Rain In The Winter

Rain In The Winter
207. Another Day with Another Rain.


__ADS_3

Bianca membuka matanya, tidurnya tak terlalu nyenyak karena walaupun udaranya terasa hangat bagi Bianca tempat itu masih saja terasa cukup membuatnya menggigil, Rain memenuhi janjinya pada Si kembar untuk membawa mereka berjalan-jalan dan Kembar sangat semangat pergi ke liburan pertama mereka sebagai keluarga dan juga melihat salju. Mereka sampai di tempat itu malam hari yang langsung mereka habiskan untuk tidur.


Bianca melirik sampingnya, Rain masih tertidur tenang seolah tak terganggu oleh kedinginan udara di sekitarnya, Bianca lalu melirik ke arah jam, sudah cukup pagi ternyata jadi dia putusakan untuk membuat sarapan pagi yang hangat untuk keluarganya.


Bianca menurunkan kakinya ke lantai kayu yang tertutup oleh karpet merah yang sangat tebal, dia segera mengambil jubah tidurnya yang cukup tebal, dia menatap sejenak  pada jendela, melihat salju yang sudah menumpuk di luar dan juga di jendela kamar mereka yang besar.


Bianca segera keluar dari kamar dan berjalan di villa mereka yang megah, dia masuk ke dalam dapur dan mendapati Yuri sudah ada di sana menyiapkan beberapa barang makanan dengan seorang pelayan.


"Selamat pagi Nyonya, Anda sudah bangun? " tanya Yuri yang sedikit kaget Nyonyanya pagi sekali bangunnya.


"Ya, di sini dingin jadi aku tidak terlalu terbiasa," kata Bianca segera mendekati Yuri.


"Benar, Anda ingin makan apa pagi ini? saya sudah menyiapkan beberapa sayuran dan bahan makanan kamarin malam," kata Yuri.


"Tuan lebih suka makanan ringan yang biasa untuk dia sarapan, tambahkan sup hangat dan juga daging agar lebih bertenaga, anak-anak ingin pergi bermain salju setelahnya," ujar Bianca pada Yuri, dia mulai ingin menyiapkan makanannya, jam bergulir dan Bianca mulai selesai memasak makanannya.


"Biar aku saja yang menatanya di meja, Yuri bisa bangunkan Gio dan Gwi?" tanya Bianca pada Yuri.


"Tentu Nyonya," kata Yuri segera menyangggupi.

__ADS_1


"Ya, terima kasih," ujar Bianca yang segera membawa sup hangat itu ke meja makannya, dia melihat sekeliling, tadinya berharap melihat sosok suaminya sudah ada minimal di ruang tengah, namun sosok itu tidak ada di sana, dia juga melihat ke ruang yang lain sekilas, juga tak melihat sosoknya.


Bianca mengerutkan dahinya, sudah hampir jam 6 pagi dan Rain belum bangun, itu suatu kebiasaan yang sangat jarang dilakukan oleh Rain, dia baisanya paling lambat bangun pukul 5 pagi. Bianca lalu memutuskan untuk melihat ke arah kamarnya, mungkin Rain sedang membersihkan diri atau apalah, dia hanya ingin memanggilnya untuk makan selagi supnya masih panas.


Bianca segera membuka pintu kamarnya, namun dia langsung bisa melihat sosok suaminya yang menatap layar tablet itu dengan wajah yang berkerut, karena pintu yang terbuka tiba-tiba, Rain yang masih duduk di tempat tidurnya itu langsung melihat siapa yang di depannya. Wajahnya tak berubah, dia hanya memandang sosok Bianca yang ada di depannya itu.


Bianca memandang wajah Rain, dari tatapan matanya yang tampak bingung dan juga tampak berkerut, Bianca membesarkan matanya, otaknya seakan mengerti, apakah ini hari dimana dia tidak ingin pernah terjadi?


"Rain?" tanya Bianca pelan, namun dia tidak mencoba untuk mendekatkan diri pada Rain.


