
"Terima kasih," ujar Bianca melempar senyumnya, dia kembali memakai hoodie-nya dan juga maskernya, setelah Bianca turun 2 dari pria itu juga ikut turun dari sana, mereka mengikuti Bianca dari jauh.
Bianca mencari toko kecil itu, tak jauh dari tempat dia berhenti akhirnya dia menemukannya, Bianca lalu membacanya, benar itu lowongan pekerjaan sebagai pelayan di sana.
Saat Bianca ingin masuk, dia melihat seorang pria yang cukup berumur seperti hendak membuka toko itu, Bianca lalu mendekatinya melepaskan maskernya agar tak menghalanginya untuk berbicara.
"Aku ingin bertanya tentang pekerjaan ini, apakah sudah ada yang mengisi?" Tanya Bianca semangat.
Pria itu memandang Bianca dari atas hingga bawah, sedikit meragukannya karena penampilannya yang tak biasa, dia sepeti orang asing, jika dia mempekerjakannya bisa-bisa dia kena masalah apalagi jika orang asing ini adalah imigran gelap, bisa panjang urusannya, pikir pria itu menatap wajah berharap Bianca.
"Maaf Nona, tapi lowongan itu sudah terisi," ujar Pria itu tak ingin mengambil resiko.
"Yah, benarkah?" tanya Bianca lemas, wajahnya langsung tampak tak semangat, pria itu hanya mengangguk, secantik ini kenapa tak menjadi model atau artis saja?
"Baiklah, terima kasih," ujar Bianca lemas.
Bianca kembali menyusuri jalan itu dengan langkah lemas dan gontai, dimana lagi dia mencari kerja, sepanjang jalan dia kemari hanya toko ini yang membuka lowongan dan itu pun sudah terisi.
Perlahan Bianca berjalan, walau bahunya turun namun matanya tetap awas memperhatikan satu persatu kaca jendela toko-toko di sana.
Namun tak lama dia mencari tiba-tiba dia mendengar seseorang sayup-sayup memanggil Nona di sekitarnya, Bianca mendengar itu segera menolehkan kepalanya. Benar saja pria yang tadi dia ajak bicara untuk mencari kerja sedang mengejarnya.
"Nona, kami memang sudah mendapatkan seorang pelayan, tapi apa kau mau bekerja untuk menyebarkan pamflet toko kami, tapi kau harus menggunakan kostum ikon toko kami," ujar pria itu pada Bianca.
Bianca langsung mengangguk setuju, tentu, pekerjaan apapun saat ini akan disambanginya.
"Baiklah, Nona, ayo ikut aku, aku akan menjelaskan caranya," ujar Pria itu kali ini bersikap begitu ramah pada Bianca.
__ADS_1
Bianca segera mengikuti pemilik toko itu, dia menjelaskan waktu kerja Bianca adalah dari toko itu buka hingga toko itu tutup di sore hari, dia akan diberikan pamflet dan itu harus habis semua, setelah itu dia akan dibayar, jika tidak, dia hanya akan dibayar setengahnya terlepas walau yang dia sebesar lebih banyak, tapi dia tetap dibayar setengah.
"Mengerti?" Tanya pemilik toko itu pada Bianca.
"Ya," kata Bianca, ini pekerjaan mudah, Bianca pernah bekerja lebih parah dari ini hingga akhirnya dia sakit berhari-hari.
"Itu adalah kostum yang harus kau pakai selama bekerja, kau boleh istirahat jam 1 - 1.15 untuk makan siang, selain itu kau harus terus memakainya," ujar pemilik restoran itu.
Bianca mengangguk mengerti dan semangat, akhirnya dia kembali lagi dengan kehidupannya yang sederhana, penuh kerja keras namun jauh dari masalah, dengan begini dia akan cukup sibuk dengan hidupnya dan tak memikirkan pria manapun, hanya dirinya sendiri, itu sudah cukup.
---***---
Rain hanya diam melihat rekaman yang dikirimkan oleh seorang penjaga yang mereka utus, di sana dia melihat Bianca sedang bekerja menggunakan kostum panda, bentuknya lucu sekali, namun Rain tahu bagaimana beratnya bekerja di tengah terik matahari dan harus menggunakan kostum tebal itu.
