Rain In The Winter

Rain In The Winter
181.


__ADS_3

"Selamat datang Yang Mulia Pangeran Rain Arthur beserta Putri Bianca, selamat datang di istana utama kerajaan Winsdor," kata Tuan Gilbert yang segera memberikan gestur hormat dan juga menandakan pintu utama yang kokoh itu terbuka, Tuan Gilbert segera memandu mereka memasuki ruangan demi ruangan menuju tempat keluarga kerajaan berada.


Setiap langkah memasuki tempat yang sangat megah dengan segela ukiran, ornamen kerajaan itu membuat Bianca sedikit sesak dan gugup, untung saja tangannya dengan erat digenggam oleh Rain yang tampak biasa saja, hal itu membuatnya tak terlalu ketakutan.


"Yang Mulia Raja Archie dan Yang Mulia Ratu Ceyasa sudah menunggu Anda di ruang tamu utama, silakan masuk Yang Mulia," kata Gilbert menunjukkan tempatnya, sebelum mereka masuk ada beberapa orang berbaris yang memberikan salam pada mereka, tak satupun dikenali oleh Rain, bahkan masuk ke dalam istana ini saja dia baru merasa melakukannya.


Ruang tamu itu megah dan lebar, bahkan bisa dikatakan lebih mirip dengan aula, lampu gantung kristal besar menghiasi langit-langitnya, ornamen dan lukisannya sangat kental dengan suasana kerajaan, Bianca bahkan tak bisa berkedip melihatnya.


Semua mata segera tertuju pada sosok yang menunggu mereka di sana, seorang pria yang umurnya tak terlalu jauh umurnya dari Rain, berdiri gagah dengan pakaian hitam dengan sulaman emas, tentu wajahnya juga sangat mendukung dirinya menggunakan pakaian itu. Di sebelahnya berdiri dengan anggunnya seorang wanita yang tersenyum menyambut meraka, baik mereka maupun keluarga Rain tampak sedikit canggung.


Bianca menatap wanita itu, bahkan lebih cantik aslinya dari pada di foto yang kemarin di tunjukan oleh Yuri, Bianca tanpa sadarnya meremas tangan Rain yang seketika membuat Rain menatap istrinya itu, melihat wajah sedikit cemas Bianca tak tahu karena gugup atau bagaimana, namun Rain mengetatkan tangan Bianca mencoba untuk menenangkannya.


"Selamat datang Paman dan Bibi," kata Archie dan Ceyasa yang   sedikit menundukkan kepalanya, mereka tak boleh membungkuk pada siapapun, hanya bisa menunduk sebagai tanda mereka menghormati orang yang lebih tua dari mereka, karena bagaimana pun Rain adalah adik tiri ayahnya.


"Terima kasih, maafkan jika kami tidak mengerti tata cara di kerajaan," kata Rain, dia bahkan baru pertama kali melihat ke dua orang ini, matanya teralihkan dengan senyuman yang diberikan oleh Ceyasa, wajahnya yang tadinya datar sedikit mengerut dan seperti tampak bertanya, senyuman itu tampak familiar baginya.


Bianca menangkap perubahan wajah suaminya, dia hanya menggigit bibirnya perlahan, ada rasa tak nyaman di sini, namun tak bisa dia tunjukan atau ungkapkan.


"Tidak apa-apa, kami tidak terlalu ketat menerapkan aturan kerajaan Paman," kata Archie ramah menatap pamannya, saat itulah Gio dan Gwi langsung menghampiri orang tuanya, menyelip diantara kedua orangnya, Archie dan Ceyasa yang melihat mereka segera tersenyum senang melihat bertapa lucunya mereka.

__ADS_1


"Wah, apakah mereka kembar?" kata Ceyasa yang segera tampak semangat, meninggalkan kesan anggunnya, Bianca yang mendengar itu sedikit kaget dan juga sedikit tak menyangka Ceyasa bisa begitu.


"Iya, Ayo beri salam," kata Bianca segera, membiarkan anaknya berdiri berdua lebih berjalan ke depan dan memberikan salam bagi Archie dan Ceyasa.