Rain diam sejenak, lalu meletakkan tablet itu di ranjang, Bianca melirik apa yang sudah dilihat oleh Rain, benar saja Video itu yang di tontonnya, jangan-jangan … hati Bianca langsung cemas, kenapa Rain harus terkena penyakit ini saat mereka sedang liburan.


Rain menurunkan kakinya dari ranjang mereka, dia menopang kepalanya yang terasa sedikit pusing, pusing kenapa tiba-tiba dia ada di sini dan pusing dengan apa yang baru saja dia lihat di video itu. Rain lalu melihat jari tangan kanannya, ada cincin pernikahan melingkar di tangannya, dalam ingatannya hanya ada tentang makan siang di Itali seperti yang dikatakan di video itu, dia tampak kaget melihat cincin itu lalu dia melirik ke arah Bianca.


"Kau istriku?" tanya Rain dengan suara yang tak sehangat biasanya, kesan dinginnya terasa sekali, bagaikan orang asing bagi Bianca.


Bianca menggigit bibirnya, 7 bulan ini hidupnya bahagia sekali dengan semua kehidupan indahnya, tapi sekarang mimpi buruk yang selalu dia takutkan akhirnya datang, Bianca tak tahu harus apa? Seharusnya jika ini terjadi dia harus minta dokter Malvis datang untuk melakukan pemeriksaan namun mereka terlalu jauh sekarang, butuh waktu 6 jam dengan pesawat agar mereka bisa bertemu.


"Apa kau sudah melihat Videonya?” tanya Bianca yang hanya bisa mengatakan hal itu, mencoba tenang setenang-tenangnya walaupun dia sebenarnya sangat takut dan bingung.

__ADS_1


"Ya, di sana ada upacara pernikahan kita, apakah kita juga punya anak kembar seperti dalam video itu? " tanya Rain mengerutkan dahi tak percaya.


"Ya, kita punya, kau pasti tidak percaya hanya dengan hal itu, di tempat kau bisa menyimpan barang-barang berharga ada sertifikat pernikahan dan juga bukti DNA, kau mengatakan padaku jika kau tidak percaya nantinya, kau juga bisa melihatnya atau memeriksa keasliannya," ujar Bianca yang mencoba selangkah demi selangkah untuk mendekati Rain.


Rain hanya memandangnya dengan tatapan yang sedikit menganalisa, dari gesturnya, Bianca bisa melihat Rain sedikit tidak ingin di dekati, Bianca bisa mengerti, pria ini tak suka jika dia didekati oleh orang asing, dan bagi Rain saat ini Bianca adalah orang asing walaupun sebenarnya tidak, Bianca berhenti setelah beberapa langkah.


"Apakah aku sering seperti ini?" tanya Rain lagi.


"Tidak ini yang pertama kali," ujar Bianca, matanya tampak suram, dia benar-benar tak tahu harus melakukan apa.


Rain pun hanya diam, dia lalu menatap ke arah jendela.


"Kenapa kita di sini?" Tanya Rain, tak mungkin dia tinggal di daerah bersalju begini.


"Kita sedang liburan, kemarin kita baru tiba, kau berjanji liburan kemari pada Anak-anak kita,maksudku Gio dan Gwi," kata Bianca lagi seolah memberikan laporan pada atasannya.


Rain diam lagi sejenak, dia kembali menganalisa semuanya, membiarkan Bianca yang hanya bisa diam menatap ke arah suaminya, liburan indah yang ada dipikiran Bianca entah kenapa sekarang perlahan pudar sudah, Bianca menggigit bibirnya, rasanya matanya mulai panas.


Rain yang tadinya mengamati tempat itu jatuh pandanganya pada wajah Bianca yang mulai tampak menunjukkan raut wajah sedih, dia mengerutkan dahinya saat melihat mata itu, mata yang membuat perasaannya tak nyaman saat menemukan kesedihan di sana, ada apa dengannya? Kenapa melihat wanita ini sedih, dia yang menjadi sakit.

__ADS_1


__ADS_2