
Bram berwajah keras, dia tak bisa lagi berkutik, akhirnya akal sehatnya kembali lagi, rasanya jika dia paksakan pun, dia pasti akan tewas dalam pertempuran ini dan dia tak akan pernah bertemu lagi dengan Bianca dan anaknya.
Jika dia bertahan hidup, di dunia ini dia pasti bisa bertemu kembali dengan Bianca setidaknya mengawasinya dari jauh, walaupun hatinya masih tak bisa mengikhlaskan, namun apa yang bisa dia lakukan? jika memang Bianca sudah mengetahui siapa dia sebenarnya, rasanya bagaimanapun dia mencoba menahlukan hati Bianca, dia tak akan bisa lagi memenangkan hati wanita itu.
"Jadi apa mau kalian?" Tanya Bram dengan menekan giginya, mengeraskan rahangnya mencoba menahan emosi dan egonya. Dia menurunkan tangannya sambil menjatuhkan pistolnya, dengan begitu Antony dan Ken pun menurunkan tangan mereka walau tak menjatuhkan senjata api mereka.
"Sudah ku katakan, aku tak punya masalah apapun denganmu, masalahnya hanya dengan dirimu, Antony dan Ken yang sudah kau bohongi selama ini, karena itu aku rasa aku akan memberikan waktu untuk kalian menyelesaikannya," kata Rain lagi dia mengambil ponselnya yang ada di meja kerja Lidia, "Antony setelah ini kembali ke Apartemen, Ken, temui aku juga di sana," kata Rain yang seperti tanpa masalah berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
"Kau benar-benar ingin melepaskan ku begitu saja? Kau tak takut suatu saat aku akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan kembali Bianca dan anak-anakmu?" Kata Bram lagi yang membuat Rain terhenti.
"Sejujurnya aku bisa membunuhmu dengan mudah saat ini, ruangan ini penuh dengan orang-orangku, penembak jitu sudah membidik kepalamu dari saat kau masuk ke ruangan ini, tapi aku yakin Gio pasti akan sangat sedih jika dia tahu pamannya sudah tak ada lagi di dunia ini, aku hanya tak suka ada yang membuat anakku sedih, itu saja," kata Rain dengan sangat santai, Bram mendengar itu hanya diam menatap punggung pria itu pergi dan keluar dari ruangan itu.
Antony mendekati Bram yang baru melihat ke arahnya, tanpa aba-aba pun Antony langsung memberikan pukulan telak di pipi Bram hingga Bram tersungkur.
Antony mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit karena dia memukulnya sangat keras penuh tenaga melampiaskan semua emosinya yang terpendam selama ini karena pukulan itu bibir Bram langsung berdarah.
"Sial! Pipimu keras sekali, giliran mu Ken!" umpat Antony masih kesal melihat Bram.
Ken menarik kerah baju Bram yang masih dalam posisi terduduk karena pukulan Antony, Ken menarik Bram hingga berdiri, saat Bram sudah bisa berdiri tegak, Ken segera meluncur kan pukulan yang juga langsung membuat Bram tersungkur, pukulan itu sama kerasnya, hingga membuat kepala Bram pusing dan telinganya berdengung, namun dia hanya tersenyum menerima pukulannya itu.
__ADS_1
"Lihatlah begitu gilanya dia sekarang gara-gara cinta! Kau mengorbankan aku temanmu hanya untuk itu semua! Kau Gila!" Kata Antony kesal, namun dia melihat Bram yang hanya geleng-geleng kepala, sama saja seperti cara mereka menyelesaikan masalah dulu.
Antony menjulurkan tangannya, Bram melirik ke arah Antony, dengan sedikit senyuman Bram menggapainya, Antony menarik temannya itu dengan kuat hingga Bram langsung berdiri di depannya.
"Carilah wanita yang benar-benar bisa kau cintai, jangan sekali-sekali mencoba merebut milik orang lain, untung saja kau tak berakhir seperti Lidia, kau tak akan sanggup melihat bagaimana dia mati dibuat oleh Tuan Rain, aku harap tak ada dihatimu untuk kembali bermain api," nasehat Antony menatap wajah Bram yang memerah dan bibirnya yang sobek. Bagaimana pun dia tahu pria ini, keras kepala memang, berkemauan keras, tapi sebenarnya dia orang yang sangat baik, jatuh cinta pertamanya benar-benar salah sasaran dan menghantamnya keras, namun apa menariknya Cinta tanpa bumbu patah hati, dan Antony yakin, temannya ini bisa merelakannya.
