
Rain keluar dari kamar mandi menemukan istrinya sedang menyiapkan keperluannya untuk dirinya pagi ini, Rain menatap ke arah Bianca, sesekali melihat istrinya itu tampak termenung, semenjak kemarin setelah pulang makan siang bersama Lidia dan Carel, Bianca tampak sedikit murung, terlihat sekali ada hal yang dipikirkan sekarang.
Bianca mengambil dasi berwarna biru dongker dan memberikannya pada Rain, Bianca bahkan tidak menyadari bahwa suaminya itu sedari tadi menatapnya dan memperhatikannya, Bianca tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apa yang kau pikirkan?" suara berat itu seketika menyadarkan Bianca, membuat Bianca yang tadinya sibuk memakaikan dasi untuk suaminya itu segera menatap kedua bola mata yang sangat menghipnotis, tajam melihatnya namun juga penuh kelembutan.
"Oh, tidak aku … " kata Bianca bingung harus mengatakan apa.
"Katakan padaku, setelah kita makan siang dengan Lidia, kau tampak begitu murung, katakan padaku apa yang kau pikirkan?" tanya Rain, dia takut Bianca berpikiran yang tidak-tidak, dia takut Bianca berpikir bahwa Rain akan memihak pada Lidia dan Carel, padahal sedikit pun dia tak pernah berpikir hal itu. Rain menatap Bianca yang hanya tertunduk, "kau masih tidak percaya padaku? "
"Bukan, bukan soal itu," kata Bianca, semua kelakukan dari Rain sudah sangat menyakinkan Bianca bahwa Rain tidak main-main dengan ucapannya itu.
"Lalu?" tanya Rain lagi.
"Aku berpikir tentang Carel, aku merasa sangat kasihan melihatnya menangis seperti itu kemarin, aku berpikir dia pasti sangat sedih karena tidak bisa makan dengan mu," kata Bianca sambil mengusap dada suaminya. Rain yang mendengarkan hal itu mengerutkan bagian tepat di tengah kedua alisnya, namun senyuman tipis menenangkan malah muncul di bibirnya.
Bianca melihat ke arah suaminya yang sedang tersenyum manis itu, membuat Bianca sedikit bingung, kenapa Rain malah tersenyum melihatnya, apakah ada sesuatu yang salah?
"Apa ada yang salah?" tanya Bianca.
"Tidak, tidak apa-apa, tapi aku suka melihatmu perhatian dengan Carel, aku yakin kau akan menjadi ibu yang sangat baik untuk anakku nantinya," kata Rain menggoda istrinya kembali.
"Jangan menggoda seperti itu, sudah hampir pukul 8, kau harus pergi sekarang," kata Bianca terlihat cukup salah tingkah melihat godaan suaminya, hal itu malah sukses memancing senyuman Rain semakin lebar.
"Jika kau seperti itu, aku rasa aku tidak ingin pergi bekerja," ujar Rain lagi yang segera menghentikan langkah Bianca, Bianca yang tadinya hendak keluar dari kamar mereka segera melihat prianya, dia tersenyum tersipu sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
"Aku heran dari mana kau belajar menggombal seperti itu? " tanya Bianca sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku belajar untuk menggodamu setiap hari," ujar Rain mendekati istrinya sambil memeluk pingang kecilnya, terlalu enggan untuk berjauhan.
"Kau sudah terlambat, sudah pergilah," kata Bianca yang kembali tersenyum manis, mencolek sedikit hidung suaminya yang mancung. Rain mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca yang masih saja gugup setiap kali Rain melakukan hal itu. Rain mendaratkan sebuah ciuman di dahi Bianca, membuat hati Bianca segera menghangat.
"Tenanglah, aku sudah melakukan sesuatu agar bisa mendapatkan Carel, aku juga merasa Lidia tidak bisa menjaganya, aku ingin kita menjaganya bersama," kata Rain dengan sangat lembut, Bianca pun tersenyum manis, dia lalu mengangguk.
Rain segera melepaskan tubuh Bianca dan segera keluar dari kamar mereka, Yuri dan Luke segera bersiap, Rain yang memang sudah terlambat segera keluar dari apartemen mereka.
