
Bianca bangun secara natural pagi ini, mungkin kelelahan dan juga sebelumnya tidurnya tak terlalu nyenyak pagi ini dia cukup kesiangan, dia melihat jendela kamarnya yang sudah tampak sangat cerah walaupun tetap bernuansa sendu dan putih.
Dia segera melihat ke arah ranjang di sampingnya, Rain nyatanya sudah tak ada.
Bianca segera turun dari tempat tidurnya, sejenak ke kamar mandi untuk menyamarkan wajah sembab baru bangun tidurnya, setelah buru-buru mencuci mukanya dan menggosok giginya dia segera keluar dari kamarnya.
Villa itu sudah terdengar ramai oleh tawa dan suara dari Gio dan Gwi, Bianca mengerutkan dahinya menatap ke arah tempat itu, di sana Rain Dan kedua anaknya tampak bercengkrama, apakah Rain sudah kembali lagi?
Di dekat sudut ruangan ada Antony dan Dokter Derian yang tampak mengamati Rain, Bianca menatap ke arah Antony, seolah bertanya? Inikah Rainnya sebelumnya?
Namun Antony yang mengerti langsung menggelengkan kepalanya pelan, Bianca yang tadinya tampak harap-harap cemas langsung menurunkan bahunya, tanda apa yang dia harapkan berbeda dengan kenyataan.
"Mami! Mami sudah bangun?" Tanya Gwi yang melihat ibunya berjalan ke arah mereka, Rain segera memutar tubuhnya melihat istrinya yang sedang berjalan di belakangnya.
"Mami, kata papi mami kelelahan menjaga papi, apa mami tidak apa-apa?" Tanya Gio menghampiri ibunya dengan tatapan perhatiannya.
"Ya, mami tidak apa-apa, apa kalian semua sudah sarapan? Maafkan mami bangunnya terlalu siang," ujar Bianca menggelus pipi anaknya, Gwi masih saja lengket dengan ayahnya.
"Ya, tak apa-apa, Gio dan Gwi sudah makan tadi, Papi belum, papi bilang agar nanti bisa makan bersama dengan mami," ujar Gio menjelaskan.
"Benarkah?" Tanya Bianca melirik Rain yang sekarang sudah berdiri, menggenggam lembut tangan putrinya, mereka benar-benar mirip.
"Baiklah, Gio dan Gwi bersiaplah, hari ini kita akan pergi bermain ski, mami dan Papi akan sarapan dulu," kata Rain menjelaskan pada anaknya.
"Setuju!" Semangat Gio, dia langsung mengajak adiknya untuk bersiap-siap dan meninggalkan kedua orang tuanya, Rain mendekati Bianca, di perjalanannya menuju Bianca, Rain menganggakat gestur tangannya menyuruh Antony dan Dokter Malvis pergi, Bianca segera menatap wajah pria yang tampak serius dan dingin itu.
"Maaf sepertinya aku akan mengecewakanmu," ujar Rain saat akhirnya berhenti di depan Bianca dan mereka tinggal berdua.
Bianca diam sejenak, lalu dia menaikkan sudut bibirnya membuat senyum simpul yang manis.
__ADS_1
"Tak apa-apa," kata Bianca lagi.
"Jangan khawatir, jika memang nantinya aku tetap begini, aku akan berusaha yang terbaik agar kau nyaman denganku yang seperti ini," ujar Rain.
"Itu tak perlu, bagaimana pun kau adalah suamiku, kita akan menjalani bersama, kau tak menolakku dan sikembar saja itu sudah bagus sekali," ujar Bianca.
"Aku tak bisa menolakmu karena walau otakku kosong tapi perasaanku merasa penuh denganmu, untuk anak-anak, bagaimana bisa aku menolak mereka bahkan saat berkaca aku melihat diriku dalam versi kecilnya," ujar Rain dengan sedikit tertawa kecil, rasanya itu humor yang bagus untuknya.
Bianca tertular tawa kecil Rain, tak ada yang berubah ternyata, pria ini hilang ingatan atau tidak, masih sedingin dan sehangat itu secara bersamaan.
