Rain In The Winter

Rain In The Winter
120.


__ADS_3

"Nona, laba-laba sudah terjebak di sarangnya," ujar Asisten Lidia melaporkan.


"Ya, aku sudah tahu, dia pasti akan terjebak, bagaimana CCTV-nya, sudah di manipulasi?" Tanya Lidia menatap ke arah pemandangan yang terhampar di depannya, dia lalu meminum Champagne yang ada di tangannya, semua rencananya berjalan sempurna, dia hanya butuh waktu agar Mereka tak mengusik Rain selama dia dalam masa pemulihan nanti. Mengisolasi Ken di penjara adalah solusinya


"Sudah Nona," kata Asistennya itu.


"Bagus sekali, satu lagi, sejak saat ini kau harus memanggilku Nyonya," ujar Lidia dengan wajah sumringahnya.


"Baik Nyonya," ujar Asistennya itu sambil sedikit menunduk, memberikan sedikit gestur hormatnya.


"Nyonya, Tuan sudah sadar," ujar Seorang dengan pakaian perawat datang mengatakan berita itu pada Lidia.


"Benarkah? Baik aku akan ke sana," ujar Lidia dengan senang, dia memaksa dokter untuk melakukan percobaan terakhir itu tadi malam, awalnya dokter menolak namun karena Lidia terus memaksanya akhirnya dia melakukannya, dan tak dinyana, percobaan terakhir ini sukses, itu menurut Dokter tersebut dan pagi ini dokter itu membuat langkah untuk membangunkan Rain, tak di sangka Rain dengan cepat bisa sadar.


Lidia berjalan dengan wajah sumringah, di tangannya terdapat nampan bubur dan juga minuman untuk Rain, menurutnya pria itu pasti kelaparan dan juga merasa haus, sudah beberapa hari dia tak makan dan minum.


Lidia membereskan rambutnya sejenak sebelum dia masuk ke dalam ruangan itu, dia lalu tersenyum sumringah melihat ke arah Rain yang sudah terduduk, wajahnya tampak bingung.


"Kakak!" Kata Lidia senang, dia segera mendekati pria yang segera memandangnya dengan tatapan tajamnya.


Rain baru saja bangun dari tidurnya, merasakan sakit kepala yang sangat hingga membuatnya hanya bisa terduduk, dia menatap ruangan yang serba putih juga dengan banyaknya peralatan medis, apa dia sedang di rumah sakit?


"Kakak, kau mengenaliku?" Tanya Lidia dengan wajah simpatinya, dia duduk di sisi ranjang, menghadap Rain.


Rain mengerutkan dahinya, dia menatap menganalisa wajah manis di depannya, tentu dia ingat siapa di depannya ini.


"Lidia?" Kata Rain menatap ke arah Lidia.

__ADS_1


"Akhirnya kakak bangun juga?" Kata Lidia memeluk Rain, Rain yang dipeluk itu hanya diam saja, Lidia tersenyum manis, eksperimen ini tentunya berhasil, jika tidak, Rain pasti sudah berontak dipeluk olehnya.


Lidia lalu mengurai pelukannya, melihat wajah Rain masih tampak bingung dengan semuanya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rain menatap Lidia.


"Apa yang terakhir kakak ingat?" Tanya Lidia menatap ke arah mata Rain, mata Rain tampak bergerak, kepalanya sakit memikirkan apa yang terakhir dia ingat.


"Hanya terakhir kali kita makan siang bersama di Italia, selanjutnya aku tak ingat apa-apa," ujar Rain.


"Italia, itu sudah lama sekali, 10 tahun yang lalu," ujar Lidia pura-pura terkejut, ternyata dokter itu benar-benar melakukan apa yang harus dia lakukan. Ingatan Rain hilang 10 tahun ke belakang.


"Benarkah?" Tanya Rain bingung.


"Ya."


"Kakak masih ingat dengan wanita yang kakak cari seumur hidup kakak? Kakak ingin balas dendam padanya?" Kata Lidia.


"Ya! Apa yang terjadi?" Gebu Rain, tentu dia ingat, wanita itu tujuan dirinya untuk hidup, dia harus membunuhnya.