Rain yang memerintahkan untuk membuat Bianca bisa pergi kemana pun dia inginkan, menyewakan sebuah bis untuk mengantarnya, dia tak sangka wanita itu ingin mencari kerja, dan dia juga yang meminta pemilik toko menyediakan pekerjaan apapun untuk Bianca, pemilik toko itu tak bisa memperkejakan Bianca secara terang-terangan karena penampilannya yang begitu mencolok, akan mengundang banyak perhatian dan nantinya akan menyusahkannya, karena itu dia hanya bisa menjadikan Bianca pekerja yang membagikan pamflet, itupun karena wajahnya akan tertutup oleh kostum itu.
"Dia yang memutuskan untuk pergi," datar Rain mengantakannya sambil menutup layar tabletnya.
Siena memasang wajah kesalnya, dia duduk di samping kursi Rain di meja makan, Ken berdiri di belakang Rain.
"Duduk saja Ken," perintah dari Rain langsung untuk Ken, dia punya adap, tak akan membiarkan kekasih adik angkatnya itu berdiri di belakangnya selama Siena ada di sini. Ken mendengar itu langsung mengikutinya, Siena hanya memberikan senyuman manis melihat kekasihnya itu.
"Sudah di pastikan tak ada yang mengikutimu?" Ujar Rain pada Siena namun matanya tajam ke arah Ken.
"Sudah, Drake sedang sibuk dengan urusan pertemuannya dengan Tuan Takigawa, aku dengar akan dilakukan hari ini," kata Siena lagi.
"Pulanglah," ujar Rain seperti meminta pada adiknya yang baru saja mengambil roti tawar ingin mengoleskan selai kacang untuk kekasihnya.
__ADS_1
"Kakak mengusirku?" Kata Siena sedikit tersinggung.
"Pekerjaanmu sudah selesai, lagi pula aku tidak ingin orang tua angkatmu akan khawatir dengan apa yang kau kerjakan sekarang, kau sudah cukup membantuku," ujar Rain lagi melihat adiknya itu masih sibuk membuatkan makanan untuk Ken.
"Aku akan memastikan dia tetap dalam jalurnya," ujar Siena keras kepala, meletakkan roti itu di piring Ken, "kakak, mau juga?"
Rain hanya menggeleng, "Drake bukan pria biasa, walau dia bertindak tanpa persiapan yang matang dan tak mencari tahu segalanya, tapi dia orang yang nekat, aku tahu dia tergoda denganmu, jika dia tahu kau bersekongkol denganku, maka aku takut dia akan melakukan sesuatu padamu," ujar Rain pada Siena, matanya kembali tajam ke arah Ken, Ken hanya mengangguk mengerti,pastinya dia juga berpikir begitu.
"Ken, kau pergilah dengan Siena, kembali ke negara asalnya di sana bahkan aku tak bisa berkutik, apalagi Drake," kata Rain memerintahkan Ken yang juga merasa khawatir dengan Siena.
"Dia tak akan mau, dia lebih cinta dirimu dari aku," sindir Siena pada Ken yang hanya bisa diam, tak ada haknya bicara di sana, walau Siena adalah kekasihnya.
"Ini perintahku, Ken, bawa Siena pulang," ujar Rain tegas.
"Baiklah, baiklah, aku akan mengikuti kemauan kakak, tapi jika butuh bantuan lagi, jangan sungkan-sungkan ya kak," ujar Siena, entah kenapa ingin selalu terlihat dengan kakaknya ini, mungkin karena dia masih ingat bagaimana kakaknya ini menyelamatkan hidupnya dulu di panti asuhan, walaupun akhirnya tujuannya adalah untuk memanfaatkan Siena, namun tanpanya, mungkin dia masih menjadi budak di panti asuhan itu dan tak bisa hidup begini.
"Siapkan pesawat pribadi siang ini," ujar Rain.
"Baik Tuan," kata Ken lagi.
"Sebelum aku pulang, kakak harus menjawab pertanyaan ku dulu," kata Siena pada Pria yang sekarang bahkan tak memperhatikannya, masih sama dinginnya dengan pria yang dulu dia kenal.
"Hmm?"
"Apa kakak mencintai Bianca?"
Rain mendengar itu yang tadinya sibuk mengotak-atik tabletnya, melihat kurva tentang pertumbuhan sahamnya jadi terdiam sejenak.
__ADS_1
Melihat reaksi Rain yang tampak terdiam sesaat, Siena bisa tahu jawabannya, walau belum lama bersama, namun dia tahu persis sifat kakaknya yang selalu fokus dengan apapun, hal yang membuatnya tak fokus adalah hal yang sangat penting.