
"Ayo, berjalan-jalan," ujar Rain menggapai tangan istrinya, perlahan meluncur halus di permukaan es yang membeku natural itu.
Suasananya sudah kian sendu menggelap indah, namun di sekeliling mereka penuh bermandikan cahaya dari lampu-lampu yang terangkai indah, tempat itu sebenarnya cukup ramai namun karena luas mereka jadi cukup mendapatkan privasi, Bianca melirik suaminya, padahal selama ini dia tak pernah suka kerumunan, Tapi selalu deminya dia bisa mengenyampingkan itu.
Mereka hanya senyap, namun perasaan cinta dan kasih sayang itu mengalir dan menyelimuti keduanya, tak perlu kata-kata untuk bisa menyampaikannnya, cukup pegangan tangan yang hangat dengan sesekali tatapan dan senyuman hangat, semua terlah tersampaikan.
Tiba-tiba saja Rain terjatuh terduduk, membuat Bianca tertawa kecil, seorang Rain yang selalu sempurna melalukan apapun bisa terjatuh juga bermain seperti ini.
"Kenapa tertawa?" Tanya Rain tapi wajahnya pun juga ikut tertawa.
"Kau sengaja jatuh ya?" Tanya Bianca yang berjongkok di dekat suaminya yang masih duduk di atas es itu.
Rain menaikan sudut bibirnya, dia lalu menarik tubuh Bianca secara mendadak sehingga Bianca pun jadi terjatuh.
"Aku akan jatuh secara sengaja berulang kali hanya agar kau tertawa," kata Rain yang membuat Bianca terdiam, rayuannya benar-benar basi, tapi tetap saja membuat Bianca jadi diam karenanya, apalagi sekarang Rain mendekatkan wajahnya, kembali mencium mesra bibir istrinya yang menjadi candunya dari pertama kali dia menciumnya.
Cukup lama ciuman diam yang lembut itu terasa, cukup untuk menghangatkan diri mereka, setelah bibir Rain lepas, Bianca menunduk sambil tersenyum, tak bis menutupi wajahnya yang tersipu.
"Kenapa menunduk?" Tanya Rain.
"Kita bukan pasangan remaja lagi, pasti banyak yang melihatnya," kata Bianca malu, Rain menahan tawa kecilnya melihat tingkah polos istrinya.
"Apakah dulu aku juga tetap kaku hingga tak pernah menciummu di depan umum? Lagi pula tak ada batasan waktu untuk bisa menunjukkan cinta bukan?" Kata Rain yang segera membuat Bianca menatapnya, sekali lagi Rain mengecup hangat bibir istrinya yang terdiam.
"Aku belum 48 jam aku mengenalmu, Nyonya Huxley, aku rasa aku sudah kembali jatuh cinta padamu," ujar Rain yang menggetarkan hati Bianca.
Bianca rasanya bercampur aduk, Rain nyatanya pria paling tak bisa ditebak, dua sisi sifatnya yang berlawanan membuat Bianca selalu harus menebak, apakah hari ini dinginnya lebih banyak dari hangatnya, atau malah hari ini membakar dirinya, Bianca lagi-lagi tersipu malu hingga tak bisa menahan tawa kecilnya.
"Kenapa tertawa?" Tanya Rain yang nyatanya juga ikut tertawa.
"Kau yang sekarang Malah banyak merayu," ujar Bianca.
"Aku rasa 14 tahun yang lalu, sifatku tak sekaku itu, lagi pula aku ingin kau menerima diriku yang sekarang, walau aku tak tahu sampai kapan ingatan ini bisa aku pertahankan," ujar Rain.
"Baiklah, aku senang dengan dirimu yang seperti ini, tapi jangan memintaku untuk menikah lagi ya," ujar Bianca sedikit bercanda.
"Ah, baru saja ingin aku tanyakan," kata Rain lagi.
"Benarkah?" Bianca tak percaya, harus berapa kali dia menikah dengan Rain.
__ADS_1
"Akan menjadi momen indah menikah di bawah salju yang jatuh," ujar Rain melihat salju mulai jatuh dari awan, Bianca mengerutkan dahinya.
"Aku rasa selain kehilangan memori, apa saat mandi tadi kepalamu juga terbentur, Rain yang ku kenal tak pernah seperti ini," ujar Bianca.
"Aku Rain mu yang lain," ujar Rain.