"Aku pergi dulu, " ujar Rain dibalas oleh anggukan dan juga senyuman tipis Bianca, Rain yang melihat senyuman tipis itu ikut terpancing senyumnya, sebelum dia membalikkan badan, dia segera membalas senyuman istrinya, sebuah lambaian tangan kecil dari Bianca menutup pandang Rain saat dia harus masuk ke dalam liftnya.
Bianca sedang duduk di ruang tengahnya saat dia mendengar suara telepon di apatemen itu berdering, Bianca langsung melihat ke arah telepon yang ada di dekat tempat duduknya, Yuri dengan sigap segera mengangkat telepon itu.
"Halo?" kata Yuri, wajah Yuri segera berkerut, membuat Bianca yang tadinya sedikit penasaran sekarang benar-benar penasaran, kenapa wajah Yuri seperti itu.
"Ada apa Yuri?" tanya Bianca.
"Telepon dari Kediaman, Mereka ingin mengabarkan bahwa Tuan Muda Carel sedang sakit demam, dia sudah demam sejak tadi malam, mereka ingin melaporkannya pada Tuan Rain," kata Yuri yang segera membuat Bianca langsung cemas, bagaimana bisa Carel demam?
"Benarkah? lalu dimana ibunya?" tanya Bianca.
"Nona Lidia tidak pulang semenjak tadi malam karena itu pagi ini mereka memutuskan untuk melapor karena demam Tuan Muda Carel semakin naik, Nona, bagaimana?" kata Bianca.
"Laporkan pada Tuan," kata Bianca.
__ADS_1
"Baik, Nyonya," kata Yuri. Yuri segera menelepon Luke, namun panggilannya tidak diangkat, untuk menelepon langsung Rain, Yuri sama sekali tidak punya hak, mungkin karena sedang sibuk pagi ini hingga Luke tidak memegang ponselnya.
"Bagaimana?" tanya Bianca.
"Tak ada yang menjawab, Nyonya," kata Yuri.
Bianca bertambah cemas, dia lalu memutar otaknya.
"Kita saja yang melihatnya? Bagaimana?" Tanya Bianca, membayangkan Carel yang imut itu demam sendirian di rumah yang bahkan tak satu orang pun dia kenal, rasanya pasti sangat ketakutan.
"Tapi Nyonya, Tuan tidak akan mengizinkan anda mendekati rumah itu, apalagi mendatanginya, bagaimana jika tiba-tiba Nona Lidia kembali, dia bisa melukai Nyonya," ujar Yuri, Bianca memandang wajah serius Yuri, itu memang bisa terjadi, tapi dia tak akan bisa membiarkan Carel yang sedang sakit itu sendirian, dia tak tega rasanya.
"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu pada Carel, dia pasti sangat kesepian, begini saja, bawa beberapa penjaga, sebanyak mungkin juga boleh, kita lihat keadaanya bagaimana, jika itu hanya tipuan, kalian bisa menjagaku bukan?" Tanya Bianca dengan nada masih cemas.
Yuri tampak berpikir, benar juga? Menunggu Luke merespon bisa jadi akan siang atau malah sore nanti, dan siapa yang bisa menjamin tak akan terjadi apa-apa terhadap Tuan muda kecil mereka, jika terjadi apa-apa, sudah pasti Tuan Rain mereka akan marah, semua orang tahu bagaimana Rain memperlakukan Tuan Muda kecil itu.
"Baiklah Nyonya, saya akan menyiapkan penjaga," kata Yuri pada Bianca. Bianca segera berwajah lega, akhirnya Yuri menyetujuinya.
"Baik, aku akan Menganti bajuku dulu, lakukanlah secepatnya," kata Bianca segera pergi dari sana menuju kamarnya.
Bianca segera mengganti bajunya dengan cepat, setelah selesai dia segera menuju ruang tamu mereka dan matanya langsung membesar melihat berapa penjaga yang ada di sana.
"Yuri, ini semua akan ikut kita?" Bianca terkejut melihatnya.
-----------
__ADS_1
pojok Author:
halo kak, aku up 1 dl ya, soalnya ada keperluan mendadak, jika sempat, malam ini aku up lagi 2 yaa... insya Allah.