
"Maafkan saya nona," ujar Bram.
"Aku akan pergi, berikan aku senjata apimu," ujar siena, melirik ke pistol yang tergantung di pinggang Bram, Bram mengerutkan dahinya, Yuri pun begitu.
"Nona?" kata Yuri mencoba merayu, Siena menatap ke arah Yuri, membuat Yuri diam, Adik dan Kakak ini jika sudah menunjukkan sorot tajam, membuat semua orang terdiam.
"Berikan," kata Siena mantap seolah tak takut apapun. Bram ragu menggapai pistolnya namun Siena dengan cepat merebutnya, dia memegang pistol itu dengan mantap.
"Kalian hanya belum tahu aku siapa," kata Siena dengan wajah datar dan mata tajamnya, berjalan ke arah kamarnya, menyiapkan dirinya, menyelipkan pistol itu dibalik mantel panjangnya, tak perlu menunggu lama, gadis mungil dengan wajah cantik namun terlihat kejam itu keluar dari kamar dan berjalan keluar dari mes itu, Bram hanya bisa melihat Siena masuk ke dalam mobil Jeep mereka tadi.
"Bram!" ujar Yuri.
"Unit 112 dan 132, bersiap, beberapa orang mengikuti mobil jeep itu dengan perlahan, yang lain bersiap untuk misi pernyelamatan," kata Bram cepat, dia segera berjalan ingin keluar dari mess itu. "Jaga Nyonya," kata nya sebelum dia keluar dari mes itu, Yuri hanya bisa mengangguk, tanpa Tuannya, semua benar-benar terasa kacau.
---***---
Setengah jam kemudian,
Siena menarik napasnya dalam setelah mobilnya terparkir sempurna di halaman yang sekarang di jaga begitu banyak orang itu, dia menyiapkan dirinya, dalam pikirannya hanya ingin bisa membunuh Drake apapun balasannya, selain dia sudah menahan Kekasihnya, entah kenapa menghilangnya kakaknya ini dia rasa ada hubungannya dengan pria breng*** ini.
__ADS_1
Dia membuka pintu mobilnya,perlahan turun dari mobil yang bahkan tak cocok dikemudikannya, dari arah pintu rumah itu dia melihat beberapa orang keluar, dan dengan mata merah membara dia hanya bisa menatap wajah yang paling di bencinya itu.
Tapi di belakangnya dia bisa melihat Ken yang tangannya terikat ke belakang, selain itu mata dan mulutnya juga tertutup kain, Ken tampak lunglai, sepertinya dia sudah diberikan sesuatu hingga tampak begitu lemah.
Drake melihat wajah cantik itu, masih secantik yang dia ingat walaupun wajahnya tak ramah, datar dan dingin, tapi dia menyukainya terutama dengan sorot matanya yang luar biasa menusuk itu, rambut panjangnya terurai begitu indah, ah, dia benar-benar pantas untuk dijadikan miliknya, Drake rela memberikan semuanya untuk bisa mencicipi wanita ini.
Drake bertepuk tangan ringan melihat keberanian dari Siena, dia lalu tersenyum menggoda, hal itu benar-benar membuat Siena muak, walau harus mati, dia ingin membunuh pria ini.
"Bravo, selain cantik, kau benar-benar wanita pemberani, tentu, tak ada wanita yang berani untuk bermain-main denganku, tapi lihatlah kau, kau berhasil menipuku dengan kecantikanmu, kau memang hebat," kata Drake mendekati Siena,mata Siena tajam menatap ke arah Drake, tak sedetik pun dia lengah memandangnya.
"Apa yang kau inginkan dariku? bukannya kakakku tak akan menjegal langkahmu lagi?" tanya Siena dengan napas berat menahan emosi, melihat Drake yang perlahan memutari tubuhnya.
"Aku tidak akan sudi denganmu, lebih baik aku mati saja," kata Siena mengambil pistol di dalam mantelnya dan menodongkannya ke arah kepalanya sendiri.
