
Bianca duduk di ruang tengah bangunan utama, tangannya mengenggam erat ponsel satelit yang di berikan oleh Rain untuknya, sesekali dia merasa ponsel itu bergetar, namun ternyata tak ada apapun, sudah hampir 3 jam, tapi bahkan Ken pun tak ada memberikan kabar padanya.
"Selamat siang Nona Bianca," ujar seorang wanita yang langsung memberikan hormat pada Bianca, Bianca melihat wanita itu, dia mengerutkan dahinya, memperhatikan penampilan wanita yang menggunakan setelan formal abu-abu gelap di depannya, tersenyum sangat sopan membuat Bianca sedikit sungkan.
"Nama saya Chayuri, Anda bisa memanggil saya Yuri, saya ditugaskan oleh Tuan Ken berdasarkan permintaan Tuan Rain sebagai asisten pribadi Anda, Maafkan saya membuat Anda menunggu lama, saya harus menyiapkan semua keperluan Anda dan membawanya kemari, Saya sudah menyiapkan beberapa pakaian, tas, sepatu, dan make-up berbahan natural, jika ada yang ada rasa kurang, silakan katakan pada saya, saya akan segera menyiapkan segalanya," ujar wanita yang rambutnya ditata sedemikian rupa agar terlihat begitu profesional.
"Oh, aku rasa itu sudah cukup," kata Bianca yang kaget dengan semua yang baru saja dikatakan oleh Yuri, apakah semuanya memang diminta oleh Rain?
"Nona tidak ingin menunggu di kamar saja, kamar Anda sudah kami siapkan," ujar Yuri lagi ramah.
"Ehm, ya, baiklah," kata Bianca berdiri, dia lalu mengikuti kemana Yuri pergi.
Yuri segera membuka salah satu pintu kamar tamu yang ada di sana, Bianca langsung masuk, dia melihat ruang tidur tamu yang biasanya kosong hanya ranjang dengan warna monoton tiba-tiba berubah menjadi lebih hidup, gordennya diganti dengan warna krim dan pink, seprainya pun sudah diganti dengan warna senada, karpetnya diganti dengan karpet berbulu berwarna kream, beberapa permak pernik yang lain juga ditambahkan. Bahkan Bianca tak menyangka dia akan punya kamar sebagus ini. Memang kamar di tempat Drake pun besar, namun kamar itu suram dan remang, bahkan setiap kali Bianca tidur di sana, rasanya hanya seperti tidur di kamar penyiksaan.
"Bagaimana Nona Bianca, apa anda suka?" tanya Yuri yang puas dengan wajah Bianca yang terlihat terpukau.
"Ya, saya suka," ujar Bianca masih tak percaya.
"Di sini ada beberapa gaun, baju, juga pakaian lainnya, Tuan Ken mengirimkan foto Anda dan saya menebak ukuran baju Anda, maafkan saya jika tak terlalu sesuai dengan gaya dan kesukaan Anda, namun jika memang begitu, katakan saja yang Anda suka maka saya akan menyiapkannya," kata Yuri membuka lemari yang besar di samping tempat tidurnya.
"Tidak ini sudah cukup sekali, terima kasih," ujar Bianca yang sampai heran, dia belum pernah punya baju sebanyak ini.
"Di kamar mandi sudah tersedia semua keperluan mandi Anda, make-up anda sudah tersusun di meja rias. Tas, sepatu dan aksesoris yang lain ada di lemari sebelahnya, Saya menyalakan aroma terapi berbau Vanila, saya rasa Anda akan suka," kata Yuri lagi seolah seorang sales marketing yang sedang menunjukkan barang-barang andalannya. Bianca bisa mencium bau lembut nan manis yang menenangkan mengitari seluruh ruangan itu.
"Ya, baiklah," kata Bianca malah bingung dengan semua ini.
"Saya akan selalu ada di depan ruangan Anda, jika Anda butuh sesuatu, seperti ingin makan sesuatu, maka katakan pada saya, saya akan menyiapkan semuanya untuk anda," kata Yuri lagi.
"Ehm, apa ini tidak berlebihan?" ujar Bianca yang benar-benar belum terbiasa dengan kemewahan ini.
__ADS_1
"Tidak, Tuan Rain pasti ingin wanitanya hidup dengan nyaman, jadi saya rasa ini tidaklah berlebihan mengingat siapa Tuan Rain, bahkan ini tergolong sederhana Nona," ujar Yuri dengan senyuman lebarnya.
Bianca tertegun, dia sebenarnya hampir tak mendengar perkataan Yuri setelah kata-kata 'wanitanya'.
Entah kenapa kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya dan membuat hatinya bergetar, Apa Rain menganggapnya wanitanya? bagaimana bisa? apa Rain ....? ah, rasanya tak mungkin, Rain mungkin hanya kasihan, ya, seperti kata Ken, Rain hanya kasihan dan punya rasa tanggung jawab terhadapnya, selebihnya, Bianca tak ingin terlalu berharap, jika berharap pastinya akan sakit, apalagi untuk seorang Rain, bahkan dia bisa dapat wanita yang lebih dari pada Bianca yang sudah tak punya apa-apa.