"Kakak sudah berhasil melakukan pembalasan dendam padanya dan membunuhnya, namun konsekuensinya kakak mengalami kecelakaan sehingga kakak kehilangan memori kakak, kakak kehilangan ingatan 10 tahun kakak," ujar Lidia menjelaskan dengan wajah sedih nan simpati, tak ingin Rain kembali sibuk dengan hal-hal pembalasan dendam dan kembali bertemu cinta pertamanya itu.


Rain mendengarkan itu mengerutkan dahinya, masih tak percaya dengan apa yang baru dia dengarkan, tapi dia benar-benar tak ingat apapun. Apakah benar dia sudah berhasil membunuhnya? kenapa saat ini malah dia tak bisa merasa puas karenanya, padahal dulu dia kira dia akan bisa tidur tenang setelah melakukan balas dendam.


"Kakak, makanlah, kau harus memulihkan keadaanmu," kata Lidia memberikan sesuap bubur pada Rain, Rain menaikan satu sudut bibirnya, dia lalu membuka mulutnya, memang terasa cukup kosong dalam lambungnya. Lidia senang sekali akhirnya dia bisa melakukan hal ini lagi pada Rain.


"Kakak, kalau begitu kau juga lupa tentang kita?" Kata Lidia dengan suara kecilnya.

__ADS_1


"Kita?" Tanya Rain mengerutkan dahinya, apa yang terjadi antara dirinya dan Lidia.


"Kita sudah menikah," kata Lidia, menunjukkan jari manisnya yang di hiasi cincin pernikahan.


Rain tentu kaget, matanya membesar melihat wajah manis itu, ada sedikit senyuman namun wajah sedih juga tersirat. Rain melihat jari manisnya, sebuah cincin terlihat, dia membukanya lalu melihat nama Lidia ada di dalamnya.


Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia menikahi adik angkatnya sendiri, sejauh yang dia ingat, dia bukan pria yang bisa mengubah perasaan, jika dia sudah menganggap seseorang adalah adik atau keluarganya, maka dia tak akan merubahnya menjadi cinta, tapi apakah dia yang 10 tahun tak diingatnya itu menjadi orang yang berbeda? Tapi kenapa? Hatinya sama sekali tak merasakan apapun?


"Kau yakin?" Tanya Rain lagi tak percaya.


"Ya, aku punya sertifikat pernikahan, kakak ingin melihatnya?" tanya Lidia memegang tangan Rain, namun Rain merasa aneh, dia segera menarik tangannya.


"Maaf, kepalaku sakit, keluarlah dari sini," ujar Rain, rasanya terlalu banyak baginya yang baru saja siuman.


Lidia mengerutkan dahinya, bagaimana Rain masih bersikap seperti ini padanya, namun Lidia mencoba bersabar, pasti karena Rain juga syok dengan kehilangan memorinya, biarlah, setidaknya dia tak mengingat apapun tentang sosok wanita-wanita murahan yang dulu merebut hatinya.


"Hah, baiklah, aku akan keluar, tapi aku minta makan dan minumlah, kakak sudah lama tak makan dan minum," ujar Lidia dengan wajah kecewanya, meletakkan bubur itu di sisi tempat tidur Rain.


Rain hanya diam dan mengamati, dia melihat wanita itu berjalan menuju pintu kamar itu, dia merasa sedikit kejam pada adik angkatnya itu, bagaimana pun di ingatannya Lidia termasuk adik kesayangannya.


"Lidia, tunggulah sejenak, aku hanya belum terbiasa," ujar Rain, jika benar dia menikahi Lidia, perasaan wanita ini pasti sedih karenanya.


Lidia terdiam, awalnya dia tersenyum puas, kakaknya ini memang dari dulu memperlakukannya dengan begitu baik, dia lalu memutar tubuhnya sembari mengubah wajahnya menjadi wajah sedih, Lidia memang ratunya bersandiwara.


"Tidak apa-apa, aku mengerti kak, makan lah, aku akan tunggu di kamar kita saja," ujar Lidia dengan senyuman tipis namun wajah sedih, Rain mengerutkan dahinya, benarkah wanita ini yang dia nikahi?


Setelah Lidia keluar, Rain masih memutar-mutar cincin di tangannya, Rasanya sangat aneh, namun kepalanya benar-benar sakit hingga akhirnya dia kembali tertidur.

__ADS_1


__ADS_2