"Ayo, sarapan, tadi malam kita tidak makan malam, tidak bagus untuk cuaca seperti ini, lagipula kau harus siap-siap, Gio dan Gwi sudah tak sabar untuk pergi," kata Rain meraih tangan istrinya, perlahan dan lembut membawanya ke ruang makan, setiap makanan sudah ada di sana, sama seperti yang Bianca inginkan kemarin, Yuri sudah kenal betul selera dan keinginan Bianca.
Setelah selesai makan, Bianca segera bersiap-siap, tanpa menunggu waktu lama mereka segera pergi ke tempat yang sudah di janjikan Rain pada anak-anaknya, sebuah tempat bermain ski yang ramah untuk anak-anak juga.
Bianca dan Rain tidak melakukannya hanya melihat Gio dan Gwi yang bermain-main riang sambil di ajari oleh instruktur mereka, menjelang sore mereka meninggalkan tempat itu dan memutuskan berjalan-jalan di pusat keramaian paling dekat.
"Mami, mereka sedang apa?" Tanya Gwi melihat sekelompok orang bermain ice skating di alun-alun kota yang dibuat menjadi lapangan seluncur es bersama.
"Mereka bermain seluncur es, Gwi ingin coba?" Kata Bianca, sudah lama sekali dia tidak memainkannya.
"Apa mami bisa?"
"Ya, nenek mengajari mami bermain, Gwi ingin melakukannya?" Kata Bianca.
"Ya!" Kali ini Gwi yang semangat.
"Gio juga," ujar Gio.
"Baiklah, aku akan membawa mereka bermain sebentar, bagaimana?" Tanya Bianca pada Suaminya.
__ADS_1
"Baiklah," ujar Rain.
Setelah menggunakan peralatan dan juga pelindung bagi Gio dan Gwi yang memang ada di sewakan di dekat sana, Bianca perlahan menuntun anak mereka meluncur di seluncur es itu, Gwi dan Gio tampak kaku dan takut, Bianca yang melihat itu tertawa lepas, tingkah anaknya sangat lucu.
Gio perlahan terlepas dari tangan ibunya langsung berdiri kaku dan menatap ibunya dengan tatapan cemas dan tak lama jatuh terduduk, bukannya merasa cemas, Bianca malah tertawa senang, lucu melihat tingkah anak-anaknya.
Rain yang hanya mengamati dari pinggiran tempat seluncur es itu menaikkan sudut bibirnya, seberapa kuat pun otaknya mengatakan mereka bukan keluarganya, namun melihat tawa lepas dan juga tingkah kedua anak itu, dia pasti akan memaksakan untuk percaya, siapa yang tak bahagia mendapatkan gambaran keluarga seperti ini, istri yang cantik nyaris sempurna, ibu dan istri yang baik, anugrah 2 anak yang baik, cerdas dan lucu dengan tingkahnya, Rain bahkan akan sanggup mengulang terus menerus agar tetap mendapatkan keluarga ini.
Cukup lama Bianca bermain dengan kedua anaknya, Gwi tampak lebih menguasai hal ini dari pada Gio yang beberapa kali harus terjatuh.
"Kali ini papi boleh bermain dengan mami?" Ujar Rain yang tiba-tiba datang mendekat ke arah mereka, Bianca saja kaget, tak pernah tahu selama pernikahan mereka bahwa Rain bisa bermain seluncur es.
"Kau bisa?" Tanya Bianca.
"Ya, sejauh yang aku ingat aku pernah beberapa kali bermain ini saat kecil, apa selama ini aku tak pernah menunjukkannya?" Tanya Rain.
"Tidak," kata Bianca.
"Mungkin aku sudah lama tak melakukannya," ujar Rain.
Rain menggenggam tangan Gio dan Gwi sejenak mengantarkan mereka kembali ke tepian tempat pengasuh mereka dan Yuri berdiri.
"Bawa mereka ke restoran," kata Rain datar pada pelayan mereka. Yuri mengangguk mengerti.
"Gio dan Gwi istirahat dulu, papi dan mami bermain sebentar, minumlah yang hangat ya," ujar Rain yang berubah intonasinya langsung saat berbicara dengan anak-anaknya.
"Baik papi," kata Gwi dan Gio nyaris serempak.
Begitu mereka pergi Rain kembali mendekati Bianca yang hanya tersenyum lembut.
__ADS_1