia, setelah itu dia harus segera menemui Bianca dan juga si kembar, di kepalanya hanya ada mereka saat ini.


Bram segera berhenti tepat di depan gedung yang masih tampak terang benderang walaupun hari sudah menggelap, dia segera masuk ke dalam gedung itu, seperti biasa penuh dengan penjagaan.


"Tuan Anda tak boleh masuk," kata seorang penjaga yang segera menghentikan langkah Bram, dia tahu betul seluk beluk perusahaan itu, dia sudah lebih dari 4 kali ada di sana, karena itu jika penjaga melarangnya masuk dia tahu itu memang protokol di sana.


"Apakah Nyonya Lidia ada? " tanya Bram dengan wajah seriusnya.


"Nyonya Lidia sedang tidak bisa diganggu, Anda siapa? " kata pria itu dengan lirikan tajam.


Bram sedikit diam, jika dia mengatakan bahwa dirinya yang mencari Lidia pasti Lidia tak akan ingin bertemu dengannya, karena itu dia harus menutupi identitasnya.

__ADS_1


"Katakan saja pria di club mencarinya," kata Bram, dia tahu kebiasaan Lidia, walau sudah memiliki Rain dia masih saja mencari pria-pria tampan dan lebih muda darinya untuk memuaskan rasa dan nafsunya, jika dikatakan seperti ini pastilah Lidia akan senang, salah satu mainnya muncul mencarinya.


"Baiklah saya akan melaporkanya, " kata Penjaga itu mengerutkan dahinya, pria seperti ini bekerja di club? 


Penjaga itu sedikit menjauh, dari gelagatnya Bram tahu pria itu sedang melaporkan apa yang dikatakannya, lalu tak lama dia mengangguk dan berjalan ke arah Bram.


"Tuan, Anda di tunggu di ruang khusus Nona Lidia," ujar penjaga itu membiarkan Bram masuk, dia juga menyerahkan sebuah kartu untuk mengakses semua gedung ini.


"Terima kasih," kata Bram dengan senyuman yang cukup terlihat sedikit licik, dia lalu berjalan ke arah lift di dekat mereka dan segera setelahnya menekan tombol 7, tempat ruangan khusus Lidia bertemu dengan pria-pria maiannnya itu.


Sebenarnya Bram cukup miris dengan kehidupan Rain, dia tak ingat apapun tentang hidupnya selama 10 tahun ke belakang, malah tak bisa mencintai wanita yang sudah membuatnya kehilangan ingatan dan mengaku sebagai istrinya, dia merasa cukup bersalah karena menjauhkan anak-anak Rain dan istrinya darinya, namun dia juga tak bisa menolak hal itu karena jika dia tak melakukannya maka dirinya dan Bianca pastilah tak bisa berdekatan lagi, yang paling buruknya dia bahkan tak akan bisa bertemu wanita itu, bagaimana pun, hati dan cinta Bram sudah benar-benar hanya untuk Bianca seorang.


Langkahnya berhenti di depan pintu dengan warna hitam mengkilat pesis seperti dinding yang ada di sana, karena dinding itu pula suasana menjadi begitu remang, Bram segera meletakkan kartu untuk di pindai dan dengan cepat lampu merah di sana berubah menjadi hijau, tanda bahwa pintu itu sudah terbuka.


Bram segera masuk ke dalam ruangan itu, ruangan minimalis yang  tempatnya juga senada dengan bagian luarnya, dindingnya berwarna hitam dengan lantai marmer hitam, lampunya tak menyela semua, hanya sepanjang jalan dari pintu ke arah meja kerja Lidia, selainnya dibiarkan gelap.


Bram sedikit awas melihat situasi yang menurutnya aneh, diruang dengan komposisi warna gelap dan sudah malam, kenapa hanya sedikit lampu yang di nyalakan.

__ADS_1


Bram melihat kursi ruang kerja itu bergoyang sedikit, dia bukan orang yang percaya hantu jadi pastilah dia merasa ada orang di sana, melihat ini adalah tempat khusus Lidia, pastilah wanita itu yang ada di sana.


"Lidia," ujar Bram yang menggema langsung, Kursi yang tak menghadap dirinya itu hanya bergoyang ke kanan dan ke kiri, namun Lidia sama sekali tidak merespon.


"Apa maksudmu sudah melakukan hal ini pada kami! untung saja Bianca dan anak-anaknya sudah tidak ada di sana, bagaimana bisa kau mengingkari janjimu! kau tahu aku bisa mengatakannya pada Rain tentang semuanya!" ujar Bram lagi, tak ingin berbasa basi, semakin lama dia di sini, semakin lama pula dia akan bertemu dengan Bianca.


Lidia tidak merespon  lagi kata-kata Bram, melihat situasi ini, Bram merasa ada yang aneh dengan semuanya, dia segera merogoh tempat pistol yang ada di balik jaketnya, memegangnya erat bersiaga jika ada apa-apa dia langsung segera bisa bertindak.


Kursi itu lalu berputar dengan cepat memunculkan sosok Rain yang sedang menatap ke arah Bram dengan sangat tajam, Bram yang melihat Rain ada di sana tentu kaget sekali, ini adalah tempat khusus dari Lidia, setau dirinya bahkan Rain tidak pernah datang kemari, setidaknya itulah pengakuan dari Lidia.


"Dimana Lidia?" tanya Bram yang sekarang menodongkan pistol itu cepat ke arah wajah Rain yang hanya diam, tajam menatap ke arah Bram dan mempertahankan posisinya walaupun Bram dengan wajah sinis menatap dirirnya dan juga ujung pistol itu sudah tepat di kepala Rain.


"Jika ingin bertemu dengannya, kau harus pergi ke alam baka dulu," kata Rain, dia mengubah posisinya, menyenderkan dirinya santai di kursi kerja Lidia itu, parfum wanita itu masih tertinggal, membuat Rain mual.


Bram mendengar perkataan Rain segera  membesarkan matanya, namun karena hal itu pula dia semakin menambah kewaspadaannya pada pria ini.


"Aku tak punya urusan dengan Anda," kata Bram terus membidik dengan sikapnya yang siaga, Rain tampak santai saja, bahkan mengeluarkan rokoknya dari sakunya, tindakan Rain ini benar-benar membuat Bram semakin emosi melihatnya.

__ADS_1


"Benarkah?" kata Rain tak ada takut-takutnya, padahal jika Bram ingin, bahkan kepalanya bisa meledak kapan saja karena tak ada yang memisahkan mereka, Rain menghisap rokoknya dengan gayanya, "aku rasa kau punya urusan padaku, dan aku rasa kau berhutang penjelasan padaku.”


__ADS_2