"Nona, saya permisi dulu," kata Yuri memecah lamunan dari Bianca.
"Oh, iya, terima kasih," ujar Bianca.
Bianca melihat Yuri keluar dari kamarnya, perlahan dia kembali melihat kamarnya yang luas, suasana nyamannya benar-benar terasa.
Bianca meletakkan ponsel satelit itu, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena rasanya dia sudah bau muntahan, Bianca sekali lagi terkesima dengan apa yang ada di dalam kamar mandinya, handuk putihnya yang tebal, jas mandinya, bahkan alat-alat dan keperluan mandinya yang tertata rapi, beberapa lilin aroma terapi sudah terbakar, wangi bunga mawar itu menyeruak di dalamnya, membuat orang semakin betah di dalamnya.
Bianca tak lama merendam dirinya di dalam busa berbau lavender, setelah selesai dia segera memakai jas mandinya, melihat dirinya sendiri di kaca besar di sana, Bianca tersenyum manis, ya, cantik sekali terlihat.
"Halo? Ken? apa Tuan Rain sudah sampai?" cerca Bianca yang terlalu bersemangat, berjam-jam menunggu baru kali ini dia mendapatkan kabar mereka.
"Kau lebih suka Ken yang menelepon dari pada aku?" suara dingin yang sedikit berubah di ponsel itu terdengar namun masih bisa ditebak milik siapa suara itu. Bianca langsung terdiam.
"Bukan, aku kira ini dari Ken, kau yang mengatakan Ken yang akan mengabari," tungkas Bianca memberikan alasan kenapa dia mengatakan nama Ken.
"Lain kali lihatlah siapa yang meneleponmu," kata Rain lagi terdengar jauh lebih dingin, Bianca hingga menggigit bibirnya.
"Baiklah, maafkan aku," ujar Bianca dengan nada lemah, membuat Rain di sana mengerutkan dahinya, kenapa harus minta maaf, Rain hanya memberitahunya.
"Aku sudah sampai dari tadi, kami harus mengurus sesuatu lalu aku ingat permintaanmu untuk mengabarimu," ujar Rain lagi sambil melihat seluruh pemandangan kota dari dinding kacanya.
"Itu bagus sekali, aku senang mendengarnya."
__ADS_1
"Kau senang mendengar kabarku sudah sampai? atau kau senang mendengar suaraku?" kata Rain yang tiba-tiba terdengar menggoda.
"Ha?" Bianca kaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari Rain itu, merasa seperti ini bukan Rain yang kaku dan dingin, kenapa malah melemparkan pertanyaan yang bahkan membuat Bianca jadi bingung menjawabnya, bahkan dia tak tahu entah dia senang karena mendengar kabar Rain sudah sampai dengan selamat atau malah kenyataannya Rain sendiri yang meneleponnya. Pria ini jika bertemu dan telepon ternyata berbeda sekali.
"Lupakan saja, aku harus pergi untuk pekerjaan lain, aku akan meneleponmu lagi, jangan sampai tak menjawabnya," kata Rain lebih seperti perintah Tuan ke anak buahnya.
"Baiklah, selamat bekerja," kata Bianca, mulai manja terdengar, seperti saat Bianca dan Rain dulu ada di hutan.
Rain menaikkan kedua sudut bibirnya, senyumannya sudah cukup jelas dan lebar terlihat, namun dia tak menjawab apa-apa, lalu mematikan ponselnya, dengan cepat berdiri dan pergi dari sana.
Ternyata Bianca pun sama, senyumnya mengembang dan rasanya dia ingin melompat-lompat bahagia, rasanya begitu senang, pria itu meneleponnya, bahkan dia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang begitu empuk itu.
Senyum dan binar matanya begitu bahagia, dia meletakkan ponsel itu di dadanya, dia bisa merasakan detak jantungnya yang berburu tak karuan namun dia menyukainya, dia melihat langit-langit kamarnya yang berhiaskan lampu gantung kristal yang indah.
Tawanya perlahan pudar, sorot matanya yang berbinar berubah mulai tampak menyuram, apakah dia jatuh cinta dengan Rain? Bagaimana bisa dia jatuh cinta dengan pria itu? Bukankah itu sangat tak pantas? Dia hanya seorang wanita yang bahkan harga dirinya saja sudah tak dia miliki, Rain ... pria yang terlalu tinggi untuk digapai wanita bekas seperti dirinya.
Bianca hanya bisa diam, menatap langit-langit kamarnya lama, pikirannya terbang jauh, dia harus membunuh perasaan ini sebelum makin berkembang dan melukai dirinya,
Bodoh Bianca! kenapa harus jatuh cinta? kau tak punya hak mencintai pria mana pun di dunia! ya, kau tak berhak! pikirnya melanyang kemana-mana.
----------------
Dua Dulu ya kak! besok kita lanjut!
Terima kasih dukungan, Like, komen yang selalu ku cek tiap menit, walau ga bisa aku balas satu, sama Votenya, aku senang sekali! makasih banyak ya, doaku untuk para pembaca.
Sehat selalu, diberkahi selalu dan semoga selalu dalam perlindungan-Nya, Plus Rezekinya berlimpah.
Amin!!!
__ADS_1