
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi dan juga menata rambutnya yang tadi tampak awut-awutan Bianca segera menjelajahi kamar mereka yang berdesign minimalis namun luas, warnanya didominasi warna abu-abu tua dan putih khas warna pria lajang, Bianca membuka lemarinya, nyaris kosong, hanya ada beberapa kemeja, jas dan celana Rain yang tampaknya sudah lama dia tak gunakan.
Bianca menuju ranjangnya sesaat menatap ke arah anak-anaknya yang masih pulas, dia lalu kaget melihat gorden Jendela yang ada di dekatnya, gorden itu terbuka dengan sendirinya seolah sudah diatur untuk membuka pukul 5 pagi itu.
Bianca terpukau dengan pemandangannya yang masih samar namun sudah mulai menjelas, Rain pasti biasa terbangun jam segini hingga gorden ini terbuka otomatis untuknya, Bianca meletakan tangannya ke kaca jendela bening yang menjadi dinding kamar itu, terasa dingin bagaikan es namun pikirannya terbang memikirkan bagaimana keadaan Rain sekarang?
---***---
Rain terdiam menatap ke arah jendela di apartemennya, sekali lagi malam ini dia bahkan tak bisa terlelap, hanya sejenak tadi saat dia menuju ke apartemennya dari rumahnya dia bisa masuk ke alam mimpi, selanjutnya dia juga tak bisa menutup matanya.
"Tuan," suara Antony menegur Rain, Rio sedang beristirahat, Antony yang sebelumnya sempat beristirahat hanya 2 jam segera menggantikan tugas temannya menemani Rain.
"Hmm?"
"Nyonya, Tuan dan Nona muda dikabarkan sudah sampai di sana, mereka selamat dan segera dibawa oleh Nona Siena ke kediaman anda, Ken juga akan pergi ke sini 2 jam lagi," Lapor Antony yang baru mendapatkan semua kabarnya.
"Baguslah," kata Rain lagi, melihat air hujan yang mulai turun, awal hari yang sendu dengan awan hitam yang menyelimutinya, "bagaimana dengan pria itu?"
Rain memutar tubuhnya menghadap ke arah Antony, melirik asistennya itu dengan tatapan tajamnya.
"Dia akan ke ibukota, dia meminta bantuan Ken, sepertinya dia akan menuntut penjelasan pada Nyonya Lidia dan juga meminta Ken agar bisa bertemu dengan Nyonya Bianca, dia pasti tak akan melepaskan Nyonya Bianca," ujar Antony memperhatikan wajah Rain yang tampak cukup lelah dan juga pucat.
__ADS_1
Rain hanya diam dengan wajahnya yang tampak berpikir, Antony menatap Tuannya itu, benar-benar tampak jauh berbeda dengan biasanya.
"Tuan, anda bisa beristirahat, Mereka akan sampai di sini sore nanti, bahkan Ken akan Sampai malam nanti, dan aku yakin Bram tak akan bertindak sebelum bertemu dengan Ken, tentang Nyonya Lidia, dia sudah dijaga dengan sangat ketat, bahkan pengikutnya tak akan bisa tahu dimana keberadaannya," ujar Antony sedikit khawatir dengan keadaan Rain.
Rain hanya diam melirik ke arah Antony, tubuhnya memang sedikit teras berat, mungkin efek tak tidur sama sekali, Rain mengangguk perlahan, namun baru saja dia ingin beranjak, kakinya tak menapak dengan kokoh hingga tubuhnya hampir roboh, untunglah Antony segera menangkap tubuhnya.
"Tuan!" Kata Antony kaget.
"Tidak apa-apa," ujar Rain, Antony membesarkan matanya melihat darah meleleh keluar dari hidung kanan Rain.
"Tuan, hidung anda berdarah," ujar Antony segera mengambil tisu yang ada di ruangan itu, menyerahkannya pada Rain.
Rain mengusap darah itu meninggalkan noda merah tua, semenjak dia tak mengonsumsi obat itu, dia jadi seperti ini.
Rain mencoba menenangkan sejenak pikirannya, mengatur rasa sakitnya yang perlahan makin sakit, namun entah bagaimana dia malah tertidur, mungkin bukan tertidur lebih tepatnya hilang kesadaran karena rasa sakit yang tak tertahankan.
---***---
Lidia membuka matanya yang terasa berat, dia berulang kali berusaha membukanya namun terasa ingin terus mengatup, samar di melihat keadaan sekitarnya, namun akhirnya dia bisa melihatnya dengan jelas.
Dia tampak mengerutkan dahinya, terakhir dia ingat kepalanya begitu pusing hingga rasanya ingin meledak, dia juga segera tak sadar namun terakhir kalinya dia ingat dia ada di bawah tanah rumah Rain, namun saat dia bangun dia ada di ruang yang sangat lembab, baunya busuk, dan tempatnya berlumut dan suram.
__ADS_1
Dia merasa sakit di sekujur tangannya dan baru sadar dia digantung dengan tangan yang terikat di atas dengan seutas tali tambang yang besar, kakinya tak menapak dia bisa melihat genangan air busuk di bawahnya, tubuhnya pun tampak lembab dan basah. Dia meronta, ingin berteriak namun tak bisa karena mulutnya disumpal dan Juga ditutup oleh lakban.
Suara tetesan air yang perlahan itu membuat rasa takut Lidia makin memuncak, suara cicitan tikus dan entah suara apa lagi terdengar lebih besar dan juga menakutkan. Lidia menggigil karenanya.
Lidia terus meronta berharap bisa melekangkan ikatan di tangannya agar dia bisa lepas, namun rasanya sia-sia karena semakin dia meronta semakin sakit rasanya pergelangan tangannya.
Lidia berhenti dan matanya tampak awas ketika mendengar langkah kaki yang bergema di seluruh ruangan itu, Lidia menunggu dengan cemas dengan sosok yang akan mendatanginya.
Mata Lidia tampak merah membara terbakar amarah melihat sosok yang begitu tenang menatap dirinya tergantung di tempat itu, jeruji di depan mereka menjadi penghalang mereka.
Rain menghisap rokoknya membuat api di ujung rokoknya tampak menyala, dia hanya melirik ke tubuh Lidia yang sedang meronta, gaun yang awalnya berwarna kream itu tampak sudah basah dan lebih tampak kotor, Lidia tampak begitu kucel dan berantakan namun Rain sangat suka dan juga sangat menikmati bagaimana wanita itu meronta.
Lidia membuat suara tertahan, Rain mengerutkan dahinya, menerka apa yang wanita ini katakan.
"Buka penutup mulutnya," kata Rain.
Penjaga tempat itu segera membuka pintu kecil untuk masuk ke sana, dia memutar tuas agar tubuh Lidia yang tergantung di atas itu akhirnya menyentuh lantai, penjaga itu membuka lakban di mulut Lidia dengan kasar, sangat kasar hingga pipi dan Bibir Lidia rasanya seperti ditarik dan perih.
Lidia membuka mulutnya, mencoba mengeluarkan sumpalan di mulutnya, dan dengan bantuan dari penjanga dia segera mengeluarkannya.
"Ada kata-kata terakhir?" Tanya Rain santai.
__ADS_1
"Cih! Kalau ingin membunuhku, bunuh saja, jangan seperti pengecut," tantang Lidia masih terkuasai emosinya.
"Tentu, aku dengan senang hati melakukannya," ujar Rain memberikan gestur tangannya, penjaga itu mengerti, dia kembali memutar tuas dan membuat Lidia segera kembali tergantung, bahkan sekarang lebih tinggi, melihat hal ini Lidia jadi panik, dia meronta dan berteriak.