"Oh, benarkah? baiklah, kalau begitu aku akan membuatnya melihat kau mati dan aku tak akan membiarkannya mati agar seumur hidupnya akan gila melihat wanita yang dia cintai mati di depan matanya sendiri," ujar Drake, salah satu penjaganya membukakan penutup mata Ken, Ken awalnya tampak bingung, namun matanya membesar melihat sosok Siena yang ada di depannya sedang menodongkan pistol, Ken langsung berteriak namun tertahan dengan kain di mulutnya, mencoba berontak namun penjagaannya begitu ketat, dia tak percaya Siena ada di sana sekarang.
"Aku akan membuat seolah-olah dialah yang membunuhmu, aku akan menyampaikan pada keluargamu tentang itu, sehingga keluargamu akan menghukumnya, kau tahu bukan siksan batin dan fisik yang akan dialami pria ini jika kau mati sekarang," kata Drake lagi.
Siena menatap ke arah Drake, melihat mata Ken yang menatap padanya dengan tatapan sedih, panik dan juga memelas, dia malah merasa tak siap mati karenanya, perlahan dia menurunkan pistolnya, salah satu penjaga itu segera merebut pistol dari tangan Siena yang tampak pasrah, Drake tersenyum senang.
__ADS_1
Seorang penjaga dari Drake datang menghampirinya dan langsung membisikkan sesuatu pada Drake, Drake menaikkan satu sudut bibirnya, dia melirik ke arah Siena, Siena segera mengerutkan dahinya.
"Bukankah sudah aku katakan untuk datang sendiri, kenapa masih juga membawa pasukan, kau menganggap remeh diriku?" tanya Drake lagi dengan sikap menjijikkannya. Siena langsung membuka matanya lebar-lebar, jelas sekali dia terkejut, dia tak membawa siapapun ke sini.
"Aku tidak membawa siapa pun ke sini, aku pergi sendirian," kata Siena dengan nada gusarnya.
"Benarkah, lalu untuk apa mereka datang 2 team untuk menjagamu, sudah ku bilang aku punya banyak mata-mata, kau benar-benar ingin kekasihmu ini mati ya, tunjukkan padanya," kata Drake pergi menjauhi SIena.
Salah satu penjaga itu membuka baju Ken, Siena membesarkan matanya sempurna, kaget apa yang terpasang di tubuh calon suaminya itu, rompi bom yang siap menghancurkan tubuhnya kapan saja, Siena langsung lemas melihatnya.
Ken pun sama terkejutnya, dia tak tahu bahwa di tubuhnya sudah dipasangi bom seperti itu, Dia bingung harus melakukan apa, apalagi efek obat itu masih terasa, tubuhnya sangat lemas karenanya.
"Hubungi mereka untuk tidak mendekat, jika mereka mendekat sedikit lagi, aku akan langsung menghancurkan tubuh calon suamimu ini, percayalah aku akan sangat suka melakukannya," ujar Drake dengan sangat serius.
"Baik-baik, aku akan melakukannya," kata Siena gugup, dia tak akan mau melihat tubuh Ken berhamburan, dia tak akan bisa menahan rasa trauma itu. "Bram, berhenti,jangan mendekat, aku katakan jangan mendekat, jika tidak kau akan membuat aku dan Ken terbunuh, mereka sudah tahu kalian ada di sini," kata Siena buru-buru saat Bram mengangkat teleponnya, dengan buru-buru pula menutup teleponnya lagi.
Siena dengan tubuh bergetar dan juga mata yang sudah memerah juga basah hanya bisa menatap ke arah Drake yang tersenyum menang, matanya melihat ke arah Ken, kesedihan dan pasrah itu tampak di wajahnya.
"Gadis baik, bawa mereka semua ke dalam," ujar Drake.
__ADS_1
Dua orang penjaga segera membawa Siena ke dalam, begitu juga Ken, di ruang tengah itu, Ken segera di dudukkan di kursi kayu, sedangkan Siena langsung tahan oleh Drake, tangannya di ikat ke belakang oleh pengawal Drake.