Rain In The Winter

Rain In The Winter
170


__ADS_3

"Apa maksudmu?" tanya Bram, dia mengernyitkan dahinya, dihatinya bertanya-tanya apakah Lidia sudah memberitahukan semuanya pada pria ini sebelum Rain membunuhnya.


"Ayolah, jangan bertingkah seolah kau tak tahu maksudku, aku sudah tahu semuanya," kata Rain lagi.


"Apa Lidia sudah memberitahukan semuanya padamu?”


"Tidak, bukan Lidia," kata Rain mematikan rokoknya pada asbak kristal di dekatnya, dia lalu menatap tajam pada Bram, "Bukannya kau langsung yang mengatakannya padaku.”


"Jangan bercanda! Aku tak akan melakukan hal itu.”


"Tapi sayangnya kau yang melakukannya, saat itu kau terlalu mabuk untuk bisa mengingatnya, bagaimana perasaanmu saat melihat aku dan Bianca bersama di mobil pada malam itu? aku rasa kau benar-benar patah hati," kata Rain menaikan sudut bibirnya, terlihat sebuah senyuman yang licik dan sinis.


Bram menggertakkan giginya dengan erat hingga rahangnya terkesan kaku, tangannya gemetar karena menahan emosi yang sangat, tangannya sudah siap untuk menekan pelatuk pistol itu, dia ingat tentang pemandangan malam  yang membakar dirinya sampai dia tak bisa mengontrol dirinya, pria itu? apakah Rain? Tapi koordinat dirinya bukan di pulau itu, bagaimana dia bisa lalai dan tak berpikir Rain bisa saja ada di sana.


"Jadi kau yang membuat semua ini? kau yang membuat mereka pindah dari pulau itu dan menjebak Lidia agar aku bisa ke sini dan tak menyusul mereka ke sana," kata Bram memastikan apa yang ada di pikirannya.


"Akhirnya kau bisa menyadari, sedikit terlambat menurutku untuk agen rahasia seperti dirimu," kata Rain.


"Kenapa kau lakukan hal seperti ini?"

__ADS_1


"Tentu untuk memastikan kesalamatan dari istri dan anakku, aku hanya ingin mereka selamat dari dirimu dan Lidia pastinya, aku harus menyelesaikan masalah satu persatu, Lidia sudah selesai, sekarang hanya tinggal dirimu, sikapmu yang akan menentukan akhir dari semua ini," kata Rain lagi menatap ke arah Bram, mendengar kata istri dan anak itu membuat Bram semakin emosi.


"Lalu Kau ingin apa denganku? kau ingin meleyapkan aku juga seperti Lidia?" tanya Bram yang masih dengan posisinya.


Rain menatap pria itu yang begitu tampak emosi, dia berdiri membuat Bram siaga untuk terus membidiknya mengikuti setiap langkahnya dengan bidikan pistolnya.


Dengan santainya Rain segera keluar dari meja kerja Lidia, berjalan mendekat ke arah Bram, Bram terlihat begitu gugup didatangi oleh Rain yang membawa aura menekan dan mencekam, tapi pria itu dengan gayanya malah berdiri di dekat ujung pistol Bram, seolah tak takut atau malah menantang Bram.


"Bukannya dari tadi kau yang membidik ku?" kata Rain dengan suara beratnya, Bram menyipitkan matanya, dia merasa Rain sedang memaikan psikologisnya.


"Aku yakin kau pasti ingin menyingkirkan ku, tapi aku tak akan gentar, aku tak akan menyerah untuk mendapatkan Bianca," kata Bram dengan sorot mata dalam.


"Aku tidak akan menyingkirkanmu, aku malah ingin mengucapkan terima kasih sudah menjaga istri dan anakku selama ini, aku juga memaklumi apa yang kau lakukan, kau pasti hanya ingin menjaga istriku dari Lidia, aku mengerti itu," kata Rain menerangkan.


Bram mengerutkan dahinya menatap ke arah Rain yang malah membuatnya terkejut karena apa yang baru dikatakan pria ini, bagaimana bisa pria ini malah berterima kasih pada dirinya, bukannya dia tahu bahwa Bram juga ingin menjauhkan Bianca dan anak-anaknya dari Rain dan juga dia menyukai Bianca dan ingin mendapatkannya?