Bianca tertawa lepas, Rain yang lain, apakah setiap kali Rain kehilangan ingatannya dia akan menjadi Rain yang lain? Itu artinya Bianca harus siap menerima setiap Rain yang lain sepanjang hidupnya. Mereka habiskan waktu cukup lama menikmati salju turun dengan berduduk di es itu, menikmati pemandangan sendu sambil saling berkait tangan, jika akhirnya seperti ini, Bianca siap untuk Rain-Rain yang lainnya dengan cerita yang lain.
---***---
4 hari sudah Bianca habiskan dengan Rain yang berbeda, terasa menjadi warna baru bagi kehidupan mereka, Dokter Derian yang tiap hari memeriksa Rain pun tak menyangka ini akan menetap selama ini, padahal prediksi dengan dokter Derian dan Dokter Malvis bahwa Tuan Rain akan segera kembali setelah di kehilangan ingatannya, nyatanya mereka salah.
Ini hari terakhir mereka di sini sebelum kembali ke rumah mereka, seperti biasa makanan pagi itu harus Bianca yang menyiapkannya.
Bianca meletakkan makanan dan sup yang wajib ada di menu sarapan mereka selama disini, dia mendengar suara langkah kaki yang mendengat, lalu dia melirik ke arah suara itu terdapat, Bianca melihat suaminya yang segera mendekatinya, Bianca tersenyum manis menyapanya.
"Selamat pagi," ujar Rain, melingkarkan tangannya ke pinggang kecil istrinya dan secara mengejutkan mencium dahi Bianca..
Mendapatkan itu Bianca terdiam, sudah 4 hari kecupan rutinitas pagi hari saat Rain bangun itu tidak didapatkannya karena memang Bianca tak mengatakan bahwa kecupan itu tanda Rain masih mengingatnya.
"Rain?" Tanya Bianca yang melihat Rain sudah duduk tenang di kursinya, sehabis menyeruput sedikit kopi pahitnya.
"Ya? Dimana anak-anak, bukannya mereka ingin bermain salju bersama?" Tanya Rain menatap Bianca, Bianca mengerutkan dahinya dalam.
"Kita baru tiba semalam bukan?" Tanya Rain lagi dengan wajahnya yang serius, mendengar itu membuat Bianca menutup mulutnya kaget, ini Rainnya yang dulu? Dia pikir Rain akan selamanya seperti yang kemarin hingga hilang ingatan Kembali, tak berpikir pria ini malah bisa kembali lagi seperti sebelum kehilangan memorinya.
"Ada apa?" Tanya Rain melihat wajah Bianca yang kaget.
"Rain, kita sudah ada di sini 4 hari, ini hari terakhir kita, apa kau sama sekali tak ingat?" Tanya Bianca yang membuat mata Rain sedikit membesar, tak, dia tak ingat satupun dalam 4 hari ini, dia hanya ingat kemarin mereka sampai dan hari ini dia akan bermain dengan anak-anaknya.
Dokter Derian segera memeriksa keadaan Rain yang "normal" tapi dokter Derian sendiri merasa aneh dengan hal ini, seolah Rain dan Rain yang hilang ingatan tak saling berhubungan.
"Bagaimana?" Tanya Rain datar.
"Tak ada tanda yang salah, semua memang harus memerlukan pemeriksaan yang intensif," kata Dokter Derian.
"Setalah pulang aku setuju untuk CT-scan," kata Rain, jika Rain yang ini tentu dia setuju, dia harus tahu penyebabnya, dia merasa frustasi kehilangan walau hanya 4 hari dengan keluarganya.
Rain menatap ke arah Bianca, menarik istrinya itu cepat untuk masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Bianca hanya diam, bingung harus mengatakan apa, dia bukan tak senang Rain yang ini sudah kembali, tapi Rain yang itu pun sudah membuatnya nyaman, sejujurnya mereka sama saja.
Rain membiarkan Bianca ada di sana sambil dia memeriksa beberapa tulisan yang ternyata ditinggalkan oleh Rain yang lain selama 4 hari ini, Rain mengerutkan dahinya membaca momen momen bahagia yang seharusnya menjadi kenangannya, yang terampas darinya secara paksa oleh siapapun Rain yang menulis ini. Rain rasanya tak senang dan cukup marah, tapi dia tak tahu harus marah pada siapa? Tak mungkin pada Bianca Karena ini jelas bukan salahnya, ini memang kondisinya.