"Selamat malam Paman dan Bibi," serempak mereka memberikan salam pada Ceyasa dan Archie, Ceyasa tampak berbinar melihat betapa imutnya mereka.


"Wah, tidak perlu sungkan, sebenarnya jika dilihat dari generasi seharusnya kalian memanggilku kakak," kata Archie tersenyum saat melihat Gio dan Gwi menatap ke arah kedua orang yang belum pernah mereka lihat.


"Baiklah, bagaimana jika kita lanjutkan tentang pertemuan ini?" tanya Rain melihat ke arah Archie, Archie mengangguk mengerti, memang  hari semakin malam, semakin banyak berbasa-basi tujuan mereka di sini  tak akan tercapai.


"Baiklah, kita bisa membahasnya di ruang kerja sekarang," kata Archie segera.


Archie mempersilakan pamannya itu duduk di salah satu sofa yang ada di ruang kerjanya yang tak kalah mewah dari ruangan lainnya di sana, Rain memperhatikan semua ruangan itu, matanya sedikit awas, itu memang selalu dia lakuikan setiap kali ke tempat baru, Archie duduk setelah Rain mengambil tempatnya, Ken duduk di sofa berdampingan dengan pria yang seperti dokter itu, Gerald berdiri di belakang Archie.


Archie menatap pria yang ada di depan ini dengan seksama, matanya sedikit menyipit melihat pamannya yang hanya bertampang datar dan juga dingin.


"Paman apa kau benar-benar tidak ingat apapun tentang ku?" kata Archie sedikit menaikkan satu alisnya.


"Tidak," tegas Rain menyebarkan aura dinginnya.

__ADS_1


Archie memiringkan wajahnya, menatap pria di depannya ini kembali dengan seksama, dia ingat pertama kali dia melihat pria ini, dia sangat tak menyukainya, peringainya yang sangat angkuh dan menyebalkan itu sangat dibenci oleh Archie, dia punya kepercayadirian yang sangat hingga sangat mengusik Archie saat itu, tapi di depannya ini terlihat seperti sosok baru, bahkan Archie yang tak punya masalah ingatan pun tak bisa mengenalinya.


Pria di depannya ini terlihat tenang dan juga sedikit tak ramah, dingin dan seolah tak terbaca, berbeda sekali dengan  10 tahun yang lalu saat dia baru mengenalnya.


"Apapun yang pernah aku lakukan pada kalian, maaf jika aku melakukannya dan juga aku minta maaf jika aku tak bisa mengingat apapun tentang kalian," kata Rain, rasanya dia harus mengucapkan hal itu, lagi pula hidupnya dan anak-anaknya juga ada di tangan mereka.


"Kakak Rain mengalami amnesia karena sebuah kecelakaan dan dia tak bisa mengingat apapun selama 10 tahun ke belakang," kata Ken menjelaskan, Archie melihat ke arah Ken dan mengerti, dia sudah pernah mendengar tentang hal itu, namun dia harus memastikan ini karena Pria ini sebelumnya sangat menyeramkan dulu.


"Baiklah, yang lalu lebih baik dilupakan. Paman, aku dengar bahwa paman sedang ada masalah dengan penyakit keturunan itu, benarkah?" tanya Archie dengan serius.


"Ya," kata Rain singkat saja.


"Apa paman sudah mulai mengalami perdarahan? " tanya Archie.


"Ya, ada masalah dengan perdarahanku, aku sering mengalami perdarahan hidung," kata Rain, Archie mengerutkan dahinya, bagaimana bisa Rain tetap tampak baik-baik saja padahal dia sudah mengalami gejala penyakit yang biasanya langsung sangat ganas. Archie lalu melirik dokter yang ada di sana.


"Apakah Yang mulia memiliki data tentang hal itu?"  tanya dokter itu langsung.


"Tidak, namun dokterku memiliki hal itu, kita bisa menghubunginya," kata Rain, Ken segera mengeluarkan tabletnya dan segera melakukan panggilan video pada dokter itu

__ADS_1


__ADS_2