
Tubuh Bram terguncang yang membuat dia membuka matanya perlahan, kepalanya pusing sekali hingga dia harus memenganginya, dia melihat sekelilingnya yang sepi, dia kembali mengerjapkannya melihat sekeliling melihat bar tempatnya menghabiskan malamnya hanya saja sudah sepi dan hanya dia yang ada di sana, Bram terdiam sejenak.
"Kau masih ingin tidur di sini Bram?" tanya seorang bertubuh gempal berusia di atas 40an sambil mengelap gelas bir.
"Apa aku ada di sini semalaman?" tanya Bram pada pria itu lagi.
"Ya, dan ini sudah pukul 3 pagi, kami ingin tutup," kata Pria itu lagi melirik Bram dengan nada suaranya yang serius.
"Maaf," kata Bram mencoba menjejakkan kakinya ke lantai, dia tak bisa mengingat apapun, yang dia ingat dia hanya pergi ke sini karena hatinya yang sangat sakit melihat apa yang dilakukan oleh Bianca, dia akui dia memang meminum banyak minuman namun setahunya dia adalah peminum yang handal, bahkan baru kali ini dia minum hingga pingsan seperti ini.
"Tak masalah, bukan hanya dirimu yang mabuk seperti ini, setiap hari pasti ada saja yang suka menginap di sini," ujar pria itu sambil menunjuk, 2 orang lain lagi yang ternyata lebih parah darinya, mereka sudah dicoba untuk dibangunkan namun sama sekali tidak bisa bangun, bahkan sampai ada yang jatuh ke lantai namun tetap tak sadarkan diri.
"Apakah aku mengatakan sesuatu? " tanya Bram lagi, rasanya dia meracau kemarin.
"Kau menceritakan banyak hal, tapi aku terlalu sibuk untuk mendengarkannya, kalian semua meracau setiap kali kalian mabuk, lain kali jika ada masalah selesaikan bukan datang ke sini untuk mabuk-mabukan, pulanglah, teman sekapalmu mengatakan bahwa pagi ini kalian harus pergi kembali kan? " kata pria itu menatap Bram dengan sangat serius.
Bram menatap ke arah pria gempal itu, tubuhnya gempal namun tampak garang, wajahnya punya tato yang sengaja dia buat agar orang-orang tidak main-main dengannya, Bram lalu tersenyum kecut, rasanya adegan yang dia lihat tadi malam kembali muncul di kepalanya, bahkan terasa baru begitu saja dia lihat, hatinya kembali nyeri dan kepalanya yang pusing inign kembali meledak.
__ADS_1
"Masalahku tak akan bisa aku selesaikan? Bisa aku minta 1 gelas bir lagi?" kata Bram yang merasa dia butuh kembali menyegarkan kepalanya.
"Tentang wanita bernama Bianca? Kau meracau terus menyebutkan namanya, lebih baik kau temui dia dan katakan semua perasaanmu yang sebenarnya, dan satu lagi, Tidak, kami sudah tutup, pergilah dari sini agar aku bisa istirahat," kata pria itu tegas, tak tergoyahkan sama sekali.
"Baiklah, ini, terima kasih ambil saja sisanya," kata Bram meletakkan beberapa lembar uang yang ada di sakunya.
"Untuk hanya seorang crew kapal, kau punya cukup banyak uang, jangan dihaburkan," kata Pria itu mengambil uang itu. Bram sedikit berwajah datar namun dia tidak ingin mengucapkan kata apapun lagi, masih dengan langkah goyahnya dia berjalan dan segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di luar bar itu.
Bram tak langsung menjalankan mobilnya, kilasan itu muncul lagi, siapa pria itu? bagaimana bisa dia mendapatkan hati Bianca? Padahal selama ini wanita itu terkesan sangat-sangat dingin, seolah hatinya sudah terkunci dengan mantan suaminya itu, apa mungkin?
Bram mengirimkan pesan kepada seseorang, seolah ini bukan jam 3 pagi bahkan sebelum Bram meletakkan kembali ponselnya, sebuah pesan balasan muncul, Bram langsung mengerutkan dahinya melihat titik koordinat yang dikirimkan kepadanya, jauh, tempat itu jauh sekali dari sini, berarti bukan dia, pikir Bram.
Bianca membuka matanya, mendengar suara ketukan cukup keras di pintu rumahnya, dia langsung terduduk dan melihat jam yang ada di sisi tempat tidurnya, masih pukul 3.26 pagi, siapa yang mengetuk pintu rumahnya begitu keras? Akankah Rain?
Bianca segera turun dari tempat tidurnya, walaupun bukan Rain tapi ketukan itu sangat keras, dia takut malah mengganggu tidur si kembar karena itu segera dia pakai mantel untuk menutupi baju tidurnya lalu segera buru-buru keluar, tak lupa mengintip sedikit ke arah jendela, dahi Bianca berkerut, Bram?
Bianca segera membuka pintu rumahnya, Bram terdiam saat melihat siapa yang membuka pintu itu, Bianca masih mengerutkan dahinya melihat penampilan Bram yang tampak sedikit berantakan padahal selama ini dia tahu pria ini selalu tampak rapi.
__ADS_1
"Ada apa Bram?” tanya Bianca.
Bram masih diam, namun matanya menyiratkan luka yang begitu dalam, Bianca yang ditatap dengan tatapan yang sangat sendu itu hanya bisa memperdalam lekukan di dahinya.
"Aku melihat Anda bersamanya? Bolehkah aku tahu dia siapa? " tanya Bram akhirnya bisa membuka mulutnya, pertanyaan yang semalaman ini ada dalam pikirannya sama sekali tak bisa dia lupakan.
Bianca sedikit tersentak, wajahnya kaget mendengar pertanyaan dari Bram ini, Bianca menggigit bibir dalamnya perlahan, dia tak tahu bagaimana menjelaskannya.
Namun tadi malam, saat dia baru saja hendak tidur Rain menghubunginya, mengatakan apa pun yang terjadi dia tak boleh mengatakan apa pun tentang keberadaannya di sini terutama pada Bram, jika pria ini bertanya Bianca harus mengatakan bahwa dia adalah kekasihnya, namun sungguh, Bianca tak bisa mengatakannya, Bianca tahu bangaimana perasaan pria ini padanya, bahkan sudah lama sekali dia tahu tentang hal itu, apakah jika Bianca mengatakan hal itu akan membuat Bram terluka? Dia tidak ingin membuat Bram terluka, bagainya pria ini sangat berjasa baginya dan si Kembar.
Namun Rain benar-benar menegaskan bahwa tidak boleh ada orang lain yang tahu tentang dirinya di sini, hanya orang-orang tertentu yang dia izinkan tahu keberadaanya dan seperti Bram bukanlah salah satunya.
"Dia …. " kata Bianca ragu memberitahukannya.
"Bram? Kenapa pagi-pagi begini datangnya? Kenapa kau begitu lusuh?" ujar Yuri meyela, dia tahu tentang keadaan ini, walaupun tak disadari oleh Bianca namun Yuri pun mendengar tentang hal ini, "Nyonya, sepertinya Gwi bangun, dia mencari Nyonya," kata Yuri melirik Bianca.
"Benarkah?" kata Bianca, dia melirik ke arah Bram namun dia segera masuk ke dalam kamarnya ketika mendengar suara Gwi.
__ADS_1
Yuri mengikuti langkah Bianca dengan matanya yang segera ke kamarnya, dia lalu melayangkan pandangannya pada Bram, dia segera berjalan keluar dan menutup pintu itu perlahan, Bram hanya menatap ke arah sosok Yuri, gadis yang tampak tomboy.