Cukup lama Rain terdiam yang membuat Bianca menjadi kasihan namun juga bingung harus mengatakan apa, pria ini pasti syok, ini liburan pertama mereka tapi dia tak bisa sedikit pun mengingatnya.
"Katakan padaku selain ini apa yang kalian lakukan?" Tanya Rain, kepakan tangannya tampak jelas.
Bianca mengerutkan dahinya? Kalian? Kata-kata itu seolah mengindikasikan Bianca dengan pria lain, padahal dia bersama Rain.
"Maksudmu?" Tanya Bianca bingung.
Rain mencoba menahan dirinya, dia juga bingung harus bersikap apa, tapi rasanya dia tak rela 4 hari itu dia jadi orang lain.
"Apa kalian tidur bersama?" Tanya Rain lagi kali ini bangkit dan mendekati Bianca dengan wajah yang sedikit menyeramkan.
Bianca tentu kaget dengan pertanyaan Rain, dia menggigit bibirnya, apalagi melihat wajah marah Rain, bagaimana? Toh itu juga Rain.
Melihat wajah dan mata Bianca yang ketakutan, entah kenapa Rain bisa menyimpulkan hal itu, dia tampak tambah frustasi tapi ingin marah dan menyalahkan Bianca pun tak bisa, kenyataannya Rain merasa tak rela Bianca tidur dengan Rain yang lain baginya itu sama seperti tidur dengan pria lain karena dia sama sekali tak mengingatnya, tapi Bianca tak salah, itu juga dirinya.
"Jangan pernah tidur dengan ku jika aku tak bisa mengingatnya," kata Rain mencoba meredam amarahnya.
"Tapi kau pemaksa sekali saat itu," ujar Bianca polos yang seketika membungkam Rain, dia tahu dirinya, dia tahu bagaimana dia saat dia menginginkan sesuatu, Bianca mungkin bisa menolak, tapi jika dirinya sendiri yang memaksa, Bianca bisa apa? Pasti kekuatannya jauh lebih besar.
Rain tampak lebih frustasi, dia lalu kembali ke meja tempat tabletnya berada.
"Aku akan menulis untuk melarang hubungan suami istri saat aku lupa ingatan," kata Rain sedikit serius.
Bianca mengerutkan dahinya namun sekaligus merasa lucu tentang itu, itu Rain sendiri dan sekarang dia kelabakan karena pernah melakukannnya, kenapa Bianca merasa jadi punya 2 suami sekarang.
"Kenapa tertawa? Apakah dia lebih baik dariku?" Tanya Rain yang masih dikuasai cemburu, dia takut Bianca lebih menyukai dirinya yang lain dari pada dirinya yang ini.
"Bukan, hanya saja ini terasa lucu, kau melarang dirimu sendiri, bukankah itu terasa sedikit lucu, lagi pula dia tetap kau, dan kau adalah kau, kau adalah Suamiku, baik kau ingat atau tidak," kata Bianca mendekati Rain, mencoba menenangkannya dengan sentuhan tangannya pada wajah Rain.
Mendapatkan perkataan lembut, sentuhan yang hangat itu membuat Rain segera teredam amarahnya, dia menarik napas panjang dan dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Ini sangat tak adil, aku tak ingat apapun padahal ini adalah momen yang ku tunggu," kata Rain mengadu, kesal sebenarnya ingatan indah ini terenggut darinya.
"Lihatlah, kau benar-benar dia, perkataan kalian sama persis, dia juga mengatakan hal itu, ingat atau tidak dia adalah dirimu, lagi pula kalian tak berbeda, kau tetap menyayangi si kembar, memberikan yang terbaik bagiku dan mereka, dia tetap dirimu, walaupun kau tak mengingatnya," kata Bianca membiarkan suaminya meletakkan kepalanya pada perutnya.
__ADS_1
"Baiklah," ujar Rain mencoba berdamai, walaupun sejujurnya dia tak rela, masih panas membayangkan enak sekali pria itu menggantikan dirinya.
Rain memutuskan untuk menunda kepulangan mereka hingga malam hari, dia habiskan waktu yang tersisa untuk berjalan-jalan sejenak dengan keluarganya, mencoba menggantikan momen 4 hari yang terenggut darinya, walaupun sejenak, setidaknya dia punya memori tentang perjalanan pertama mereka.