"Aku juga memaklumi tentang kau ingin menjauhkan Bianca dariku, tentu itu karena perasaanmu padanya, siapapun akan menginginkan wanitanya hanya untuk dirinya, karena itu memang sudah naluri kita, jadi aku tidak akan marah padamu, lagi pula aku tahu, bagaimana pun Bianca  yang memutuskan kemana hatinya membawa dirinya," kata Rain.


Bram mengerutkan dahinya lebih dalam, dia bingung dengan apa yang sudah dikatakan oleh Rain ini, dia berpikir Rain akan sangat marah mengetahui tentang pengkhianatan yang dia lakukan, tapi pria ini malah tampak mengerti tentang hal ini, apakah ini semua jebakan?

__ADS_1


"Aku tak akan tertipu dengan dirimu, aku tahu sifat aslimu, Mereka pasti bisa menerimaku, 3 tahun ini aku yang selalu ada untuk mereka di saat bahkan batang hidungmu pun tak ada, aku yang selalu menjaga mereka dari apapun, aku yakin mereka pasti menerima diriku," kata Bram masih tetap kukuh dengan keinginannya.


"Kau yakin, bahkan setelah dia tahu bahwa selama ini kau lah yang menjauhkannya dari diriku juga Siena dan Ken? Apa menurutmu dia masih percaya? " kata Rain lagi.


Bram seperti mendapatkan sambaran petir dengarkan kata-kata Rain, benarkah Bianca sudah tahu apa yang dia lakukan?


"Lagi pula selama 3 tahun ini apakah menurutmu Bianca menerima dirimu? Aku dan Bianca sudah kembali bersama, kami saling mencintai dan itulah yang membuat kami kembali bersama, lagi pula darah lebih kental dari pada air, bagaimana pun kau menggantikan diriku, aku adalah ayah kandung mereka," ujar Rain dengan serius namun tenang.


"Tidak jika kau tidak ada di dunia ini lagi," kata Bram yang sudah tertutup oleh amarahnya, dia perlahan ingin menekan pelatuk dari pistolnya sebelum tiba-tiba dia sadar ada sebuah bidikan laser yang tepat ada di kepalanya.


Bram melihat ke arah laser itu muncul, dari salah satu sisi gelap ruangan itu, perlahan dia melihat sosok yang memegang senjata api laras panjang itu keluar, wajah pria itu keras, seolah dia juga punya emosi yang terpendam padanya. Antony siap membidik Bram.


"Jika ingin menumpahkan darah maka kita akan melakukannya," ujar Antony, matanya pun setajam elang menatap ke arah Bram.


"Aku tak punya masalah denganmu Antony," ujar Bram pada Antony.


"Sebenarnya menurutku, kau dan Antony lah yang memiliki masalah mengingat 4 tahun ini kau menjual namanya sebagai orang yang sangat berbahaya, Bagiku kita tak punya masalah dan aku tak merasa bersaing denganmu, bagaimanapun Bianca adalah istriku, Gio dan Gwi adalah anakku," kata Rain dengan sangat santai, tak gentar melihat senjata yang saling mengacung itu.


"Kalau memang harus menumpahkan darah demi mereka, ayo kita lakukan!" Kata Bram, masih belum bisa meredam rasanya, dia belum bisa membayangkan Bianca dengan Rain, rasanya dia benar-benar tidak rela, 3 tahun ini dialah yang memberikannya semua, tapi kenapa? Hanya dengan waktu hanya sesaat, Bianca menerima kembali pria ini.

__ADS_1


"Kalau begitu, kau benar-benar sudah menjadi ancaman untuk semuanya, aku tak akan membiarkan kau masuk ke negara itu," suara Ken terdengar, dia muncul di belakang Bram dengan pistol yang mengarah ke kepala Bram, Bram tentu kaget dengan kedatangan Ken, 2 pistol sudah mengarah ke arahnya. Melihat wajah teman-temannya yang menatapnya tajam dan juga serius, Ken dan Antony pastilah tak main-main.


__ADS_2