"Bram! Lepaskan lah, tugasmu sudah selesai, tugasmu hanya untuk membuat Nyonya dan anaknya aman, maka lepaskan, ada yang lain untukmu," kata Ken menepuk bahu tegap temannya itu, membuat Bram hanya menatap ke arah Ken. Bagaimana bisa melepaskan cinta begitu mudah? orang bilang jika melihat cinta kita bahagia, kita pun turut bahagia, apakah Begitu? karena membayangkan Bianca bersama Rain dan anak-anaknya berkumpul saja sudah membuat hati Bram sakit.
"Jika aku dengar kau berulah lagi, maka aku yang pertama akan mengurusmu! Percayalah, akan ku buru kau seumur hidupku!" Kata Antony dengan wajah keras dan seriusnya.
"Jangan terlalu terobsesi padaku," ujar Bram.
"Bisa kau atur agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh dan berat?" Kata Bram menatap ke arah Antony.
Antony mengangguk pelan, dia tahu Bram hanya ingin membuat dirinya sibuk hingga perlahan bisa melupakan semua ini, "aku akan mencarikan mu pekerjaan itu secepatnya."
"Jagalah mereka untukku, jangan sampai ada yang memisahkan mereka kembali," kata Bram menatap ke arah Ken.
"Aku akan melakukannya," kata Ken.
__ADS_1
"Ayo, kita sudah lama tak lama berkumpul, kita minum, sejujurnya aku masih sangat kesal padamu! bagaimana bisa kau membuat aku jadi tokoh penjahat selama 4 tahun ini, fitnah itu sangat kejam Tau!" ujar Antony, memukul kecil ulu hati Bram, namun cukup terasa bagi Bram. Jelas sekali Antony masih marah padanya.
"Sejujurnya pukulan kalian sakit sekali," ujar Bram menggoyangkan rahangnya, sakit, tapi tak sesakit hatinya, bibir bisa tersenyum, namun hati tak bisa dipungkiri, tapi mungkin benar dia harus merelakan.
---***---
Rain berjalan keluar, sebenarnya bukan sifatnya saat ini untuk memberikan maaf, dia tentunya ingin sekali memberikan pelajaran untuk Bram karena sudah melakukan hal itu, memisahkannya 4 tahun dari istri dan anaknya, bukankah itu juga sangat jahat.
Namun Antony dan Ken terus meminta keringanan untuk Bram, mereka cukup yakin semua ini dilakukan intinya hanya agar Bianca dan anak-anaknya selamat, terlepas akan perasaan pria itu pada Bianca, tapi untunglah Ken memberikannya pemikiran bahwa yang terpenting adalah Bianca tak pernah merespon perasaannya, jika Bianca merespon pastinya Bianca tak akan lagi mau meninggalkan Bram.
Lagipula, selain menimbang permintaan Ken dan Antony, Rain merasa keadaannya semakin buruk, sakit di kepalanya semakin menjadi, bahkan setelah meminum obat penahan nyeri, sakit itu cukup menyiksa dirinya, saat tadi dia bisa bersikap seperti
Itu, itu benar-benar sudah dia paksakan.
Rain segera masuk ke mobilnya yang dibukakan oleh Rio, beberapa kali dia terhuyung saat berjalan keluar karena menahan sakitnya, saat dia di dalam mobil dia segera menutup matanya.
Cairan hangat ikut kembali keluar dari hidungnya diikuti sakit yang luar biasa, Rain bahkan harus meremas tangannya, menahannya hingga tak sanggup lagi, dia akhirnya mengerang membuat Rio dan supir itu kaget, suara erangan itu seperti menahan hal yang sangat.
"Tuan!" Kata Rio kaget, dia segera mengarahkan tubuhnya ke Rain yang ada di belakang, darah kental kembali membasahi hidung dan turun hingga jatuh.
__ADS_1
Namun Rain tampaknya tak bisa bertahan lebih lama, dia hanya bisa mendengar suara Rio yang memanggilnya, cahaya di sana terasa memudar dan semuanya tiba-tiba saja gelap dan dia tak bisa melakukan apapun lagi.